Semakin bertambah nya usia, kita semakin menyadari. Yang kita butuhkan hanyalah sebuah rumah yang nyaman. Makanan yang cukup juga jasmani yang sehat.
~Aqya Tri~
"Masih mau nambah gak kak?"
"Udah cukup Nora, kakak malah kekenyangan kamu suapi terus dari tadi."
"Habisnya keasyikan sih kak, Nora suka lihat muka kakak. Cantik banget. Kaya bercahaya gitu. Dulu waktu masih belum bangun juga gak berubah. Sama cantik nya kaya sekarang. Pucat dikit sih, nama nya juga orang lagi sakit." Cerita Nora bersemangat.
"Nak Abel, maaf bila nenek terkesan tergesa gesa menanyakan hal ini. Nenek hanya ingin bertanya, apa kamu sudah mengingat kejadian yang menimpamu tiga tahun lalu? Bukan apa apa. Selama itu, pasti keluarga mu berpikir kamu sudah tiada. Maaf bila..."
Namun Abelia memotong cepat perkataan nenek Aminah.
"Tidak apa nek, aku mengerti. Siapapun akan berpikir demikian. Aku mengingat nya samar, tapi perlahan aku pasti akan mengingat semua nya. Akan aku ceritakan nanti saat aku merasa sudah siap. Sekarang aku hanya mengingat kepingin ingatan yang tak terlalu jelas. Aku takut salah menafsirkan ingatan yang terlintas di benakku." Tutur Abelia mengulas senyum simpul.
"Baiklah. Seingat mu saja dan saat kamu sudah benar benar ingat semua nya." Tandas nek Aminah. "Sudah malam, ayo beristirahat. Nora, kamu sudah buat rebusan herbal untuk Abel nak?"
"Sudah nek, lagi di dinginkan di teko." Sahut Nora yang baru selesai mencuci piring bekas makan Abelia.
"Ya sudah. Kamu istirahat juga, besok kamu harus sekolah."
Nora mengangguk patuh, sedangkan nek Aminah keluar bilik sang cucu membawa botol yang biasa ia isikan air ramuan untuk Abelia.
**************
Euuugghh...
Lenguhan terdengar menggema mengisi ruang tengah apartemen Alesha. Abraham begitu bersemangat saat mencumbui wanita cantik itu. Tak lupa kedua tangan nya pun ikut aktif menjelajahi area area sensitif di tubuh kekasih nya.
"Abraham..sayang...aaghh.."
"Kamu suka? Katakan bila kamu menyukai sentuhan ku Alesha?"
"Aku suka... aku sangat menyukai semua sentuhanmu... touch me more.. Abraham.."
Mendengar jawaban yang begitu mendambakan sentuhan nya, membuat Abraham menyeringai puas.
Dengan nafas terengah-engah Abraham menempel kan kening nya di kening sang kekasih.
"Sudah malam, aku harus pulang." Sungguh balasan yang mengoyak hati. Tubuh Alesha merosot tak percaya, mendengar apa yang baru saja Abraham katakan di saat keadaan mereka sedang panas panas nya oleh bara gai*rah.
Alesha terlihat kecewa namun ia berusaha menjaga harga diri nya dengan tak meminta Abraham untuk tinggal, apalagi melanjutkan kegiatan yang membuat separuh oksigen dalam tubuh nya menguap entah kemana.
"Yaa...kalau sudah sampai apartemen kamu hubungi aku." Tukas Alesha setelah sempat melongo beberapa saat.
"Hmmm.." balas Abraham lalu beranjak dari sofa yang baru saja menjadi saksi bisu atas pertarungan yang tak sempat di tuntaskan oleh kedua insan tersebut.
****************
"Sudah sejauh ini hmmmm....." Guman Arden menatap mobil Abraham yang baru saja keluar meninggalkan basement apartemen Alesha.
Merasa tugas nya sudah selesai Arden memutuskan untuk pulang. Masih banyak pekerjaan yang harus ia lakukan selain menjadi penguntit dalam kehidupan percintaan Abraham.
Di tempat lain Medina masih belum dapat memejamkan kedua mata nya. Entah mengapa, sejak siang ia merasa gelisah tanpa alasan yang jelas.
"Kenapa bayangan gadis itu terus terlintas di kepalaku? Apa yang sebenar nya terjadi? Apa gadis itu masih hidup?" Medina menjawab pertanyaan nya sendiri dengan gelengan kecil sambil tertawa getir.
"Mana mungkin bisa hidup setelah terjatuh dari ketinggian ke dasar bebatuan." Puas dengan spekulasi nya sendiri, Medina meraih gagang telepon. Siapa lagi yang bisa ia hubungi selain Arden sang asisten kepercayaan nya.
Ardan yang sedang dalam perjalanan pulang ke apartemen nya, terpaksa harus menepi karena panggilan Medina. Ia khawatir Medina meminta nya untuk datang, akan sangat jauh bila memutar arah. Untuk itu Arden berinisiatif untuk menghentikan mobil nya dan memutar balik bila di perlukan.
"Ya nyonya?"
"Bagaimana pengintaian mu hari ini Arden?" Pertanyaan tanpa basa basi langsung Arden jawab tanpa menutupi apa yang ia ketahui.
"Mereka hampir saja melakukan hubungan dewasa andai saja tuan Abraham tak cukup kuat menahan diri." Lapor Ardan tanpa canggung.
Medina tampak gusar.
"Pastikan agar putraku tak sampai melakukan nya Arden, atau kamu akan membayar keteledoran mu." Klik.
Panggilan berakhir dan kini hanya meninggalkan Ardan yang melongo bak orang bodoh.
"Bagaimana cara nya aku memastikan agar putra anda tak melakukan percintaan panas bersama kekasih nya sendiri nyonya? Ck! Kenapa selalu orang kecil yang mendapatkan intimidasi mengerikan seperti ini." Gerutu Arden kesal sendiri.
Yang benar saja, perintah Medina sungguh tak masuk akal. Arden tak mungkin mencampuri urusan percintaan orang lain apalagi dalam urusan ranjang. Semua orang memiliki kebutuhan masing masing dan Abraham sudah cukup dewasa untuk memutuskan apa yang terbaik untuk diri nya sendiri.
Tak ingin pusing memikirkan perintah Medina. Arden memutuskan untuk melanjutkan perjalanan pulang. Sisa malam yang akan ia gunakan untuk tidur nyenyak sebelum tugas baru ia emban.
******************
"Sudah tiga bulan hubungan mu dengan Abraham, Alesha. Kenapa kamu masih belum berhasil membawa Abraham naik ke atas ranjang mu? Apa kendala mu dalam menjerat seorang pria? Dasar anak tak berguna!" Maki Dante penuh amarah.
Alesha mendengus mendengar umpatan sang ayah. Ayah nya selalu menyalahkan diri nya karena tak kunjung membuat Abraham takluk sepenuh nya di bawah kendali nya. Kehamilan adalah harapan terbesar sang ayah yang juga merupakan harapan terbesar bagi diri nya sendiri.
"Abraham masih belum mau menyentuh ku dad, aku bisa apa!" jawab Alesha terlihat frustasi. Dengan menikahi Abraham maka Alesha berharap terbebas dari sang ayah juga kakek nya.
"Kamu itu wanita cantik Alesha! Masa kamu gak bisa bikin Abraham tergoda sedikit pun dengan keseksian tubuhmu ini hah?! Apa guna nya kamu membuang waktu bila masih belum berhasil mendapatkan apa yang kita inginkan?!" bentak sang ayah kehabisan kesabaran.
Kemarahan sang ayah bukan tanpa alasan. Diri nya sudah rela menggelontorkan dana tak sedikit untuk membuat putri nya kembali menjadi wanita yang utuh, tanpa pernah tersentuh oleh pria manapun. Alesha melakukan prosedur operasi reparasi selaput dara, untuk memastikan Abraham berpikir diri nya adalah wanita terbaik untuk diri nya.
Namun setelah beberapa bulan menjalin hubungan Alesha tak kunjung berhasil menjebak Abraham dengan pesona nya. Pria itu selalu dapat menahan gejolak has*rat saat mereka sudah nyaris bersatu. Membuat Alesha mulai berpikir Abraham tidak normal.
"Lepasin dad! Atau daddy lebih suka bila semua rencana kita gagal?" Desis Alesha tersirat sebuah ancaman. Dante melepaskan telapak tangan nya yang menempel di da da sang anak.
Pria itu berdehem kecil lalu kembali berbicara serius.
"Daddy tunggu satu bulan lagi Alesha, daddy sudah tak kuat untuk tidak menyentuh mu sayang. Mengertilah sweet heart." Bisik sang ayah dengan nada berat.
Alesha membuang pandangan dan tanpa sengaja tatapan nya beradu dengan mata teduh ibu nya. Ada perasaan sesak namun semua sudah terlambat untuk di sesali.
Alesha memilih untuk meninggalkan ruang kerja sang ayah, sebelum diri nya meneteskan air mata karena terlalu sakit melihat penderitaan ibu nya.
"Anak itu bisa nya apa selain menghabiskan waktu dan uang." Gerutu Dante mendumel. Lestari hanya bisa menatap nanar suami nya dari balik pintu yang terbuka lebar. Entah apa yang wanita itu pikirkan. Namun tatapan dingin lestari menyiratkan banyak hal.
Yang baru bergabung, terimakasih banyak sudah berkenan mampir.