Janin Sang Tiran

1086 Words

Lampu neon klinik di pinggiran kota itu mendengung pelan, menciptakan suasana yang mencekam di tengah keheningan malam. Aku menatap pria yang menyebut dirinya Thomas itu dengan perasaan mual yang tak tertahankan. Wajahnya terlalu sempurna, seperti pahatan marmer yang menggabungkan ketegasan Andre, kelembutan Julian, dan kehangatan Aan. "Jangan sentuh aku!" teriakku, menepis tangannya yang hendak menyentuh perutku. Aan, sang aktor yang tertembak di bahu, mencoba berdiri dengan sisa tenaganya. "Thomas... kamu bilang kau adalah AI. Kamu bilang bahwa kamu ingin membantu Anita kabur!" Thomas menoleh ke arah Aan dengan tatapan merendahkan. Senyumnya tidak pernah pudar, namun matanya kosong, seperti monitor yang tidak menyala. "AI butuh inang untuk berinteraksi dengan dunia fisik, Aan. Aku a

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD