Viola dan Rose menatap penuh tanya ke arah Revalin, menginginkan jawaban keluar dari mulutnya. Namun, bukannya kikuk malah ia melanjutkan melahap masakan ibunya, hanya suara kunyahan yang terdengar. Rose dan Viola melempar pandang, heran dengan wanita di seberangnya, kenapa begitu santai padahal sedang dicecar hal yang serius.
"Udahlah, Ma. Stop ngomongin itu, Viola juga baik-baik aja tanpa saudara, kayak aku sekarang, semuanya bisa aku handle sendiri kan?"
"Kamu itu nggak berubah, tetep keras kepala. Kamu itu hanya malu mengakui kalo sebenernya kesepian tanpa saudara, harusnya kamu bisa kasih adik Viola nggak malah nyamain sama nasibmu yang harus sendirian, Re ...." tutur wanita tua itu menatap putrinya lekat.
"Iya-iya Ma, aku ngerti."
Viola tak bisa berkata-kata, makannya sudah selesai ia kemudian bangkit untuk mencuci piring bekas makannya. Hening, ia melewati nenek juga mamanya yang diam sejak ia pergi ke dapur. Ia melenggang masuk ke dalam kamarnya.
Memeriksa PR kemudian mengerjakannya sambil mendengarkan musik dari ponselnya. Meja belajarnya mengarah ke jendela, ia bisa menatap ke luar. Membuka jendela tersebut lebar-lebar, membiarkan angin malam masuk menemani malamnya yang kelabu. Bintang bertaburan di angkasa, begitupun bulan ... bersinar terang.
"Aauuuuuuuuuu!"
Viola terkesiap, tak menyangka ia mendengar lolongan serigala dengan jelas. Ia bangkit, menatap lekat bulan yang bulat sempurna, bersinar sangat terang. Bulu kuduknya meremang, bergidik pelan ... menutup jendela kamarnya kembali, membereskan buku-bukunya lanjut menarik selimut, memejamkan matanya agar tak berpikir yang tidak-tidak.
Dua menit kemudian ia menyibak selimutnya, nyatanya usahanya sia-sia. Pikirannya berkelana ke mana-mana, ia turun dari ranjang untuk mengambil buku kemarin menuntaskan rasa penasarannya, membaca lembar demi lembar kisah werewolf.
***
Tririririring!
Tangan Viola sigap mematikan alarm di ponselnya, matanya dibuka sedikit kemudian tidur lagi. Belum juga ia kembali ke alam bawah sadar, nyawanya dipaksa mengumpul.
"Viiiii! bangun! mama harus pulang pagi, cepet kamu bangun!" teriak mamanya terasa tepat ditelinganya.
Viola menutup kedua telinganya dengan bantal, sayangnya selimutnya berhasil dibuang oleh wanita yang dipanggil mama tersebut. Matahari sudah muncul, menggantikan tugas bulan. Suara mamanya sudah tak terdengar.
Viola menguap, dengan malas duduk lalu beranjak menuju kamar mandi. Udara masih dingin namun ia harus segera mandi, tak ada air hangat di sini bila tak merebus air dahulu. Hawa dingin membuatnya gatal-gatal.
Kakinya melangkah melewati ruang TV, kemudian dapur dan di sana berdiri neneknya di depan kompor gas.
"Pagi, Nek."
"Sayang, nenek udah siapin air anget buat kamu mandi, kamu bawa gih ke belakang," ucap Rose.
"Wah, beneran?" tanya Viola sumringah, langsung berhenti berjalan. "makasih ya, Nek. Muuuaaccchhh." Viola menciumi pipi neneknya kemudian mengangkat ember berisi air panas menuju kamar mandi.
Saat di sekolah.
"Mama langsung pulang ya, kamu kasih kabar mama tiap waktu ya, jangan lupa jaga kesehatan kamu, mama harap kamu bisa diandelin," pinta Revalin sebelum Viola keluar dari mobilnya.
"Iya, Ma. Hati-hati ya, kirim pesan kalo dah nyampek."
Mereka berpelukan singkat dan Revalin mendaratkan kecupan dikening putrinya. Viola keluar lalu melambaikan tangannya sampai mobil itu hilang dari pandangan matanya, ia masuk sebelum gerbang sekolah ditutup.
Melangkah terus menuju ruang kelasnya yang ada dilantai dua. Ia sempat melirik sekumpulan siswa yang sedang bersenda gurau di depan kelas, salah satu diantara mereka seperti tak asing baginya. Namun, ia lupa melihatnya di mana.
Triririiriririring!
Bel berbunyi setelah Viola duduk, beberapa menit kemudian pak guru masuk untuk mengajar.
Siang harinya Viola pergi ke kantin dengan Olinda dan Elora saat jam istirahat, perutnya lapar minta diisi karena tak sempat sarapan tadi pagi.
"Vi, kamu mau beli apa?" tanya Elora menatap Viola yang bingung akan membeli apa, karena penuh dengan antrean para siswa.
"Aku mau kentang goreng aja," jawab Viola.
"Ya udah aku tunggu di meja sana ya sama Olin," imbuh Elora membawa nampan berisi ayam goreng dan minuman kemasan botol.
"Iya, oke," jawab Viola, melangkah ke depan outlet makanan, berdiri di belakang siswa dan siswi yang juga sedang menunggu giliran dilayani.
Viola merogoh sakunya mengambil ponsel dan sembari menunggu melihat pesan baru dari ibunya yang mengatakan sudah sampai di rumah mereka sejak dua jam yang lalu, ia senang karena ibunya selamat sampai tujuan. Saat tengah asyik membalas pesan, ia dikagetkan dengan rasa dingin yang tiba-tiba mengenai kulitnya, ia langsung sadar bahwa ada seseorang yang menumpahkan es di baju seragamnya hingga mengenai roknya. Ia ingin mengumpat, sayangnya tempatnya tidak pas. Ia hanya bisa berdecak kesal, menatap tajam pelakunya.
"Sorry-sorry," ucap lelaki di sampingnya, tapi sayangnya ekspresinya sama sekali tak menunjukkan rasa bersalah ... permintaan maafnya juga dinilai tak tulus. Hanya sekedar basa basi semata, ia mengibaskan seragam yang basah dan memilin untuk memerasnya, sadar jadi tontonan Viola tergesa melangkah menuju toilet wanita.
"Sialan! Mukanya gak ada tampang nyesel gitu. Bener-bener nyebelin!" serunya sangat kesal.
Dia mencuci seragamnya diwastafel tanpa melepasnya, agar tak lengket lagi.
"Gimana gue ke kelas kalo basah gini, mana seragamnya pas putih kan keliatan nanti, ah kayaknya gue kenal deh siapa tadi yang numpahin es di seragam gue, tapi apa dia sengaja?" cerocosnya.
Tak ada siswi ditoilet, bel sudah berbunyi sejak tadi. Dia bimbang masuk kelas atau pulang dalam keadaan begitu.
Akhirnya setelah lama berpikir ia putuskan kembali ke kelas, sudah lumayan kering, tak seperti tadi.
Klek!
Viola menoleh ke kiri dan ke kanan, takut ada yang melihat. Namun, sayangnya dia dikagetkan dengan lelaki yang bersandar pada tembok, Viola heran. Kenapa ada laki-laki berdiri di depan toilet perempuan.
"Kamu mau ngintip ya di sini?" tanya Viola ke lelaki yang ada di rumahnya waktu kakeknya meninggal, ia baru ingat.
Lelaki itu tersenyum, mengangsurkan jaket warna biru tua menatap Viola.
"Pake ini, biar nggak malu," ucapnya meletakkan jaketnya ke tangan Viola tanpa menunggu respon dari gadis yang ditolongnya ia melangkah menjauh, Viola tersenyum bahagia. Ada malaikat yang datang menolongnya di saat semua orang tak peduli padanya.
Ia mengenakan jaket yang diberikan lalu melangkah menuju kelasnya.
Tok Tok!
Setelah mengetuk pintu Viola masuk.
"Maaf,Bu ... saya terlambat masuk kelas," ucap Viola lirih.
"Kenapa? kamu habis dari mana?" Ia berhenti tak langsung duduk ke bangkunya, semua murid menatapnya.
"Saya dari toilet, Bu."
"Oh, terus kenapa kamu pake jaket dikelas?" tanya bu guru yang sedang mengajar.
"Baju saya basah, Bu."
"Oh, yaudah nggak papa. Oh iya, ini surat untuk wali murid kamu ambil sini," ucap bu guru menyodorkan lembaran putih. Viola maju dan mengambilnya. Kemudian duduk dibangkunya mendengarkan materi pelajaran yang sekarang tak masuk ke dalam otaknya karena ia sedang membaca selebaran kertas yang barusan ia terima.
'Surat izin camping? mana boleh?' batin Viola.
Hujan mengguyur kota kecil ini, Viola bingung karena tadi diantarkan mamanya ke sekolah dan tak membawa motor. Ia kelabakan sekarang mana sedang hujan, apa ada ojek di sini? pikirnya.
Kupluk ia pakai, kebanyakan siswa menerobos derasnya hujan, ada yang dijemput ada pula yang membawa jas hujan. Ia menunggu di halte depan sekolah, baru ingin duduk ia terkena cipratan air yang menggenang, motor trail tersebut melaju kencang dan berhenti mendadak. Pengendaranya menoleh, Viola menatapnya tajam. Ia menajamkan mata ternyata lelaki yang tadi, dobel sial!