Kejadian di sebuah Cafe

1151 Words
Seorang laki-laki dengan wajah menyeramkan itu sedang memperlihatkan tubuhnya yang semakin hari semakin berbentuk. Ia melihat ke arah pantulan cermin dengan bangga. Sungguh perubahan yang sangat sempurna. Kedua tangannya mengepal kuat, ia mulai mengeluarkan seluruh tenaga dalamnya. Cring!!! Sinar terang tiba-tiba saja muncul dari punggungnya, tubuh itu seakan berakar dan banyak benang yang merambat ke arah cahaya itu. Prok, prok!!! Sebuah tepukan tangan untuknya. Kali ini dia benar-benar berhasil karena telah menyerap mahkota yang ia ambil malam itu di tengah hutan rimba. "Bagus, anakku. Kau sudah berhasil meningkatkan kekuatanmu." Seorang pria berumur 60 tahunan itu telah bangga sebab anaknya telah berhasil mengambil satu mahkota. Seluruhnya ada tujuh dan dia harus mendapatkan enam mahkota lagi. Perjalanannya masih panjang. Terutama jika ia ingin sebuah hasil yang paling menakjubkan, maka ia harus mendapatkan dari Ratu pertama. "Berapa lagi yang harus aku dapatkan dari ular itu, Ayah?" tanya pria yang kini sudah mengembalikan tubuhnya seperti semula. "Ada enam, anakku. Tapi jika kau mau naik langsung ke level paling atas dan bahkan melebihi ibu dan ayahnya, maka kau harus mendapatkan mahkota dari Ratu pertama. Mahkota itulah yang bisa melambangkan keris dan itu adalah yang paling hebat, sebab Ratu pertama mendapatkannya secara turun temurun dari kakeknya," ujar pria paruh itu. Candra, pria berusia 60 tahun. Walaupun usianya tidak muda lagi, akan tetapi tampangnya begitu menakutkan bagi orang biasa-biasa saja. Beliau mempunyai tubuh yang cukup berisi dengan otot yang besar dan kuat. Beliau juga masih normal, tidak memakai kacamata ataupun tongkat untuk membantunya berjalan. "Baiklah, aku akan cari mahkota Ratu itu. Tapi sebelumnya aku ingin melenyapkan Devan terlebih dahulu dan aku ingin dia mati di tanganku kali ini." Candra menepuk bahu anaknya dari belakang. "Jangan sekarang. Sebaiknya kau mencari mahkota itu dulu maka kau akan menguasai dunia termasuk membunuh sasaran mu itu," ucapnya. Tristan tersenyum, "Baiklah. Sebentar lagi dunia akan menjadi kuasaku!" *** Devan mencari pekerjaan yang mungkin saja ada yang membutuhkan tenaganya. Lelaki itu sudah tidak bisa mendapatkan jatah bulanannya selama dia berpisah dengan Raya. Akan tetapi dirinya sangat bersyukur sebab, dirinya sudah tidak mengandalkan uang dari pemberian. Devan tidak punya pengalaman apapun selain bersih-bersih. Itupun ia lakukan selama rumah tangganya dengan Raya. Tidak ada surat apapun yang ia bawa, Devan hanya membawa tubuh dan tangan kosong tanpa surat lamaran. Sementara semua pekerja yang melamar harus ada setidaknya bukti pendidikan. "Maaf, Pak. Apa di sini sedang membutuhkan karyawan?" Seorang Petugas keamanan itu melihat Devan dari atas sampai bawah. Tidak ada yang spesial, bahkan memakai pakaian pun tidak sewajibnya. Devan hanya menggunakan kaos oblong dengan celana katun yang sudah koyak. Sungguh menyedihkan. "Tidak ada!!" Petugas itu kembali membaca majalah lama yang usang, tapi dalam sampul majalah itu terdapat sebuah gambar wanita cantik dan seksi. Sungguh, pengalaman petugas itu dalam membaca suatu majalah sangatlah menyenangkan. Devan sudah tahu apa yang harus ia lakukan sekarang, yaitu pergi dari sana dengan harapan kosong. Karena bagaimanapun dirinya hanya membawa badan saja. Tidak seperti pelamar kerja yang lainnya. Brum!! Suara gerungan motor nampak riuh. Bahkan semua orang menyingkir untuk memberi mereka jalan. Terkecuali Devan. Devan hanya berdiri dan melihat mereka sudah mengelilingi dirinya. Ia hanya menatap mereka dengan dingin tanpa ekspresi apapun. Bahkan semua orang menganggapnya seperti orang gila. "Cari mati. Dasar gila!!" Bruumm!!! Riuh gerungan itu semakin kuat, tapi Devan masih tetap sama. Dia bersikap dingin seolah tidak terjadi apa-apa. Tidak ada yang spesial dari Devan. Tidak ada yang harus diambil darinya. Pengguna motor berisik itu melanjutkan misinya dan meninggalkan Devan di sana. Mereka memasuki sebuah cafe yang sempat Devan kunjungi untuk melamar kerja. Brak!! "Serahkan hasil dari cafe ini dan kalian harus membayarnya dua kali lipat dengan hasil kemarin!" teriak pengguna motor. Seorang petugas keamanan yang tengah asik membaca majalah dewasa itu berdiri. Tubuhnya seakan bergetar sangat hebat. Pasalnya pengguna motor yang lainnya sudah memberinya senjata tajam. Ia takut mati. Para pelayan hanya mengangkat kedua tangan mereka seakan menyerah dan membiarkan mereka mengambil hasil dari cafe tersebut. Bukan hanya pelayan cafe, bahkan pemiliknya pun ikut-ikutan takut sebab mereka semua adalah orang yang paling ditakuti. Tidak ada yang berani terkecuali petugas kepolisian. Menghubungi polisi pun percuma, karena saat itu juga sang pelapor akan mati mengenaskan. Sebut saja mereka sebagai geng motor yang meresahkan. Ketua geng motor itu meraup semua uang dan memasukkannya ke dalam karung yang dia bawa. Hari ini bahkan hasilnya melebihi dari hasil sebelumnya. Sungguh menguntungkan. "Haha, lain kali sering-seringlah sebanyak ini!!" Pluk. Sebuah sandal tiba-tiba saja melayang ke arah kepalanya. Entah siapa yang berani berbuat tak sopan kepadanya. Hanya saja seorang lelaki miskin pengangguran itu tak suka melihat seorang perampok seperti dia. "Kembalikan uang itu ke tempat asalnya," tegas pria miskin pengangguran. Pria miskin pengangguran itu adalah Devan. Ia sudah berani membuat masalah rupanya. Haha Semua geng termasuk Ketua geng motor itu tertawa dengan keras. Selama ini tidak ada yang berani membuat masalah, tapi siapa pria miskin ini? Dia bahkan berani melempar sandalnya yang murahan itu. "Kau? Bisa apa kau, sampai berani melempar sandal butut ini?" ucap Ketua geng itu mulai marah. Ketua geng melempar kembali sandal butut itu ke arah Devan. Kali ini Pria miskin itu tidak akan lepas darinya. Semua orang bahkan melihat kemarahan sang Ketua. Tubuh penuh dengan tato itu kini menarik leher Devan. "Pria miskin. Punya kemampuan apa sampai kau berani berbuat seperti itu?" ujar Ketua. "Saya tidak punya kemampuan apapun, tapi saya tidak suka melihat seorang pengecut seperti kalian!!" jawab Devan santai. "Sialan, kau." Bugh Ketua itu melayangkan kepalan tangan tepat di depan wajah Devan. Dengan cepat Devan merespon dan menahan kepalan itu dengan tangannya. Devan memutar kepalan itu hingga terdengar suara tulang yang hendak patah. Ketua geng berteriak kesakitan saat tangannya diputar dan ia tak bisa menahan bahkan melawan. "Arrgghh ... lepaskan tanganku, pria miskin!" teriaknya minta permohonan. Kreekk, arrgghh ... Devan bahkan lebih membuat tulangnya retak hingga patah. Ia tak bisa melepaskan tangan itu sebelum mereka mengembalikan uang yang mereka ambil di dalam karung. "Kembalikan uang itu sebelum aku mematahkan yang lainnya," tegas Devan kembali. Beberapa orang dari arah belakang sudah melayangkan benda tajam kepada Devan. Dengan sigap Devan sudah menghindarinya. Kakinya menendang orang itu dan yang lainnya mulai menyerang. Ada sekitar delapan orang di sana. Mereka sudah maju. Kedua kaki dan tangannya yang lain sudah aktif. Devan tak bisa melepaskan Ketua itu, namun ia juga tak ingin membiarkan semua menyerang. Devan sudah lebih ahli dalam berkelahi. Tubuhnya seakan ringan dan bertenaga. Bahkan tenaganya menjadi berkali lipat. Sungguh mengejutkan. Buk, buk, arrgghh... Semua terkapar tak berdaya. Terutama dengan Ketua geng motor itu yang masih memegang tangannya yang patah. Tangan itu bahkan tak bisa ia gerakkan. Devan hendak menyerang dan ini merupakan serangan terakhirnya. Namun, semua orang memohon seakan menyembah dirinya. "Tolong, hentikan. Baik, kami kembalikan uang yang sudah kami ambil. Kami hanya menjalankan perintah saja. Sungguh, tolong ampuni kami!!" "Siapa yang menyuruh kalian berbuat seperti ini?" "Euh ..." Devan lalu berjongkok, "Katakan, jangan takut. Aku akan membantu kalian keluar dari orang yang sudah membuat kalian seperti ini!" tegas Devan kembali. "Tuan Tristan!!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD