Episode Keempat Belas

1033 Words
Rein sampai di rumah dengan sangat cepat bagaimana tidak, dia sudah menduga ibunya akan berkacak pinggang dan memegang spatula, kebiasaan emang. Anak-anaknya kan sudah besar ya, kenapa diperlakukan seperti masih bayik saja sih? Bayangkan, dia saat masih duduk di bangku SMA, membawa teman wanita ke rumah malah disangka menghamili dan ibunya malah meng-interogasi seakan dia berdosa sekali. Ampun, nasib Rein. Itu sebabnya dia hanya memiliki Sulis sebagai teman wanitanya, Sulis adalah wanita yang baik dan supel, ramah juga suka membantu. Tapi, dia tidak bisa melihat Sulis lebih dari itu, cukup menjadi sahabatnya. Mirna? Jangan tanyakan mengapa dia tidak ingin berteman terlalu jauh. Mirna mungkin cantik, baik dan juga manis tapi melihat juragan lele eh, juragan Mahmud rasanya kurang bisa menjadi partner makanya malas yang berhubungan dengan keluarga mereka hanya saja Mirna selalu saja mendatanginya dan suka sekali mencari perhatiannya. Rein bukan tidak tahu bahwa Mirna menyukainya, tapi dia selama ini berpura-pura tidak tahu agar tidak ada yang terluka jadinya. Dia tidak ingin memberi perhatian siapa pun dengan lebih, termasuk Sulis itu kenapa bersama Sulis pun cukup sebagai adik dan kakak dia bisa menjanjikan hubungan mereka. ... "Dari mane lu?" Tanya Tika, ibunya Rein. "Ya elah, si ibu pake ditanyain mulu dah. Orang anaknya pulang kerja juga" ujar Rein, "Jangan bohong lu, ibu lihat tadi pagi nganterin cewek yang baru pindah di rumah depan" ujar ibunya. "Masa sih Bu? Siapa itu? Cakep kagak buk?" Adek Rein sengaja memancing ibunya, Awan senang jika kakak dan ibunya berdebat, rasanya rumah ramai. Maklum ayah jarang pulang, tuntutan pekerjaan. "Awas ya kamu," ujar Rein menunjuk adiknya Awan yang diancam sang kakak hanya tertawa puas, "masa kakak ngancam Awan buk" katanya mengadu, "Ngapain kamu, ancam-ancam anak ibu?" "Emang aku bukan anak ibu yah? Oh, iya aku anak ayah sih" ujar Rein santai seketika mendapat pukulan pelan di lengannya, kalian pasti tahu pelakunya adalah ibuk. "Ih, ibu asal geplak mulu" ujarnya kesal, "Ih, ibu nanya beneran kak, kamu tadi sama cewek itu? Ibu nampak kok" ujar Tika. "Iya, dia kan baru pindah Bu, kasihan jadi Rein bantu karena di pasar tadi dia hampir pingsan." Ujarnya, lalu Rein terdiam beberapa saat "kayanya dia sakit deh buk, tapi gak tau sakit apa" lanjutnya, "Ih, kalau sakit mah kagak usah dideketin. Nanti gimana gitu sama kita" ucap si ibu "Ya masa kalau orang sakit kita gak boleh deket, belum tentu juga penyakitnya menular buk" ungkap Rein apa yang dia katakan ada benarnya, tapi ibu bukan masalah menular atau bukan. "Bukan itu, kalau dia sakit, tiba-tiba ada apa-apa sama dia, gimana? Kamu yang kena nanti maksud ibu lho Rein" ujar sang ibu, Rein malah tertawa, "ya kali ibu, udah ah ibu terlalu parno banget" "Ih, kamu ibu bilangin kok ngeyel sih" "Ibu terlalu banyak nonton sinetron sih," ujar Rein mencibir. "Tapi bener kak, bisa jadi sih" Awan, adiknya menimpali. Sejak tadi dia hanya diam tapi memperhatikan ibu dan kakaknya berdebat membuatnya penasaran, "emang ceweknya cantik?" Tanya Awan, "Cantik," "Geulis sih" Ibu dan kakaknya justru menjawab berbarengan, lalu melirik bergantian antara Kaka dan ibu, Awan pun tersenyum. "Berarti emang cantik. Kayaya ibu cuma khawatir aja deh" kerling Awan terkekeh, lalu pergi. ... Maudya tidak menyangka bisa mendapat teman sebaik Rein, yah walau pun dia belum tahu sepenuhnya seperti apa sifat lelaki itu. Tapi, dia bisa melihat Rein adalah orang yang tulus. Dilihat bagaimana dia berbicara dan bersikap di depan kedua orang tuanya. "Mah," panggil Maudy ketika mamanya datang ke dapur. Ia, Maudy lagu di dapur mengupas mangga, entah kenapa dia ingin sekali makan mangga malam-malam kaya orang ngidam, pikirnya. Tapi amit-amit katanya lagi dalam sambil mengusap d**a dan menepuk kepalanya sendiri. Mama tentu heran dong, anak gadisnya bertingkah aneh, "Dy, kenapa?" Tanya mama. "Ah, enggak ma.", Ujarnya nyengir "Kamu tadi panggil mama" ujar mama, "Ah, iya Maudy mau nanya sih ma" ujarnya, "Apa?" "Menurut mama, orang baik ke kita karena ada maunya saja kah?" "Kenapa nanya begitu nak?" Maudy mengedikkan bahu bingung, pikiran itu muncul begitu saja di benak-nya. "Ya enggak tau aja, entah kenapa pemikiran itu datang begitu aja." Ujarnya, "Emang ada yang kamu ingat nak?" Mama mulai melihatnya serius, "siapa yang buat kamu merasa begitu, kenapa sampai bilang begitu?" Tanya mama lagi. "Enggak sih, cuma sedikit samar aja ma" "Ma," ulangnya memangil "Ya?" Jawab mama "Mama tau enggak nenek, yang dekat sama aku selain nenek uti?" Tanya Maudy, Mama sedikit tersentak tapi langsung bisa menguasai diri agar tak terlihat mencurigakan. "Di..a bil..ang apa dan kamu?" Mama tergagap tapi karena Maudy fokus ke pikirannya tentang siapa nenek dalam mimpinya dia pun hanya menggeleng, "gak ada ma, hanya bilang cucu. Dan, tinggalkan cucu, siapa sih ma? Apa ada yang Maudy lewatkan ya?" Maudya mengutarakan apa yang menjadi pikirannya dari tadi, seperti ada yang mengganjal. Mama tidak tahu harus bilang apa, tidak mengerti menjelaskan dari mana, bagaimana dia mengucapakan patah-demi-patah kata agar Maudy mengerti tanpa harus membuat anaknya sakit batin dan nuraninya. "Ya nenek kamu, dia sayang banget kan sama kamu. Kita semua juga tahu itu" ujar mama mencoba mengalihkan enggan membicarakan hal yang sebenarnya, justru dengan mengingatkan Maudy tentang neneknya "Masa sih ma? Suaranya beda lho" Maudy kekeh tapi mencoba pelan, dia takut mamanya tersinggung. "Mungkin itu,..." Suara mama tertelan dengan hembusan nafasnya, untungnya ayah datang dan sedikit melonggarkan percakapan yang mungkin akan alot. Dan udara serasa lebih masuk dari pada tadi, "ada apa ini? Kok tegang banget pas ayah datang?" Ayah bertanya sambil melihat anak-istrinya dengan seksama. "Ah, ayah ngapain? Ini kita lagi curhat rahasia perempuan, ayah gak gak boleh tau dong" seru Maudy, "Kok gitu?" Protes ayah, "Iya dong, ini khusus cewek dong" ujarnya. "Ah, begitu. Oke deh kalau begitu ayah ngalah aja" ucap ayah membuat wajahnya sesendu mungkin, "Ih, ayah pura-pura. Dy gak kasihan kok" ejek Maudy sambil tertawa. "Mama, Dy ke kamar bentar ya. Nanti, Dy bantu mama cuci piring ya," teriaknya, "Jangan lama-lama nak, ayo makan sama. Kamu cuma makan mangga doang lho itu" seru mama juga. Maudy hanya menjawab 'ya' dan berlalu ke kamar. Dia perlu tau sesuatu, dia harus menghubungi Nuril. Dia yakin Nuril tahu sesuatu yang disembunyikan semua orang. Tapi, Maudy bahkan tidak mengerti tentang dirinya sendiri. ... Nuril tidak bisa dihubungi, Maudy masih menunggu tapi belum ada balasan. Masih berharap dapat balasan walau hanya secuil. ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD