Bab 1 TOPENG KETUA GENG
Surabaya, Indonesia.
Di usianya yang baru menginjak 25 tahun, Ridho Wijaya bukanlah manusia biasa. Ia adalah sosok yang ditakuti dan dihormati di seluruh negeri. Di satu sisi, ia adalah CEO dari Wijaya Corp, perusahaan raksasa yang asetnya bernilai ratusan miliar bahkan hingga triliunan rupiah. Setiap keputusan yang ia ucapkan bisa mengguncang perekonomian negara.
Namun, di sisi lain, ia memakai seragam hijau dengan pangkat bintang empat di bahunya. Ia adalah Jenderal Ridho Wijaya, pemimpin pasukan elit yang dikenal memiliki strategi perang jenius dan mental baja.
Tapi, semua kekuasaan itu tidak ada artinya baginya dibandingkan satu hal: Missel Wijaya.
Adik perempuannya. Satu-satunya keluarga yang tersisa sejak kedua orang tua mereka meninggal dunia secara misterius lima tahun lalu. Penyebab kematian mereka masih samar, kasusnya tertutup rapat, dan pelakunya belum tertangkap. Hal itu membuat Ridho bersumpah akan melindungi Missel dengan cara apa pun, bahkan jika caranya harus terlihat kejam.
Di Ruang Keluarga Mewar - Vila Wijaya
Suara bantingan buku membuat dinding rumah seolah bergetar. Wajah tampan Ridho memerah menahan amarah. Matanya yang tajam menatap lekat-lekat kertas rapor yang ada di tangannya, lalu berpindah menatap wajah adiknya yang gemetar di hadapannya.
"40? Matematika cuma dapat 40? Dan ini... Bahasa Inggris juga hampir gagal?!" Suara Ridho berat, dingin, dan penuh otoritas. "Kamu pikir aku membiayai sekolah termahal di kota ini untuk apa, Missel?!"
Missel, 15 tahun, menunduk dalam. Jantungnya berdegup kencang. Ia takut. Sangat takut pada kakaknya. Ridho memang sangat penyayang, tapi jika menyangkut pendidikan dan kedisiplinan, ia berubah menjadi monster.
"Ma-maaf, Kak..." isak Missel pelan.
"Maaf?!" Ridho melangkah maju selangkah, membuat aura mengerikan semakin terasa. "Aku tidak butuh maaf! Aku butuh hasil! Orang tua kita sudah tidak ada, aku yang menggantikan posisi mereka. Aku tidak mau adikku bodoh! Aku tidak mau adikku jadi orang yang tidak berguna!"
"Tapi Kak, aku—"
"Dan jangan coba-coba membohongiku soal kehadiran," potong Ridho dingin, melempar absen siswa ke lantai. "Tiga kali bolos dalam satu minggu? Kamu pikir aku tidak tahu? Kamu pikir aku ini siapa?! Aku Jenderal! Tidak ada gerakan kecil yang luput dari penglihatanku!"
Ridho menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri tapi gagal. Wajahnya datar tanpa ekspresi, tapi matanya memancarkan kekejaman.
"Mulai hari ini, jam belajar diperpanjang. Tidak ada jalan-jalan. Tidak ada HP. Jika nilai ulangan berikutnya tidak di atas rata-rata, jangan harap kamu bisa keluar dari kamar ini. Mengerti?!" bentak Ridho.
"I-iya, Kak... Mengerti..." jawab Missel terbata-bata, air matanya jatuh membasahi pipi.
"Pergi ke kamar! Belajar!" perintah Ridho tegas.
Missel berlari kecil meninggalkan ruangan itu dengan hati hancur. Begitu pintu kamar tertutup, gadis itu langsung melorot ke lantai dan menangis tersedu-sedu.
Ia tidak berani bilang. Ia tidak berani menceritakan kenapa nilainya jelek. Ia tidak berani cerita kenapa ia bolos.
Bagaimana ia bisa konsentrasi belajar jika setiap hari di sekolah ia dipukul, dijegal, tasnya dibuang, dan seragamnya dikotori oleh teman-temannya? Bagaimana ia bisa masuk kelas jika semua orang menertawakannya dan memanggilnya dengan hinaan?
Kak Ridho terlalu sibuk menjadi pemimpin negara dan pengurus perusahaan... Dia tidak akan pernah tahu kalau adiknya sedang mati rasa di sekolah.
Dan di ruang tengah, Ridho berdiri memandangi jendela besar. Wajah kerasnya perlahan melunak, penuh kekhawatiran.
"Maafkan Kakak, Sel..." bisiknya lirih. "Kakak melakukan ini karena Kakak sayang. Kakak tidak mau ada yang bisa meremehkanmu. Kakak harus pastikan kamu kuat... karena kita tidak tahu siapa yang ada di balik kematian Ayah dan Ibu. Dunia ini kejam, Sel. Kakak harus membuatmu sekejam itu juga supaya bisa bertahan."
Ridho belum tahu. Bahwa musuh yang sebenarnya bukanlah masa depan yang gelap, tapi ada di tempat Missel menghabiskan waktunya setiap hari.
Dan ketika sang Jenderal dan CEO tahu kebenarannya nanti... Seluruh dunia mungkin akan gemetar ketakutan.
10 Hari Kemudian... Suasana di Vila Wijaya berubah menjadi mencekam. Tidak seperti biasanya yang hanya penuh amarah, kali ini udara terasa berat dan mematikan.
Di ruang kerja utama, Ridho Wijaya berdiri mematung di depan jendela kaca raksasa. Wajahnya pucat namun matanya memancarkan kemarahan yang tak terbayangkan. Di hadapannya sudah menumpuk laporan dari tim pengawalnya yang tampak gemetar ketakutan.
"Sudah sepuluh hari..." suara Ridho bergetar, rendah namun menusuk tulang. "Sepuluh hari adikku tidak pulang, dan kalian bilang tidak ada jejak sedikitpun?!"
"Maaf, Jenderal... Kami sudah cek semua rumah sakit, tempat hiburan, bahkan rumah teman-temannya di sekolah. Tidak ada. Seolah-olah dia menghilang dari muka bumi," lapor salah satu anak buahnya.
Ridho mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih.
'Missel... Kamu di mana? Kenapa kamu nekat seperti ini?' batinnya berteriak.
Ia marah, tapi jauh lebih dalam dari itu, ia ketakutan. Bayangan kematian orang tua mereka yang misterius terus menghantuinya. Bagaimana jika sesuatu terjadi pada Missel? Ia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.
Sementara itu, di Sebuah Vila Tersembunyi - Area Surabaya Barat
Tempat ini sangat mewah, desainnya modern dan sangat rahasia. Tidak ada satupun data properti ini yang tercatat atas nama Ridho Wijaya atau keluarganya.
Di ruang tengah yang luas, musik keras mengalun. Asap rokok tipis mengepul, dan ada sepuluh gadis dengan gaya pakaian yang edgy, keren, dan sedikit tomboy sedang berkumpul sambil tertawa lepas.
Dan di kursi utama, duduklah sosok yang sedang dicari seluruh dunia. Missel Wijaya.
Tapi, ini bukan Missel yang penakut, cengeng, dan bodoh yang Ridho kenal.
Missel kini memakai jaket kulit hitam, celana jeans robek, dan sepatu boots tinggi. Rambutnya diikat tinggi dengan gaya yang sangar. Wajahnya yang biasanya tertunduk dan menangis, kini menampilkan senyum miring yang penuh wibawa dan sedikit kejam.
"Hahaha! Dasar kalian berisik sekali!" seru Missel sambil tertawa renyah, sangat ceria dan percaya diri. "Tenang saja, uang hasil race minggu lalu sudah masuk rekening kita semua. Kalian bisa beli part mobil baru sesuka hati."
"Wah! Terima kasih, Boss!" seru salah satu anggotanya. "Kalian tahu kan siapa Boss kita? Baru umur 15 tahun tapi otaknya di atas rata-rata! Strategi balapnya ajaib, lawan pasti kalah!"
Missel hanya tersenyum sinis. Ia mengambil gelas berisi minuman dingin, menatap cahaya lampu dengan tatapan dingin dan tajam.
"Dunia ini soal kekuatan dan otak, guys. Kalau lemah, kalian yang akan diinjak," ucap Missel dengan nada dewasa yang jauh melampaui umurnya.
Siapa sangka? Gadis ini adalah "Black Panther", pembalap legendaris yang namanya ditakuti di sirkuit internasional. Ia juga adalah Ketua Geng "Night Wolf", geng motor wanita paling disegani yang tidak pernah main-main.
Rumah mewah ini ia beli sendiri satu tahun lalu menggunakan uang hasil balapan dan investasi yang ia kelola sendiri. Uang yang jumlahnya milyaran rupiah. Ia membelinya diam-diam, menggunakan identitas samaran, sehingga Ridho—sejenius dan sekuat apa pun kakaknya—tidak pernah menyadarinya.
Faktanya, Missel tidak bodoh. Ia JENIUS.
IQ-nya bahkan lebih tinggi dari Ridho. Ia paham ekonomi, paham strategi perang, paham mekanik, dan paham segala hal hanya dengan melihat sekali. Nilai 40 dan kelakuannya yang terlihat bodoh di sekolah hanyalah AKTING. Itu hanyalah topeng agar orang lain meremehkannya, agar ia bisa bergerak bebas di dunia bawah tanah tanpa dicurigai.
"Boss, besok ada race besar di sirkuit Madura. Lawannya dari luar negeri, katanya jagoan," tanya salah satu anggota.
Missel berdiri, berjalan menuju dinding kaca yang menampilkan koleksi mobil balap super keren di garasi. Tangannya menyentuh kaca perlahan.
"Biarkan mereka datang," bisik Missel, matanya berkilat dingin. "Aku akan hancurkan ego mereka. Lagipula... aku butuh hiburan. Daripada harus pulang dan dengerin omelan Kakakku yang sok tahu itu, mending aku di sini."
Gadis-gadis itu tertawa. Mereka tidak tahu siapa sebenarnya keluarga Boss mereka, mereka hanya tahu Missel adalah pemimpin terbaik, paling kejam pada musuh, tapi paling sayang pada sahabatnya.
Missel menatap jauh ke luar jendela.
'Kak Ridho... Kakak pikir aku anak bodoh yang butuh dilindungi? Kakak salah besar. Aku yang sebenarnya sedang melindungi diri aku sendiri... dan mungkin, suatu hari nanti, aku yang akan membalaskan dendam orang tua kita sebelum Kakak tahu siapa pelakunya.'
Dunia hanya tahu Missel Wijaya adalah anak manja yang bodoh dan penakut.
Tidak ada yang tahu. Bahwa di balik rapor merah dan air mata palsu itu, tersimpan jiwa seorang Ratu Penguasa Jalanan yang jauh lebih berbahaya dari seorang Jenderal sekalipun.