Aku tidak tahu bagaimana cara kakiku masih bisa menapak lantai. Rasanya seperti berjalan di atas awan yang terbuat dari pecahan kaca. Di belakangku, Andre berjalan dengan langkah tenang, seolah dia baru saja mengumumkan kenaikan saham, bukan mengumumkan bahwa staf juniornya keluar dari kamarnya pagi ini.
Sepanjang koridor menuju kantor pribadinya, aku bisa merasakan ribuan pasang mata menusuk punggungku. Bisik-bisik mulai menjalar seperti api di hutan kering. Wanita Simpanan, pelakor, dan jalur cepat. Kata-kata itu belum terucap, tapi aku sudah bisa mendengarnya di kepalaku.
Begitu kami masuk ke ruangannya yang luas dan kedap suara, Andre menutup pintu dengan bunyi klik yang halus namun final.
"Duduklah, Anita!"
Suaranya bukan lagi suara serak khas bangun tidur milik Aan. Ini adalah suara Andrean Vulture, sang CEO dingin, berwibawa, dan tidak menerima penolakan.
"Kamu... kamu sudah membohongiku," suaraku bergetar. Aku tidak duduk. Aku berbalik menghadapnya, tanganku mencengkeram ujung kemeja kebesaran ini, kemeja sialan yang sekarang terasa seperti tali gantungan. "Enam bulan, Andre! Enam bulan aku menceritakan rahasia terburukku, kebencianku padamu, bahkan masalah celana dalamku yang hilang di laundry... dan kamu cuma diam menontonku seperti badut?"
Andre melepaskan jasnya, menyampirkannya di kursi kerja kulitnya. Dia melonggarkan dasi, lalu berjalan mendekatiku. "Aku nggak pernah memintamu bercerita, Anita. Kamu yang memilih untuk menjadikanku tempat sampah emosimu setiap malam."
"Karena aku pikir kamu itu Aan! Pria pengangguran yang baik hati, bukan monster yang memecat orang karena salah letak koma!" teriakku, air mata mulai menggenang. Ini bukan cuma soal malu, ini soal pengkhianatan. Aku merasa telanjang di depannya.
Andre berhenti tepat di depan dahi aku. Dia jauh lebih tinggi, membuat bayangannya menelan tubuhku. "Aan itu adalah aku. Andrean adalah aku. Bedanya, Aan punya kesabaran untuk mendengarkan rengekanmu, sementara Andre punya tanggung jawab untuk memastikan perusahaan ini tidak hancur karena kecerobohanmu."
Dia mengulurkan tangan, jempolnya menghapus satu tetes air mata yang jatuh di pipiku. Sentuhannya hangat, persis seperti saat dia membantuku mengobati jari yang teriris pisau di dapur dua minggu lalu. Sentuhan yang sama, tapi sekarang terasa sangat berbahaya.
"Kenapa?" tanyaku sesenggukan. "Kenapa harus aku? Kenapa kamu harus repot-repot menyamar jadi orang miskin dan tinggal di apartemen apek itu kalau kamu punya mansion?"
Tatapan Andre berubah. Sisi dinginnya sedikit retak, digantikan oleh sesuatu yang jauh lebih gelap dan pekat. Sesuatu yang membuat bulu kudukku meremang.
"Kamu pikir aplikasi itu memberimu Aan secara acak?" Andre terkekeh, suara rendah yang mengirimkan getaran ke seluruh sarafku. "Aku sudah mengawasimu sejak hari pertama kamu wawancara di sini, Anita. Saat kamu menumpahkan kopi ke sepatuku dan bukannya meminta maaf, kamu malah memarahi sepatuku karena menghalangi jalanmu."
Jantungku berhenti berdetak sesaat. "Apa?"
"Aku menyukai caramu menatapku dengan kebencian murni. Itu jujur. Semua orang di sini menatapku dengan pemujaan palsu. Jadi, aku mencari tahu segalanya tentangmu. Alamatmu, hutang ibumu, hobi makan mi instanmu jam dua pagi... semuanya. Aku membeli gedung apartemen itu lewat perusahaan cangkang, lalu memastikan hanya aku yang muncul di layar aplikasimu saat kamu mencari teman sekamar."
Aku mundur selangkah, menabrak meja kerjanya yang keras. "Kamu gila. Kamu penguntit."
"Aku lebih suka menyebutnya investasi strategis," jawabnya santai. Dia maju lagi, memerangkapku di antara kedua lengannya yang bertumpu pada meja. "Aku memberimu tempat tinggal, aku memberimu makanan, aku bahkan memperbaiki keran airmu. Aku memberikan semua yang kamu butuhkan, Anita. Sebagai gantinya, aku mendapatkan akses eksklusif untuk melihat dirimu yang sebenarnya."
"Aku ingin pindah," kataku tegas, meski suaraku pecah. "Aku akan keluar hari ini juga. Aku akan mengundurkan diri."
Andre tertawa lagi, kali ini lebih keras. Dia merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel, menunjukkan sebuah dokumen digital. "Kontrak sewa apartemenmu punya klausul penalti sebesar lima ratus juta jika diputus sepihak sebelum satu tahun. Dan kontrak kerjamu? Ada masa pengabdian minimum. Jika kamu berhenti sekarang, kamu harus membayar ganti rugi yang nilainya cukup untuk membuat ibumu diusir dari rumah sakit tempatnya dirawat."
Aku ternganga. Dia sudah mengunci semua pintu. Dia tidak hanya membangun sangkar, dia sudah mematikan semua lampu dan membuang kuncinya.
"Kamu monster," bisikku pedih. Air mata kini mengalir deras. Aku benci betapa aku merindukan Aan saat ini, padahal pria yang menghancurkanku ada tepat di depanku.
Andre merunduk, hidungnya bersentuhan dengan hidungku. Bau cendana dari kemejanya, tepatnya kemeja miliknya, kini terasa mencekik. "Jangan menangis. Kamu terlihat cantik dengan kemejaku, tapi aku lebih suka jika kamu tidak memakai apa-apa di bawahnya saat kita di rumah nanti."
Dia mencium keningku dengan lembut, sebuah kecupan yang terasa seperti tanda kepemilikan. "Sekarang, kembali ke mejamu. Kerja yang rajin, Sayang. Ingat, setiap sen yang kamu hasilkan hari ini, pada akhirnya akan kembali ke kantongku untuk membayar sewa kamarmu."
Aku keluar dari ruangannya dengan perasaan hancur total. Aku berjalan melewati kubikel rekan-rekan kerjaku yang menatapku dengan hina. Aku duduk di kursiku, mencoba fokus pada layar komputer yang buram karena air mata.
Baru sepuluh menit, sebuah pesan masuk di ponselku. Dari nomor yang biasanya kusimpan dengan nama Aan Berantakan.
Aan Berantakan: Malam ini jangan masak. Aku ingin makan malam yang spesial untuk merayakan hari pertama kita go public. Pakai gaun merah yang kubelikan bulan lalu. Jangan terlambat.
Aku gemetar. Gaun merah itu... dia memberikannya saat ulang tahunku, bilang kalau itu barang diskonan yang dia temukan di pasar loak. Ternyata itu gaun desainer seharga puluhan juta.
Tiba-tiba, sebuah notifikasi lain muncul. Kali ini dari sistem keamanan apartemenku, sebuah aplikasi yang dipasang Aan di ponselku agar aku bisa melihat siapa yang datang ke pintu.
Aku membukanya, dan jantungku seolah dicabut paksa dari dadanya.
Di layar kamera tersembunyi itu, aku melihat Aan, bukan, Andre, sedang berada di dalam kamarku. Di rumah. Padahal dia baru saja ada di kantor bersamaku. Bagaimana bisa?
Lalu aku sadar. Rekaman itu bukan live. Itu rekaman tadi malam.
Di layar itu, aku melihat Andre sedang berdiri di samping tempat tidurku saat aku terlelap. Dia tidak sedang memperbaiki apa pun. Dia hanya berdiri di sana, selama berjam-jam, membungkuk di atas tubuhku, menghirup aroma rambutku, dan membisikkan sesuatu yang membuat darahku membeku saat aku mengeraskan volume suaranya.
"Cepatlah bangun, Anita. Aku sudah nggak sabar ingin memakanmu di depan semua orang."
Belum sempat aku mencerna kengerian itu, sebuah tangan menepuk bahuku dari belakang di kantor. Aku melonjak kaget dan hampir menjerit.
Itu adalah sekretaris Andre. "Nona Anita, Pak Andre ingin Nona membawakan kopi ini ke ruangannya sekarang. Dan dia berpesan... kopinya harus manis, seperti janji yang Nona ucapkan semalam di meja makan."
Aku menatap cangkir kopi di tanganku dengan ngeri. Di atas busa kopinya, ada lukisan bentuk hati yang sempurna. Tapi bagiku, itu terlihat seperti target sasaran tembak.
Aku menoleh ke arah ruang kaca Andre. Dia sedang berdiri di sana, menatapku dari balik dinding kaca searah, perlahan mengangkat cangkirnya sendiri dan melakukan gerakan cheers ke arahku.
Lalu, ponselku bergetar lagi. Pesan baru dari nomor yang sama.
Ian Berantakan: Anita, jangan coba-coba menghapus rekaman kamera itu. Masih banyak yang belum kamu lihat di bawah bantalmu.
Tanganku langsung meraba bagian bawah kursi kantorku secara impulsif, dan di sana, aku merasakan sesuatu yang keras dan kecil tertempel. Sebuah alat penyadap.
Aku tidak hanya berbagi rumah dengan bosku. Aku sedang tinggal di dalam sebuah laboratorium, dan aku adalah kelinci percobaannya.