Bab 12 Kejadian mistis

1151 Words
Gelapnya belantara tak membuat sinarku redup, senantiasa bersinar menerangi suramnya harapan yang perlahan mulai sirna. ~ AQYa TRi ~ Merusak keindahan alam semesta bukanlah tujuan nya ketika datang ke sana. Semata mata hanya untuk menikmati keindahan alam yang memanjakan mata, sekaligus menjaga sahabat nya. "Yakin gak mau Bel? Aku bisa loh turun ke sana kalo kamu mau." Kata Andrean sedikit memaksa. "Enggak Re! Enggak! Aku gak mau kamu petik bunga nya, awas aja kalau sampai nekat." Kecam Abelia terlihat marah. Wanita itu meninggalkan Andrean yang tercengang karena baru pertama kali melihat Abelia sekesal itu. "Bel! Sorry!" Seru Andrean mengejar langkah lebar Abelia yang mulai menjauhi nya. "Pelan pelan Bel, jalan nya licin loh." Arsen akhir nya bisa mengejar langkah Abelia yang terlihat sangat kesal kepada nya. "Aku tahu!" Ketus Abelia galak. Andrean terkekeh kecil melihat reaksi Abelia yang tak ia sangka akan sebegitu marah nya, hanya karena ia hendak memetik bunga anggrek liar di tepi air terjun. "Galak amat sih Bel. Aku udah minta maaf loh ini. Maafin kek, mana tahu besok besok kita udah gak sama sama lagi." Mohon Andrean membujuk. "Kak Abel! Bangun kak, udah Maghrib nih." Abelia mengerjab beberapa kali untuk mengumpulkan kesadaran nya. Mimpi nya terasa begitu nyata. "Kamu mau ke mushola dek? Sama nenek juga?" "Huuh. Kakak gak takut kan sendirian di rumah? Kalo gak berani ikut aja, tar nunggu di warung mpok Atik." Tawar Nora memberikan solusi. Sang nenek biasa nya akan lama bila sudah bertemu dengan bestie nya, nenek Parmi dan nek Asih. Namun Abelia menolak nya. "Gak usah dek, kakak tinggal aja. Kakak gak takut, udah sana tuh nenek udah nungguin di depan." "Yakin kak? Biasa nya nenek suka khilaf loh kalo udah gibah sama sohib nya." Nora masih berusaha merubah keputusan sang kakak, namun Abelia kukuh menolak nya. "Huss! Tar nenek denger kena jewer kamu," tegur Abelia berbicara pelan. Nora terkikik mendengar perkataan Abelia. "Gak lah, aku kan cucu kesayangan nya." Pamer Nora bangga. "Kok malah ngobrol, yuk. Tar gak keburu, nenek lupa beli baterai senter. Tar ingatin lagi pas lewat warung pok Atik." Nek Aminah tiba tiba muncul di gawang pintu kamar untuk mengajak Nora bergegas sebelum matahari terbenam. "Eh? Maksud nya senter kita gak ada baterai nya nek? Ihhh, nenek kok bisa lupa sih." Sungut Nora yang sedikit seram melewati tikungan yang siang nya saja seperti senja saking lebat nya pepohonan di daerah sana. "Maka nya cepetan." Ajak sang nenek. " Kamu yakin gak ikut Abel?" Dengan penolakan yang sama Abelia kembali menggeleng kan kepala nya. "Gak nek, Abel tinggal saja. Lagian Abel mau siapin bahan keripik buat besok." Tolak Abelia beralasan. Padahal Abelia hanya berusaha menghindari para pemuda desa yang terkadang suka mencari perhatian nya. "Ya sudah, kunci saja pintu depan. Nenek bawa kunci cadangan. Jangan bukain kalau ada yang ngetuk pintu, nenek pasti panggil nama kamu kalau sudah pulang." Pesan nenek Aminah mewanti wanti. Abelia mengangguk paham. *************** Seusai sholat di mushola, seperti biasa nya nek Aminah akan mengobrol dengan teman teman seperjuangan nya. "Cucumu yang satu nya gak ikut, Minah?" "Gak Parmi, Abel mau siapin bahan buat keripik besok. Pesanan Alhamdulillah sekarang semakin banyak semenjak Abel ikut jualan keliling desa." "Kamu beruntung Minah, jaga amanah ini dengan seluruh nyawamu Aminah. Kita semua tahu, seberharga apa gadis itu untuk keluarga Bramantara." Pesan Parmi berbicara pelan. Aminah hanya membalas dengan anggukan kecil sebagai tanggapan bahwa ia pun mengerti. Abelia adalah amanah yang di titip kan oleh salah seorang dari anggota keluarga Bramantara. Sebagai orang yang terpilih, Aminah sadar tanggung jawab yang ia emban tidak main main. ************ Tok tok tok "Abel! ini nenek nak!" seruan tersebut membuat Abel menghela nafas lega. Bergegas wanita itu berjalan menuju pintu depan untuk membuka pintu. "Nenek pulang sendirian? Nora mana?" tanya Abelia heran karena tak mendapati sang adik pulang bersama sang nenek. "Nora masih ikut kumpulan anak anak perempuan di rumah ustadz Yusuf. Kamu sudah kupas singkong? ini udah kamu taruh kapur?" nek Aminah mengecek apa saja yang sudah Abelia siapkan untuk pembuatan keripik. Usaha rumahan yang menjadi penopang ekonomi bagi nek Aminah juga Nora. Dan kini beban pangan mereka bertambah dengan keberadaan Abelia. "Sudah nek, satu sendok makan, kan kapur nya?" nek Aminah mengangguk saja lalu mengambil alih pekerjaan Abelia. "Kamu siapkan plastik kemas saja, biar nenek yang menggoreng nya." Titah nek Aminah masih fokus pada pekerjaan nya. Abelia mengangguk senang karena ia tak harus berada di dapur seorang diri. dapur yang di buat terpisah dari rumah induk, dan di bangun sedikit menjorok ke arah hutan di belakang rumah. Malam hari adalah waktu yang paling Abelia benci bila harus melakukan sesuatu di dapur. Belum lagi toilet juga berada persis di samping dapur. Terkadang Abelia harus menahan untuk bisa buang air kecil sampai pagi tiba. Abelia sudah menyiapkan 50 pieces plastik pembungkus keripik. Abelia juga menyiapkan lilin juga korek. "Abel! nenek sudah selesai, kamu bisa membungkus nya sendiri? nenek ingin istirahat lebih cepat malam ini." Tak seperti biasa nya nek Aminah berbicara dengan ekspresi datar. Namun Abelia tak terlalu memusingkan hal tersebut. Karena setiap orang memiliki waktu di mana mood nya sedang tidak baik baik saja. "Bisa nek, tinggal bungkusin aja msh gampang. Nenek istirahat saja, biar Abel yang selesaikan semua nya." Dengan senang hati Abelia melakukan permintaan nek Aminah. Ia sudah mengerti cara nya merekatkan plastik yang di panaskan menggunakan nyala lilin. 10 menit akhir nya pekerjaan Abelia pun selesai. Wanita itu meregangkan otot-otot tubuh nya yang terasa kaku karena terlalu lama duduk dan menunduk. Saat hendak mengemasi dagangan ke dalam dus, suara ketukan pintu menghentikan aktivitas nyam Abelia sumringah karena yakin sang adik yang datang. "Kak Abel! udah bobo kah?" seruan Nora membuat Abelia tertawa kecil. Krieett Suara khas pintu yang awal awal nya selalu membuat Abelia merinding bila mendengar nya. Namun kini suara itu sudah tak lagi mengganggu. Saat pintu terbuka tubuh Abelia membeku. Di hadapan nya nek Aminah terlihat duduk berselonjor di tangga tampak kelelahan. Wanita tua itu mengibas selendang nya sebagai kipas ke arah wajah nya. "Nenek sejak kapan keluar?" pertanyaan Abelia membuat nek Aminah segera bangkit dari duduk nya. "Kak Abel aneh ih, kan nenek sama aku memang keluar dari sore kak. Masa baru beberapa jam udah amnesia sih." Kekeh Nora tertawa lucu. Namun mimik wajah Abelia yang tampak tegang dan terlihat ketakutan membuat Nora menghentikan tawa nya. Gadis itu beringsut ke belakang tubuh Abelia seolah takut terhadap nenek nya sendiri. "Kamu ini!" omel nek Aminah kemudian mendahului memasuki rumah. Namun baru saja ia masuk beberapa langkah, nek Aminah menghentikan langkah nya. "Ini Kamu yang kerjakan Bel? kan nenek suruh rendam saja dulu biar nenek yang mengerjakan nya. Kamu pasti kelelahan sendiri kan?" omel nek Aminah yang langsung merapikan sisa sisa potongan plastik di lantai. Abelia masih belum mengatakan apapun. Ia terlalu syok dengan apa yang baru saja ia alami. "Siapa yang harus aku percayai." Monolog Abelia mulai frustasi. Yang baru bergabung semoga terhibur ya, dan jangan lupa untuk menyimpan buku ini di daftar pustaka kalian. Terimakasih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD