Mendapat Pekerjaan

1366 Words
"Tuan Tristan." Devan membuka matanya lebar. Rupanya orang yang bernama Tristan itu benar-benar licik dan kejam. Bukan hanya ingin membunuhnya, akan tetapi ingin menguasai dunia dari orang-orang lemah. Sangat pengecut. Devan merebut sebuah kantung dari tangan Ketua geng itu. Tangannya sudah patah, dan yang lainnya pun sudah terlihat lemah. Mereka sudah tidak berdaya untuk melawan Devan lagi. Hari ini pun adalah hari keberuntungan untuk Devan. Dia juga bisa membantu orang lain dari kekuatan yang ia punya. Syukurlah. Devan memberikan kantung itu kepada pemilik Cafe yang hanya berdiri di sana. Pemilik itu masih tak percaya jika anak muda ini sudah mengalahkan para preman dari geng motor itu. "Ini milik Anda, Pak. Ambillah." Devan berbalik setelah memberikan kantung itu. Dia senang bisa membantu orang dengan keahlian yang ia punya. Namun, Pemilik Cafe itu telah menyambutnya, dia berkata, "Oh, oh, anak muda, biar saya balas kebaikanmu, apa kamu mau bekerja di sini? Saya dengar kamu sedang mencari pekerjaan," ujar pemilik Cafe itu. Devan menghentikan langkahnya, dia kembali berbalik dan menjawab, "Benarkah itu, Pak? Ada lowongan pekerjaan untukku?" "Tentu saja." Pak Robi sebagai pemilik Cafe itu membawa Devan dan menyuruhnya untuk duduk. "Jadi, bagaimana? Apa kau mau bekerja di Cafe ini anak muda?" tanyanya lagi. "Tentu saja saya mau, tapi saya tidak punya keahlian selain mencuci piring juga bersih-bersih. Bapak bisa menempatkan saya di sana kalau ada," kata Devan. "Apa kau yakin, anak muda? Pekerjaan itu seharusnya untuk perempuan!" "Tapi saya hanya bisa melakukan itu, Pak." "Baiklah, mulai besok kau bisa bekerja di sini, siapa namamu?" tanya Pak Robi kembali. "Devan!" "Baik, Devan. Selamat datang dan semoga kamu tidak bosan bekerja di sini." "Iya, Pak. Tapi, bisakah Bapak menolong orang yang barusan saya patahkan tangannya? Dia harus mendapat perawatan." Apa? Pak Robi mengerutkan keningnya bingung. Ada apa dengan anak muda ini? "Kenapa kau mau menolong orang jahat seperti mereka? Mereka itu selalu bikin rusuh. Bukan hanya cafe saya yang mereka tagih setiap hari, bahkan semua pedagang ataupun pemilik restoran lainnya merekalah yang menguras semua penghasilan kami," Pak Robi sedikit tak terima jika Devan mau menolongnya. "Mereka tidak salah, hanya saja mereka butuh uang untuk bertahan hidup, hanya saja caranya yang salah. Ada orang di belakang mereka yang seharusnya kita beri pelajaran. Bukan mereka. Mereka hanya menjalankan tugas dari orang yang mereka anggap sebagai dalangnya." Pak Robi sedikit berpikir. Ada benarnya juga apa yang dikatakan Devan. Mungkin mereka sama sepertinya yang hanya mencari uang untuk bertahan hidup. Hanya saja cara mereka yang salah, yang mengandalkan dari perintah orang biadab. "Baiklah, saya akan bawa mereka ke rumah sakit untuk membenarkan tulang-tulangnya yang patah. Tapi, bagaimana bisa kau melakukan itu semua, Devan? Apa kau punya kemampuan bertarung? Kau bahkan sangat lihai dalam menggerakkan tubuhmu." Devan hanya terkekeh. "Tidak, itu hanya kebetulan saja, Pak." "Benarkah, Oh, baiklah kalau begitu!!" Pak Robi ikut tertawa dengan Devan. Dalam pikirannya, pasti anak muda ini berusaha untuk menyembunyikan kemampuannya. Pak Robi mengerti. Devan juga Pak Robi kembali keluar, melihat delapan orang itu masih di tempat asalnya. Mereka bahkan tak bisa berdiri karena tubuh mereka terlihat sangat menyakitkan. 'Apa tenagaku sekuat itu? Bahkan mereka saja sudah hampir tak bisa bangkit kembali' batin Devan. Devan membantu mereka. Tak lama, suara sirine itu telah datang. Ada dua petugas rumah sakit yang turun dari ambulans itu. Keduanya sangat mengenal Devan. Mereka malah menghampiri Devan saat itu. "Kenapa lagi dengan kamu, Devan? Apa ada orang yang ingin membunuhmu lagi? Lalu, apa kau terluka parah?" Kedua petugas itu malah sibuk memutar tubuh Devan yang terlihat baik-baik saja. "Siapa yang sudah menghubungi kami? Sepertinya kamu baik-baik saja. Tidak ada luka ataupun darah. Apa kamu sedang mempermainkan kami?" kata petugas Rumah Sakit itu. Haha Devan tertawa geli melihat tingkah mereka yang selalu saja membuatnya ingin menjitak kepala mereka satu persatu. Oh my. Bukan dia yang terluka, bukan dia. "Apa kalian berdua tidak lihat ada orang yang kesakitan? Kenapa kalian malah berjalan ke arahku?" kata Devan yang masih terkekeh. Apa? Keduanya melihat sekitar yang memang sudah banyak pasien yang harus mereka angkut. "Apa-apaan ini? Kenapa dengan semua orang ini?" Petugas itu merasa bingung. Apa sudah terjadi kecelakaan? "Jangan banyak bicara, sebaiknya kalian bawa mereka dan cepat obati tulangnya. Sepertinya tulang mereka patah dan satu yang paling parah, yaitu tangan dari orang ini." Devan menunjuk ke arah Ketua. Ketua geng itu hanya terkesima melihat kebaikan Devan dan pemilik cafe itu. Mereka rupanya orang yang punya rasa perikemanusiaan yang sangat besar. Bahkan orang jahat seperti merekapun masih mau menolongnya. "Terimakasih, dan maaf jika kami sudah membuat keributan selama ini," ungkap Ketua geng. Pak Robi hanya tersenyum. Rupanya benar apa yang dikatakan Devan. Mereka hanya menjalankan misi akan tetapi mereka juga punya rasa malu. Petugas Rumah Sakit itu membuka pintu ambulans dan memasukkan semua orang yang itu. "Beritahu kami jika kaulah yang sakit, Devan. Dengan senang hati kami akan segera datang dengan cepat," ucap petugas itu. "Apa kau mengejekku?" "Oh, tidak. Tapi sepertinya kami sangat senang mengobati lukamu. Kamu tak pernah merasa sakit dan kami mudah untuk mengorek-ngorek lukamu yang sangat dalam itu!" "Dasar penjahat operasi. Kalian pasti senang melihat luka itu tapi aku yang akan tersiksa karena ulah kalian," gerutu Devan. Haha Petugas Rumah Sakit itu tertawa dan pergi segera dari sana. Mereka hanya bisa membuat Devan tersiksa saja. Pak Robi mengerutkan kening, "Apa kau pernah terluka, Devan?" tanyanya penasaran. "Ya, dan itu suatu kecelakaan terbesarku sampai aku bisa kembali bernapas sampai sekarang." Pak Robi tidak mengerti dengan ucapan Devan kali ini. Tak perduli. Mungkin anak muda ini punya masalah pribadinya. "Hari sudah hampir sore, saya pulang dulu, Pak. Besok saya kembali dan mulai bekerja di sini," ucap Devan. "Baiklah, Devan. Selamat bekerja untuk besok." Devan terkekeh, mereka berjabat tangan dan Devan segera pergi untuk pulang. Selama dua hari ini, Devan tinggal di rumah bekas kediaman orang tuanya. Rumah itu sudah lama ditinggalkan sebab, kedua orang tua Devan sudah meninggal. Hari ini dia benar-benar lelah, ia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dan menatap langit-langit. *** Krekk, arrghh ... "Bisakah kau pelan-pelan?" Orang itu terus menggerutu saat diobati. Dokter ahli tulang dan bedah tengah mengobati tangannya yang patah karena ulah Devan. "Bos, pasukan kita telah kalah oleh satu orang itu, kita juga tidak mendapat uang karena ulahnya. Lalu, bagaimana kita bayar Rumah Sakit ini?" "Diamlah, aku sudah memberitahu Tuan kalau kita semua ada di Rumah Sakit." "Apa Bos sudah gila? Tuan Tristan pasti marah melihat kita kalah seperti ini." "Tapi setidaknya kita tahu, apa Tuan masih baik sama kita? Jika tidak, aku tidak akan membantunya lagi." Krekk, arrgghh ... "Hei ... kau ini dokter atau bukan? Kau bisa membunuhku kalau begini caranya! aargggh ... sakit ... aarrgghh ..." Dokter itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Baru kali ini mendapat pasien seperti preman ini. Sangat menyebalkan. *** Tristan berjalan dengan langkah besarnya. Di belakangnya sudah ada Rully dan yang lainnya. Rully memiliki tanda sayatan di wajahnya. Dialah orang kepercayaan Tristan dan hanya dia yang mampu bertahan untuk seorang Tristan. Mereka berjalan di lorong Rumah Sakit untuk menemui anak buahnya yang telah kalah hanya dengan satu orang saja. Tristan penasaran. Siapa yang sudah mengalahkan delapan anak buahnya itu? "T-Tuan ..." Tangan kanan Ketua preman dibungkus kain yang mengait ke pundaknya. Tangan itu sudah patah. Tak hanya Ketua geng, bahkan anaknya yang lain ikut terbungkus juga. Hanya saja letaknya berbeda. Tristan melihat luka dari semua anak buahnya. Kedua tangan itu mengepal, dia mulai mengeluarkan cahaya dari punggungnya. Sungguh silau. Cahaya itu berwarna merah menyala. Ada tujuh cahaya berbeda. Dan yang diambil Tristan merupakan mahkota dari Ratu terakhir dan Ratu itu hanya mempunyai cahaya merah. Itu artinya, cahaya itu masih di level ke tujuh, yang pertama lah yang paling atas. Semua anak geng itu merasa takjub. Bagaimana bisa Tuannya memiliki cahaya itu? Itu bukan mitos, akan tetapi cerita itu benar nyata. Mereka pernah membaca sebuah buku cerita yang menceritakan sebuah kisah Ratu ular yang memiliki mahkota. Dan mahkota itu memiliki tingkat kekuatan tak terbatas. Itu artinya Tristan sudah memilikinya. Semua anak buahnya semakin memuja dirinya. "Tuan ... kami ..." "Siapa pelakunya?" tanya Tristan dingin. "Kami tidak tau, tapi sepertinya dia dari kalangan orang miskin." "Apa ini orangnya?" Rully memperlihatkan gambar di layar ponselnya. "Ya, ya, dia orangnya." Punggung Tristan semakin bercahaya, dan cahaya itu semakin merah menyala seperti darah. Dia sangat marah. "Devan ..."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD