Julian dan Andre

1068 Words
Dinginnya air laut pelabuhan malam itu terasa seperti ribuan jarum yang menusuk sumsum tulangku. Tapi rasa dingin itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan guncangan mental saat melihat pria yang menarikku ke atas perahu kecil ini. Wajah itu. Struktur rahang itu. Bahkan sorot matanya. "Siapa... kamu?" suaraku keluar sebagai bisikan yang gemetar, bercampur dengan air laut yang tertelan. Aku menoleh ke arah permukaan air yang tenang, tempat Andre perlahan tenggelam dalam jejak darahnya sendiri. "Andre! Dia di bawah sana! Tolong dia!" Pria itu tidak bergerak. Dia hanya berdiri dengan tenang, mengenakan jaket hoodie hitam sederhana, sangat mirip dengan gaya berpakaian Aan saat kami pertama kali bertemu. "Dia memilih jalannya sendiri, Anita. Andre selalu ingin menjadi pahlawan di akhir cerita yang dia tulis sendiri." "Apa maksudmu? Apa kamu kembarannya? Apa Andre punya kembaran?" aku berteriak histeris, mencoba melompat kembali ke air, tapi tangannya yang kuat menahanku. "Namaku Julian," katanya pelan. "Dan tidak, kami bukan kembaran dalam arti yang kamu pikirkan. Kami adalah dua orang yang dipaksa berbagi satu nyawa oleh Ayah." Di atas dermaga, suara tembakan masih terdengar bersahut-sapa. Ayah Vulture dan pengawalnya sepertinya sedang sibuk membersihkan sisa-sisa kekacauan yang dibuat Elena. Perahu mesin ini bergerak menjauh dalam diam, membelah kabut laut yang tebal. "Apa maksudmu berbagi satu nyawa?" tanyaku, memeluk tubuhku sendiri yang menggigil. Julian duduk di depanku, matanya menatap lurus ke arah cakrawala yang gelap. "Andre adalah putra mahkota. Dia yang dididik untuk menjadi tiran, untuk memimpin Vulture Group. Tapi Andre punya sisi yang lemah, sisi yang mencintai seni, kopi, dan... kamu. Ayah tidak bisa membiarkan sisi itu menghancurkan bisnis keluarga. Jadi, dia menciptakan Aan." Aku tertegun. "Aan itu... kamu?" "Kadang-kadang," jawab Julian dengan senyum pahit yang sangat mirip dengan Aan yang kukenal. "Saat Andre harus berada di rapat luar negeri atau menghadiri perjamuan yang membosankan, aku yang tinggal di apartemen itu. Aku yang memperbaiki pipamu. Aku yang membuatkanmu roti bakar. Kami bergantian, Anita. Kami berbagi jadwal, berbagi memori melalui rekaman audio, bahkan berbagi perasaan yang sama padamu." Duniaku runtuh untuk kesekian kalinya. Rasa mual yang hebat menyerang perutku. "Jadi selama ini... pria yang tinggal bersamaku itu bukan satu orang? Kalian mempermainkan aku?" "Andre yang merencanakannya. Dia terlalu takut untuk mendekatimu sebagai dirinya sendiri, jadi dia memintaku untuk menjadi Aan saat dia sibuk menjadi monster," Julian menunduk, tangannya mengepal. "Tapi masalahnya muncul saat aku juga mulai mencintaimu, Anita. Aku mulai menikmati hidup sebagai Aan. Aku mulai benci saat harus bertukar tempat dan membiarkan Andre menyentuhmu." Emosi yang terpancar dari wajah Julian sangat nyata. Rasa sakit karena menjadi bayangan, rasa marah karena hanya menjadi pengganti. Aku menatapnya dengan rasa ngeri sekaligus kasihan. Aku mencintai Aan. Tapi Aan adalah sebuah konstruksi dari dua pria yang berbeda. "Di mana ibuku?" tanyaku tiba-tiba, teringat pada mobil Elena yang hendak diluncurkan ke laut. "Ibumu aman. Detektif Reza sudah mengamankannya tepat sebelum Ayah melepaskan tembakan. Andre sudah merencanakan pengkhianatan ini terhadap Ayah dan Elena sejak lama. Dia tahu dia mungkin tidak akan selamat, jadi dia memintaku untuk menunggumu di sini." Julian merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah pemantik api perak, pemantik yang sering kulihat dipakai Aan untuk menyalakan lilin saat mati lampu di apartemen. "Dia bilang, jika dia tidak muncul dari air, aku harus membawamu pergi. Jauh dari nama Vulture. Menjadi Aan-mu yang sesungguhnya." "Lalu Andre? Kamu membiarkan saudaramu mati?" "Dia yang memintanya, Anita. Dia bilang itu adalah satu-satunya cara untuk menebus dosa-dosanya padamu. Dengan kematian Andrean Vulture, semua kontrak, semua hutang, dan semua obsesi gelap itu terkubur bersamanya. Kamu bebas." Perahu itu merapat di sebuah dermaga kecil yang tersembunyi di balik hutan bakau. Julian membantuku turun. Di sana, sebuah mobil tua sudah menunggu. "Ayo, Anita. Kita mulai hidup baru. Tanpa kamera tersembunyi, tanpa ruangan bawah tanah. Hanya aku, kamu, dan ibumu," Julian mengulurkan tangannya. Aku menatap tangan itu. Tangan yang mungkin pernah membelai rambutku saat aku tertidur. Tangan yang mungkin pernah memasakkan mi instan untukku. Tapi saat aku menatap matanya, aku melihat sesuatu yang aneh. Sesuatu yang membuat bulu kudukku meremang. Julian tersenyum, tapi senyum itu tidak sampai ke matanya. Dia terlihat terlalu... tenang. Terlalu siap dengan semua ini. "Julian," panggilku pelan. "Andre bilang padaku di ruang bawah tanah... bahwa dia satu-satunya yang punya akses ke fasilitas Swiss tempat Ibu dirawat." Julian mengangguk. "Ya, dan sekarang aku yang memegang akses itu." "Tapi," suaraku bergetar, "Andre juga bilang... jam tangannya merespons detak jantungnya. Dan kunci keluar dari ruang bawah tanah itu ada di sana." "Benar. Dan aku sudah mengambil jam itu dari tangannya sebelum dia tenggelam tadi," Julian menunjukkan pergelangan tangannya. Jam perak Andre melingkar di sana. Detik itu juga, sebuah ingatan melintas di kepalaku. Saat di dalam air tadi, saat Andre melepaskan pegangannya, dia tidak tenggelam begitu saja. Dia seolah ditarik ke bawah oleh sesuatu. Aku mundur selangkah. "Kamu nggak menyelamatkannya, kan? Kamu yang menariknya ke bawah. Kamu yang memastikan dia nggak pernah naik lagi ke permukaan." Senyum Julian memudar. Wajahnya mendadak menjadi sangat dingin, persis seperti Andre saat sedang murka di kantor. "Dia sudah mendapatkan waktunya bersamamu, Anita. Sekarang giliran Aan," Julian melangkah maju, memojokkanku di pintu mobil. "Jangan membuatku menjadi monster seperti dia. Aku ingin menjadi pria baik untukmu. Tapi untuk itu, Andre harus benar-benar hilang." Tiba-tiba, ponsel di saku Julian bergetar. Dia melihat layarnya dan dahinya berkerut. "Ada apa?" tanyaku takut. Julian tidak menjawab. Dia menunjukkan layar ponselnya padaku. Itu adalah notifikasi dari sistem keamanan dead man's switch milik Andre. PESAN: Julian, jika kamu membaca ini, artinya kamu sudah membunuhku. Selamat. Tapi kamu lupa satu hal... aku tidak pernah mengajarimu cara menonaktifkan bom di bawah jok mobil yang sedang kamu sandari sekarang. Mataku beralih ke bawah mobil tua di belakangku. Sebuah lampu merah kecil berkedip-kedip cepat. Pip... pip... pip... Julian membelalak. Dia mencoba menarikku menjauh, tapi pintu mobil itu tiba-tiba terkunci secara otomatis dari dalam, sebuah perintah remote yang hanya bisa dilakukan oleh satu orang. Dari arah kegelapan hutan bakau, sebuah siluet pria yang basah kuyup muncul sambil memegang sebuah remote kecil. Dia terbatuk, memuntahkan air laut, tapi matanya menyala dengan dendam yang murni. "Andre?" Julian berteriak ngeri. "Aku nggak mati semudah itu, saudara kandungku," suara Andre terdengar seperti parutan logam. "Dan aku nggak akan membiarkanmu mencuri bagian terbaik dari hidupku." Andre menekan tombol di remote-nya, dan hitungan mundur di bawah mobil berubah menjadi, 00:05. "Lari, Anita! Cepat, lari!" teriak Andre. Tapi Julian justru mencengkeram lenganku erat-erat. "Kalau aku nggak bisa memilikinya, kamu juga nggak boleh, Andre!" Ledakan itu terjadi. Bukan di bawah mobil, tapi di dermaga tempat kami berdiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD