Dunia terasa terbalik. Begitulah secara harfiah.
Aku tergantung terbalik, tertahan oleh sabuk pengaman yang kini terasa seperti pisau yang mengiris bahuku. Bau bensin yang menyengat memenuhi indra penciumanku, bercampur dengan aroma amis darah yang mengalir dari pelipisku. Lewat jendela mobil yang retak seribu, aku melihat Elena. Dia berdiri di sana, siluet merah yang tampak cantik sekaligus mengerikan di bawah cahaya lampu jalan yang remang.
"Selamat tinggal, Anita," ucapnya dingin.
Dia menjatuhkan korek api itu.
Waktu seolah melambat. Aku melihat percikan api kecil itu melayang di udara, jatuh menghantam aspal yang basah oleh bensin. Dalam sekejap, wush! Lidah api biru dan oranye menjalar cepat, merangkak menuju tangki mobilku.
"Ibu..." rintihku. Kesadaranku mulai kabur. Aku ingin berteriak, tapi paru-paruku terasa kempis.
Tiba-tiba, sebuah bayangan hitam menerjang masuk ke dalam lingkaran api. Itu bukan petugas pemadam kebakaran. Itu pria dengan kemeja putih yang kini robek dan berlumuran darah. Dia tidak memegang alat pemadam, dia hanya memegang sebuah batu besar.
Prang!
Kaca mobilku hancur sepenuhnya. Tangan pria itu merangsek masuk, mengabaikan serpihan kaca yang menyayat kulitnya.
"Andre?" bisikku nyaris tak terdengar.
"Jangan tutup matamu, Anita! Tetaplah bersamaku!" suaranya serak, penuh kepanikan yang belum pernah kudengar sebelumnya.
Dia menarik sabuk pengamanku dengan sekali hentakan kuat, tenaga yang lahir dari keputusasaan murni. Tubuhku jatuh menimpanya. Andre menarikku keluar dari mobil tepat saat ledakan pertama terjadi. Kekuatan ledakan itu melempar kami ke trotoar, membuat dunia di sekitarku menjadi putih sesaat.
Aku terbatuk, menghirup udara malam yang bercampur asap. Andre mendekapku erat, badannya gemetar. Dia menggunakan tubuhnya sendiri sebagai tameng saat serpihan logam mobil yang meledak beterbangan di atas kami.
"Kenapa kamu kembali, Andre?" tanyaku sambil menangis, mencengkeram kemejanya yang hangus. "Harusnya kamu lari..."
Andre tidak menjawab. Dia hanya menatap ke arah mobil hitam Elena yang kini melesat pergi. Dia tahu dia gagal menangkap adiknya, tapi dia berhasil menangkap duniaku, meski duniaku kini hancur berantakan.
"Aku nggak bisa lari dari jantungku sendiri, Anita," bisiknya. Dia menggendongku, berjalan menjauh dari api yang kian membesar. Dia membawaku ke sebuah gang gelap, tempat sebuah motor tua, motor milik Aan yang terparkir di sana.
Dia mendudukkanku di dekat dinding bata yang dingin. Dia merobek bagian bawah kemejanya sendiri untuk membalut luka di kepalaku. Tangannya yang penuh darah itu gemetar hebat.
"Anita, dengarkan aku baik-baik," katanya, menangkup wajahku. "Elena membawa ibumu ke pelabuhan tua. Dia ingin membawanya keluar negeri ini sebagai jaminan agar aku tidak bicara. Ayah sudah pingsan, dia tidak punya kekuasaan lagi sekarang. Ini semua tentang Elena."
"Aku takut, Andrs... aku nggak kuat lagi," aku terisak, menyandarkan kepalaku di dadanya. Bau cendana itu masih ada, meski sekarang tertutup bau hangus.
"Aku tahu. Maafin aku. Maaf karena aku menyeretmu ke dalam neraka keluargaku," Andre mencium keningku lama. Ada setetes air mata yang jatuh ke pipiku, bukan air mataku, tapi air mata Andre. “Aku harus pergi ke pelabuhan itu. Sendirian.”
“Tidak! Jangan tinggalkan aku lagi! Aku takut sendirian.”
“Aku harus menjemput ibumu, Anita. Itu satu-satunya cara agar kamu benar-benar bebas dariku.” Andre tersenyum sedih. “Kunci motor ini ada di sakumu. Pergilah ke kantor polisi yang terdekat dari tempat ini. Ada seorang pria detektif bernama Reza di sana. Dia orangku, dan dia yang akan menjagamu.”
“Lalu gimana denganmu?” tanyaku penuh rasa khawatir.
Andre bangkit dan berdiri. Dia tampak sangat rapuh , namun juga berbahaya di saat yang sama. “Jika aku nggak kembali dalam waktu satu jam, detektif itu akan memberimu sebuah amplop coklat lagi. Isinya adalah seluruh asetku yang sudah aku atasnamakan kamu. Kamu nggak akan kekurangan uang lagi seumur hidup kamu.”
“Aku nggak butuh uangmu. Aku cuma butuh Aan,” teriakku histeris.
Andre membeku. Dia menoleh padaku, matanya bergetar. “Aan sudah mati sejak kemejanya tertukar di pagi itu, Anita. Yang tersisa hanya monster yang terlalu mencintaimu, Anita.”
Andre berbalik dan berlari menghilang ke dalam kegelapan malam, menuju pelabuhan yang hanya berjarak beberapa blok dari sini.
Aku terduduk sendirian di gang itu, memegang kunci motor yang dingin. Jantungku bergejolak. Antara benci, takut, rindu, dan kasih sayang yang gila bercampur menjadi satu. Aku tahu aku harus pergi ke kantor polisi, tapi bayangan Andre yang terluka parah menghadapi Elena yang bersenjata membuat kakiku bergerak sendiri.
Aku menyalakan motor itu. Suara mesinnya yang kasar mengingatkanku pada malam-malam tenang di apartemen. Aku tidak menuju kantor polisi. Tapi, Aku menuju pelabuhan.
Sesampainya di sana, suasana sangat sepi. Hanya ada suara deburan ombak dan derit besi tua. Aku melihat mobil Elena terparkir di dekat sebuah kapal kargo besar. Aku turun dari motor, mengendap-endap di balik tumpukan kontainer.
Tiba-tiba, suara tembakan terdengar. Dor!
Aku berlari menuju sumber suara. Di bawah lampu dermaga yang berkedip, aku melihat Elena memegang pistol, mengarahkannya ke bawah. Di bawahnya, Andre berlutut, memegangi perutnya yang kini bersimbah darah segar.
"Kamu selalu menjadi kakak yang lemah, Andre," Elena tertawa melengking. "Kamu pikir cinta bisa membuatmu kuat? Lihat dirimu sekarang. Tubuhmu penuh darah demi seorang gadis yang membencimu."
"Tolong,lepaskan... wanita tua itu..." suara Andre terputus-putus.
Di dalam mobil Elena, aku melihat Ibu terikat dengan mulut diselotip. Dia meronta-ronta sambil menangis melihat Andre ditembak.
"Tentu," Elena tersenyum iblis. "Aku akan melepaskannya... langsung ke dasar laut."
Elena berbalik menuju mobil, hendak melepaskan rem tangannya agar mobil itu meluncur ke dermaga.
"ELENA, BERHENTI!" teriakku sambil berlari keluar dari persembunyian.
Elena menoleh, matanya membelalak. "Anita? Kamu masih hidup?"
Andre menatapku dengan tatapan hancur. "Anita...cepat lari..."
Elena tertawa gila. Dia mengarahkan pistolnya padaku sekarang. "Baguslah kamu datang. Mari kita buat akhir cerita yang puitis. Satu peluru untuk sang kekasih, satu untuk sang ibu, dan satu untuk si jalang kecil."
Elena menarik pelatuknya.
KLIK.
Kosong.
Wajah Elena memucat. Dia mencoba menarik pelatuknya berkali-kali, tapi tetap kosong.
"Kamu lupa, Elena?" Andre berkata sambil tersedak darah, dia mengangkat sebuah magasin peluru di tangannya yang gemetar. "Saat kita bergumul di ruang bawah tanah tadi... aku mengambil magasin cadanganmu."
Elena menjerit marah dan menerjang Andre. Tapi tiba-tiba, dari kegelapan di atas kontainer, sebuah lampu sorot besar menyala.
"POLISI! JANGAN BERGERAK!"
Bukan detektif Reza yang datang. Melainkan rombongan pria berpakaian hitam dengan lambang Vulture Group di lengan mereka. Dan di tengah-tengah mereka, berdiri sang Ayah yang tadi pingsan, kini duduk tegak di kursi rodanya dengan ekspresi sedingin es.
"Cukup permainannya, anak-anakku," suara Ayah bergema. "Kalian berdua telah gagal. Andre terlalu lemah karena cinta, Elena terlalu ceroboh karena haus kekuasaan."
Ayah memberi isyarat pada pengawalnya. "Eliminasi mereka semua. Bakar kapal ini. Kita mulai dari awal lagi."
Salah satu pengawal mengangkat senapan mesinnya, mengarahkannya ke arah kami bertiga, aku, Adrian, dan Elena.
Tepat saat moncong senjata itu mulai memuntahkan peluru, Andre melompat, menarikku ke dalam dekapannya, dan kami jatuh bersama ke dalam air laut yang sedingin es di bawah dermaga.
Dalam air yang gelap, aku bisa merasakan tangan Adrian perlahan melepaskan pegangannya padaku. Gelembung udara keluar dari mulutnya seiring dengan tubuhnya yang perlahan tenggelam lebih dalam ke dasar laut yang gelap, meninggalkan jejak merah yang memudar.
Aku mencoba meraihnya, tapi arus bawah laut terlalu kuat.
Lalu, sebuah tangan lain menarikku dari atas permukaan air. Saat aku berhasil menghirup udara lagi, aku melihat seseorang yang sangat tidak terduga berdiri di atas perahu kecil.
"Aan?" bisikku bingung.
Pria di atas perahu itu memiliki wajah yang identik dengan Andre, tapi tidak ada luka di wajahnya. Dia menatapku dengan tenang.
"Bukan," jawabnya pelan. "Aku adalah alasan mengapa Andrean Vulture harus memiliki identitas ganda selama ini."