Bab 9 Kejanggalan Abelia

1343 Words
Tak seindah harapan tertinggi semua insan, namun mimpi sederhana seorang ibu tak pernah salah. Kasih sayang nya adalah nafas kehidupan bagi anak anaknya. Tindakannya mungkin tak menyenangkan namun memiliki makna yang tak terselami. ~Aqya Tri~ "Jauhilah putraku Alesha. Luka batin yang kamu tinggalkan sudah lebih dari cukup untuk menghancurkan mental Abraham selama tiga tahun terkahir ini." Permohonan yang di balut nada dingin mencekam meluncur bebas dari mulut Medina. Ekspresi datar yang cukup menjelaskan betapa wanita itu sangat tak menyukai Alesha. Rasa tidak suka yang langsung di ungkapkan secara gamblang tanpa basa basi. "Jika aku tidak mau, tante mau apa dariku?" Tantang Alesha tanpa rasa takut. Wanita itu dengan berani membalas tatapan tajam Medina yang terasa menusuk hingga tulang. Medina terkekeh kecil alih alih merasa marah. Mengangkat gelas mocca latte dengan mode slow motion yang elegan, kemudian menyeruput nya dengan anggun. Sungguh Alesha merasa di rendahkan. Ia tahu Medina sedang memperjelas, bahwasanya kelas mereka berbeda. Medina sudah menyangka nya sebelum pertemuan mereka terjadi. Alesha yang dahulu selalu terlihat lembut dan bersahaja, rupa nya hanyalah sosok yang naif. "Aku tidak menginginkan apapun darimu Alesha. Tak ada satupun kekurangan dalam hidupku yang sempurna, sampai harus meminta pada hirarki yang berada jauh di bawah telapak kakiku." Jedar! Bagai tersengat Sambaran petir siang bolong, tubuh Alesha menegang penuh amarah mendengar kalimat penuh hinaan lugas yang keluar dari mulut Medina. Harga diri Alesha di kuliti habis habisan oleh perkataan Medina yang menohok tajam. Sedangkan Medina menarik senyum puas melihat reaksi Alesha yang merasa terhina oleh perkataan nya. Inilah bagian yang paling Medina sukai. "Tante akan menyesal telah berani menghinaku seperti ini!" Desis Alesha yang tak lagi bisa menahan diri. Tangan nya terkepal di atas permukaan meja sambil menatap tajam kearah Medina. "Aku sama sekali tak merasa terintimidasi oleh sikapmu ini Alesha. Dan ancaman mu sama sekali tak berpengaruh apapun terhadapku. Kamu tahu kenapa? Karena tak satupun dari leluhurmu yang mampu mengusik keluargaku. Termasuk ayah juga kakekmu itu!" Balas Medina menyeringai penuh kepuasan. "Peringatan ku masih berlaku dan akan terus berlaku untuk waktu yang tak terhingga Alesha. Jauhi Abraham dan singkirkan pengaruh sihir dari pikiran putraku sebelum kamu menyesali nya kelak." Setelah mengucapkan kalimat penuh peringatan tegas, Medina beranjak kemudian melenggang pergi meninggalkan Alesha yang masih terpaku di tempat duduk nya. Keberhasilan nya membawa kembali Abraham dalam kehidupan nya membuat Alesha merasa menang. Namun ia lupa bila di belakang pria yang ia cintai itu masih ada hambatan besar yang siap menantang nya. Alesha menggeleng pelan untuk menenangkan pikiran nya yang mulai kacau. Medina bukan lawan yang seimbang untuk diri nya. Wanita itu memiliki kuasa atas segala yang tak bisa keluarga nya samai. Alesha mulai merasa langkah nya terlalu terburu buru, sampai sampai ia melupakan bila kekuasaan Abraham tak seujung kuku dari ibu nya. Drrrtt drrrtt drrrtt Panggilan dari Abraham mampu mengusir setitik kecemasan dalam Alesha. Dengan senyum lebar Alesha mengangkat panggilan dari sang kekasih. "Halo sayang...aku di kantor mu tapi sekretaris mu bilang kamus sedang keluar. Sedang melakukan pertemuan dengan klien? Or...someone?" cecar Abraham tersirat kecemburuan. Alesha terkekeh mendengar kalimat penuh nada posesif terhadap diri nya. Kini ia tak perlu lagi meragukan perasaan Abraham kepada nya. Pria itu telah benar benar takluk dan kembali memuja diri nya seperti tiga tahun yang lalu. "Aku sedang di restoran, aku baru saja melakukan pertemuan dengan seorang klien. Tapi sekarang aku sudah selesai. Lihatlah...." Alesha membalikkan panggilan video menggunakan kamera belakang. Tak terlihat siapapun di sana karena memang Medina sudah pergi beberapa saat yang lalu. "Baiklah," ucap Abraham percaya. "Sekarang aku akan menyusulmu ke sana. Jangan bilang kalah kamu sudah kenyang sayang?" Alesha menggeleng cepat sambil berkata," aku belum memakan apapun sejak tadi. Datanglah aku akan memesan makanan kesukaanmu." Abraham tersenyum senang lalu memutuskan panggilan. "Lihatlah nyonya Medina Bramantara. Putramu kini telah berada di bawah kendali cintaku. Kita lihat siapa yang akan Abraham pilih saat situasi ini semakin memanas." Gumam Alesha menyeringai penuh kemenangan. ***************** "Putra anda sedang menunju restoran yang baru saja anda tinggalkan nyonya." Lapor Arden kepada Medina. Ia masih berada di sana, duduk manis di balik kemudi untuk memantau Alesha. Dan penyadap yang telah ia pasang di meja Alesha berfungsi cukup baik untuk memberikan semua akses informasi yang ia butuhkan. "Biarkan saja Arden, kamu cukup memantau nya dari dalam mobil saja." Perintah Medina tenang. "Baik nyonya," balas Ardan patuh. Berselang beberapa menit terlihat mobil mewah Abraham memasuki area parkir restoran. Arden menggeleng samar melihat kedatangan putra majikan nya. Tak pernah ia sangka Abraham bisa terbujuk oleh rayuan berbisa yang Alesha berikan. "Sayang sekali anda begitu buta karena cinta tuan Abraham. Nona Abelia berkorban nyawa demi menjaga anda tetap hidup hingga hari ini. Seharus nya anda tahu bagaimana cara nya berterimakasih." Monolog Arden kecewa dan tak habis pikir. "Maaf sayang, aku terjebak macet di lampu merah." Ucap Abraham merasa bersalah. Alesha segera menyambut sang kekasih dengan pelukan hangat. "Tak apa, kamu sudah di sini sekarang." Balas Alesha tak mempermasalahkan nya sama sekali. "Wow! Kamu benar benar kekasih idaman sayang. Lihat semua makanan ini. Semua nya makanan kesukaanku," heboh Abraham antusias. "Aku mengenalmu lebih baik dari siapapun sayang," balas Alesha tersenyum bangga. Kedua nya kemudian duduk lalu mulai menyantap makanan yang telah terhidang. Sambil mengobrol tentang beberapa hal mengenai pekerjaan, juga bagaimana kelanjutan hubungan mereka yang masih belum mendapatkan restu Medina. "Aku akan membujuk mami, jadi jangan terlalu mencemaskan soal itu. Aku tahu bagaimana mami bila sedang marah, namun akan mudah luluh oleh kata mata lembut penuh kasih sayang." Ujar Abraham menenangkan sang kekasih. Genggaman tangan hangat Abraham cukup untuk menenangkan hati Alesha yang belakangan ini mengalami banyak tekanan. "Terimakasih telah memaafkan ku Abraham. Menerimaku kembali dalam hidupmu. Aku tak tahu lagi bagaimana aku menjalani hidup ku bila tak bersamamu." Ungkap Alesha dengan wajah sendu serta kata kata lembut yang selalu membuat Abraham luluh lantak. "Aku pun demikian sayang," balas Abraham semakin erat menggenggam jemari lentik sang kekasih. Di dalam mobil nya Ardan nyaris muntah mendengar ungkapan cinta yang membuatnya muak. "Andai saja cinta itu berwujud, maka aku akan dengan senang hati melenyapkan nya dengan peluruku ini. Nona Alesha Gumilar Haston." Monolog Ardan jengah. **************** "Nora..." "Hmmmm?" "Ap menurutmu aku ini nyata?" Nora yang sedang asyik makan cemilan keripik pisang favorit nya sontak tersedak. Pertanyaan Abelia benar benar di luar nalar gadis remaja itu. "Kamu gak apa apa? maka nya kalau makan tuh pelan pelan. Di kunyah dulu jangan langsung di telen." Nora mendelik mendengar nasihat yang bertolak belakang dengan kenyataan. Pertanyaan Abelia lah yang membuat nya tersedak, bukan karena ia rakus. "Lagian pertanyaan kakak aneh banget. Kalau kakak gak nyata terus, kami? aku sama nenek juga gak nyata gitu? orang orang desa gimana? lelembut?" Melihat reaksi Nora, Abelia sadar pertanyaan nya telah melukai perasaan gadis remaja itu. Dengan ekspresi bersalah Abelia meminta maaf. "Maaf...kakak tak bermaksud begitu. Hanya saja..." Abelia terdiam sejenak. Ada sesuatu yang menggangu pikiran nya namun Abelia memilih untuk tak membahas nya lebih lanjut. "Lupakan," ucap Abelia mengulas senyum tipis. "Ayo pulang, nenek pasti sudah menunggu kita di rumah." Lanjut Abelia mengajak Nora untuk segera kembali. Saat ini mereka sedang melakukan piknik berdua di air terjun. Sejak pagi hingga sore hari. Nek Aminah berpesan, kedua nya harus pulang sebelum pukul 5 sore. Dan sekarang sudah pukul setengah 5 sore. Arti nya sudah terlalu sore untuk pulang. "Pelan pelan aja Nora, kakak mending jalan kaki deh kalo kamu ugal ugalan kaya gini." Seru Abelia dari boncengan belakang. Sepeda jengki tua milik nek Minah yang di perbaiki oleh Arman. Sehingga kini Nora tak perlu lagi bejalan kaki menuju ke sekolah. "Santai aja kak, Nora udah ahli ngendarain sepeda!" balas Nora tak memperdulikan teriakan ketakutan Abelia. Nora sedang berlomba dengan waktu, mereka harus tiba di rumah sebelum senja. "Maaf nek, tolong bantu Nora sekali lagi." Wuushhh!! Angin bertiup kencang hingga membuat sepeda yang Nora kendarai oleng dan akhirnya terjungkal. Di sisa kesadaran nya, siluet tubuh seorang pria menghampiri dan mengangkat nya dari tanah. Lidah Abelia kelu, tak sepatah katapun mampu ia ucapkan. Sampai akhir nya hanya ada kegelapan. Abelia kehilangan kesadaran nya. Sedangkan Nora tak tampak di manapun. Begitu pun sepeda yang tiba tiba raib entah kemana. Terimakasih sudah berkunjung, semoga terhibur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD