Bab 18

1195 Words

JEJAK MASA LALU YANG DIBUKA PAKSA** Malam tidak lagi terasa seperti jeda. Ia menjadi ruang kerja. Jakarta menyimpan panasnya bahkan setelah hujan reda. Uap tipis naik dari aspal, membuat lampu-lampu jalan tampak berpendar seperti ilusi murahan. Elara dan Raka berjalan menyusuri trotoar yang retak, melewati warung-warung tutup dan bangunan kosong yang menyisakan bau lembap. Tidak ada tujuan jelas—dan justru itu yang membuat langkah mereka terasa lebih aman. Ketidakjelasan adalah bentuk perlindungan terakhir. Elara berjalan setengah langkah di belakang Raka. Bukan karena ia ragu, melainkan karena ia mengamati. Sejak gudang itu, Raka berubah. Bukan secara kasatmata—bahunya masih tegap, langkahnya masih tenang—tetapi ada sesuatu yang mengeras di dalam dirinya. Seperti pintu lama yang kemb

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD