Tak komplit rasa nya bila kalian belum mengoleksi buku ini. Pastikan buku ini tersimpan rapi di daftar pustaka kalian ya guys. Terimakasih.
"Maaf?"
Abraham menatap dingin wanita yang dulu begitu ia puja. Dan karena wanita itu pula ia kehilangan sahabat terbaik nya, serta keempat teman nya yang lain dalam pendakian yang Alesha rancang.
"Maksudmu maaf atas nyawa dari ke ke-lima teman temanku? Atau maaf karena sandiwara mu begitu sempurna sehingga mampu membodohiku sedemikian rupa? Jelaskan padaku Alesha? maafmu merujuk pada kesalahan yang mana? karena setahuku kesalahanmu sudah tak lagi terhitung." Sengit Abraham menahan gejolak amarah dalam diri nya.
Tangan pria itu terkepal erat saking geram dengan tingkah Alesha yang memamerkan wajah tanpa dosa di hadapan nya.
Abraham sangat muak dengan wajah sendu yang kini tengah menatap nya dengan tatapan memelas, namun tak sedikit pun terlihat ekspresi wajah bersalah atas apa yang telah terjadi di masa lalu.
"Kamu tidak akan pernah mengerti Abraham!" Teriak Alesha putus asa.
"Jadi katakan apa yang tidak aku mengerti Alesha?!" Seru Abraham tak mau kalah. Nada tinggi yang membuat tubuh Alesha membatu. Abraham selalu bersikap manis terhadap nya namun kini pria itu menjadi sosok yang sangat berbeda. Tak ada lagi nada penuh kelembutan, Abraham kini sudah tak lagi ia kenali.
"Sudah tiga tahun berlalu Abraham, seharus nya kamu sudah melupakan nya. Siapa Abelia bagimu Abraham? Kenapa kamu harus berduka sedalam ini untuk wanita yang hanya sebatas teman masa kecilmu? Apa yang terjadi selama tiga hari kalian bersama? Apa waktu sesingkat itu telah menumbuhkan benih benih cinta? Apa yang kalian lakukan untuk saling menghangatkan tubuh di saat cuaca ekstrim melanda? Katakan Abraham! Apa kamu telah mengkhianati ku hah?!" Tuduhan mengebu gebu tersebut membuat Abraham tertawa hambar.
Pertanyaan yang mencecar habis harga diri nya membuat Abraham menggeleng tak percaya. Alesha begitu mudah menuduh nya berbuat hal be*jat tanpa memikirkan perasaan nya sama sekali.
"Aku tak habis pikir Alesha, apa istimewa nya dirimu dahulu sampai sampai aku tak bisa melihat setitik pun keburukan yang ada dalam dirimu." Setelah mengucapkan kalimat penuh nada kekecewaan, Abraham memutar tubuh nya lalu kembali melanjutkan langkah menuju mobil.
Tak ia hiraukan teriakan Alesha yang terus menuduh nya dengan berbagai fitnah keji tak berdasar.
"Apa yang telah aku lakukan Abelia? Aku telah mengorbankan dirimu demi sosok iblis seperti Alesha." Sesal Abraham tergugu pilu. Pria itu memukul kemudi tak berdosa untuk melampiaskan amarah nya.
Kerinduan yang menyesakkan d**a kini kembali menghantam sanubari Abraham lebih dahsyat dari sebelum nya.
Di tempat berbeda seorang wanita tua tengah menyiapkan sejenis ramuan herbal yang sebelum nya ia rebus lalu di tumbuk hingga halus.
"Oleskan obat ini di kening gadis itu Nora." Perintah nya pada seorang gadis remaja yang sejak tadi terus memperhatikan apa yang di lakukan oleh nenek nya.
"Baik nek," sahut Nora patuh.
"Kapan gadis ini akan sadar kembali nek? Sudah lama sekali semenjak kita menemukan nya di air terjun itu? Apa dia tidak punya keluarga, sampai tak seorangpun yang datang untuk mencari keberadaan nya?" Berbagai pertanyaan sang cucu tak mampu di jawab oleh Aminah. Wanita tua itu hanya bisa menggeleng samar pertanda ia pun tak tahu kapan wanita malang itu akan kembali sadar.
"Berdoa saja kepada sang pencipta nak, kita cukup merawat tubuh nya agar tetap bisa bertahan sampai seseorang datang mengaku sebagai keluarga nya." Ucap sang nenek tersirat makna. Aminah memilih jawaban yang paling realistis karena mereka sendiri tak tahu kapan wanita itu akan pulih. Keterbatasan ekonomi membuat mereka tak mampu membawa si wanita ke kota untuk di rawat.
Beberapa penduduk desa malah meminta nya membiarkan saja wanita malang itu mati. Karena hanya akan menjadi beban bagi Minah juga cucu nya yang hidup dalam keterbatasan. Namun Aminah yang memiliki hati yang tulus tak sampai hati melakukan nya. Bagaimana pun diri nya lah yang menemukan wanita itu bersama sang cucu. Ia juga yang memutuskan untuk membawa serta merawat nya di gubuk tua tersebut selama tiga tahun terakhir.
***********************
"Kamu yakin putraku tak menggubris wanita siluman itu Arden?"
"Cukup yakin nyonya, karena saya berada di jarak yang cukup dekat saat itu. Hanya kurang lebih tiga meter, dan indera pendengaran saya masih berfungsi dengan sangat baik." Jawab Arden penuh keyakinan.
Medina tampak bergeming. Ekspresi datar membuat siapa saja ciut bila berada di posisi Arden. Namun berbeda dengan Arden yang sudah mengabdikan seluruh hidup nya bagi keluarga Bramantara, selama bertahun tahun lama nya.
"Jauhkan wanita itu dari jangkauan putraku Arden. Aku tak sudi bila wanita itu kembali mendapatkan empati Abraham. Kita tahu apa kelemahan Abraham, jangan sampai wanita ular itu memanfaatkan kelemahan Abraham untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan." Perintah Medina tegas setelah terdiam beberapa saat.
Ardan mengangguk mantap.
Sesaat setelah Medina meninggalkan ruang tengah, Arden mendapatkan notifikasi pesan dari Yulia. Tanpa membuka nya, Arden sudah dapat melihat sederet pesan Yulia yang menceritakan apa yang telah ia alami di kantor.
"Bersabarlah Yulia, saat tuan Abraham sudah mengingat kembali janji beliau maka kamu juga akan terbebas." Gumam Arden seraya menarik nafas panjang.
*****************
"Satu tetesan saja, maka Abraham akan langsung bertekuk lutut memujamu seperti dulu." Tukas Pramono tersenyum smirk.
Alesha masih bergeming sampai sang ayah berdehem.
"Aku tidak yakin bisa melakukan nya kek," ujar Alesha tampak ragu. Bukan sebuah keraguan sebenar nya namun Alesha sedang berusaha menolak keinginan sang kakek dengan cara yang halus.
"Kamu bisa Alesha." Tekan sang kakek menatap Alesha tajam.
"Berikan saja pada Alesha yah, aku percaya putriku tak akan mengecewakan keluarga nya." Tandas Dante memaksakan. Lirikan tajam Dante bagai ujung mata pisau yang siap mengoyak tubuh nya. Nyali Alesha langsung ciut. Wanita itu tersenyum kecut atas ketidakberdayaan nya.
Alesha terpojok oleh keadaan. Tak ada nya keberanian untuk menolak permintaan sang kakek, membuat Alesha hanya bisa pasrah melakukan apa yang di inginkan oleh kedua pria di hadapan nya itu.
"Seharus nya kamu tidak melakukan kesalahan sekecil apapun di hadapan kakekmu, Alesha!" desis Dante marah.
"Aku hanya sedang lelah dad, tidak bisakah aku memutuskan apa yang harus aku lakukan dalam hidupku sesuai dengan keinginan hatiku sendiri?" balas Alesha memberanikan diri menyerukan isi hati nya.
Namun sebuah tamparan telak mendarat di pipi mulus Alesha. Wanita itu terhuyung karena mendapatkan tamparan keras dari sang ayah.
Dapat Alesha lihat dengan jelas kilatan amarah terpancar dari kedua mata coklat ayah nya. Pertanda bila pria blesteran itu sedang menahan amarah yang besar.
"Aku benci daddy!" teriak Alesha kemudian berlari menuju kamar nya. Dante mendengus dingin seolah perkataan Alesha tak berarti apa apa.
"Bisakah kalian berhenti menjadikan putri ku sebagai boneka?"
Dante menghampiri sang istri yang sedang menunduk sembari meremat jemari nya.
"Kamu pikir nama besar keluarga ini terbentuk begitu saja? dari mana semua kemewahan ini berasal? di buang begitu saja dari langit sebagai berkah dari Tuhan_mu itu? mana hasil dari ketakwaan imam mu selama ini? nyata nya tak mampu melepaskan sihir yang menjerat sukma mu Lestari. Jadi berhentilah bersikap naif, karena ketakwaanmu tak akan mampu melepaskan takdir keluarga kita dari kutukan yang sudah turun temurun." Ujar Dante menyeringai penuh ledekan. Pria itu menghempas tubuh lestari hingga terhuyung menabrak tembok.
Lestari tak meneteskan air mata atas perlakuan buruk suami nya. Karena sudah menjadi hal biasa bagi nya, di perlakukan layak nya manusia tak berharga.
Semoga terhibur bestie