Akhirnya semua kelas hari ini telah selesai, dan dosen terakhir pun sudah meninggalkan ruangan.
Semua mahasiswa segera berhambur keluar dari kelas. Willy pun juga ikut keluar kelas, dia berjalan melewati lorong yang ada di antara meja Meggy dan Olin, dengan cuek tanpa menoleh.
Meggy dan Olin menatap punggung Willy heran, Willy seolah tak mengenal mereka berdua, bahkan seolah tak menganggap bahwa keduanya ada di sana.
Meggy dan Olin saling menatap dan bersamaan mengedikkan bahu mereka.
"Pulang yuk! kak Robin pasti sudah nunggu di parkiran." Ajak Olin dan Meggy mengangguk.
*****
MEGGY POV
Pikiranku terus melayang, pada kejadian kemarin malam hingga hari ini. Sikap kak Willy benar-benar berubah. Aku tak suka dia kembali mengacuhkanku, aku benci kembali transparan dan tak terlihat di hadapan kak Willy.
Mendekati area parkiran, aku melihat kak Robin sedang bicara serius berdua dengan Kak Willy di dekat mobilnya.
Langkahku dan Olin berhenti seketika. Kami sempat melihat ada sedikit raut wajah tegang di keduanya, namun tak lama kemudian senyum tersungging di wajah mereka berdua, bahkan kak Robin dan kak Willy berpelukan secara gentle sebagai pria dewasa. Mereka kembali bersahabat seperti awal, ya seperti awal, yang berarti aku kembali menjadi transparan bagi kak Willy, seperti awal dulu.
Aku dan Olin kembali melangkah mendekati mobil kak Robin.
Kak Willy melihat ke arah kami, lalu dia segera berpamitan pada kak Robin. Kak Willy meninggalkan kak Robin dan menuju ke mobilnya. Dia menghindar, dia sangat jelas menghindariku.
"Kak, ada apa?" Tanya Olin sebagai kekasih kak Robin.
"Tidak ada apa-apa, hanya sedikit salah paham namun sudah kami selesaikan." Jawab kak Robin tersenyum dan mengacak rambut Olin.
"Ouh ya ampun hubungan mereka jauh lebih mudah dari hubungan yang ada antara aku dan kak Willy. Andai saja."
Batinku sedikit iri melihat kemesraan kakakku dan sahabatku.
"Pulang yuk!" Ajakku pasrah pada keduanya dan aku langsung masuk ke dalam mobil di bagian penumpang belakang.
Aku memilih memejamkan mata sepanjang perjalanan pulang, staminaku menurun drastis karena lelah dengan pikiranku pada kak Willy.
"Kak, sekarang kami satu kelas lho dengan kak Willy, tapi dia acuh sekali, seakan tidak pernah mengenal kami." Cerita Olin pada kakakku.
"Ouw kok bisa begitu ya? Nanti coba aku tanya ke Willy ya." Sahut Kak Robin tersenyum.
"Memangnya kak Robin sudah nggak marah lagi sama dia? Kan dia sudah berkhianat di belakang Meggy?!" Ucap Olin, membuatku kembali membuka mata karena penasaran.
"Willy sudah menjelaskan semuanya tadi, dia berkata sudah mendapatkan balasan yang sepadan atas perbuatannya selama ini, dengan menjadi hancur karena sudah kehilangan Meggy. Tapi dia berkata dia tak ingin juga kehilangan seorang sahabat. Ya aku juga tak ingin melihatnya lebih hancur lagi, ditinggalkan orang yang dicintai dan bersamaan itu harus kehilangan seorang sahabat juga. Willy tidak seharusnya mendapat hukuman seberat itu hanya karena sebuah salah paham. Jadi ya, aku sudah memaafkannya." Sahut kak Robin santai dan tenang.
"Aku bangga sama kak Robin, jadi makin cinta deh..." Ucap Olin tersenyum lebar pada kak Robin, kak Robin pun tersenyum dan meraih tangan Olin lalu mengecupnya.
Aku????
Tentu saja aku lebih memilih memejamkan mata lagi karena dalam hatiku merasa iri pada kemesraan mereka, tapi sekaligus tenang dan senang melihat mereka bisa bahagia.
Hhhhhh.... hhuuuuuffttt.!!!
Aku menghela napas besar, dan kak Robin segera melihatku ke belakang melalui spion tengah.
"Mau aku antar ke tempat Willy?" Tanya kak Robin menawarkan hal yang sangat keterlaluan.
"Nggak! Aku hanya butuh tidur!" Jawabku ketus.
"Tidur di pangkuan atau di pelukan Willy lebih nyaman lho." Ucap Kak Robin yang dapat kupastikan sedang tersenyum meledek aku.
"Ranjang king size ku lebih nyaman!" Sahutku dan kudengar Olin terkekeh menertawaiku hingga langsung kupukul kepalanya dari belakang menggunakan bantal di mobil.
Kak Robin dan Olin semakin keras tertawanya, dan aku semakin manyun.
"Turunlah! kita sudah sampai." Ucap Kak Robin mematikan mesin mobil.
"Lhoh?! Olin?! Kenapa nggak diantar pulang kak?!" Tanyaku bingung.
"Aku masih ingin berlama-lama dengannya, lagipula besok kan weekend, jadi aku sudah meminta ijin pada orang tua Olin, bahwa Olin akan menginap disini hingga hari minggu sore, mereka setuju begitu juga mom dan dad." Ucap kak Robin santai dan kami keluar turun dari mobil.
Kak Robin merangkul bahu Olin berjalan masuk ke dalam rumah, dan tepat di depan mataku.
Aku sengaja mengambil jalan di tengah mereka, memaksa mereka melepaskan kedekatan mereka.
"Minggir! Teganya kalian mesra begitu di depanku!" Protesku kesal.
"Ya ampun Meggy! Kamu juga bisa begini dengan Willy jika kamu mau! Dasar anak manja!" Sahut Kak Robin dan aku hanya menoleh lalu menjulurkan lidahku.
Olin dan kak Robin malah tertawa melihat sikapku.
"Sore anak-anak mom, bagaimana kelas kalian hari ini?" Sapa mommy saat melihat kami bertiga masuk ke rumah.
"Not good." Sahutku malas sambil mencium tangan mom, lalu langsung naik ke atas.
Mommy langsung menatapku bingung.
"Hai mom, dia jadi sekelas angkatan dengan Willy sekarang." Ucap kak Robin sambil mencium tangan Mom, begitu juga dengan Olin.
"Ouh pantas saja harinya 'not good' begitu, tapi bukankah seharusnya malah good ya???" Sahut mom.
Aku tak berminat merespon apapun pembicaraan mereka tentangku, aku langsung masuk ke dalam kamar.
Aku langsung mengganti pakaian seragamku dengan baju rumah.
"Willy tidak seharusnya mendapat hukuman seberat itu hanya karena sebuah salah paham."
Ucapan kak Robin tadi kembali melintas di telingaku.
"Salah paham?! Salah paham seperti apa?! Semalam mereka yang membuatku panas dengan cerita tentang kak Willy dan kak Rose! Sekarang malah bilang itu salah paham! Aaarrrghhhh!!! Lalu aku harus bagaimana?!"
Batinku kesal dengan semua keadaan rumit ini.
Akhirnya aku berganti pakaian lagi, tanktop + sweater dan rok selutut, lalu kuambil tas sling bag mini dan sepatu flat shoes ku. Kumasukkan smartphone dan dompetku, lalu aku keluar kamar.
"Mom, Meggy pergi dulu ya, mungkin pulang agak malam, jadi nggak perlu menungguku untuk makan malam." Pamitku pada mommy sambil mencium tangannya.
"Kamu mau kemana? Sama siapa?" Tanya mommy.
"Ke rumah kak Willy." Bisikku di telinga mommy supaya tidak terdengar oleh kak Robin dan Olin yang sedang menonton TV di ruang tengah.
Mom mengangguk tersenyum.
"Hati-hati ya nak, ingat pesan mom semalam." Ucap mom juga berbisik.
Aku mengangguk dan tersenyum.
"Mom benar, aku hanya perlu menguatkan hatiku jika ingin bersama kak Willy." Batinku.
Aku melangkah pergi dari rumah tanpa berpamitan pada kak Robin dan Olin. Aku sengaja menghindari ledekan mereka.
Taxi online ku juga sudah tiba di halaman rumah, dan langsung mengantarkan aku ke rumah kak Willy.
Ting. Tong.
Bel rumah Kak Willy kutekan.
"Sore mbok, kak Willy ada di rumah nggak?" Tanyaku pada ART yang bekerja di rumah kak Willy.
"Ada Non, silahkan masuk." Sahut wanita tua itu, dan aku melangkah masuk mengikutinya, ternyata ada tante Melly yang barusaja turun dari lantai atas.
Aku segera menghampiri tante Melly dan menyapanya.
"Sore tante Melly." Sapaku dan salam mencium tangannya.
"Meggy, kesini dengan siapa nak?" Tanya tante Melly padaku.
"Sendiri tante, tadi naik taxi online. Tante, kak Willynya ada dimana ya?" Sahutku dan bertanya.
"Ouw kebetulan kamu datang, tolong bujukin Willy biar minum obatnya, dia kan nggak boleh terlambat minum obat, tapi hari ini dia sudah 2 kali menolak minum obat, tante takut terjadi yang buruk padanya. Tolong ya Meggy, siapa tahu dia mau dengerin kamu, dia sedang tiduran di kamarnya, kamu naik aja deh, di lantai 2 kamar kedua setelah belok ke kiri." Ucap tante Melly.
"Iya tante, Meggy coba bujukin kak Willy. Meggy naik dulu ya tante." Sahutku dan tante Melly mengangguk tersenyum.
Aku tiba di depan kamar kak Willy.
"Seharusnya sih benar ini kamarnya." Pikirku lalu mengetuk pintu di depanku.
"Masuk!" suara di dalam kamar menyahut, akupun segera membuka pintu dan masuk ke dalam.
Kamarnya remang-remang, sore begini belum menyalakan lampu, hanya sinar jingga matahari terbenam yang masuk lewat balkon yang terbuka.
Aku menguatkan hatiku melangkah mendekati sosok yang sedang menatap matahari terbenam di balkon. Aku mencoba menyapanya dengan menarik baju belakangnya.
Kak Willy berbalik dan terkejut melihatku ada dibelakangnya. Aku menunduk tak kuat melawan tatapan matanya.
"Meggy?! Ada apa kamu kesini?" Tanya kak Willy.
"Eh.. em.. i.itu.. a..aku... a..aku... a..aku..." seketika aku menjadi gagap karena gugup berdiri dihadapannya.
"Kenapa?!" Tanya kak Willy lagi.
"a..aku.. oh. iya! a..aku diminta tante untuk bujuk kakak supaya minum obat. Iya! Minum obat! aku kesini untuk minta kakak minum obat." Sahutku meringis gugup.
hhh... hhhuuuuhhh!!!
Kak Willy menghela napas besar.
"Untuk apa?" Tanya kak Willy
"Hah?!" Tanyaku bingung dengan pertanyaan kak Willy.
"Untuk apa aku harus menuruti kamu?! Untuk apa aku minum obat?! Aku ingin sembuh karena setahuku ada seseorang yang sedang menungguku, tapi sekarang sudah nggak ada lagi, jadi untuk apa aku minum obat dan sembuh?!" Tanya kak Willy.
"Eh! i..itu... a..aku.."
haish!! Kenapa harus selalu gagap sih kalau di depannya! Rutukku pada diriku sendiri dalam batin.
"Dasar stupid!" Omel kak Willy.
"Heh?!" Sahutku mendongakkan kepala menatapnya bingung.
"Kamu pulang saja! aku mau istirahat." Ucap kak willy melangkah melewati tubuhku dan menuju tempat tidurnya.
Aku kembali menarik belakang bajunya, dia berhenti melangkah tapi tidak berbalik.
"Kak, Meggy minta maaf., Meggy... Meggy... hmm... Meggy minta maaf..." Ucapku menunduk.
"Kamu salah apa?! Kenapa harus minta maaf?! Bukannya aku yang salah sudah mengkhianati kepercayaan kamu?! Kenapa kamu yang minta maaf?!" Sahut kak Willy bertanya tanpa menoleh.
Aku kesal sendiri dengan situasi ini.
"Kak, kumohon jangan seperti ini! Meggy nggak mau lagi jadi transparan dan tidak terlihat seperti dulu lagi! Meggy tahu Meggy salah sudah mengecewakan kak Willy, tapi sebenarnya kemarin malam Meggy kan nggak menolak tawaran kak Willy! Meggy kan hanya diam! dan kak Willy yang langsung pergi! Maaf kak, Meggy butuh waktu buat menguatkan hati Meggy. Maaf, Meggy nggak bisa langsung jawab kemarin malam. Tapi kalau tawarannya masih berlaku sampai sekarang, Meggy mau menerima tawaran kak Willy. Meggy sangat mencintai kak Willy, biar saja Meggy dianggap stupid, t***l, bodoh apapun itu karena telah mengambil resiko tetap memilih kak Willy meski tahu akan sering dibuat menangis, tapi Meggy hanya mau bersama kak Willy." Sahutku akhirnya dan sangat melegakan hatiku.
Kak Willy hanya diam, dan itu membuatku kembali gelisah, aku putus asa lalu melepaskan bajunya yang sedari tadi aku pegang. Kak Willy lanjut melangkah lagi ke tempat tidurnya dengan tetap diam.
Aku hanya berdiri menatapnya.
"Apa tawarannya sudah tidak berlaku ya? Masa sih secepat itu? Makanan yang dimasak mommy saja masih bisa bertahan semalam tanpa basi, mengapa tawarannya cepat menguap hanya hitungan kurang dari 24jam?"
Batinku menatap punggung kak Willy.
Kak Willy hanya duduk di tepi ranjangnya, mengambil obat di meja nakas dan meminumnya dengan segelas air putih.
"Ah... syukurlah! kalau dia sudah mau minum obatnya, jadi bebanku berkurang satu."
Batinku tetap diam menatapnya.
Kak Willy menatap ke arahku.
"Mau berdiri di situ sampai kapan?!" Tanya kak Willy.
"Eh.. a..aku.. su.dah.. mau pulang kak." Sahutku meringis, dan melangkah keluar ke pintu.
Klik.
Bunyi sesuatu seperti sebuah kunci, tapi aku tidak menggubrisnya, karena aku tak tahu suara itu berasal darimana.
Aku sampai di pintu kamar, mencoba membuka handle pintu itu, tapi nggak bisa dibuka.
"Lhoh?! Kenapa nggak bisa dibuka ya?" Batinku bingung.
aku coba menekan lagi handle pintunya, masih sama. Terkunci.
"Hadeuh!!! Bagaimana ini?!" Keluhku dan berbalik hendak bertanya pada kak Willy.
"AAAAA!!!!" Teriakku kaget, kak Willy sudah berdiri di belakangku, benar-benar menakuti diriku.
"Mau kemana?!" Tanya kak Willy dan semakin menghimpitku ke pintu, aku mundur tapi kini punggungku telah menabrak pintu kamar.
"Kak, kakak mau apa?" Tanyaku panik.
"Aku mau tanya, apa kamu menerima tawaranku hanya supaya aku mau minum obat?! Dan setelah aku minum obat, kamu akan pergi lagi?! Penipu!" Ucap kak Willy dengan wajah sangat dekat di hadapan wajahku.
"Eh! Tidak! Tidak! a.aku ti.tidak menipu kakak." Sahutku ketakutan.
"Lalu apa maksudmu langsung pulang setelah aku minum obatku?! Hah?!" tanya kak Willy lagi dan kini kedua tangannya telah berada di pintu dan mengurungku.
"Eh i.itu. a.aku memang tidak menipu! Sungguh kak! Aku tidak menipu!" Sahutku lagi dan kini hanya bisa menunduk, menghindari tatapan matanya yang begitu dekat.
"Buktikan! Buktikan kalau kau tidak menipu!" Ucap kak Willy.
"Ba..bagai.ma.na cara membuktikannya?! A..a.ku memang tidak menipu kakak!" Sahutku bingung.
"Cium aku!" Ucap kak Willy dan aku langsung mendongak lagi menatap dan mendelik pada kak Willy.
"Mmmpphhh.... kak... mmmppphhh..." Aku tak bisa bicara lagi karena kak Willy sudah mencium bibirku, eh melumat bibirku dan memaksa merasuk ke dalam mulutku.
Matanya yang awalnya menatapku, kini mulai terpejam, menikmati bibirku.
Aku???
Hanya diam dan menatap wajahnya.
Kak Willy melepaskan bibirnya dan berbalik melangkah kembali ke tempat tidurnya.
"Dasar penipu!!!" Umpat kak Willy.
"Eh! Sudah kukatakan aku tidak menipu!" Protesku membela diri.
"Sudahlah pulang saja sana! Penipu!" Ucap kak Willy naik ke ranjangnya menarik selimut dan bersiap tidur.
"Aku. Bukan. Penipu!!! Bagaimana sih membuktikannya?! Susah sekali bicara dengan kak Willy!!" Sahutku kesal, menghentakkan kaki berjalan mendekati tempat tidurnya.
"Penipu!" Ucap kak Willy menatapku saat aku sudah berdiri disamping tempat tidurnya.
"Huft! Baiklah! Kalau memang hanya itu cara membuktikannya!" Sahutku kesal lalu mendekati wajah kak Willy dan langsung mencium bibirnya.
Terdengar kak Willy sedikit tertawa saat aku menciumnya. Aku segera melepaskan bibirku, namun kak Willy langsung menarik tengkukku dan menahannya, hingga bibir kami kembali menempel.
"Terima kasih, kamu sudah mau menerimaku." Bisik kak Willy lalu melumat bibirku dengan lembut, membuai dan membuatku membalasnya.
Bibir kami terlepas, napas kami memburu, kening dan pucuk hidung kami masih menempel.
"Temani aku tidur." Bisik kak Willy
Aku kaget dan langsung menjauhkan diriku mundur dari ranjang kak Willy.
"Apa?! Apa maksud kakak?! Sadar kak! Aku masih umur 19 tahun! aku belum mau hamil kak! aku masih mau kuliah, bekerja dan baru menikah lalu hamil! Lebih baik aku pulang sekarang kak. Kakak istirahat saja ya." Sahutku menolak.
Kak Willy menghela napas.
"Still stupid! Hei! Aku hanya memintamu untuk menemani tidur! Siapa juga yang mau menghamili dirimu?! Badan kecil tanpa tonjolan begitu! nggak nafsu tau! Aku hanya mengantuk setelah minum obat tadi, tapi aku masih ingin bersamamu, jadi duduklah disini dan temani aku tidur sesaat, aku akan mengantarmu pulang nanti malam. Kemarilah cepat! aku sudah sangat mengantuk!" Omel kak Willy, dan aku hanya meringis malu lalu mendekat dan duduk di tepi ranjang.
Kak Willy merebahkan kepalanya di pangkuanku, aku akhirnya menaikkan kedua kakiku ke ranjang dan meluruskannya, membuat kak Willy nyaman berbaring di pangkuanku dan tangannya memeluk kedua kakiku. Aku membelai rambutnya.
"Aaahhh.... nyaman sekali...." Ucap kak Willy dan langsung tertidur.
Aku tersenyum menatapnya yang tenang dalam tidurnya.
"Badan kecil tanpa tonjolan begitu, nggak nafsu tau!"
Ucapan kak Willy tadi melintas di pikiranku, membuatku gelisah dan menatap ke arah dadaku sendiri.
"Apa iya segini menonjol masih dibilang kecil? Ya memang sih kalau dibandingkan milik kak Rose, milikku hanya seperempatnya saja, tapi kan tetap ada yang menonjol! Hhhhhuuuuuhhh! Dasar laki-laki!" Omelku menggerutu sendiri.
*******