Bab 15. Semua Terasa Hancur Hutan itu kini terasa seperti panggung pertunjukan horor. Cahaya merah dari satelit-satelit Vulture di langit memberikan rona darah pada setiap helai daun dan puing helikopter yang berserakan. Anak itu, entitas yang memakai wajah bocah lima tahun, masih mengulurkan tangannya padaku. Senyumnya yang mirip Aan itu kini terasa seperti pisau yang mengiris jantungku. "Ayo, Ibu," ucapnya lagi. Suaranya kecil, namun getarannya terasa sampai ke tulang belakangku. "Dunia ini terlalu berisik. Aku butuh Ibu untuk membantu memilih suara mana yang harus aku matikan lebih dulu." Aku melirik ponselku yang masih menyala di atas tanah. Pesan dari Unknown itu seolah menjadi satu-satunya pegangan waras yang tersisa. Lari ke arah utara. "Siapa yang mengirim pesan itu?" tanyaku

