Suara dengung di telingaku terasa seperti ribuan lebah yang mengamuk. Paru-paruku terbakar, setiap tarikan napas terasa seperti menghirup serpihan kaca. Dalam remang lampu darurat yang berkedip merah, aku melihat Andre, pria yang paling kubenci sekaligus satu-satunya pria yang memberiku napas tambahannya, terkapar tak berdaya di atas tubuhku.
Tangan besarnya yang tadi menutup mulutku kini terkulai lemas di atas lantai beton.
"Andre... bangun..." suaraku hanya berupa rintihan parau.
Gas putih itu masih merayap pelan di lantai, tapi entah kenapa lubang ventilasi mendadak berhenti menyemburkannya. Aku melirik ke sudut ruangan. Ayah Andre, pria tua yang tadi ingin melenyapkanku, juga sudah jatuh pingsan di dekat pintu besi. Pistol hitam itu masih tergeletak hanya beberapa inci dari jemariku.
Dengan tenaga yang tersisa, aku mendorong tubuh berat Andre. Aku merangkak, meraih pistol itu. Logamnya terasa dingin, kontras dengan kulitku yang panas karena adrenalin. Aku punya kesempatan sekarang. Satu peluru untuk Andre, satu untuk ayahnya, dan aku bisa mencoba mencari jalan keluar.
Tapi kemudian aku menatap wajah Andre.
Dalam keadaan pingsan, gurat-gurat kejam di wajahnya memudar. Dia kembali terlihat seperti Aan. Pria yang merapikan selimutku saat aku tertidur di sofa. Pria yang tahu persis seberapa banyak gula yang kusuka dalam kopiku. Air mata mengalir, membasahi debu di pipiku. Bagaimana bisa seseorang mencintaimu begitu dalam sekaligus menghancurkanmu begitu hebat?
"Kenapa kamu harus menjadi iblis, Aan?" bisikku pilu.
Tiba-tiba, monitor di dinding menyala kembali. Bukan menampilkan rekaman kamarku, melainkan sebuah pesan teks besar berwarna hijau.
“Access granted. Neutralizer deployed.”
Udara segar tiba-tiba berhembus kencang dari sistem sirkulasi. Aku terbatuk hebat, menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Seseorang di luar sana baru saja menyelamatkan kami. Tapi siapa?
"Anita..."
Aku tersentak. Andre mulai sadar. Matanya terbuka perlahan, merah dan berair. Hal pertama yang dia lakukan bukan mencari ayahnya atau pistolnya, tapi meraba-raba wajahku dengan tangan gemetar.
"Kamu... masih hidup..." suaranya serak, penuh kelegaan yang menyesakkan d**a.
Aku langsung mengarahkan pistol itu tepat ke dahinya. "Jangan bergerak, Andre! Satu langkah saja, aku bersumpah akan menembakmu!"
Andre membeku. Dia menatap lubang pistol itu tanpa rasa takut. Malah, dia tersenyum tipis, senyuman yang terlihat sangat lelah. "Lakukan, Anita. Jika itu bisa membuatmu merasa aman, tarik pelatuknya. Aku sudah mati sejak hari aku memutuskan untuk mencintaimu dari kegelapan."
"Hentikan omong kosong itu!" teriakku, tanganku gemetar hebat. "Kamu menculikku! Kamu menyandera ibuku! Kamu penguntit sakit jiwa!"
"Aku memang sakit," akunya tanpa membantah. Dia duduk perlahan, membiarkan punggungnya bersandar pada ranjang replika itu. "Tapi Ayahku... dia jauh lebih sakit. Gas tadi bukan sistem keamananku. Itu perintahnya. Dia ingin kita berdua mati di sini agar tidak ada skandal yang tersisa."
Aku melirik pria tua yang masih pingsan itu. Jadi, ayah kandungnya sendiri mencoba membunuhnya?
"Kenapa?"
"Karena bagi Vulture Group, manusia hanyalah angka di atas kertas saham. Dan aku adalah angka yang mulai nggak stabil karena kamu," Andre terbatuk lagi, ada sedikit darah di sudut bibirnya. "Anita, dengarkan aku. Kamu memegang pistol itu. Kamu punya kendali sekarang. Tapi kunci keluar dari ruangan ini ada di jam tanganku, dan jam ini hanya merespons detak jantungku."
Aku menatap jam tangan perak di pergelangan tangannya. "Maksudmu?"
"Jika aku mati, pintu ini terkunci selamanya. Kamu akan terjebak di sini bersama mayatku." Andre menatapku dalam-dalam, sebuah tatapan yang memohon namun juga penuh manipulasi. "Bawa aku keluar dari sini. Kita bisa pergi ke Swiss, menjemput ibumu, dan menghilang. Aku akan memberikan semua hartaku padamu, asal jangan tinggalkan aku."
"Kamu masih mencoba mengaturku bahkan di saat seperti ini?" aku tertawa histeris. "Aku membencimu, Andre! Aku membenci setiap detik aku tinggal bersamamu!"
"Tapi kamu nggak menembakku tadi," potongnya tajam. "Kenapa, Anita? Kenapa kamu nggak menarik pelatuknya saat aku pingsan?"
Pertanyaannya memukulku telak. Karena aku tidak tahu. Karena sebagian dari diriku masih merindukan aroma mi instan jam dua pagi bersamanya. Karena aku adalah korban yang mulai mencintai sangkarnya.
Tiba-tiba, pintu besi itu berdentum keras. Seseorang dari luar sedang mencoba menjebolnya dengan paksa.
"Pihak keamanan Ayah," bisik Andre, wajahnya memucat. "Mereka datang untuk memastikan nggak ada saksi yang hidup. Anita, berikan pistol itu padaku. Aku akan melindungi kita."
"Nggak! Aku nggak percaya padamu!"
"Berikan, Anita! Atau kita berdua mati di sini sekarang!"
Dalam kepanikan, aku melihat gagang pintu besi itu mulai berputar. Cahaya senter mengintip dari celah pintu yang mulai terbuka. Aku harus memilih, mempercayai penguntit yang mencintaiku secara gila, atau menyerah pada tiran yang ingin membunuhku.
Aku menyerahkan pistol itu ke tangan Andre.
Andre langsung berdiri, mendorongku ke belakang tubuhnya. Dia tidak lagi terlihat lemah. Aura bos iblis nya kembali seketika. Dia mengarahkan pistol ke pintu, matanya berkilat dingin.
Tapi, saat pintu itu terbuka lebar, yang berdiri di sana bukan tentara bayaran.
Seorang wanita cantik dengan setelan jas merah menyala berdiri di sana, memegang sebuah tablet kontrol. Di belakangnya ada tim kepolisian lengkap.
"Selamat malam, Kakak," ucap wanita itu dengan nada mengejek. "Aku tidak menyangka CEO hebat kita berakhir di lubang tikus seperti ini."
Wajah Andre berubah sangat ngeri, jauh lebih ngeri daripada saat dia menghadapi ayahnya. "Elena? Apa yang kamu lakukan?"
"Menyelamatkan perusahaan kita dari kehancuran yang kamu buat," Elena tersenyum, lalu menatapku. "Dan kamu, Anita... terima kasih sudah menjadi umpan yang sempurna. Tanpa obsesi gila kakakku padamu, aku tidak akan pernah punya alasan untuk menjatuhkannya dari kursi CEO."
Elena memberi isyarat pada polisi. "Tangkap Andrean Vulture atas tuduhan penculikan, penyekapan, dan percobaan pembunuhan terhadap ayah kami sendiri."
Andre tidak melawan. Dia hanya menoleh padaku, matanya penuh dengan kesedihan yang tak terhingga. "Dia berbohong, Anita. Jangan percaya padanya..."
Tapi sebelum Andre menyelesaikan kalimatnya, Elena mendekat ke telingaku dan membisikkan sesuatu yang membuat seluruh duniaku kembali terbalik.
"Kamu tahu siapa yang sebenarnya memberitahu Andre tentang alamatmu dan tagihan rumah sakit ibumu enam bulan lalu? Itu aku, Anita. Akulah yang mengatur pertemuan kalian. Aku butuh dia menjadi gila karenamu agar aku bisa mengambil alih semuanya."
Aku mematung. Jadi, selama ini... aku bukan hanya mangsa Andre. Aku adalah pion dalam permainan catur antara dua saudara iblis ini.
Saat polisi menyeret Andre keluar, dia meronta dan berteriak, "Anita! Jangan pergi bersamanya! Dia lebih berbahaya dariku! Anita!"
Aku berdiri sendirian di tengah ruangan yang penuh dengan fotoku, sementara Elena mengulurkan tangannya padaku dengan senyum kemenangan. "Ayo, Anita. Mari kita jemput ibumu. Dia tidak pernah di Swiss. Dia ada di gudang kantorku selama ini."
Langkahku terhenti. Aku menatap Elena, lalu menatap borgol di tangan Andre yang perlahan menjauh di koridor.
Tiba-tiba, ponsel di saku jas Andre yang terjatuh di lantai bergetar. Sebuah pesan masuk, dan karena layarnya retak, aku bisa melihat isinya tanpa harus membukanya.
Pengirim: Unknown
Pesan: Target sudah di posisi. Operasi pembersihan Anita dimulai dalam 3... 2... 1...
Detik berikutnya, sebuah ledakan kecil terdengar dari arah lift, dan seluruh gedung apartemen itu berguncang hebat.