Bab 11 Ancaman Alesha

1262 Words
Jangan pernah memulai bila niatmu hanya ingin mampir sejenak, lalu kemudian pergi dan tak lagi peduli. ~ AQYa TRi ~ "Abelia!" Abelia sontak menoleh karena merasa nama nya di panggil oleh seseorang. Namun saat menoleh ia tak mendapati siapapun di sana. Puas merotasi mata nya ke seluruh penjuru, tetap saja hanya ada pepohonan yang berdiri kokoh dengan daun dan ranting ranting kecil yang bergoyang oleh terpaan angin. Seketika bulu kuduk nya merinding. Abelia berusaha terlihat tenang seolah ia cukup berani menghadapi situasi mencekam tersebut. "Abelia! Aku akan kembali untukmu!" Kepala Abelia mendadak pusing. Wanita itu linglung setelah mendengar suara bisikan mencekam yang mengisi rungu nya. "Siapa di sana? Jangan main main ya! Aku bawa pisau, jangan coba coba menakutiku." Ancam Abelia menakuti mengacungkan senjata nya. Suara nya bergetar ketakutan, namun nyali Abelia masih ia pertahankan. Pisau yang ia maksud adalah parang milik Aminah yang biasa di gunakan untuk memotong kayu bakar. "Abelia? Kamu ngapain di sini?" Abelia terkejut bukan main, Arman tiba tiba sudah berada di hadapan nya. "Aku...emm..ini kang, aku habis nyari kayu bakar. Tadi sama nenek, tapi nenek pulanh duluan karena mau ngambil sayur di kebun nenek Parmi." Terang Abelia sedikit kikuk. Ekor mata nya masih berpendar mengabsen setiap pepohonan. Ia yakin seseorang baru saja mengerjai nya. "Kang Arman sendiri ngapain di sini?" Tanya abelia heran. Dan ia tersadar tatapan Arman terarah pada sebilah parang yang sedang ia acungkan. Abelia menurunkan tangan nya sembari tersenyum kikuk. "Oh ini, aku baru balik dari air terjun. Ada pemuda pemudi dari kota hendak berkemah di sana besok sore. Sekarang mereka masih dalam perjalanan, setelah melapor ke pos masuk untuk mendapatkan pengarahan dari ranger, setelah itu mereka akan di pandu naik oleh guide yang bertugas di gerbang masuk. Kebetulan juga ada sedikit perbaikan beberapa unit shelter yang mengalami kerusakan di beberapa bagian terutama atap yang bocor." Jelas Arman panjang lebar. Abelia mengangguk paham. Semua hal yang di sebut kan oleh Arman telah ia hapal di luar kepala. Bayangan pendakian maut yang ia lakukan tiga tahun lalu masih membekas di ingatan nya. "Udah selesai kan? yuk, balik bareng. Motor aku di ujung jalan sana," tunjuk Arman ke ujung jalan yang sedikit menikung. Abelia mengikuti arah telunjuk Arman dan baru menyadari, bila ia sama sekali tak mendengar suara apapun selain suara bisikan yang membuat tengkuk nya meremang. "Kang Arman sendirian?" Pertanyaan bodoh. Jelas Arman seorang diri jika tidak mana mungkin Arman menawari nya untuk pulang bersama. "Sendirian lah Bel, masa ia aku bareng Ujang terus bonceng kamu juga." Seloroh Arman mengekeh lucu. Abelia menggaruk pelipis nya sambil memamerkan senyum tipis. "Sini kayu bakar nya aku yang bawa." Tanpa menunggu persetujuan Abelia, Arman meraih seikat kayu bakar hasil perburuan Abelia yang masih pemula. Lumayan untuk seseorang yang baru mempelajari cara hidup bergantung dengan kekayaan alam. "Segini banyak nya, nyari sendiri Bel?" "Ya kang," sahut Abelia yang mengekori Arman dengan menenteng parang di tangan kanan nya. "Hebat juga kamu. Aku saja kalau gak lagi kebetulan jadi guide, gak pernah nyari nyari beginian. Soal nya di rumah juga gak make kayu bakar. Ini banyak loh Bel." Puji Arman sembari mengangkat kayu bakar yang sudah terikat tali dengan tatapan kagum. "Biasa saja kang. Aku bisa bisain aja, sesuai kan dengan kondisi yang ada. Lagian bukan pekerjaan yang berat juga, hanya tinggal motong beberapa bagian kayu yang masih utuh menjadi beberapa potongan pendek. Bisa karena terbiasa mah kata orang orang." Ujar Abelia merendah. Arman mengangguk setuju. "Kamu benar. Aku terlalu manja kayak nya nih. Jadi sungkan sama kamu loh aku jadinya," sambung Arman kagum sekaligus merasa rendah diri di hadapan Abelia. "Kang Arman terlalu merendah nih," balas Abelia menimpali. ********** Nenek Aminah terlihat heran kala melihat motor Arman terparkir di halaman rumah nya. Ia baru tiba setelah mengobrol panjang lebar dengan Parmi sahabat nya di dusun. "Loh? Nak Arman di sini? Sudah lama? Abel kok tamu nya gak di kasih minum atuh." "Eh, gak usah repot repot nek. Aku kebetulan mampir bentar karena tadi gak sengaja papasan sama Abel di hutan. Jadi aku ajak pulang bareng sekalian. Ini udah mau balik kok. Ayah pasti nunggu dari tadi," tolak Arman sopan. Aminah mengangguk paham tak lupa wanita tua itu berucap banyak terimakasih atas kebaikan Arman terhadap Abelia. "Tadi ketemu pas udah mau pulang memang, Bel?" tanya nek Aminah setelah yakin Arman tak lagi mendengar percakapan mereka. "Ya nek. Pas banget aku udah mau balik. Kenapa nek?" Abelia balik bertanya karena merasa pertanyaan Aminah mengandung makna. Namun melihat gelengan sang nenek, Abelia terlihat sedikit kecewa. Abelia yakin nenek Aminah pasti mengetahui sesuatu tentang apa yang telah ia alami. Sikap wanita tua itu terkadang misterius di mata nya. Namun Abelia cukup sungkan untuk bertanya. Ia telah cukup berhutang nyawa kepada nenek Aminah serta cucu nya. Tak pantas bila ia membalas nya dengan praduga yang tak berdasar hanya karena hati nya gusar dengan berbagai teror yang membuat nya kacau. *************** Malam semakin larut, namun Abraham begitu sulit untuk memejamkan kedua mata nya. Bayangan peristiwa naas yang membuat nya kehilangan nyawa teman teman nya, kembali menubruk ingatan pria tampan itu. Abraham mulai frustasi. "Apa yang sebenar nya kamu ingin kan dariku Abelia Naraya?" Geram Abraham menyugar rambut nya kasar. Bayangan Abelia mulai mengusik ketenangan hidup Abraham beberapa bulan ini. Drrrtt drrrtt drrrtt Abraham melirik malas handphone nya yang kini sedang menampilkan panggilan dari sang ibu. Beberapa waktu belakangan ini hidup nya terus di usik oleh Medina, dengan berbagai pesan juga panggilan yang menyebalkan. "Apa keistimewaan wanita itu sampai semua orang berurusan dengan nya? Cih!" Abraham memilih untuk menonaktifkan handphone nya setelah panggilan dari sang ibu berhenti. Malam panjang nya tak ingin ia isi dengan perdebatan yang tak berujung dengan sang ibu. "Anak ini benar benar sudah keterlaluan! Wanita ja lang itu pasti sudah mempengaruhi Abraham dengan sihir nya. Wanita iblis terkutuk!" Umpat Medina meluapkan kekesalan nya terhadap sang anak kepada Alesha. **************** "Hentikan dad...jika Daddy melakukan nya lagi maka semua rencana kita akan berantakan. Bukan aku yang akan rugi, tapi daddy dan kakek yang akan menanggung semua nya." Alesha memelas agar sang ayah berhenti menjamah nya dengan sedikit ancaman. Satu satu nya senjata adalah mengingatkan sang ayah akan rencana besar yang sedang mereka susun saat ini untuk menjebak Abraham. Dante mendengus frustasi. Pria bule tersebut beringsut menjauhkan diri nya dari sisi Alesha yang nyaris saja ia gumuli. Sungguh ayah yang be*jat. "Daddy sudah tak tahan lagi Alesha, secepat nya kamu harus bisa menjebak Abraham agar menyentuh mu dan menanamkan benih nya di rahimnu." Ujar Dante gusar. "Ingat Alesha, purnama bulan merah hanya terjadi 100 tahun sekali. Dan kita beruntung karena tahun ini adalah waktu terbaik yang berpihak pada kita. Kamu harus mengandung bayi dari keturunan Bramantara sebelum purnama bulan merah." Lanjut Dante kembali mengingatkan dengan nada serius. Pria paruh baya itu beranjak dari ranjang kemudian melangkah keluar membawa dahaga seorang pria dewasa yang sangat membutuhkan kehangatan seorang wanita. Alesha tergugu di tempat tidur nya sambil memeluk tubuh nya yang ia rasa sudah sangat kotor. Sejak usia remaja, ia harus menjadi pemuas has rat sang ayah tanpa bisa menolak nya. Entah sebuah tradisi keluarga atau memang keluarga nya yang menganut paham kesesatan, sehingga hal tersebut sudah terjadi turun temurun dalam keluarga nya. Setiap anak perempuan akan menjadi milik ayah mereka dalam tanda kutip. Sungguh gila, namun begitu lah realita yang harus Alesha tanggung seumur hidup nya. *********** "Ke sini Bel, lihat tuh. Cantik banget kan? Aku petik mau?" "Cantik Re, tapi gak usah di petik. Sayang banget, tar malah layu." Cegah Abeli. Ia hanya ingin mengagumi tanpa berniat untuk memetik apapun di sana. Keindahan alam terkadang mampu menghipnotis mata, namun kembali lagi pada siapa orang tersebut. TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD