Sandiwara Berdarah

1181 Words
Ledakan itu memekakkan telinga. Dermaga kayu yang tua itu hancur berkeping-keping, melemparkan tubuh kami ke udara. Aku merasakan panas yang luar biasa menyambar punggungku sebelum akhirnya aku jatuh berdebam ke atas pasir basah yang dingin di pinggiran hutan bakau. Pandanganku buram. Telingaku berdengung panjang, suara dunia di sekitarku seolah diredam oleh air yang masuk ke telinga. Aku terbatuk, mengeluarkan pasir dan rasa pahit dari tenggorokanku. "Anita... Anita!" Itu suara serak yang sangat kukenal. Aku menoleh perlahan. Andre atau cowok yang kukira Andre merangkak ke arahku. Pakaiannya yang basah kuyup kini hangus di beberapa bagian, dan luka tembak di perutnya masih merembeskan darah merah pekat ke atas pasir putih. Di sisi lain, Julian berdiri dengan sempoyongan. Dia tidak hancur oleh ledakan itu, tapi wajahnya kini dipenuhi amarah yang nyata. Jaket hoodie-nya robek, memperlihatkan tato lambang Vulture di lengan atasnya yang sama persis dengan milik Andre. "Kamu seharusnya mati di dasar laut, Andre!" Julian berteriak, suaranya melengking di antara suara api yang melahap sisa dermaga. "Kenapa kamu selalu menghalangi kebahagiaanku? Aku yang menjadi Aan lebih lama darimu! Aku yang mendengarkan tawanya! Aku yang membersihkan sisa makan malamnya!" "Kamu bukan Aan, Julian!" Andre berteriak sambil terbatuk darah. Dia mencoba berdiri, satu tangannya mencengkeram luka di perutnya. "Kamu hanya bayangan yang kubayar untuk menjaga hartaku. Dan Anita bukan hartaku, tapi dia nyawaku!" Aku menatap mereka berdua bergantian. Emosiku hancur berkeping-keping. Pria yang selama ini kupeluk, yang kubagi rahasianya, yang kucintai... ternyata adalah sebuah sandiwara berdarah antara dua saudara yang gila. "Cukup!" teriakku, suaraku parau dan penuh luka. "Berhenti memperebutkanku seolah aku ini piala! Kalian berdua pembohong! Kalian berdua monster!" Andre menatapku, matanya yang tajam kini tampak penuh dengan penyesalan yang mendalam. "Anita... aku melakukan ini untuk menjagamu dari Ayah. Aku butuh Julian untuk menggantikanku agar aku bisa menghancurkan Vulture Group dari dalam tanpa mereka curigai..." "Bohong!" potong Julian. Dia mengeluarkan sebilah pisau lipat dari sakunya. "Dia melakukan itu karena dia terlalu pengecut untuk menunjukkan sisi lemahnya padamu, Anita. Dia takut kamu akan membenci sisi Andrean-nya, jadi dia menggunakan aku sebagai tameng cinta." Julian melangkah mendekatiku, tapi Andre menerjangnya. Dua pria dengan wajah yang sama itu bergumul di atas pasir, saling pukul dengan kebencian yang sudah menumpuk selama puluhan tahun. Itu adalah pemandangan yang mengerikan seperti melihat seseorang bertarung dengan bayangannya sendiri di cermin yang retak. "Aan yang kamu cintai itu aku, Anita!" Julian berteriak sambil mencekik Andre. "Aku yang memperbaiki keranmu! Aku yang membelikanmu roti bakar itu!" "Tapi aku yang menuliskan catatannya!" Andre membalas, menghantamkan kepalanya ke dahi Julian hingga mereka berdua terlepas. "Aku yang memikirkan setiap kata-kata manis itu karena aku tidak sanggup mengucapkannya langsung!" Aku berdiri dengan kaki gemetar, mundur menjauh dari mereka. Di kejauhan, lampu sorot dari helikopter kepolisian mulai menyapu area hutan bakau. Sirene meraung-raung mendekat. Ayah Vulture dan Elena mungkin sudah tertangkap, tapi di sini, perang yang sebenarnya baru dimulai. Tiba-tiba, Julian berhasil meraih pistol yang terjatuh dari saku Andre saat bergumul tadi. Dia mengarahkannya tepat ke d**a Andre. "Julian, jangan!" teriakku. "Pilih, Anita!" Julian berteriak dengan mata yang berkaca-kaca, tangannya yang memegang pistol gemetar hebat. "Pilih siapa Aan-mu yang sesungguhnya! Jika kamu memilih dia, aku akan menarik pelatuk ini dan kita semua akan berakhir di sini!" Andre berlutut di depan moncong pistol itu. Dia tidak melihat ke arah Julian, dia melihat lurus ke mataku. "Pilihlah dengan jujur, Anita. Bahkan jika itu artinya aku harus mati. Siapa yang kamu lihat di pagi hari saat kamu bangun? Siapa yang kamu rindukan saat kamu sendirian di kantor?" Aku terisak. Bayangan-bayangan melintas di kepalaku. Tatapan Andre yang tajam namun protektif di kantor... dan pelukan hangat Aan di sofa apartemen yang ternyata adalah Julian. Mereka adalah satu paket yang mustahil dipisahkan, namun kini saling menghancurkan. "Aku nggak bisa memilih," bisikku pedih. "Karena pria yang kucintai nggak pernah benar-benar ada. Aan yang kukenal adalah kebohongan yang kalian ciptakan bersama." Julian tertawa gila, air mata mengalir di pipinya. "Jawaban yang salah, Anita." Tepat saat Julian hendak menarik pelatuknya, sebuah suara tembakan terdengar dari arah semak-semak. Dor! Bukan Julian yang menembak. Bahu Julian tertembak dari samping, membuat pistolnya terlepas. Sosok wanita muncul dari kegelapan, memegang senjata dengan tangan yang mantap. Elena. Dia belum tertangkap. Wajahnya penuh luka bakar dari ledakan gedung, dan matanya memancarkan kegilaan yang lebih besar dari kedua kakaknya. "Jika aku tidak bisa memiliki kekayaan Vulture, maka tidak ada satupun dari kalian yang boleh hidup!" Elena berteriak. Dia mengarahkan senjatanya ke arahku. "Semua ini gara-gara kamu, jalang kecil!" Andre dan Julian bereaksi di saat yang sama. Meskipun mereka baru saja ingin saling bunuh, keduanya bergerak secara naluriah untuk berdiri di depanku. Mereka membentuk tameng manusia, menghalangi pandanganku dari moncong senjata Elena. "Anita, cepat lari ke arah air!" teriak Andre. "Jangan menoleh!" sambung Julian. Elena melepaskan rentetan tembakan. Aku menutup mata, mendengar suara peluru yang menghantam daging dan rintihan kesakitan. Saat aku membuka mata, aku melihat sesuatu yang menghancurkan hatiku selamanya. Andre dan Julian jatuh bersamaan, saling merangkul untuk menahan berat tubuh satu sama lain agar tidak jatuh menimpaku. Darah mereka bercampur di atas pasir, mengalir menjadi satu aliran merah yang pekat. Elena bersiap melepaskan tembakan terakhir tepat ke arah kepalaku, tapi tiba-tiba sebuah laser merah menempel di dahinya. "Jatuhkan senjatanya, Elena Vulture!" suara detektif Reza bergema dari pengeras suara helikopter di atas kami. Elena tertawa gila, menempelkan moncong pistolnya ke kepalanya sendiri. "Kalian tidak akan pernah menang!" Dor! Elena jatuh bersimbah darah di depan mataku. Tapi fokusku bukan pada dia. Fokusku pada dua pria yang kini terkapar di bawah kakiku. Aku berlutut di antara mereka, memegang tangan Andre dengan tangan kiriku dan tangan Julian dengan tangan kananku. Keduanya masih bernapas, tapi sangat lemah. "Jangan pergi... tolong jangan pergi..." ratapku. Andre terbatuk, darah keluar dari mulutnya. Dia memberikan sesuatu padaku. Sebuah kartu memori kecil yang disembunyikan di dalam liontin jam tangannya yang pecah. "Ambil ini... Anita..." bisiknya nyaris tak terdengar. "Semua bukti... kebebasanmu... ada di sini..." Julian tersenyum pahit, meremas tanganku dengan sisa tenaganya. "Maafkan aku... karena mencoba mencurimu... aku hanya ingin... menjadi nyata..." Saat petugas medis mulai terjun dari helikopter, Andre membisikkan sesuatu yang terakhir di telingaku, sebuah rahasia yang tidak diketahui bahkan oleh Julian atau Ayahnya. "Anita... cari pria bernama Thomas di dermaga 7... dia punya... kemeja putih yang baru untukmu..." Lalu, mata mereka berdua terpejam secara bersamaan. Dua minggu kemudian, aku berdiri di dermaga 7. Aku sudah menyerahkan semua bukti kepada polisi. Keluarga Vulture hancur total. Ibu sudah aman bersamaku. Aku mengenakan kemeja putih yang diberikan oleh pria bernama Thomas, kemeja itu memiliki inisial baru di kerahnya. Bukan A.V, Adrian Vulture, melainkan A.A. Aan & Anita. Aku menoleh saat mendengar langkah kaki di belakangku. Seseorang berdiri di sana, memakai piyama berantakan dan rambut acak-acakan, membawa dua cup kopi. Aku terpaku. Jantungku berdetak kencang. "Aan?" bisikku. Pria itu tersenyum manis, tapi di dahinya ada bekas luka operasi yang panjang. Dia menatapku dengan tatapan yang merupakan perpaduan antara kedinginan Andre dan kehangatan Julian. "Kopimu, Anita. Tanpa gula, kan?" Aku gemetar. "Siapa kamu? Andre atau Julian?" Pria itu mendekat, membisikkan jawaban yang membuat seluruh bulu kudukku berdiri dan menyadari bahwa permainan ini belum benar-benar berakhir. "Aku adalah apa yang tersisa setelah kamu menghancurkan cermin itu, Anita."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD