Tanganku gemetar hebat saat meraba alat penyadap di bawah kursi kantor itu. Benda itu kecil, hitam, dan terasa seperti parasit yang menyedot kewarasanku. Di sekelilingku, rekan kerja masih sibuk dengan keyboard mereka, tidak sadar bahwa salah satu dari mereka sedang berada dalam cengkeraman predator paling sabar di gedung ini.
Aku memandang cangkir kopi dengan lukisan hati itu. Manis? Andre ingin kopi yang manis? Aku ingin sekali mencampurkan racun tikus ke dalamnya. Tapi ancamannya tentang Ibu dan hutang lima ratus juta itu seperti tali yang melilit leherku. Setiap kali aku mencoba menarik napas, tali itu semakin kencang.
Dengan kaki yang terasa seperti jeli, aku berjalan kembali ke ruangan kaca itu. Andre tidak lagi menatap keluar. Dia duduk di kursi besarnya, kembali menjadi CEO yang sibuk, seolah pengakuan gila di koridor tadi hanyalah imajinasiku.
"Kopinya, Pak," kataku, meletakkan cangkir itu di mejanya dengan bunyi denting yang kentara karena tanganku masih tremor.
Andre tidak mengangkat wajahnya dari dokumen. "Terima kasih, Anita. Dan panggil aku Aan. Kita sedang nggak ada orang lain di sini."
"Jangan bercanda! Ini kantor, dan Bapak adalah Adrian Vulture, pria yang paling kubenci," desisku, berusaha merendahkan suara agar tidak terdengar sampai ke luar.
Andre mendongak. Matanya yang tajam kini tampak gelap, tanpa binar jenaka yang biasa Aan tunjukkan. "Kebencian itu energi yang bagus, Anita. Itu lebih baik daripada ketidakpedulian. Tapi jangan lupa, pria yang kamu benci ini adalah orang yang tadi malam mengusap keningmu saat kamu mengigau memanggil nama ibumu."
Aku tersentak. "Kamu... kamu benar-benar masuk ke kamarku setiap malam?"
Andre menyesap kopinya perlahan, menikmatinya seolah itu adalah kemenangan. "Manis. Persis seperti yang aku bayangkan. Soal kamarmu... aku nggak hanya masuk, Anita. Aku menjagamu. Dunia ini berbahaya bagi wanita ceroboh sepertimu. Kamu butuh perlindungan, meski kamu terlalu bodoh untuk menyadarinya."
"Itu bukan perlindungan! Itu pelanggaran privasi! Kamu sakit, Andre!"
"Sakit?" Andre berdiri, berjalan mengelilingi mejanya hingga dia berada tepat di depanku. Dia menyandarkan pinggulnya di tepi meja, melipat tangan di d**a. "Sakit adalah saat aku membiarkanmu tinggal di apartemen murah dengan tetangga pecandu narkoba di lantai dua. Sakit adalah saat aku membiarkanmu menangis sendirian karena tagihan rumah sakit ibumu. Aku menyembuhkan hidupmu, Anita. Aku memberikanmu keamanan. Dan sebagai bayarannya, aku hanya ingin satu hal, dirimu, seutuhnya."
Dia mengulurkan tangan, menyentuh anting-antingku. "Sekarang kembali bekerja. Aku punya janji makan malam yang tidak boleh kamu lewatkan. Dan Anita... jangan coba-coba membuang alat penyadap itu. Aku ingin mendengar setiap helaan napasmu hari ini."
Sisa hari itu berlalu seperti mimpi buruk yang diputar dalam gerakan lambat. Aku tidak bisa fokus. Setiap kali rekan kerjaku berbisik, aku merasa mereka sedang menertawakanku. Setiap kali ponselku bergetar, jantungku rasanya mau copot.
Pukul lima sore, sebuah mobil hitam mewah sudah menunggu di depan lobi. Bukan Aan dengan motor bututnya, tapi Andre dengan supir pribadi. Aku dipaksa masuk, dibawa kembali ke apartemen sangkar emasku.
Di dalam apartemen, suasananya terasa berbeda. Bau cendana dan kopi yang dulu terasa menenangkan, kini terasa menyesakkan. Aku masuk ke kamarku, mengunci pintu, dan langsung menuju tempat tidur.
Pesan Andre tadi pagi terus terngiang, “Masih banyak yang belum kamu lihat di bawah bantalmu.”
Dengan napas tertahan, aku mengangkat bantal putihku. Jantungku berpacu begitu cepat hingga telingaku berdengung. Di sana, di atas seprai yang biasanya menjadi tempatku bermimpi, terletak sebuah kotak beludru hitam kecil. Dan di sampingnya, ada selembar foto lama yang sudah agak menguning.
Aku mengambil foto itu duluan. Mataku membelalak. Itu foto aku. Foto saat aku masih SMA, sedang duduk di sebuah taman kota, tertawa bersama teman-temanku. Aku ingat hari itu, tapi aku tidak ingat ada orang yang mengambil foto ini. Di sudut foto, ada tulisan tangan yang rapi, “ Hari ke-1. Awal dari segalanya.”
"Ya Tuhan..." bisikku. Ini bukan obsesi enam bulan. Ini sudah bertahun-tahun.
Aku membuka kotak beludru itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya bukan cincin berlian, melainkan sebuah pelacak GPS berbentuk liontin kecil yang sangat elegan, dan sebuah kunci perak kuno. Di bawah kunci itu, ada secarik kertas kecil.
Kunci ini untuk pintu di ruang bawah tanah gedung ini. Kamar 00. Datanglah sebelum makan malam dimulai, atau aku yang akan menjemputmu dengan cara yang tidak akan kamu sukai.
Rasa takut yang murni menjalar di sekujur tubuhku. Aan—Andrean—sudah merencanakan ini sejak lama. Aku adalah mangsa yang sudah masuk ke dalam jaring laba-laba bertahun-tahun sebelum aku menyadarinya.
Aku melirik jam. Masih ada tiga puluh menit. Dengan keberanian yang tersisa, aku keluar dari kamar. Aku tidak menuju dapur, tapi menuju lift. Aku menekan tombol paling bawah. B.
Gedung apartemen ini tua, dan ruang bawah tanahnya biasanya hanya digunakan untuk gudang atau ruang mesin yang berisik. Saat pintu lift terbuka, udara dingin dan lembap menyambutku. Lampu-lampu neon berkedip-kedip, menciptakan bayangan yang menari di dinding beton yang retak.
Aku berjalan menyusuri lorong gelap, mencari angka 00. Di ujung lorong, di balik tumpukan pipa besar yang berkarat, aku menemukan sebuah pintu besi berat tanpa papan nama. Hanya ada angka 00 yang ditulis dengan cat merah yang mengalir ke bawah seperti darah kering.
Aku memasukkan kunci perak itu. Klik. Pintu itu terbuka dengan suara derit yang memilukan.
Aku melangkah masuk, dan seketika aku ingin berteriak tapi suaraku tertahan di tenggorokan.
Ruangan itu bukan gudang. Ruangan itu adalah replika sempurna dari kamar tidurku di lantai empat. Seprainya, tumpukan bukunya, bahkan noda kopi di atas mejanya, semuanya identik. Tapi ada satu perbedaan besar.
Dinding ruangan itu tidak tertutup cat. Dinding itu tertutup oleh ribuan lembar kertas dan foto. Semuanya tentang aku. Skripsi yang pernah kutulis, struk belanjaanku dari tiga tahun lalu, botol parfumku yang sudah habis, hingga helai rambutku yang diikat rapi dengan pita.
Di tengah ruangan, ada sebuah monitor besar yang menampilkan rekaman live dari setiap sudut apartemenku di atas. Termasuk rekaman kamarku, kamar mandiku... dan monitor itu sedang merekam diriku sendiri yang sedang berdiri di sana, di dalam ruangan hantu itu.
Tiba-tiba, suara pintu besi di belakangku tertutup dengan dentuman keras.
"Suka dengan dekorasinya, Anita?"
Aku berbalik dengan cepat. Andre berdiri di sana, masih memakai kemeja kerjanya, tapi tanpa dasi. Dia memegang sebuah gelas wine, menatapku dengan tatapan yang benar-benar gila.
"Selamat datang di dunia yang sebenarnya," bisiknya sambil berjalan mendekat. "Dunia di mana hanya ada aku dan kamu. Kamu tahu kenapa aku membangun ruangan ini di bawah tanah?"
Aku menggeleng, air mata mulai mengalir deras. Aku terlalu takut untuk bersuara.
Andre menyeringai, sebuah senyuman yang membuatku sadar bahwa pria ini sudah kehilangan kewarasannya sejak lama.
"Karena di sini, nggak ada yang bisa mendengarmu berteriak, nggak peduli seberapa keras kamu memanggil nama Aan untuk menyelamatkanmu."
Dia meletakkan gelas wine-nya, lalu merogoh kantong jasnya. Dia mengeluarkan sebuah suntikan kecil berisi cairan bening.
"Waktunya tidur, Sayang. Besok pagi, kamu akan bangun sebagai istriku, dan dunia nggak akan pernah melihat Anita yang lama lagi."
Aku mundur, mencoba mencari jalan keluar, tapi punggungku menabrak dinding yang penuh dengan foto-foto masa laluku. Andre menerjang maju, dan tepat saat jarum itu menyentuh kulit leherku, lampu di ruangan itu mendadak padam total.
Hanya ada suara napas berat Andre di telingaku, dan sebuah bisikan yang lebih dingin dari kematian.
"Jangan bergerak, Anita. Atau aku akan menyuntikkannya ke matamu."