bc

Jerat Posesif Tuan Blackwood

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
dark
forbidden
HE
opposites attract
friends to lovers
arrogant
badboy
kickass heroine
heir/heiress
blue collar
sweet
bxg
serious
city
enimies to lovers
office lady
like
intro-logo
Blurb

Lyra kehilangan segalanya, kekasih yang berkhianat dan bayi yang hanya dia dekap sesaat. Di tengah duka, dia menjadi ibu s**u di sebuah estate terpencil demi bertahan hidup. Namun, kepulangan Kael, adik sang pemilik rumah, mengacaukan segalanya. Hanya butuh satu tatapan dan aroma tubuh Lyra untuk membuat Kael terobsesi. Di antara tangisan bayi dan rahasia yang terpendam, sebuah ketertarikan terlarang tumbuh di antara mereka.

chap-preview
Free preview
Aroma yang Manis
Estate di pinggir kota itu terlalu luas untuk dihuni satu keluarga kecil, dan terlalu sunyi bagi seorang wanita yang hatinya baru saja hancur berkeping-keping. Lyra terbangun saat jam dinding menunjukkan pukul dua dini hari. Bukan karena alarm, melainkan karena nyeri yang begitu akrab di dadanya—pengingat biologis yang kejam bahwa tubuhnya masih siap memberi kehidupan, sementara bayinya sendiri telah lama terlelap di bawah tanah yang dingin. Di luar, angin musim gugur meraung pelan. Dahan-dahan pohon ek tua berayun diterpa cuaca, sesekali menghantam dinding batu estate dengan ketukan tak beraturan yang terdengar seperti bisikan dari kejauhan. Gerimis turun tanpa henti, membasahi jalan setapak berlapis kerikil dan membawa aroma tanah basah yang menyusup hingga ke celah ventilasi. Lalu, dari kamar sebelah, tangisan bayi memecah kesunyian. Lyra memejamkan mata sejenak. Tangis itu bukan milik anaknya. Tak akan pernah lagi menjadi milik anaknya. Dengan gerakan pelan, dia bangkit dari ranjang. Kardigan rajut longgar disampirkannya ke atas slip dress sutra tipis yang dikenakan untuk tidur. Setelah itu, dia melangkah keluar dalam kegelapan menuju kamar bayi milik keluarga sang majikan. Saat pintu kamar bayi terbuka sedikit, Lyra melihat siluet Elena di bawah temaram lampu tidur bermotif bintang. Wanita itu tampak jauh berbeda dari biasanya. Rambut yang selalu tertata rapi kini berantakan, beberapa helainya mencuat ke segala arah. Bayi dalam gendongannya terus menangis, tubuh mungilnya menggeliat gelisah sambil menendang-nendang udara. Elena mencoba menyodorkan botol s**u sekali lagi, tetapi si kecil langsung memalingkan wajah dan menangis makin keras. “Ayolah, Sayang ... tolong. Sedikit saja untuk Mommy,” gumam Elena lirih. Suaranya terdengar serak dan rapuh karena kelelahan. Lingkaran gelap membayangi matanya, sementara wajahnya yang pucat menunjukkan berapa lama dia telah berjuang sendirian malam itu. Ada kepanikan yang berusaha dia sembunyikan, tetapi tetap terlihat jelas di setiap gerakannya. Dari jarak itu, Lyra dapat melihat kilau air mata yang mulai memenuhi mata Elena. Lyra melangkah mendekat. “Biar saya saja, Nyonya,” ucapnya lembut. Elena tersentak kecil, lalu menoleh. Matanya yang sembap bertemu dengan tatapan Lyra. Di sana ada kelegaan yang begitu nyata, dan juga rasa bersalah yang dalam hingga nyaris menyakitkan untuk dilihat. “Lyra ...” suaranya bergetar. “Aku sudah mencoba. Berkali-kali. Tapi air susuku benar-benar tidak keluar.” Elena menunduk menatap putranya, lalu memejamkan mata. “Theo tidak berhenti menangis.” Lyra mengulurkan tangan, mengambil alih bayi mungil itu dari dekapan Elena yang kelelahan. Begitu tubuh kecil itu berpindah ke pelukannya, tangisnya perlahan mereda. Isakan yang semula memenuhi ruangan berubah menjadi rengekan pelan, seolah bayi itu menemukan kembali kehangatan yang selama ini dia cari. “Nyonya sebaiknya beristirahat,” ujar Lyra sambil mengayun bayi itu perlahan. “Biarkan saya yang menjaganya malam ini.” Elena mengembuskan napas panjang. Ketegangan yang sejak tadi menahan bahunya seolah luruh dalam sekejap. “Terima kasih, Lyra,” bisiknya. “Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan kalau kau tidak ada di sini.” Lyra hanya membalas dengan senyum kecil. Beberapa saat kemudian, Elena meninggalkan kamar dengan langkah gontai dan mata yang nyaris tak mampu tetap terbuka. Lyra duduk di kursi goyang dekat jendela. Dia membuka kancing kardigannya dan menggendong bayi itu lebih dekat ke dadanya. Kulit hangat si kecil bersentuhan dengan kulitnya, menghadirkan rasa akrab yang begitu menyenangkan sekaligus menghancurkan. Di dalam kamar bayi itu, keheningan menyelimuti mereka berdua. Hanya ada suara decapan pelan, derit lembut kursi goyang, dan detak jantung Lyra yang perlahan kembali tenang. Untuk sesaat, saat tubuh kecil itu berbaring nyaman dalam pelukannya, rasa kehilangan yang menggerogoti dadanya sedikit mereda. Tiga puluh menit kemudian, setelah bayi itu kembali terlelap, Lyra merasakan dahaga yang luar biasa. Dia turun ke lantai bawah, kakinya yang telanjang nyaris tak menimbulkan suara di atas lantai marmer yang dingin. Dapur hanya diterangi cahaya redup dari cooker hood. Lyra menuangkan air dingin ke dalam gelas, lalu meminumnya dengan rakus hingga beberapa tetes air mengalir dari sudut bibirnya, membasahi leher dan meluncur ke dadanya yang masih terasa panas. Saat dia meletakkan gelas itu kembali ke meja, sesuatu berubah. Udara di sekelilingnya mendadak terasa berbeda. Aroma vanila dan s**u yang selama ini melekat pada tubuhnya perlahan tertelan oleh wangi lain yang asing. Kayu cendana, tembakau mahal, dan dinginnya udara malam yang dibawa dari luar. Lyra berbalik cepat. Napasnya langsung tertahan. Seorang pria berdiri di sana, bersandar santai pada pilar gelap yang memisahkan ruang makan dan dapur. Tubuhnya tinggi dan tegap, dibalut kemeja hitam dengan lengan yang digulung kasar hingga siku. Rambutnya sedikit berantakan, seolah jari-jari tangannya sudah berkali-kali menyisirnya. Yang membuat Lyra membeku bukanlah penampilannya, melainkan matanya. Sepasang mata gelap itu menatapnya dengan intensitas mengusik, seolah mampu menembus lapisan kulit dan membaca setiap rahasia yang berusaha dia sembunyikan. Lyra refleks menarik kardigannya lebih erat hingga menutup rapat tubuhnya. Namun terlambat. Tatapan pria itu sempat singgah pada noda basah samar yang membekas di kain tipis bagian dadanya sebelum perlahan kembali naik ke wajahnya. “Siapa kau?” Suara pria itu berat dan sedikit serak, memecah keheningan dapur yang sejak tadi terasa menyesakkan. Lyra mundur selangkah. Pinggangnya membentur tepi counter dapur. “A-aku ...” Tenggorokannya mendadak terasa kering. “Aku ibu s**u di sini.” Pria itu tidak berkedip. Alih-alih mundur, dia justru melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga Lyra bisa merasakan hawa hangat tubuhnya. Napasnya tercekat saat pria itu menundukkan kepala. Hidung pria itu nyaris menyentuh lekuk lehernya saat dia menghirup napas pelan. Gerakan itu begitu lancang, begitu primitif, hingga membuat seluruh tubuh Lyra menegang. “Ibu s**u?” Pria itu mengulang kata-katanya dengan nada rendah. “Pantas saja.” Tatapannya menyapu wajah Lyra sesaat sebelum kembali mengunci kedua matanya. “Seluruh ruangan ini mendadak beraroma seperti sesuatu yang ...” Dia berhenti sejenak, seolah sedang memilih kata yang tepat. “... sangat manis.” Lyra refleks menekan punggungnya lebih erat ke tepi counter. Nalurinya berteriak agar dia menjauh, tetapi kakinya justru terpaku di lantai. “Aku Kael.” Ada jeda singkat sebelum sudut bibirnya terangkat tipis. “Dan kurasa, aku akan sering haus selama menginap di sini.” Jantung Lyra seolah berhenti berdetak selama sesaat, lalu kembali menghantam tulang rusuknya dengan brutal. Tatapan pria itu membuatnya gelisah dengan cara yang tidak bisa dia jelaskan. Panik perlahan merayap naik, mencengkeram kerongkongannya hingga sulit bernapas. “A-aku ...” Lyra menelan ludah. “Aku harus kembali ke kamar.” Suaranya terdengar begitu pelan, nyaris hilang di tengah keheningan dapur. Saat Lyra mencoba bergeser untuk melarikan diri, sebuah tangan besar dan hangat melingkar di pergelangan tangannya. Tidak kasar, tetapi genggamannya begitu mantap hingga gerakannya terhenti seketika. Lyra tersentak. Dia menarik tangannya, tetapi sia-sia. Napasnya mulai memburu. "Lepaskan," pintanya lirih, menatap Kael dengan mata yang berkaca-kaca. Kael tidak melepaskannya. Dia hanya menatap Lyra beberapa detik lebih lama, lalu menarik wanita itu sedikit lebih dekat. Cukup dekat hingga Lyra terpaksa kembali menatap mata yang sama sekali tidak bisa dia baca. Di bawah cahaya remang dapur, Lyra melihat jakun pria itu bergerak perlahan. Rahangnya mengeras seolah sedang menahan sesuatu. Ada ketegangan yang muncul entah dari mana, cukup tajam untuk membuat denyut nadinya berdebar kencang. Lyra terus memberontak kecil, tetapi tenaganya sama sekali tidak sebanding dengan pria itu. Jantungnya berdegup makin liar, dan tepat saat dia merasa air matanya akan tumpah, tekanan di pergelangan tangannya mendadak menghilang. Tanpa berpikir panjang, Lyra langsung berbalik dan berlari menaiki tangga. Dia tidak berani menoleh. Tidak sekali pun. Sesampainya di kamar, dia mengunci pintu dengan tangan gemetar. Punggungnya bersandar ke pintu saat dia menekan tangan ke d**a, mencoba menenangkan napas. Siapa pria itu? Lyra memejamkan mata rapat. Pikirannya berusaha mengurai kembali kejadian di dapur beberapa menit lalu, tetapi semuanya terasa kacau. Rasa takut telah merampas kemampuan berpikirnya. Dia bahkan tidak benar-benar mengingat apa yang Kael katakan. Yang tersisa hanyalah sepasang mata gelap yang terus menghantuinya. Mata yang menatapnya dengan intensitas yang membuatnya sulit bernapas. Dan suara berat itu. Di bawah, Kael masih berdiri di tempatnya. Perlahan, dia mengangkat tangan yang tadi menggenggam pergelangan tangan wanita itu, lalu mendekatkannya ke wajah. Jejak aroma itu masih ada. Sudut bibirnya terangkat tipis. Sudah lama tidak ada sesuatu yang mampu menarik perhatiannya secepat ini. Matanya berkilat dalam remang cahaya dapur. Kepulangannya kali ini … ternyata tidak akan semembosankan yang dia kira.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
732.2K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.6M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
966.8K
bc

A Warrior's Second Chance

read
351.9K
bc

Not just, the Beta

read
344.9K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook