Bab 1

1550 Words
Elara Veyra terbangun sambil menjerit. Tubuhnya tersentak keras seolah baru saja ditarik kembali dari sesuatu yang lebih gelap dari sekadar tidur. Paru-parunya terbakar. Dadanya naik turun dengan ritme panik. Lampu putih menyilaukan matanya. Tangannya terikat ringan di sisi ranjang. Dan ada bau antiseptik bercampur besi hangus — bau yang hanya muncul di tempat di mana tubuh dibuka… dan ditutup kembali. “Elara,” sebuah suara laki-laki berkata pelan, terlalu dekat dengan telinganya. “Tenang. Kamu aman sekarang.” Aman. Kata itu membuat perut Elara mengerut. Ia menoleh. Wajah laki-laki itu hanya beberapa sentimeter dari wajahnya. Rahang tegas. Mata gelap. Tatapannya bukan tatapan dokter. Itu tatapan seseorang yang terlalu lama menunggu. “Siapa kamu?” bisiknya. Laki-laki itu tampak terluka oleh pertanyaan itu. Namun ia tersenyum tipis. “Namaku Arkana.” Nama itu masuk ke kepalanya… dan memicu sesuatu. Bukan ingatan. Lebih seperti luka lama yang disentuh dari dalam. Jantung Elara berdegup lebih cepat. Bukan karena takut. Karena… kedekatan. Bahaya. Daya tarik yang salah tempat. “Kenapa kamu memegang tanganku?” tanya Elara. Arkana menurunkan pandangan ke jari-jarinya yang masih melingkar di pergelangan tangan Elara. Ia segera melepaskannya. “Maaf.” Namun nada suaranya tidak terdengar seperti orang yang benar-benar menyesal. Lebih seperti orang yang berusaha melepaskan sesuatu yang tidak ingin ia lepaskan. Elara menelan ludah. Tubuhnya terasa asing. Berat di bagian tertentu. Ringan di bagian lain. Seolah ada bagian dirinya yang sudah diambil. Dan bagian itu penting. “Apa yang terjadi padaku?” tanya Elara. Arkana terdiam terlalu lama. “Kamu… mengalami kecelakaan serius. Kamu sempat… tidak sadar.” “Berapa lama?” “Lima tahun.” Dunia Elara runtuh dalam satu kalimat. Lima. Tahun. Ia mencoba mengingat. Tidak ada apa pun. Tidak ada wajah ibu. Tidak ada rumah. Tidak ada masa lalu. Yang ada hanya rasa sesak… dan tatapan Arkana yang terasa terlalu dalam. “Kenapa kamu terlihat seperti orang yang baru kehilangan aku?” tanya Elara pelan. Arkana menegang. “Aku tidak kehilangan kamu.” Kata-katanya terlalu cepat. Terlalu defensif. Itu kebohongan. Elara bisa merasakannya. Ia memiringkan kepala sedikit. Menatap Arkana lebih lama. “Kalau begitu kenapa kamu gemetar?” Arkana tidak menjawab. Namun Elara melihatnya. Tangan itu. Sedikit gemetar. Bukan karena takut. Karena menahan sesuatu. Ia mendekat sedikit. Rantai sensor jantung di dadanya bergerak. Bunyi monitor berubah ritmenya. Arkana memperhatikannya. Matanya turun ke d**a Elara. Naik lagi ke wajahnya. Cepat. Tertahan. Terlarang. Elara tersenyum samar. Bukan senyum genit. Senyum seseorang yang sadar sedang memiliki kekuasaan yang tidak ia pahami. “Apa aku penting bagimu?” tanya Elara. Pertanyaan itu seharusnya tidak pantas. Namun ia bertanya. Dan Arkana tidak menjawab tidak. “Ya,” katanya pelan. Kata itu jatuh terlalu berat di antara mereka. Monitor jantung Elara berbunyi lebih cepat. Elara menutup mata sesaat. Ada bayangan masuk. Bayangan laki-laki lain. Senyum dingin. Suara berbisik: Kamu bukan miliknya. Kamu milikku. Elara membuka mata dengan napas tercekik. “Ada orang lain,” katanya panik. “Dia… ada di kepalaku.” Arkana mendekat. Suaranya menjadi lebih rendah. Lebih pribadi. “Ceritakan.” “Elara… kamu aman bersamaku.” Kalimat itu. Persis seperti dalam bayangan. Persis seperti dalam mimpi buruknya. Air mata jatuh di pipi Elara. “Dia bilang itu juga… sebelum semuanya hancur.” Arkana membeku. Wajahnya berubah. Untuk pertama kalinya… ia tampak takut. Dan Elara menyadari sesuatu yang membuat perutnya dingin: Pria ini bukan penyelamat. Ia bagian dari teka-teki yang membuatnya hancur. Dan mungkin… …bagian yang paling berbahaya. Ruangan itu terlalu tenang. Tidak ada suara selain dengung pendingin udara dan detak monitor jantung yang terlalu teratur untuk seseorang yang baru kehilangan lima tahun hidupnya. Elara duduk bersandar di ranjang, selimut tipis menutup kakinya, jari-jarinya meremas kain putih itu tanpa sadar — seolah itu satu-satunya benda nyata di ruangan itu. Arkana berdiri di dekat jendela, punggungnya menghadap cahaya kota Jakarta yang buram oleh hujan. “Tidak ada seorang pun yang datang mencarimu,” katanya. Nada suaranya datar. Terlalu datar. Elara mengangkat kepala. “Tidak ada keluarga?” Arkana menoleh. “Ada. Dulu.” Kata itu… membuat perut Elara menegang. “Dulu…?” “Mereka… tidak bisa dihubungi.” Jawaban itu tidak menjawab apa pun. Namun Elara tidak tahu bagaimana mematahkannya. Ia mengangguk pelan. Dan dalam dirinya, sesuatu terasa seperti jatuh lebih dalam. Ia sendirian. Dan Arkana tahu itu. Dan Arkana membiarkannya. Itu yang membuatnya terasa salah. “Besok aku akan mulai sesi pembacaan memori ringan,” kata Arkana. “Hanya fragmen kecil. Aman.” “Aman menurut siapa?” Menurutmu, jawab Arkana di dalam kepalanya. Menurut orang yang menyentuhmu sebelum kau sadar. Menurut orang yang tahu bagaimana kamu berteriak. Namun ia hanya berkata, “Menurut standar medis.” Elara memperhatikan wajahnya. Ia tampan dengan cara yang tidak hangat. Seperti patung yang terlalu lama berdiri di hujan. Ada kelelahan di balik matanya. Dan rasa bersalah. Ia tidak tahu kenapa ia bisa melihat itu. Tapi ia bisa. “Kenapa kamu melakukan ini?” tanya Elara. “Maksudmu?” “Pekerjaan ini. Menyelami orang lain. Mengorek apa yang ingin mereka lupakan.” Arkana terdiam. “Karena beberapa kebenaran… tidak mau diam.” Itu bukan jawaban profesional. Itu pengakuan. Elara tersenyum tipis. “Dan kamu? Kamu punya kebenaran yang tidak mau diam?” Arkana tidak menjawab. Ia melangkah mendekat. Terlalu dekat. Udara di antara mereka menghangat. “Apa kamu percaya padaku, Elara?” Pertanyaan itu tidak pantas. Tidak etis. Tidak adil. Elara menatapnya. Ia tidak percaya padanya. Namun ia bergantung padanya. Dan itu lebih berbahaya. “Ya,” katanya. Dan kebohongan itu terasa seperti mengikat lehernya sendiri. Arkana mengangguk. Seolah puas. Seolah itulah yang ia butuhkan. Ia menyentuh rambut Elara, menyelipkan helai yang jatuh ke wajahnya ke belakang telinganya. Sentuhan ringan. Namun membuat kulit Elara merinding. Ada sesuatu di balik sentuhan itu. Klaim. Kontrol. Kenangan yang bukan miliknya. Elara menahan napas. Tidak menjauh. Itu kesalahan. Namun terasa… nyaman. Dan itu lebih menakutkan. Saat Arkana pergi, ruangan kembali sunyi. Namun Elara tidak merasa sendirian. Ia merasa… diawasi. Ia menoleh ke kaca gelap ruang observasi. Pantulannya tampak sedikit terlambat bergerak. Atau mungkin hanya matanya yang terlalu lelah. Ia mendekat ke kaca. Menyentuhnya. Dan di balik pantulan wajahnya sendiri… ia melihat bayangan seorang pria berdiri di belakangnya. Tinggi. Kurang jelas. Dengan senyum yang terlalu tahu. Elara menjerit. Berbalik. Tidak ada siapa pun. Napasnya terengah. Tangannya gemetar. Ia menatap kaca lagi. Bayangan itu tidak ada. Namun di kaca, ada bekas sidik jari. Bukan miliknya. Lebih besar. Lebih panjang. Seolah seseorang baru saja menempelkan tangannya dari sisi lain. Dan Elara menyadari sesuatu yang membuat tenggorokannya kering: Pikirannya bukan satu-satunya tempat yang bisa dimasuki orang lain. Dan siapa pun “The Architect” itu… …ia tidak hanya hidup di dalam kepala Elara. Ia hidup di dunia ini. Dan ia sudah sangat dekat. Ruang ECHO terletak di lantai paling bawah rumah sakit. Bukan karena alasan teknis. Tapi karena manusia lebih mudah menyerahkan rahasianya saat berada lebih dekat ke tanah. Elara berjalan menyusuri lorong sempit dengan Arkana di sampingnya. Lampu-lampu putih memanjang di langit-langit, terlalu terang, membuat bayangan mereka jatuh panjang dan terdistorsi di lantai. “Kalau kamu ingin berhenti, katakan saja,” ucap Arkana. Ia terdengar tulus. Namun Elara sudah belajar: suara bisa bohong. Ia mengangguk. Pintu baja ruang ECHO terbuka dengan desis pelan. Di dalamnya ada satu kursi recliner besar, penuh kabel dan sensor. Seperti singgasana. Atau kursi eksekusi. “Duduklah,” kata Arkana. Elara duduk. Logam kursi terasa dingin menembus pakaian tipisnya. Arkana memasang elektroda di pelipisnya, belakang telinga, dan tengkuk. Sentuhannya profesional. Namun terlalu lama. Terlalu sadar. Setiap sentuhan terasa seperti tanda kepemilikan kecil. “Apa yang akan kulihat?” tanya Elara. “Fragmen,” jawab Arkana. “Hal-hal ringan. Aroma. Suara. Emosi kecil.” Ia berhenti. “Kecuali jika kamu menyembunyikan sesuatu.” Elara menatapnya. “Aku bahkan tidak tahu apa yang harus kusembunyikan.” Arkana tersenyum samar. “Kita lihat saja.” Ia menekan tombol. Dunia runtuh. Gelap. Lalu cahaya. Elara berdiri di tengah sebuah ruangan lain. Hangat. Ada bau kopi. Ada suara hujan. Ia berada di sebuah apartemen kecil. Ada jaket pria tergantung di kursi. Dan di meja… foto dirinya. Tersenyum. Bahagia. Dengan seorang pria berdiri di belakangnya. Tangan pria itu melingkar di pinggangnya. Elara menatap wajah pria itu. Dan dunia terasa berputar. Itu Arkana. Namun… lebih muda. Lebih lembut. Lebih bahagia. “Tidak…” bisiknya. Ia melangkah mendekat. Sentuhan di pinggang dalam foto terasa nyata di kulitnya. Hangat. Akrab. Tubuhnya bereaksi sebelum pikirannya. Ia ingin itu. Ia ingin kembali ke sana. Namun tiba-tiba… wajah Arkana di foto retak. Pecah seperti kaca. Di baliknya muncul wajah lain. Senyum dingin. Mata kosong. “The Architect.” Suara itu terdengar di mana-mana. Kamu seharusnya tidak melihat ini. Elara menjerit. Dunia runtuh lagi. Ia tersentak di kursi ECHO. Napasnya tersengal. Air mata mengalir. Arkana memegang wajahnya. “Elara. Lihat aku. Di sini. Sekarang.” Sentuhannya kuat. Menahan. Menambatkan. Elara menatapnya. “Kenapa aku bersama kamu?” suaranya gemetar. Arkana terdiam terlalu lama. “Aku tidak tahu,” katanya. Itu bohong. Elara bisa merasakannya. “Siapa The Architect?” Arkana menegang. “Itu hanya proyeksi trauma.” “Kamu bilang tadi aku menyembunyikan sesuatu.” Ia tidak menjawab. Elara tertawa kecil. Bukan karena lucu. Karena putus asa. “Kamu sudah tahu, kan.” Arkana memejamkan mata sesaat. Ketika ia membukanya kembali, tatapannya berubah. Lebih gelap. Lebih dingin. Lebih jujur. “Ya,” katanya. Dan untuk pertama kalinya… ia mengakui itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD