Bab 16

1248 Words

UJIAN PERTAMA** Jakarta siang itu terasa terlalu terang untuk rahasia yang sedang bergerak di bawah permukaannya. Elara duduk di kursi belakang mobil sewaan yang Raka ambil tanpa aplikasi, tanpa jejak digital yang rapi. Sopirnya pria paruh baya dengan mata kosong dan radio yang sengaja dibiarkan menyala keras—musik dangdut lama yang pecah-pecah, cukup bising untuk menenggelamkan percakapan. Bagi Raka, kebisingan itu bukan gangguan. Itu kamuflase. Mobil melaju ke arah utara, menjauh dari pusat kota, menembus jalan-jalan yang semakin sempit dan tidak terawat. Bangunan berubah dari gedung kaca menjadi ruko kusam, lalu rumah petak yang saling berhimpitan. Elara menatap keluar jendela, melihat bayangannya sendiri terdistorsi di kaca—wajahnya tampak asing, seolah seseorang telah menggeser sed

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD