Angin laut di Dermaga 7 berembus kencang, menerbangkan ujung kemeja putih yang baru saja kupakai. Kopi di tanganku masih panas, tapi tanganku sendiri terasa sedingin es. Pria di depanku, sosok yang menyebut dirinya apa yang tersisa, menatapku dengan intensitas yang membuatku ingin lari sekaligus berlutut.
"Jangan menatapku seolah kamu melihat hantu, Anita," ucapnya. Suaranya... itu adalah sinkronisasi yang sempurna. Berat dan otoriter seperti Andre, namun memiliki nada lembut dan sedikit malas khas Julian.
"Siapa kamu sebenarnya?" suaraku bergetar. "Dokter bilang kalian berdua dalam kondisi kritis. Operasi itu... mereka bilang kemungkinannya kecil."
Pria itu melangkah maju. Bekas luka di dahinya yang melintang hingga ke pelipis tampak kemerahan, kontras dengan kulitnya yang pucat. "Andre kehilangan banyak darah, dan Julian kehilangan sebagian fungsi otaknya akibat peluru Elena. Ayah kita mungkin tiran, tapi dia memiliki akses ke teknologi medis yang belum pernah dilihat dunia. Mereka tidak membiarkan aset terbaik Vulture mati begitu saja."
Aku memundurkan langkah sampai punggungku menabrak pagar besi dermaga. "Jadi kalian... melakukan semacam prosedur? Kalian menyatu?"
Dia tersenyum tipis, sebuah seringai yang terasa sangat familiar namun asing di saat yang sama. "Bukan menyatu secara fisik, Anita. Tapi secara jiwa. Aku memiliki ingatan Andre tentang cara mengendalikan dunia, dan aku memiliki perasaan Julian tentang cara mencintaimu. Aku tidak lagi memiliki konflik batin. Aku adalah Aan yang sesungguhnya. Tanpa kebohongan, tanpa sandiwara."
"Itu menjijikkan," bisikku, air mata mulai mengalir. "Kalian menganggap hidup ini seperti eksperimen laboratorium. Di mana Andre yang asli? Di mana Julian yang asli?"
Pria itu menaruh kopinya di atas kotak kayu tua. Dia mendekat hingga dadanya menyentuh ujung hidungku. "Mereka sudah nggak ada, Anita. Yang ada di depanmu adalah pria yang akan menjagamu selamanya. Pria yang sudah membersihkan semua musuhmu. Elena sudah mati, Ayah membusuk di penjara bawah tanah yang dia bangun sendiri, dan kamu... kamu bebas. Bersamaku."
Dia mengulurkan tangan, mengusap pipiku dengan ibu jarinya. Sentuhannya masih sama. Kehangatan yang dulu membuatku merasa aman di apartemen sempit itu. Tapi sekarang, kehangatan itu terasa seperti api yang ingin melahapku.
"Ikutlah denganku, Anita" ajaknya. "Aku sudah menyiapkan rumah di tepi danau di Swiss. Ibumu sudah ada di sana, dia menunggumu. Kita bisa melupakan semua kegilaan ini. Aku akan menjadi pria yang kamu inginkan. Aku bisa menjadi bos yang sukses di siang hari, dan teman sekamar yang malas di malam hari."
Aku menepis tangannya dengan kasar. "Kamu pikir aku bisa hidup dengan seseorang yang bahkan nggak tahu siapa dirinya sendiri? Kamu itu monster, entah kamu Andre atau Julian!"
Tatapan matanya mendadak berubah. Kedamaian yang tadi ditunjukkannya menguap, digantikan oleh kedinginan yang menusuk tulang. "Monster? Aku melakukan ini untukmu! Aku merelakan kepribadianku, jiwaku, hanya agar aku bisa menjadi orang yang pantas untukmu!"
Dia mencengkeram bahuku, tidak terlalu keras tapi cukup kuat untuk membuatku tidak bisa bergerak. "Kamu tidak punya pilihan, Anita. Kartu memori yang kuberikan padamu? Itu berisi bukti kejahatan keluarga Vulture, benar. Tapi itu juga berisi virus yang akan menghapus seluruh identitas digitalmu jika kamu tidak memasukkan kode yang hanya aku yang tahu."
"Kamu... kamu mengancamku lagi?" aku tertawa histeris di tengah tangisanku. "Bahkan setelah semua ini, kamu masih menggunakan rantai untuk menahanku?"
"Ini bukan rantai, ini pengaman, Anita!" teriaknya. Dia tampak mulai kehilangan kendali, sebuah tanda bahwa stabilitas mentalnya pasca operasi belum sempurna. "Dunia ini jahat, Anita! Tanpa aku, kamu akan dihancurkan oleh orang-orang seperti Elena. Aku adalah satu-satunya pelindungmu!"
Tiba-tiba, sebuah suara mesin mobil yang menderu kencang mendekat ke dermaga. Sebuah mobil van hitam berhenti dengan rem mendadak. Pintu terbuka, dan beberapa pria bersenjata keluar. Mereka bukan polisi. Mereka mengenakan seragam tentara bayaran dengan logo yang belum pernah kulihat sebelumnya, sebuah burung gagak perak.
Pria di depanku, Aan yang baru, langsung menarikku ke belakang tubuhnya. "Sial. Mereka lebih cepat dari yang kukira."
"Siapa mereka?" tanyaku panik.
"Dewan Direksi Vulture yang tersembunyi. Mereka tidak ingin aset perusahaan ini menghilang bersamaku," bisiknya. Dia merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan sebuah tabung kecil. "Anita, dengarkan aku, ya. Jika mereka menangkapku, kamu harus lari ke arah kapal nelayan di ujung sana. Ada pria bernama Thomas, dia akan membawamu keluar."
"Lalu kamu?"
Dia menoleh padaku, dan untuk pertama kalinya, aku melihat ketakutan yang murni di matanya. Bukan takut mati, tapi takut kehilangan aku lagi. "Jika aku tertangkap, mereka akan mereset aku. Aku akan kehilangan ingatan tentangmu selamanya. Aku akan menjadi mesin tanpa jiwa yang hanya tahu cara mencari keuntungan."
Tembakan mulai dilepaskan. Peluru memantul di pagar besi dermaga. Pria itu mengeluarkan sebuah pistol kecil dan membalas tembakan sambil membawaku berlari menuju tumpukan kontainer.
Di tengah kekacauan itu, saat kami terpojok di balik kontainer biru besar, dia memegang kedua pundakku. "Anita, aku butuh kamu mengatakan sesuatu. Sebelum semuanya terlambat. Sebelum aku kehilangan diriku lagi."
"Apa itu?" tanyaku sesenggukan.
"Siapa yang kamu cintai? Andre atau Julian? Katakan padaku, agar aku tahu jiwa mana yang harus kupertahankan di dalam kepalaku!"
Aku menatapnya, di antara desingan peluru dan suara ombak. Di saat itulah, aku menyadari kebenaran yang paling pahit.
"Aku nggak mencintai kalian," bisikku. "Pria yang kucintai adalah Aan yang sederhana. Dan dia nggak pernah ada. Dia hanya bayangan yang kalian ciptakan untuk menipuku."
Wajah pria itu hancur. Harapan di matanya padam. Tepat saat itu, sebuah granat asap meledak di depan kami, menutupi pandangan dengan asap putih yang pekat.
Aku merasakan seseorang menarik lenganku dengan kasar di tengah asap. Bukan tarikan protektif Aan, tapi tarikan dingin yang terampil. Aku diseret menuju van hitam itu.
"Anita!" teriakan pria itu terdengar jauh di tengah asap.
Aku dilemparkan ke dalam van. Di sana, duduk seorang pria paruh baya yang tampak sangat tenang sambil memegang tablet. Dia melihatku, lalu melihat ke arah luar jendela.
"Bawa dia," ucap pria itu. "Dan jangan lupa ambil subjek 0 itu. Kita butuh memori di otaknya untuk mengakses brankas utama."
Van itu melesat pergi. Lewat kaca belakang, aku melihat pria yang mencintaiku itu berlutut di tengah dermaga, dikelilingi oleh pasukan bersenjata, sementara api mulai melahap dermaga 7.
Lalu, sebuah pesan masuk ke ponselku yang terjatuh di lantai van. Pesan dari nomor yang tidak dikenal.
Pesan: Anita, jangan takut. Thomas bukan orangnya Andre. Thomas adalah aku. Dan aku sedang menunggumu di garis akhir.
Aku menatap pesan itu dengan ngeri. Jika pria di dermaga itu adalah gabungan Andre dan Julian... lalu siapa yang mengirim pesan ini? Siapa yang sebenarnya sedang menungguku di garis akhir?
Dan yang lebih mengerikan, saat aku melihat pantulan diriku di jendela van, aku menyadari bahwa aku sedang memakai kalung yang diberikan Aan di ruang bawah tanah. Kalung itu berkedip merah terang.
Pip... pip... pip...
Suaranya persis seperti bom di dermaga tadi. Dan kali ini, tidak ada Andre atau Julian yang bisa menyelamatkanku.