MEGGY POV
"Kamu mau maafin aku kan Meg? Kita mulai dari awal dengan status jelas bahwa kita adalah sepasang kekasih. Kamu mau kan?" Tanya kak Willy, namun aku hanya diam tak tahu harus berkata apa.
Apa yang harus kukatakan, jawaban apa yang harus kuberikan? Aku tak bisa berkata apapun, aku senang bahkan terlalu bahagia, kak Willy memintaku untuk jadi kekasihnya. Tapi aku juga takut, karena dia telah beberapa kali melambungkan aku ke langit dan dalam sekejap membantingku ke dasar jurang.
Aku masih menatap kak Willy yang juga masih terus menatapku, tapi airmataku masih terus mengalir.
Kak Willy mengusap airmataku dengan ibu jarinya.
"Aku sadar, aku tak layak untuk meminta hal ini darimu, Meg. Aku sadar, aku hanya selalu membuatmu menangis dan sakit hati karena banyak kesalahpahaman. Lihatlah! baru beberapa jam yang lalu kau tersenyum, tapi kini sudah kubuat menangis lagi. Maafkan aku Meg, tapi terima kasih Meg, sudah selalu menungguku dan memberiku beberapa kali kesempatan. Aku memang bodoh Meg, aku selalu merusak kesempatan darimu. Aku nggak akan memaksamu Meg, kumohon berhentilah menangis. Aku akan pulang dan memberimu ruang untuk berpikir Meg, tapi aku akan terus menunggu sampai kau memaafkan aku dan semoga kau mau menjadi kekasihku Meg." Ucap Kak Willy dan aku masih tetap diam menatapnya.
Lidahku, otakku, semua organ tubuhku menolak permintaan hatiku yang ingin menjadi kekasihnya.
Kak Willy kembali mengusap airmata di pipiku lalu berdiri, meraih kepalaku dan mengecup puncak kepalaku dengan lembut dan sangat penuh rasa sayang. Kak Willy melangkah pergi, keluar dari rumahku.
Aku???
Tentu saja aku masih hanya diam, aku hanya menatap punggungnya yang semakin menjauh lalu menghilang dari balik pintu. Hatiku berteriak memanggilnya kembali, tapi otakku telah menguasai kerja organ tubuhku lainnya supaya membiarkannya pergi.
Saat mendengar suara pintu utama yang menutup, Mommy keluar dari kamarnya, menatapku lalu mendekat dan duduk disampingku. Mommy memberikan pelukan untukku, menyediakan dadanya untuk aku bersandar dan meluapkan segalanya disana.
"Mom... kak Willy pergi... hiks. hiks. hiks..." keluhku dengan isak tangis.
"Kuatkan hatimu Meg, Mom rasa kau hanya perlu menguatkan hatimu, jika kau ingin bersama Willy. Kau harus kuat melawan penyakitnya, melawan masa lalunya, dan juga melawan karakternya yang tak bisa menolak dalam membantu siapapun termasuk gadis-gadis di sekitarnya. Kalau kau tak ingin Willy disukai lagi oleh gadis lain, mungkin kau bisa membuat cacat pada wajahnya." ucapan mommy sangat benar, tapi pada kalimat terakhir justru membuatku terkejut seketika mengangkat wajahku dan menatapnya tak percaya.
Mom hanya tersenyum dan itu membuatku kembali ikut tersenyum.
"Jangan dengarkan kalimat terakhir mom tadi ya...." ucap mom lagi, dan aku tertawa kecil.
"Terima kasih mom, aku akan menguatkan hatiku dulu sebelum memutuskan untuk menerima tawaran kak Willy." Sahutku lalu memeluknya lagi.
"Sekarang tidurlah, karena sedari tadi kau dan Willy sudah bermain drama korea, dan bukan menonton drama korea." Ucap mom sambil menunjuk ke arah televisi dimana layar televisi menunjukkan ending kalimat penutup berakhirnya drama korea yang kutonton tadi.
Aku tertawa malu dengan ucapan mom.
"Mom... jangan meledekku terus." Ucapku manja.
Mom hanya tertawa geli lalu berdiri dan melangkah masuk kembali ke kamar.
Aku kembali sendiri duduk di sofa ini.
Aku menghela napasku. Ucapan mom benar, aku hanya terlalu rapuh, kasihan kak Willy yang harus dicintai oleh seorang gadis yang tak pernah jatuh cinta sebelumnya dengan orang lain. Aku sungguh tak punya pengalaman dalam berhubungan dengan laki-laki selain keluargaku dan Ryan.
*******
WILLY POV
Aku masuk ke rumahku dengan langkah gontai. Aku menjatuhkan tubuhku ke sofa di ruang tengah, bersandar ke belakang dan meletakkan kepalaku disana, memejamkan mataku.
Frustasi.
Ya, itu yang kualami saat ini. Frustasi karena aku barusaja kehilangan Meggy, karena kebodohanku sendiri yang tidak bisa percaya pada Meggy.
Inikah karma bagiku, karena aku telah melukai banyak gadis selama ini???
Meggy, gadis polos dan kutubuku itu telah mengambil hatiku, membuatku bisa merasakan nyeri sakit di dadaku saat melihatnya menangis.
Hhhh... hhhuuuufftt..
"Will, kamu sudah pulang? Bagaimana? Kau pasti lelah berdansa dengan Meggy di pesta tadi ya. Ayo cepat minum obatmu!" Ucap Mom yang ternyata sudah berdiri di hadapanku membawa obat-obatanku juga segelas air.
Aku meraihnya dan menelan semuanya. Entah apa tujuanku sembuh kali ini, karena Meggy lah alasanku dan semangatku untuk sembuh selama di Tiongkok. Kini Meggy bahkan membiarkan aku pergi begitu saja tanpa kata.
"Ada apa Will?" Tanya mom cemas melihatku, dan ikut duduk di sampingku.
"Aku telah merusak kepercayaan Meggy lagi mom, aku kembali melukai hati Meggy." Sahutku.
"Bagaimana bisa?" Tanya mom.
hhhh.... huuuhhh...
Aku menghela napas panjang.
"Sebenarnya aku pergi ke pesta hanya untuk memastikan Meggy tidak pergi kesana bersama Ryan. Aku termakan oleh ucapan Rose, mom. Ternyata Meggy sungguh percaya padaku bahwa aku tak datang, jadi dia memilih diam di rumah sendiri. Aku bodoh mom, aku sudah melepaskan kesempatan yang dia berikan padaku untuk kesekian kalinya." Sahut ku tak lagi bisa berbohong pada mom.
"Astaga Will, bagaimana bisa kamu mendengarkan ucapan gadis nakal itu? Apa kamu tidak bisa melihat mana yang harus dipercaya antara Rose dan Meggy? hhhh... hhhuuuhhh!" ucap mom menghela napas berat dan semakin membuatku merasa sangat t***l dan bodoh.
"Tapi mom yakin, Meggy tidak t***l sepertimu son. Istirahatlah, perbaiki semuanya besok, saat matahari bersinar maka harapan baru akan selalu muncul." Ucap mom tersenyum padaku dan mengusap lenganku.
Aku hanya mengangguk tersenyum.
"Thanks mom.." sahutku dan mommy hanya tersenyum mengangguk.
****
AUTHOR POV
keesokan harinya.
Willy melangkah masuk kembali ke kelasnya, karena sekian lama dia cuti, dia terpaksa harus mengulang beberapa mata kuliah di tingkat angkatan yang sama sebelum dia berobat ke Tiongkok. Satu angkatan dibawah teman kelas seangkatannya dulu.
Willy bertemu dengan Olin di pintu kelas. Olin menatapnya sewot bahkan tidak menyapa. Willy sungguh tidak menyangka ternyata dia satu kelas dengan Olin.
Willy lebih terkejut lagi saat melihat ke dalam kelas. Meggy, gadis itu juga satu kelas dengannya. Entah berapa mata kuliah yang harus membuat mereka satu kelas dengan jadwal yang sama.
"Ouh GOD!!! Haruskah sekejam ini hukumanmu padaku???" Batin Willy menatap Meggy yang sedang sibuk membaca buku catatannya, tidak menyadari kehadiran Willy.
Willy sengaja memilih tempat duduk di deretan paling belakang pada baris yang sama dengan Meggy.
Pengajar di kelas inipun mulai melangkah masuk ke dalam kelas dan mulai menjelaskan segalanya.
"Ssttt...! Meg! Meggy!" Panggil Olin berbisik pada sahabat di sebelah seberang mejanya.
Meggy menoleh, dan mengikuti kode mata yang Olin berikan, matanya seketika membelalak dan tangannya segera menutup mulutnya yang menganga terkejut melihat pria di bangku paling belakang. kak Willy.
"What?! How could it be?!" Tanya Meggy pada Olin tanpa suara. Olin hanya mengedikkan bahunya, dia juga tak pernah menyangka akan hal ini. Meggy langsung lemas dan meletakkan keningnya ke meja.
"Meggy! Olin! what are you doing?!" tegur Ms.Patricia yang melihat tingkah mencurigakan dari kedua gadis itu, dan langsung membuat Meggy dan Olin kembali menatap ke depan kelas.
"Sorry miss." Sahut kedua gadis itu.
*******
Bagaimana kejadian berikutnya????