Hanya Sandiwara

1270 Words

Kepalaku terasa seperti dihantam palu godam berulang kali. Layar-layar besar di dinding bunker itu terus memutar rekaman yang sama, aku, duduk sendirian di meja makan, tertawa kecil sambil menyodorkan potongan roti ke arah kursi kosong. Aku, sedang berdebat sengit dengan udara hampa di depan televisi. Aku, yang tertidur pulas di sofa sambil memeluk bantal, sementara di sampingku tidak ada siapa-siapa. "Tidak... itu bohong! Itu editan!" teriakku, suaraku melengking, memantul di dinding beton dingin. "Evan ada di sini! Dia baru saja menciumku!" Aku menoleh ke arah Evan, pria yang mengaku sebagai aktor itu. Tapi tempat di mana dia berdiri tadi kini kosong. Tidak ada Evan. Tidak ada alat pemacu jantung. Hanya ada debu dan bayangan. "Kamu melihat apa yang ingin kamu lihat, Anita," ucap Andr

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD