Hah?!

1039 Words
Teman Andrew sedikit terkejut karena Cathrine bertanya seperti itu. “Andrew? Enggak kok, dia gak kesini hari ini. Mungkin lo salah liat, Cath,” jawab salah satu dari teman Andrew. Cathrine mengganggukkan kepalanya, “Iya juga sih kayaknya gue salah liat, soalnya mana mungkin Andrew kesini sama cewek lain sambil gandingan tangan pula. Yaudah gue balik dulu ya, maafin ya buat semua. Gue janji geng gue gak bakal macem-macem sama geng kalian lagi.” “Iya Cath, maafin kita juga, lo jadi berantem sama Andrew gara-gara kita kalah dari lo. Tapi kalaupun menang juga sama aja kita bakalan abis sama si Andrew, apalagi kalo sampe lo yang ada di posisi kita gini. Mati pasti kita Cath,” Cathrine hanya tersenyum mendengar itu, akhirnya ia benar pergi dari sana. Setelah kepergian Cathrine, ketiga orang yang ada di ruangan itu akhirnya mendesah lega. Mereka bingung sebenarnya menjawab pertanyaan Cathrine yang mendadak seperti itu. Karena sebenarnya memang benar tadi Andrew sempat mengunjungi mereka bersama Adele. Sebenarnya mereka semua hanya tau jika Adele adalah kekasih Andrew, bukan Cathrine. Tapi saat kejadian terungapnya jati diri Cathrine, akhirnya Andrew menjelaskan siapa itu Cathrine dan sudah berapa lama mereka menjalin hubungan. Oleh karena itu, teman-teman Andrew dengan mudahnya memaafkan perbuatan Cathrine karena tidak tega. Mereka kasihan melihat Cathrine yang sepertinya sangat menyayangi Andrew, tapi ketua mereka malah menjalin hubungan dengan orang lain, terlebih orang itu tau jika Andrew sudah memiliki orang lain di hatinya. Setelah tau jika Adele hanya selingkuhan Andrew, teman-teman Andrew berubah menjadi dingin pada Adele. Dan Andrew tidak bisa melakukan apapun dengan itu. ***** Setelah pergi dari rumah sakit, Cathrine memutusakan untuk pergi ke salah satu mall yang dekat dengan rumah sakit itu. Ia butuh kopi untuk menenangkan pikirannya, dan ia juga ingin membeli beberapa novel serta komik. Cathrine berjalan mengitari rak-rak yang penuh dengan buku. Ia sudah menenteng tiga buah novel, dan sekarang masih mencari lagi. Cathrine memang dikenal sebagai maniak komik dan novel. Mungkin jika dikumpulkan semua novel dan komiknya itu bisa menjadi sebuah mini perpustakaan. Setelah mengitari toko buku dan membeli lima novel serta dua komik, akhirnya ia pergi ke salah satu kafe langganannya dan membeli vanilla latte kesukaannya. Cathrine memilih duduk di dekat jendela yang menghadap keluar agar bisa melihat orang yang berlalu-lalang. Saat sedang meminum kopinya sambil melihat orang yang berjalan diluar, Cathrine tidak sengaja melihat pantulan seseorang yang ia kenal dari kaca. Pantulan dari Andrew yang sedang bersama orang lain dan duduk tepat dua meja di sebelahnya. Dan orang itu adalah orang yang dikenalinya. Cathrine melihat Andrew bersama dengan Adele. Cathrine kenal dengan Adele, ia adalah teman satu sekolah dulu saat masih SMP, tapi mereka tidak terlalu dekat. Bagaimana bisa mereka terlihat dekat seperti itu? Bukankah Andrew sangat menyayanginya? Melihat mereka berdua, Cathrine akhirnya diam dan berpura-pura tidak melihat mereka. Ia hanya membuang muka ke arah jendela sembari menajamkan pendengarannya. Cathrine sangat ingin tau apa yang akan mereka berdua lakukan dibelakangnya. “Sayang, maafin aku ya yang baru ada waktu sama kamu,” ucap Andrew sambil menggengggam tangan kanan Adele. Deg Jantung Cathrine berdetak kencang karena Andrew memanggil orang lain dengan sebutan itu. Cathrine semakin memfokuskan pendengarannya. Adele tersenyum manis, “Iya, gapapa kok. Aku tau kan gak bisa berbuat apa-apa juga karna aku cuma bisa jadi orang lain kalo kamu udah sama Cathrine. Aku gak akan terlalu nuntut kamu kok.” Andrew merasa tidak enak hati melihat Adele yang sangat pengertian dengannya. Dimana lagi ia bisa mendapatkan orang seperti Adele yang bisa memaklumi jika kekasihnya bermesraan dengan wanita lain. “Maafin aku ya, aku sayang banget sama kamu.” Andrew mengeluarkan sesuatu dari kantong jaketnya dan memberikannya pada Adele. Adele menerima kotak kecil yang diberikan oleh Adrew dan membukanya, didalamnya terdapat kalung berinisyal huruf A kecil dengan ukiran yang cantik. Adele tersenyum melihatnya karena itu sangat bagus, Andrew memang tau benar apa yang disukai oleh dirinya. “Ini beneran buat aku? Makasih ya, kalungnya bagus banget.” Adele terlihat senang menerima pemberian dari Andrew. Andrew tersenyum serta menganggukkan kepalanya. Ia berdiri lalu mengambil kalung itu dan memasangkannya di leher Adele. “Cantik, sama kaya yang pake kalungnya.” “Kalungnya bagus Drew, aku beneran suka. Makasih ya.” “Iya sama-sama, maaf aku Cuma bisa ngasih ini ke kamu. Karna jujur aku belom bisa lepasin Cathrine. Aku belom bisa milih salah satu diantara kalian karna juju raku masih punya perasaaan juga ke Cathrine. Aku bener-bener minta maaf sama kamu.” Adele menggenggam tangan Andrew, “Aku sering bilang ke kamu kan kalo aku gapapa? Aku bisa terima itu, aku gak mau jadi beban buat kamu. Aku tau kalo kamu sayang sama aku aja itu udah cukup. Aku tau posisi aku diantara kalian ini apa, jadi aku gak berani buat minta lebih. Jadi kamu jangan terus-terusan minta maaf ke aku ya.” Hati Cathrine sakit mendengar ucapan mereka. Pasntas saja Andrew jarang bisa dihubungi saat ini, ternyata ia sedang menghabiskan waktunya bersama orang lain. Ternyata benar orang yang dilihatnya tadi di rumah sakit itu Andrew bersama Adele. Pantas saja teman-teman Andrew sedikit gugup saat ditanya seperti tadi oleh Cathrine. Air mata Cathrine tidak berhenti mengalir, ia menangis tanpa suara supaya Andrew dan Adele tidak menyadari keberadaannya. Dan sebenarnya Adele sudah tau jika Cathrine ada disana juga. Adele melihat Cathrine tengah mengantri untuk memesan kopi dan sontak Adele mengajak Andrew untuk kesana. Rencana Adele ternyata berhasil, dan ia berharap semoga hubungan mereka berdua cepat berakhir. Jadi dirinya bisa memiliki Andrew seutuhnya dan tidak ada lagi yang menghalanginya. Dan halangan terbesarnya adalah Cathrine. “Tolong kasih aku waktu ya, jujur kamu lebih baik dari Cathrine dan lebih bisa ngertiin aku. Tolong kasih aku waktu, aku mungkin bakal lebih milih kamu. Tapi aku butuh waktu, kamu bisa nunggu kan?” ucapan Andrew membuat hati Adele berbunga-bunga, tapi tidak ditunjukkannya. Adele memasang wajah merasa bersalah dan tidak enak, “Iya, tapi kamu gak usah maksain diri ya. Kalo perasaan kamu ke Cathrine lebih besar, aku bisa pergi kok. Kamu jangan merasa sungkan ke aku, kebahagiaan kamu lebih penting dari apapun.” Andrew memeluk Adele dari samping, “Maafin aku ya, kamu bikin aku merasa bersalah kalo kamu kaya gitu. Tolong tunggu sebentar lagi ya sampe aku beneran bisa nentuin perasaan aku. Aku gak mau selalu egois buat milikin kalian berdua.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD