Bab 4 Ketakutan Yulia

1621 Words
Selamat membaca "Baik nyonya," sahut sang asisten patuh. Arden melirik Yulia yang sejak tadi hanya diam di sudut sofa. Wanita itu hanya menyimak karena ia tak memiliki kapasitas untuk ikut campur dalam urusan sang atasan. Terlebih lagi Yulia tak memahami duduk perkara yang sedang menjadi topik pembahasan kedua nya. "Yulia" "Ya mas Arden?" Yulia mengangkat wajah nya yang sejak tadi terus menunduk menatap ubin. "Kamu pastikan kontrak kerja sama dengan perusahaan keluarga Gumilar di batalkan. Apapun pertanyaan yang mereka lontarkan, kamu cukup memberikan pernyataan yang singkat. Akan saya kirim lampiran melalui email apa yang harus kamu lakukan selanjut nya." Perintah Arden. Yulia mengangguk paham. Wanita itu pamit undur diri setelah mendapatkan beberapa perintah dari Arden. "Berikan ponselku Arden," pinta Medina mengulurkan tangan nya. Arden langsung merogoh kantong nya di mana handphone Medina ia simpan. Bukan tanpa alasan. Arden bukan hanya seorang asisten pribadi bagi Medina. Lebih dari itu, Arden juga orang yang tepat untuk menaruh segala harapan, dan menyimpan banyak rahasia dalam kehidupan keluarga Bramantara. *********** "Siapkan kepulanganku Yulia," perintah Abraham tanpa ekspresi. Yulia menghentikan aktivitas nya yang sedang mengupas buah. "Nyonya berpesan agar anda..." namun apa daya menghadapi Abraham yang dingin dan berkuasa. Yulia langsung bungkam kala Abraham memotong perkataan nya. Tak ada yang bisa Yulia lakukan selain menurut patuh. "Paling tidak anda bisa mengisi perut dengan buah ini tuan. Untuk yang ini saya sedikit memaksa. Maaf," ucap Yulia dengan tempo penuh kehati hatian. Yulia masih cukup menyayangi karir nya. Abraham tak menolak atau menerima, tetapi melihat Yulia yang cukup berani memaksa nya. Abraham sadar bila sekretaris nya itu pasti mendapatkan tekanan dari sang ibu. "Aku akan memakan nya nanti, sekarang pergi lah ke bagian administrasi. Aku tak ingin di anggap kabur tanpa melunasi biaya perawatan rumah sakit." Perintah Abraham mengulang permintaan nya dengan lebih tegas. Yulia kali ini mengangguk patuh. Bergegas wanita itu berjalan keluar dari ruangan Abraham. Dengan sebuah kartu sakti yang mampu menyulap apapun menjadi kenyataan. Kling Suara notifikasi pesan di handphone Yulia menarik atensi Abraham. Diri nya bukan tipe orang iseng yang kepo dengan urusan orang lain. Tetapi melihat nama yang tertera di layar notifikasi, membuat hati Abraham tergelitik untuk mencari tahu. Nyonya MD📩 "Jangan lupa memastikan Abraham untuk memakan buahnya, Yulia!" Abraham melirik potongan buah yang baru saja Yulia tinggalkan di atas meja. Hati nya begitu penasaran dengan pesan janggal tersebut. "Nyonya MD? apa itu mami? untuk apa mami mengirimkan pesan ambigu seperti itu? apa tujuan kalian sebenar nya, padaku?" Monolog Abraham penuh tanda tanya. Ibu nya tak mungkin ingin mencelakai nya, Abraham mencoba untuk berpikir positif. Ibu nya adalah sosok yang paling Abraham sayangi dan ia percaya sang ibu tak mungkin menyakiti nya. ************* Duduk di kursi bar seorang diri membuat Abraham merasa asing. Dahulu ia bersama keempat sahabat nya selalu menghabiskan akhir pekan di sana. Atau paling tidak sekali dalam sebulan untuk melepaskan penat. "Boleh aku menempati kursi kosong di samping anda tuan?" sapa seorang pria asing mencoba berbasa basi. Abraham menoleh sekilas lalu kembali fokus pada gelas minuman nya. Pria yang menyapa Abraham mengulas senyum tipis alih alih merasa tersinggung oleh sikap dingin Abraham. Si pria asing kembali bersuara. "Dahulu aku sering kemari bersama adik laki lakiku. Sayang tiga tahun telah berlalu tanpa sekalipun kami pernah mendengar kabar nya lagi. Hari ini adalah pertama kali nya setelah sekian tahun mencoba mengikhlaskan. Aku kembali ke tempat yang selalu mengingatkan ku akan sebuah hubungan yang terpisah oleh ketidaktahuan yang cukup misterius." Abraham meneguk kaku minuman yang nyaris tandas dari dalam gelas nya. Sebuah hempasan kasar sehingga menciptakan bunyi yang cukup mengganggu pendengaran. "Minumlah tuan, aku yang mentraktir semuanya." Ucap Abraham datar. "Terimakasih tuan Abraham, aku tak pernah meragukan rumor tentang keluarga Bramantara yang murah hati. Aku merasakan nya sendiri saat ini." Alih-alih merasa di sanjung, Abraham malah merasa sedang di kuliti dengan sindiran halus dari pria asing tersebut. Tak ingin menambah daftar permasalahan yang terjadi dalam hidup nya, Abraham memilih pergi meninggalkan pria yang tak ia kenali itu. "Siapa dia sehingga bisa berbicara seenaknya!" gerutu Abraham jengkel. Langkah lebar nya menuju area parkir rupa nya sedang di perhatikan oleh seseorang. "Apa adil bila hidup mu lebih beruntung tuan Abraham? rasa nya aku masih tidak rela." Guman orang tersebut mengandung makna kesedihan yang tersirat dalam. ************* "Pastikan putraku tak bertemu dengan wanita licik itu, Yulia." "Aku sudah berusaha sebisaku nyonya. Tuan Abraham saat ini lebih sering menghabiskan waktu di luar kantor meski jam kerja sedang berjalan. Aku sudah mengirim email kepada Arden, kemana saja tuan Abraham biasa berkunjung." "Kerja bagus Yulia," puji Medina meski dengan nada yang datar. "Aku percayakan putraku sepenuh nya kepadamu. Kamu harus tahu bila wanita siluman itu bisa melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan dari putraku. Sibukkan Abraham dengan setumpuk pekerjaan agar waktu Abraham tak di habiskan hanya untuk keluyuran tak jelas." Titah Medina memperingatkan. Yulia mengiyakan dengan patuh. "Baik nyonya, aku mengerti apa yang harus aku lakukan." Medina menepuk bangga pundak Yulia sebelum meninggalkan wanita muda itu untuk melanjutkan pekerjaan nya. Sepeninggalan Medina Yulia termenung menatap layar komputer nya. "Yulia!" Reflek Yulia menjatuhkan mouse yang sedang ia genggam. Dengan ekspresi pucat ketakutan, Yulia mengulurkan tangan untuk meraih mouse yang ia jatuhkan. "Aku mohon berhenti menggangguku! siapapun kamu, setan, iblis atau sebangsanya! aku salah apa setan? kenapa suka sekali mengusikku?" mohon Yulia bergetar ketakutan. "Woi! mbak Yulia! idih, malah bengong kayak lihat setan." "Arin! bisa nggak kalau kamu lewat sini gak perlu nyapa pake teriak teriak gitu? kalau aku mengidap tumor, auto pindah alam aku karena kaget." Sewot Yulia kesal. Padahal jauh di dalam hati nya ia senang Arin mampir menyapa diri nya. "Mengidap penyakit jantung kali mbak, bukan tumor!" ralat Arin mendelik. "Aku tahu!" ketus Yulia. "Terus?" "Sengaja, biar kamu pinter." Jawab Yulia sekena nya. Alhasil bibir Arin komat kamit tidak jelas sakit dongkol nya. "Gak jelas banget mbak Yulia. Kemasukan roh jin gabut apa yak?" ujar Arin asal. "Hussh! kalau ngomong jangan suka asal. Kamu belum denger cerita tentang lantai atas? katanya suka ada penampakan tuh di sana. Cewek cantik yang suka manggil manggil nama karyawan yang kebetulan lewat dengan menyamar, jadi orang yang mereka kenali?" cerita Yulia menakuti. "Ah masa sih mbak? aku bolak balik gak pernah tuh denger namaku di panggil panggil sama setan penunggu gudang di lantai atas. Itu cuma humor mbak, berita hoax supaya gak ada yang berani nyolong penyimpanan arsip perusahaan." Sanggah Arin menampik isu mistis tersebut sembari mencibir remeh. "Rumor bukan humor, Arini Suketi Ningsih!" geram Yulia meralat. Wanita itu gemas sendiri dengan kata kata yang sering Arin plesetkan seenak jidat. "Aku tahu mbak!" jawab Arin enteng. "Aku cuma mau bales mbak aja biar seri." Ujar gadis itu cengengesan. Yulia memutar bola mata menahan kedongkolan di hati nya terhadap Arin. "Terserah kamu!" ketus Yulia jutek. "Kamu mau ke gudang kan, ini? hati hati loh Rin, mana tahu ada hantu penasaran nungguin kamu di sana sambil ngemil kacang goreng." Ujar Yulia memprovokator rasa takut Arin. "Gak takut tuh, senang malah ada yang temenin. Apa lagi ada cemilan, auto lancar semua pekerjaan." Balas Arin tanpa rasa takut. "Awas saja kalau kamu terbirit-b***t sambil teriak minta tolong sama aku Rin. Aku pura pura gak denger pokoknya!" Ancam Yulia sedikit kesal. Arin tak mudah terpancing rasa takut, beda dengan dirinya yang mudah sekali ketakutan meski hanya melihat bayangan nya sendiri di balik kaca. "Dah mbak Yulia, hati hati loh. Biasanya orang yang suka nakutin, malah penakut loh sebenarnya." Ledek Arin kemudian berlari kecil menuju tangga darurat. "Dasar Arini Suketi Ningsih kurang kerjaan! anak itu...awas saja kalau minta tolong aku nanti." Dumel Yulia kesal. Baru saja hendak duduk suara seseorang kembali menyapa rungu nya. "Mbak Yulia ngomong sama siapa? kok ngedumel sendiri toh. Kayak lagi kesel gitu muka nya," celetuk Arin yang baru saja tiba di lantai 27 di mana ruang kerja Yulia berada. Yulia berkedip beberapa kali sambil memutar pandangan ke dua arah. Tangga menuju gudang berkas di lantai atas, juga tatapan penuh tanya ke arah Arin yang berdiri dengan memeluk beberapa map di dekapan nya. "Kamu...baru dari atas atau baru mau naik Rin?" tanya Yulia tercekat. "Udah dari atas lah mbak. Gak liat nih, tangan aku penuh bawaan. Tadi aku lewat sini, tapi mbak kaya lagi sibuk gitu ngobrol sama seseorang. Jadi aku gak enak buat mampir." Jedar! Pengakuan Arin membuat kedua lutut Yulia lemas seketika. Wanita itu bertumpu di sudut meja sebelum mendaratkan bokongnya. Keringat mengucur deras dari kepala nya membuat Arin keheranan. "Mbak Yulia sakit?" tanya Arin khawatir sambil menyentuh bahu Yulia. Siapa sangka wanita itu malah menepis tangan Arin dengan kasar. Sontak saja Arin terkejut bukan main. Yulia selalu bersikap ramah dan baik terhadap nya. "Mbak kenapa? Arin bikin salah? bilang mbak, Arin minta maaf kalau ada salah sama mbak Yulia." Ujar Arin dengan mata berkaca-kaca. Lekas Yulia menggeleng cepat sambil melambaikan tangannya. "Gak Rin, kamu gak ada salah. Mbak aja yang lagi gak beres ini." Ujar Yulia menyanggah prasangka Arin akan kemungkinan kesalahan nya terhadap Yulia. "Kamu mending balik bawa berkas itu. Pasti udah di tungguin tuh, sama pak Tatal." Perintah Yulia. "Mbak minta maaf, nanti mbak jelasin kalau ada waktu senggang." Lanjut Yulia lagi. Arin yang masih belum memahami situasi yang sedang terjadi akhir nya menuruti perintah Yulia. Wanita itu pergi dengan membawa jutaan rasa penasaran di hatinya, akan sikap aneh Yulia terhadap diri nya. "Aku mohon tuan, cobalah untuk mengingat janji anda untuk kembali." Bisik Yulia mulai di landa rasa frustasi. Serangkaian peristiwa mistis mulai sering mengacaukan ketenangan hidup nya belakangan ini. Dan Abraham adalah satu satu nya harapan yang Yulia miliki. Ingatan pria yang adalah mantra yang akan membebaskan banyak jiwa tak bersalah, terbebaskan. Jangan lupa untuk mengisi daftar pustaka di akunmu dengan No*vel ABELIA. Si cantik yang menjadi tokoh utama dalam alur cerita penuh misteri juga plot twist yang tak terduga. Semoga terhibur To be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD