Brak
Dante terlonjak saat mendengar suara dentuman keras di hadapan nya. Pria berambut cokelat itu menatap sengit putri nya yang nyaris membuat diri nya terkena serangan jantung.
"Kondisikan amarahmu Alesha! Belajarlah untuk mengontrol emosi mulai sekarang. Kita kehilangan kontrak triliunan karena sikap angkuhmu ini. Amarah tak selalu dapat di andalkan dalam menyelesaikan setiap persoalan." Sarkas Dante menasehati dengan nada tak ramah.
"Kalau begitu daddy saja yang menghadapi tekanan dari pihak Abraham. Aku menyerah!" Alesha mengangkat kedua tangan nya sebagai tanda kemunduran nya. Berhadapan dengan mantan kekasih nya tentu tak akan mudah Alesha hadapi dengan sikap biasa saja. perasaan nya masih sama, tak sedikit pun berubah. Apalagi kini Abraham jauh terlihat semakin mempesona di balik sikap nya yang sedingin bongkahan es.
"Ingat Alesha, kita tidak berkorban sejauh ini hanya untuk berhenti di tengah jalan karena perkara seorang mantan. Daddy Telah mengorbankan banyak orang dalam semua rencana kita. Kamu harus tetap maju apapun yang terjadi!" Tegas Dante penuh peringatan.
"Lalu bagaimana dengan ku dad? Apa pengorbanan ku tak begitu berarti? Aku merelakan Abraham demi semua ambisi daddy. Apa itu masih belum cukup hah?!" Teriak Alesha dengan tubuh bergetar hebat.
Lestari segera menghampiri sang anak untuk menenangkan nya. Ia tak ingin sikap putri nya memancing amarah singa yang sedang kelaparan.
"Ayo ke kamarmu sayang," ajak lestari sembari merangkul pundak sang anak yang tengah menahan guncangan tangis.
"Seharus nya aku mati saja saat itu mom," ucap Alesha dengan nada kecewa.
"Kematian mu tak akan mengubah apapun Alesha. Turuti saja apa keinginan daddy, maka semua nya akan baik baik saja." Alesha membeliak tak percaya. Ibu nya berkata dengan nada datar tanpa ekspresi. Alesha sejenak terpekur. Ibu nya terlihat berbeda dalam beberapa hari terakhir.
"Aku bisa berjalan ke kamar ku sendiri." Alesha melepaskan rangkulan sang ibu kemudian meninggalkan lestari yang menatap punggung putri nya dengan tatapan tak terbaca.
"Biarkan saja anak bebal itu merenungi kesalahan nya. Siapkan semua kebutuhan ku selama perjalanan nanti." Lestari hanya mengangguk patuh lalu kembali menuju ruang kerja suami nya.
**************
"Jangan lepaskan tanganku Sa! bertahanlah..."
"Aku sudah gak kuat lagi Bel.. lepaskan saja tali nya atau kamu akan kehilangan kedua tanganmu."
Namun abelia menggeleng kuat dan semakin mengeratkan tali di kedua tangan nya. Jangan di tanya rasa sakit terjerat tali yang berusaha menopang beban tubuh manusia. Rasa nya tak dapat di gambarkan dengan kata kata.
Abelia melirik darah yang menetes di pergelangan tangan nya. Ia semakin cemas tak akan dapat menarik Alesha dari curam nya tebing jurang bebatuan. Abraham menatap Abelia syarat akan sebuah permohonan, agar kekasih nya di selamatkan. Abelia memejamkan kedua mata nya sebelum kembali berusaha sekuat tenaga di sisa sisa kekuatan yang ia miliki.
"Lepaskan saja Bel, atau kita berdua akan mati bersama." Pinta Alesha terlihat mulai putus asa. Kaki nya terkilir sehingga Alesha hanya mengandalkan kedua tangan untuk tetap bertahan.
"Lebih baik seperti itu Sa, aku gak bisa membiarkanmu jatuh ke dasar jurang tepat di depan mata ku." Sungguh jawaban yang sangat mengharukan. Abelia tak peduli akan nyawa nya sendiri. Bagi nya solidaritas persahabatan adalah hal yang harus di utamakan.
"Lepaskan aku saja Bel," terdengar suara lemah dari mulut Andrean. Bibir pucat itu terlihat menyunggingkan senyum tulus saat menatap wanita yang ia cintai. Abelia rupa nya tak hanya menopang satu orang, tetapi kedua tangan ia gunakan untuk menahan beban dari dua manusia sekaligus. Tali karmantel tersebuta Abelia gunakan sebagai penopang, agar kedua teman nya tetap bisa menggenggam tangan nya meski dalam keadaan berkeringat.
Abelia menggeleng kuat. Tak mungkin ia melepaskan Andrean meski pria itu sudah terlihat sekarat.
"Lepaskan dia Bel, jika kamu ingin aku selamat." Abelia sontak melotot. Tak ia sangka Alesha berkata demikian tanpa rasa empati sedikitpun.
"Nggak Sa, kalian pasti bisa, tolong bantu aku untuk menahan beban tubuh mu di bawah sana Alesha. Aku tahu kaki kirimu baik baik saja." Pinta Abelia memelas.
Tubuh nya mulai lemas. Terutama kedua tangan nya kini mulai mati rasa.
Namun alih alih melakukan apa yang Abelia perintahkan, Alesha justru melepaskan pegangan nya dari tali yang ia genggam di tangan Abelia. Namun Alesha tak melakukan nya sendirian. Wanita itu juga menarik tangan Andrean hingga kedua nya terjun bebas dari ketinggian yang entah berapa puluh meter ke bawah sana.
"TIDAAKKK.. ANDREAN!!"
"ALESHA!"
Abraham terbangun dengan keringat dingin bercucuran di tubuh nya. Mimpi tersebut amat nyata terasa. Abraham menarik selimut yang membungkus kedua kaki nya, dan melihat bercak darah menempel di permukaan sprei.
Abraham sejenak berpikir, sejak kapan kaki nya terluka.
Sedangkan di tempat lain, Nora terus memeluk tubuh Abelia yang juga memimpikan mimpi buruk yang sama.
"Tenang kak...semua hanya mimpi. Sekarang kakak sudah baik baik saja, kami akan selalu menjaga kakak sampai kapanpun." Kata kata lembut tersebut mampu mengurangi himpitan yang membebani batin Abelia.
Perlahan Abelia mulai tenang dan kembali memejamkan kedua mata nya. Nora yang sejak tadi merengkuh tubuh Abelia meletakkan kepala Abelia perlahan di atas bantal.
Dengan tatapan sendu, Nora menyelimuti tubuh Abelia yang terlihat masih menggigil. Entah karena kedinginan atau karena mimpi wanita itu teramat sangat menyesakkan da da.
"Kami selalu ada di samping mu kak, sampai waktu nya kakak harus pulang." Bisik Nora sebelum beranjak meninggalkan Abelia yang terlelap seorang diri.
Aminah duduk di kursi kayu sambil menatap sebuah bejana dengan tatapan entah. Nora menghampiri sang nenek lalu menceritakan tentang Abelia, dan mimpi nya yang belakangan kian sering mengusik malam tenang wanita cantik itu.
Aminah bergeming tanpa reaksi.
******************
"Wajahmu terlihat seperti orang yang kurang tidur sayang. Apa tidurmu terganggu?" pertanyaan Medina mendapatkan gelengan kecil dari Abraham.
"Aku baik baik saja mam, hanya memikirkan beberapa pekerjaan kantor saja." Jawab Abraham sekedar nya. Ia tak ingin sang ibu mengkhawatirkan diri nya berlebihan.
Medina mengangguk berusaha untuk mempercayai apa yang putra nya ucapkan.
"Mami tahu kamu sedang berbohong nak. Tak apa, selama mimpi itu masih bisa kamu hadapi, kamu akan baik baik saja." Monolog Medina dalam hati nya.
Ibu dan anak itu kembali melanjutkan sarapan sebelum melakukan aktivitas masing masing.
Medina merupakan seorang komisaris besar di perusahaan minyak terbesar nomor tiga di Asia. Wanita itu juga mewarisi beberapa perusahaan yang bergerak dalam bidang konstruksi terbesar di Indonesia. Perusahaan alat medis juga memiliki saham senilai 328 miliar dolar Amerika di perusahaan tambang emas terbesar di dunia.
Bayangkan kekayaan wanita itu tak akan habis lusinan turunan meski hanya duduk manis nikmati hidup tanpa melakukan apapun.
******************
"Aku ingin kamu terus mengawasi tuan muda Bramantara dan laporkan kepadaku apa saja yang pria itu lakukan. Termasuk pertemuan nya dengan siapa saja."
"Siap Lang. Tapi kamu tahu resiko nya cukup besar. Aku harus memastikan orang orangku tetap aman saat melakukan pengintaian. Jadi, aku butuh akomodasi dan fasilitas yang mendukung dalam melakukan tugas ini. Termasuk kekebalan hukum bila saja salah satu anak buahku tertangkap basah." Tuntut Ivan terang terangan.
Mengemukakan apa yang menjadi pertimbangan nya dengan lugas tanpa rasa takut, sudah menjadi hal dasar yang harus selalu Ivan lakukan. Mengingat pekerjaan mereka yang bersinggungan dengan keselamatan nyawa.
"Aku akan menyiapkan semua nya termasuk perlindungan hukum bila saja anak buahmu berakhir di kantor polisi." Balas Galang ambigu. Ivan segera memahami nya tanpa harus di jelaskan. Tertangkap polisi karena ketahuan menguntit, masih merupakan hal yang baik. Karena bila anak buah nya berakhir di tangan orang yang mereka intai, maka hanya ada satu tujuan untuk pulang. Akhirat. Itu mutlak tak dapat di elak.
"Aku ingin pembayaran 70 persen di muka. Anak buahku harus memastikan bakul nasi di dapur keluarga mereka tetap terisi selama menjalani pekerjaan ini."
"Aku akan membayar penuh, jadi aku harap aku mendapatkan hasil yang sebanding." Tegas Galang penuh penekanan.
Ivan melebarkan senyum. Apalagi tak lama terdengar suara notifikasi dari akun Bank nya. Semakin bersemangat lah pria itu untuk melakukan pekerjaan nya.
"Inilah yang membuatku selalu tak pernah bisa menolak untuk membantumu bro." Ujar Ivan dengan senyum menyebalkan.
Galang mencibir mendengar kalimat seorang penjilat.
"Jangan mengulang kegagalan yang sama Ivan, karena kali ini aku tak akan memberikan tolerir untuk kegagalanmu yang kedua kali nya." Tekan Galang menyorot tajam ke arah Ivan.
Ivan adalah sahabat semasa sekolah nya. Pria itu memilih menjadi seorang detektif swasta, dan mendirikan sebuah firma hukum bersama dua rekan lain nya.
Ivan meneguk ludah kaku namun tetap terlihat tenang. Ia sudah sangat terlatih untuk menjaga stabilitas mental saat berada di bawah tekanan sekeras apapun.
"Tenang saja Lang, ada uang semua masalah akan mudah terselesaikan." Jawab Ivan penuh keyakinan.
Jangan lupa untuk menyapa author ya guys, di kolom komentar.