Stupid Girl

1205 Words
MEGGY POV "Kak, selesai kelas langsung ke rumah sakit yuk, hari ini kan kak Willy sudah boleh pulang." kataku pada kak Robin saat sarapan sebelum berangkat ke kampus. "Meg, kamu sudah diperingatkan mom ya..., hati-hati dengan hati kamu yang rapuh itu, hidup Willy tinggal beberapa bulan lagi, dia boleh pulang itu hanya sementara Meg." Kak Robin mengingatkanku atas sikapku yang sangat berbunga-bunga ini karena kak Willy dibolehkan pulang dari Rumah Sakit. Aku hanya terdiam, tak ada lagi pembicaraan apapun diantara aku dan kak Robin sampai kami tiba di kampus. Semua kelas hari ini akhirnya selesai, aku langsung bersiap-siap untuk keluar kelas. "TUNGGU MEG!!!" Teriak Olin sambil menarik tanganku. "Olin, sorry hari ini aku buru-buru karena mau ke rumah sakit jemput kak Willy. Nanti aku telepon kamu ya." Sahutku pada Olin sahabatku, yang belakangan sering aku cuekin karena pikiranku penuh dengan kak Willy. "Aku ikut deh, boleh kan?" Pinta Olin. "Boleh yuk...! aku juga kangen sama kamu." Jawabku tersenyum sambil menggandeng Olin keluar kelas ke tempat mobil kak Robin diparkir. "Hai." Sapa kak Robin datar. Ada apa dengan kakakku ini, jutek banget sih.. "Hai." Olin menyapa juga dengan datar. Aneh banget deh Olin dan kak Robin. Tapi biarlah yang penting aku harus buru-buru ke rumah sakit. **** @ rumah sakit "Maaf mbak Meggy, mas Willy nya masih ada di ruang ICU, mendadak dia tadi kritis." Kata suster Indah yang sudah mengenaliku karena setiap waktu aku selalu datang menemani kak Willy selama sebulan ini. Bagai petir menyambar langit hidupku, kak Willy masuk ke ICU karena kritis. "Meg...! Meggy....!" Panggil Olin dan kak Robin berseru bersamaan. Aku terus berlari secepat mungkin ke ruang ICU tak peduli teriakan Olin dan kak Robin yang memanggilku. "Tante, gimana kondisi kak Willy?" Tanyaku terengah-engah kepada Tante Melly yang sedang duduk menangis di kursi tunggu depan ruang ICU. "Meggy.... hiks... hiks...Willy...kritis...." Jawab Tante Melly dalam isak tangisannya. "Dokter masih mencoba membuatnya stabil, tapi sudah 4 jam dokter di dalam belum keluar juga." jelas Tante Melly. Aku hanya mampu memeluknya dan ikut menangis. Kak Robin menuntun Tante Melly duduk kembali, begitu juga Olin langsung menuntunku untuk duduk juga. Sudah 2 jam kami menunggu, tapi dokter tak keluar juga. Drrrttt..... drrrttt..... HP kak Robin berbunyi. "Halo mom" "........." "Di rumah sakit mom, iya Meggy dan Olin juga ikut" "........." "Willy kritis mom, sudah 6 jam ditangani tapi belum stabil juga, takut koma mom" "........." "Ok mom, see you" Telepon pun berakhir. "Tante, Meggy, maaf saya dan Olin permisi sebentar, kita beli makanan dan minuman dulu ya, kita harus punya tenaga supaya bisa mendampingi Willy." ucap kak Robin. Aku dan Tante Melly hanya mengangguk. "Aku disini aja deh, nemenin mereka, kan mereka berdua labil, ya???" Ucap Olin. "Gak.!!! Kamu ikut aku! jangan menghindar lagi deh!" kata kak Robin dengan tatapan tajam pada Olin. Entah apa maksud percakapan mereka, pikiranku sedang dipenuhi oleh kak Willy. Akhirnya Olin pun mengangguk lalu mengekor di belakang kak Robin. ***** Ceklek. Pintu ICU dibuka dan dokter pun keluar. "Bagaimana Willy dok?" Tanya Tante Melly yang langsung berdiri dan menghampiri dokter Mulya. "Bersyukurlah, akhirnya kondisi Willy stabil, tapi belum boleh ditemui karena belum sempurna, dan sewaktu-waktu bisa kritis lagi. Bu Melly bisa ikut ke ruangan saya sebentar? Ada hal penting yang harus ibu ketahui tentang willy." Ucap dokter Mulya. "Meggy tunggu disini aja Tan, gak apa-apa kok." Sahutku saat Tante Melly menoleh ke arahku. "Baiklah Meggy, Tante titip Willy sebentar ya, ayo dokter." Ucap tante Melly, lalu pergi mengikuti langkah dokter Mulya. Malam hari akhirnya kita baru boleh masuk melihat Willy yang belum sadar juga. Leukimia nya sudah menyerang ke pankreas, ginjal dan lambung, maka dari itu Willy jadi semakin lemah dan sekarat. "Mom...." suara parau dan lemah terdengar dan membuat kami semua menoleh. "Willy.... kamu sudah bangun son?" Sahut Tante melly. "Boleh... Willy.. bicara... berdua dengan Meggy? Maaf... bukan.. mengusir kalian... hanya saja... Willy takut nggak punya waktu lagi." Ucapan lemah Willy sangat menusuk ke hati semua orang di ruangan itu. "Meg.... kemarilah.." panggil Willy setelah semua orang keluar. "Kak... ada apa?" Tanyaku sambil tersenyum, aku tak mau dia melihat kesedihanku. "Thanks ya Meg buat senyummu, itu sangat memberiku semangat. Meg..., Kondisiku semakin parah, kita tahu aku tak mungkin bisa sembuh Meg.." ucapan Willy tak sanggup ku dengar lagi. "Kak, kakak pasti sembuh....! pasti kak! percayalah pada kuasa Tuhan, semangat lah kak! berjuang bersama aku, dan semuanya. Tolong kak, mujizat itu masih ada, kak Willy pasti sembuh." kataku padanya tak terasa pipiku sudah banjir dengan air mata, tak mampu lagi kututupi kesedihanku melihat kak Willy sangat lemah seperti ini. "Meggy, aku ingin kita berteman dekat biasa saja, seperti kamu dan Ryan dan Olin. Kamu nggak seharusnya menghabiskan hidupmu hanya untuk menemani orang sekarat ini Meg..." Ucapan kak Willy langsung meruntuhkan duniaku. "Meg, please don't be a stupid girl, aku sayang banget sama kamu Meg, aku nggak mau kamu menghancurkan masa depanmu hanya untuk menangisi aku yang tinggal sebentar lagi." Lanjut kak Willy lagi, dan kini bulir airmata pun mulai mengalir di pipinya. "Kak...., Meggy lebih milih jadi stupid girl asal bersama kak Willy, please kak jangan usir Meggy pergi dari hidup kak Willy" sahutku sambil memeluk Willy, air mataku pun membasahi pakaiannya. "Meggy nggak tahu harus kemana kalau diusir dari hidup kak Willy." tangisku di dadanya. "Meg, tapi aku nggak layak ditangisi, aku hanya selalu membuatmu menangis, please pergilah tinggalkan aku, raih masa depanmu Meggy..." Ucap kak Willy. "Nggak akan kak..!"sahutku tetap memeluknya erat. "Meg, pergilah..." Kata Willy sambil berusaha melepaskan pelukanku. "Pergilah Meg....! AKU BILANG PERGI MEGGY! PERGILAH!!!! TINGGALKAN AKU!!! AKU NGGAK BUTUH DIKASIHANI!!!" teriak Willy sambil mendorong tubuhku hingga hampir jatuh dari tempat tidurnya. Lalu dia langsung memalingkan wajahnya dariku. "Aku tetap bertahan kak, aku tau kak Willy nggak sungguh-sungguh mengusirku, aku tau kak Willy sangat menyayangi aku sehingga selalu memikirkan Kebahagiaan ku tak peduli dengan perasaan kak Willy sendiri, aku tau kalau kak Willy juga terluka saat melihat aku hampir jatuh barusan, kak.... aku akan keluar supaya kak Willy bisa berpikir tenang, tapi aku nggak akan pernah pergi dari hidup kak Willy!" ucapku seakan tegar menahan semua sesak sakit di dadaku ini. "Meggy, maaf kamu harus terima kenyataan bahwa aku tak pernah menginginkanmu, maaf aku hanya mengasihani kamu, aku hanya nggak enak hati menolakmu karena Robin sahabatku, sebenarnya hanya Rose yang selalu aku cintai dan akupun selalu b*******h menginginkan Rose, sedangkan denganmu aku tak pernah merasakan gairah itu." Ucap Willy tanpa menatap ke arahku. "Apa kak? Kak Willy dan kak rose? Bohong...! kak Willy sedang bohong kan?" Ingkarku pada semua ucapan Willy. "Aku serius Meg..." Tatapan tajam mata Willy menantang ku, seolah menunjukkan bahwa apa yang dia katakan semuanya benar. "Aku benci kak Willy!!!" Teriakku menangis sambil berlari keluar. **** WILLY POV "So stupid girl....! sorry Meg, aku harus buat kamu benci sama aku, daripada masa depan kamu yang hancur bersama aku." Batinku perih mengatakan semua itu. Hatiku sakit karena tak mampu memelukmu Meggy. Dadaku nyeri saat tadi melihat kau hampir jatuh. Hidupku hancur karena melihat hatimu yang hancur Meg. Maafkan aku... "Oh Tuhan, kumohon sebagai balasan dari penerimaanku atas penyakit ini, kumohon bahagiakan Meggy." Doaku dalam batinku yang hancur ini. **** mungkinkah berakhir semua ini? hanya karena keduanya saling memikirkan kebahagiaan orang yang mereka cintai? love & comments ya... terima kasih
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD