Teror Murni

1117 Words
Kegelapan di ruang bawah tanah itu terasa padat, seolah-olah oksigen telah digantikan oleh rasa takut yang kental. Aku bisa merasakan napas panas Andre di kulit leherku, bau cendana yang kini bercampur dengan aroma bahan kimia dari suntikan yang dia pegang. Tubuhku kaku, lumpuh bukan karena obat, tapi karena teror murni. "Andre... tolong... jangan..." suaraku nyaris tidak keluar, hanya berupa bisikan pecah yang menyedihkan. "Sstt... panggil aku Aan, Anita. Aku suka caramu menyebut nama itu saat kita sedang makan mi instan di atas sana," bisiknya, sangat dekat hingga bibirnya menyentuh daun telingaku. "Aan adalah pria yang kamu cintai, kan? Pria yang memperbaiki keranmu? Pria yang menjagamu? Aku hanya ingin kita kembali ke sana. Selamanya." Tiba-tiba, lampu neon di langit-langit berkedip sekali, dua kali, lalu menyala dengan cahaya biru pucat yang remang-remang. Aku melihat bayangan kami di dinding yang penuh dengan fotoku, sosok Andre yang memelukku dari belakang tampak seperti pemangsa yang sedang mendekap mangsanya sebelum santapan terakhir. "Kenapa kamu melakukan ini?" tangisku pecah. "Aku nggak pernah menyakitimu. Aku bahkan nggak mengenalmu saat SMA!" Andre mempererat pelukannya, satu tangannya mencengkeram pinggangku sementara tangan lainnya yang memegang suntikan tetap menempel di leherku. "Kamu nggak mengenalku, tapi kamu menyelamatkanku, Anita. Hari itu di taman... saat aku ingin mengakhiri segalanya karena tekanan dari ayahku, aku melihatmu tertawa. Kamu membagikan rotimu pada seekor anjing liar dan tersenyum seolah dunia ini tempat yang indah. Saat itulah aku sadar, aku nggak butuh mati. Aku hanya butuh kamu untuk menjadi duniaku." Emosi yang mendalam terpancar dari suaranya, sebuah campuran antara luka lama yang belum sembuh dan cinta yang sudah membusuk menjadi obsesi. Baginya, aku bukan manusia, aku adalah obat, jimat, dan oksigennya. "Tapi ini bukan cinta, Andre! Ini penjara!" aku memberontak, mencoba menyikut perutnya. Andre mendesis. Jarum itu sedikit menggores kulitku. "Jangan melawan, Anita! Aku nggak ingin menyakitimu, tapi aku akan melakukannya jika itu satu-satunya cara untuk membuatmu diam di sini!" Dia menyentakkan tubuhku, menjatuhkannya ke atas tempat tidur replika yang empuk namun terasa seperti peti mati. Dia menindihku, mengunci kedua tanganku di atas kepala dengan satu tangan besarnya. Kekuatannya luar biasa. Dia bukan lagi Aan yang malas, dia adalah predator yang terlatih. "Lihat sekelilingmu," perintahnya, matanya berkilat gila di bawah lampu remang. "Semua yang ada di sini adalah kamu. Aku tahu setiap lagu favoritmu, setiap mimpi burukmu, bahkan aroma sabun yang kamu pakai saat umur tujuh belas tahun. Kamu pikir kamu punya privasi? Nggak ada privasi di antara dua orang yang ditakdirkan bersama." Andre mendekatkan jarum itu ke lenganku. "Ini hanya penenang ringan. Kamu akan bangun di tempat yang jauh lebih indah. Nggak ada lagi The Vulture Group, nggak ada lagi tagihan rumah sakit, nggak ada lagi dunia luar yang jahat. Hanya ada aku, Aan-mu, yang akan melayanimu seumur hidup." "Tolong..." aku terisak, tenagaku terkuras habis. "Ibuku... dia akan mencariku..." "Ibumu sudah aman, Anita," Andre tersenyum manis, sebuah senyuman yang paling mengerikan yang pernah kulihat. "Aku sudah memindahkannya ke fasilitas pribadi milik keluargaku di Swiss pagi ini. Dia akan mendapat perawatan terbaik, dan dia sudah menandatangani dokumen yang menyatakan bahwa kamu akan menyusulnya ke sana untuk kursus singkat. Semua orang mengira kamu sedang mengejar mimpi, padahal kamu hanya sedang pulang ke rumah... ke pelukanku." Duniaku runtuh sekejap itu juga. Dia sudah memikirkan semuanya. Tidak ada jalan keluar. Dia memiliki uang, kekuasaan, dan kegilaan yang cukup untuk menghapus keberadaanku dari muka bumi tanpa ada yang curiga. Tepat saat Andre hendak menekan pangkal suntikan itu, sebuah suara dentuman keras terdengar dari balik pintu besi. Brak! Brak! Andre membeku. Matanya berubah liar. "Siapa?" geramnya. "Buka pintunya, Andre! Aku tahu kamu ada di dalam!" suara itu berat dan berwibawa, suara seorang pria yang sepertinya tidak takut pada Andre. Andre melepaskan tanganku, berdiri dengan gusar. "Sialan. Dia seharusnya tidak di sini sekarang." "Siapa itu?" tanyaku dengan sisa harapan. Andre tidak menjawab. Dia berjalan menuju monitor kontrol dan menekan beberapa tombol. "Anita, dengarkan aku. Jika kamu bersuara sedikit saja, aku bersumpah fasilitas kesehatan ibumu di Swiss akan menghentikan seluruh pasokan oksigennya dalam satu menit. Mengerti?" Aku membeku, menutup mulutku rapat-rapat dengan tangan yang bergetar. Dia tidak hanya mengancamku, dia menyandera nyawa ibuku. Andre merapikan kemejanya, mengambil gelas wine-nya lagi, dan membuka pintu besi itu sedikit. Seorang pria paruh baya dengan setelan jas abu-abu mahal berdiri di sana. Wajahnya sangat mirip dengan Andre, tapi lebih tua dan lebih keras. Ayah Andre. "Ayah? Apa yang Ayah lakukan di gudang apartemenku?" tanya Andre dengan nada suara CEO-nya yang sempurna. Sangat tenang, seolah dia tidak baru saja mencoba menyuntik mati kesadaran teman sekamarnya. "Jangan main-main denganku, Andre. Aku tahu kamu membawa staf itu ke sini. Dewan direksi sedang gempar karena ucapan bodohmu di rapat tadi pagi. Kamu mempertaruhkan reputasi Vulture Group demi seorang gadis pelayan?" "Dia bukan pelayan, Ayah. Dia milikku." "Aku tidak peduli dia milikmu atau bukan. Serahkan dia padaku. Dia harus dieliminasi dari sejarah perusahaan sebelum wartawan mencium aroma skandal ini." Pria tua itu mengeluarkan sebuah pistol kecil dari balik jasnya. "Minggir, atau aku sendiri yang akan menyelesaikan masalah ini di dalam sana." Aku yang bersembunyi di balik dinding replika kamar, menahan napas. Aku terjepit di antara dua iblis. Satu yang ingin mengurungku selamanya, dan satu lagi yang ingin melenyapkanku demi reputasi. Andre tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat menyeramkan. "Ayah ingin membunuhnya? Setelah semua usaha yang kulakukan untuk menjaganya tetap murni?" Andre berbalik sedikit, menatap ke arah tempat persembunyianku, lalu kembali menatap ayahnya. "Ayah lupa satu hal," kata Andre dingin. "Ruangan ini kedap suara, kedap sinyal, dan pintunya hanya bisa dibuka dengan sidik jariku dari dalam setelah dikunci secara manual. Jika Ayah menarik pelatuk itu, Ayah tidak akan pernah keluar dari sini hidup-hidup." Tiba-tiba, Andre menarik ayahnya masuk ke dalam ruangan dengan gerakan kilat dan membanting pintu besi itu hingga terkunci otomatis. Suasana menjadi sangat kacau. Dua pria itu bergumul, pistol itu terjatuh dan meluncur tepat ke arah kakiku yang gemetar di balik tempat tidur. Aku melihat pistol itu. Hitam, dingin, dan mematikan. Lalu, monitor di belakang mereka tiba-tiba berkedip merah. Sebuah peringatan muncul di layar. “System override - Gas ventilation activated.” Andre melepaskan cengkeramannya pada ayahnya, matanya terbelalak menatap monitor. "Nggak... bukan sekarang!" Asap putih mulai keluar dari lubang ventilasi di langit-langit. Andre menoleh padaku, wajahnya penuh kepanikan yang nyata. "Anita! Ambil pistol itu dan tembak kacanya! Sekarang!" teriak Andre. Tapi aku hanya diam, memandangi pistol itu, lalu memandangi Andre yang mulai terbatuk-batuk. Di kepalaku hanya ada satu pikiran. “Ini kesempatanku untuk mengakhiri semuanya.” Tepat saat kesadaranku mulai memudar karena gas itu, aku melihat Andre merangkak ke arahku, bukan untuk mengambil pistol, tapi untuk menutupi hidung dan mulutku dengan telapak tangannya, membiarkan dirinya sendiri menghirup racun itu demi memberiku beberapa detik napas tambahan. "Maafkan... aku... Anita..." bisiknya sebelum matanya terpejam. Dan duniaku pun menjadi hitam sepenuhnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD