Bab 2

1555 Words
Ruangan itu tidak pernah terasa sekecil ini. Elara duduk kembali di ranjang, lututnya ditarik ke d**a, selimut melilit tubuhnya seperti perlindungan rapuh. Arkana berdiri di depannya. Diam. Seolah sedang memilih versi kebenaran mana yang pantas untuk hidup hari ini. “Katakan,” ucap Elara akhirnya. “Kamu tahu sesuatu. Jangan perlakukan aku seperti anak kecil.” Arkana menghela napas panjang. “Aku mengenalmu.” Bukan kalimat yang melegakan. Justru menakutkan. “Seberapa mengenal?” tanya Elara. “Kita… dekat.” Kata itu menggantung di udara. Dekat bisa berarti apa saja. Cinta. Obsesi. Kontrol. Kesalahan. “Seberapa dekat?” desak Elara. Arkana menatapnya. Dan untuk sesaat… dinding profesional runtuh. “Aku mencintaimu.” Kalimat itu jatuh terlalu cepat. Terlalu berat. Terlalu tidak adil. Elara tertawa kecil. Hampir histeris. “Kamu mencintaiku… tapi kamu tidak pernah mengatakan itu sampai aku lupa segalanya?” “Aku tidak bisa.” “Kenapa?” Karena kau tidak akan membiarkanku, pikir Arkana. Karena kau akan lari. Karena kau akan membenciku. Namun ia hanya berkata, “Karena situasinya rumit.” Elara menatapnya tajam. “Kamu memanipulasiku?” Arkana tidak langsung menjawab. Itu jawaban itu sendiri. Elara berdiri. Mendekat. Hampir menabrak dadanya. “Berapa banyak bagian hidupku yang kamu sentuh?” Pertanyaan itu menusuk. Arkana menelan ludah. “Tidak sebanyak yang kamu pikir.” “Itu bukan jawaban.” Ia mengangguk kecil. “Itu jawaban paling aman.” Elara tersenyum pahit. “Untuk siapa?” Arkana terdiam. Elara memalingkan wajah. Dan di kaca jendela, ia melihat refleksi lain. Bukan miliknya. Seorang pria berdiri di belakang Arkana. Bayangan tinggi. Wajah tidak jelas. Namun Elara tahu itu dia. “The Architect.” Elara menahan napas. Ia tidak ingin Arkana tahu. Belum. Ia ingin melihat sejauh apa permainan ini. Ia kembali menatap Arkana. “Katakan satu kebenaran,” katanya. “Satu saja. Yang utuh.” Arkana ragu. Lalu berkata, “Kamu tidak kehilangan ingatanmu karena kecelakaan.” Jantung Elara berhenti sejenak. “Lalu karena apa?” “Karena kamu memintanya.” Dunia runtuh dalam satu kalimat. “Aku… meminta… untuk dilupakan?” Arkana mengangguk. “Karena kamu ketakutan.” “Takut pada apa?” Arkana menatapnya. Dan di matanya ada sesuatu yang hampir seperti penyesalan. “Takut pada dirimu sendiri.” Malam membuat rumah sakit terasa seperti bangkai raksasa. Sunyi. Kosong. Namun tidak pernah benar-benar mati. Elara terbangun tanpa mimpi. Itu yang paling aneh. Tidak ada gambar. Tidak ada suara. Hanya kesadaran mendadak bahwa ia sedang diawasi. Ia membuka mata perlahan. Gelap. Lampu koridor di luar pintu menyusup masuk sebagai garis tipis cahaya. Ia duduk. Jantungnya berdetak terlalu cepat untuk ruangan yang terlalu tenang. “Jangan nyalakan lampu,” sebuah suara berbisik. Bukan dari dalam kepalanya. Dari kursi di sudut ruangan. Elara membeku. Siluet seorang pria duduk santai di sana. Kaki disilangkan. Siku bertumpu di sandaran. Seolah itu kamar tidurnya sendiri. “Siapa kamu?” bisik Elara. Pria itu tersenyum. Senyum yang tidak menyentuh matanya. “Kamu sudah tahu.” “The Architect.” Ia berdiri. Melangkah mendekat. Wajahnya masih samar, seolah otak Elara menolak memproses detailnya. “Kamu terlihat lebih cantik saat ketakutan,” katanya ringan. Elara menelan ludah. “Kamu nyata.” “Tentu. Kamu hanya dibuat percaya aku tidak.” Elara memeluk selimutnya. “Kamu ingin apa?” “Aku ingin kamu berhenti mempercayai Arkana.” Itu langsung. Tidak berputar-putar. “Kamu ingin aku percaya padamu?” Pria itu tersenyum. “Tidak. Aku ingin kamu ragu pada semua orang.” Itu jauh lebih berbahaya. “Kamu berbohong,” kata Elara. “Tentu,” jawabnya tenang. “Semua orang di cerita ini berbohong. Termasuk kamu.” Ia mendekat. Berdiri di samping ranjang. Elara bisa mencium aroma kayu dan sesuatu yang hangus. “Apa yang Arkana bilang padamu?” tanya pria itu. “Bahwa aku minta untuk dilupakan.” Pria itu tertawa pelan. “Kamu minta untuk dihapus.” Kata itu lebih kejam. “Kenapa?” Pria itu membungkuk hingga wajahnya hampir sejajar dengan Elara. Karena jika kamu ingat, kamu akan menghancurkan kami semua. “Kamu berbahaya saat kamu utuh.” Elara menggigil. “Termasuk kamu.” Pria itu tersenyum lebih lebar. “Terutama aku.” Langkah kaki terdengar di koridor. Pria itu mundur. Wajahnya memudar. “Pilihlah dengan hati-hati, Elara. Yang paling ingin melindungimu… adalah yang paling takut kehilanganmu.” Dan ia lenyap. Pintu terbuka. Arkana masuk. Wajahnya tegang. “Elara? Kamu baik-baik saja?” Elara menatapnya. Wajah pria yang ia kenal. Yang mencintainya. Yang mungkin memanipulasinya. Ia mengangguk. “Ya. Aku hanya… bermimpi buruk.” Arkana duduk di sampingnya. Tangannya menyentuh bahu Elara. Hangat. Nyata. Menenteramkan. Dan itu justru membuat Elara ingin menangis. Karena ia tidak tahu mana yang lebih berbahaya: Pria yang jelas-jelas berbahaya. Atau pria yang berbahaya karena ia dicintai. Pagi datang terlalu cerah. Matahari Jakarta masuk lewat jendela kamar Elara seperti tidak tahu bahwa malam telah menanam racun di dalam kepalanya. Elara duduk di tepi ranjang, rambutnya masih berantakan, matanya kosong. Ia menunggu. Dan benar saja. Arkana datang dengan sarapan. Ia selalu datang dengan sarapan. Itu rutinitas. Dan rutinitas adalah cara terbaik untuk membuat seseorang berhenti bertanya. “Kamu tidur cukup?” tanya Arkana. Elara mengangguk. Itu bohong. Namun Arkana tidak mendesaknya. Ia duduk. Meletakkan nampan. Jarak mereka terlalu dekat untuk orang yang tidak ingin menyentuh. “Ada yang datang semalam?” tanya Arkana ringan. Elara menatapnya. Jantungnya berdegup. “Kamu berharap ada?” Arkana tersenyum tipis. “Tidak.” Ia terlalu cepat menjawab. Elara mencatat itu. Ia mengambil gelas jus. Tangannya sengaja menyenggol tangan Arkana. Ringan. Seolah tidak sengaja. Ia merasakan Arkana menegang. Hanya sepersekian detik. Namun cukup. “Aku bermimpi,” kata Elara. Arkana mengangkat kepala. “Tentang apa?” “Seorang pria di kamar ini.” Arkana tidak berkedip. Itu kesalahan. “Dia berkata kamu berbohong padaku.” Arkana menurunkan pandangan ke kopi di tangannya. “Apa kamu mempercayainya?” Elara tersenyum kecil. “Tidak.” Itu bohong. Namun Arkana menghela napas lega. Itu informasi. Elara melanjutkan. “Dia juga bilang… kamu sangat takut kehilanganku.” Arkana tertawa kecil. “Semua orang takut kehilangan sesuatu.” Elara mendekat. Menyentuh lengannya. “Dan kamu?” Arkana menatapnya. Untuk sesaat… Elara melihat sesuatu yang jujur. Takut. Putus asa. Cinta. Dan kepemilikan. “Sangat,” katanya. Kata itu terasa seperti belenggu. Siang itu, Elara berjalan di taman kecil rumah sakit. Ia berpura-pura menikmati matahari. Padahal ia memperhatikan. Perawat yang selalu datang jam yang sama. Dokter yang selalu melihat chartnya lebih lama dari pasien lain. Dan kamera kecil di sudut pohon. Ia tidak seharusnya ada di sana. Elara memotretnya dengan ponsel yang Arkana berikan. Malamnya, ia membuka ponsel itu. Ada folder tersembunyi. Ia tidak tahu kenapa ia mencarinya. Tapi ia menemukannya. Folder bernama: EV_backup Di dalamnya: ratusan rekaman. Suara. Video. Dirinya sendiri. Menangis. Marah. Memohon. Berteriak: “Tolong… jangan hapus aku…” Elara menutup mulutnya agar tidak berteriak. Tangannya gemetar. Ia menekan satu file lagi. Wajah Arkana muncul di layar. Lebih muda. Lebih hancur. “Aku melakukan ini demi kamu,” kata Arkana di video. “Kamu tidak akan bertahan jika kamu mengingat.” Elara menjatuhkan ponsel itu. Air mata mengalir tanpa suara. Bukan karena ia takut. Karena ia sadar: Ia bukan korban pasif. Ia pernah memilih ini. Dan sekarang… ia harus memilih lagi. Elara tidak tidur malam itu. Ia duduk di kursi, menatap dinding, sementara dunia di dalam kepalanya berisik oleh suara-suara masa lalu yang bukan miliknya — atau mungkin terlalu miliknya. Ketika Arkana masuk ke kamar keesokan paginya, ia sudah tahu. Cara langkahnya. Cara napasnya sedikit berubah ketika ia melihat wajah Elara. Ia merasakan pergeseran itu sebelum Arkana membuka mulut. “Kamu terlihat lelah,” kata Arkana. Elara menatapnya. “Kamu terlihat gugup.” Arkana tersenyum. “Perasaanmu saja.” “Tidak.” Elara berdiri. Mendekat. Mengambil ponsel dari bawah bantal. Menyalakan layar. Memutarnya ke arah Arkana. Wajah Arkana di video membeku di layar. Versi masa lalu. Lebih jujur. Lebih hancur. Arkana membeku. Udara di ruangan berubah berat. “Di mana kamu dapat ini?” suaranya rendah. “Jadi itu benar,” kata Elara. “Kamu menghapus aku.” “Aku menyelamatkanmu.” Kata itu meluncur terlalu cepat. Terlalu otomatis. “Itu keputusan siapa?” tanya Elara. “Kita,” jawab Arkana. Elara tersenyum pahit. “Kamu selalu pakai kata itu.” Ia menurunkan ponsel. “Aku tidak tahu siapa aku tanpa lima tahun itu. Tapi aku tahu satu hal…” Ia menatap Arkana tepat di mata. “Aku tidak memberikan persetujuan sekarang.” Arkana menegang. “Kamu tidak stabil.” “Dan kamu bukan dewaku.” Arkana melangkah mendekat. Suara menjadi lebih tajam. “Kalau kamu mengingat semuanya… kamu akan hancur.” “Kalau aku tidak… aku tidak ada.” Itu menghantam Arkana. Ia menutup mata sesaat. Ketika membukanya kembali, ada air di sana. “Aku tidak bisa kehilanganmu lagi.” Elara terdiam. Itu bukan kalimat dokter. Itu kalimat seseorang yang sudah kehilangan sesuatu terlalu mahal. “Apa yang terjadi terakhir kali?” tanya Elara pelan. Arkana ragu. Lalu berkata, “Kamu mencoba bunuh diri.” Dunia runtuh. Bukan karena kaget. Karena bagian dalam dirinya… mengakui itu. “Karena apa?” tanya Elara. Arkana menelan ludah. “Karena kamu menyadari siapa The Architect sebenarnya.” Dada Elara sesak. “Siapa?” Arkana memandangnya lama. “Dia bukan orang lain.” “Katakan.” Arkana menutup mata. “Dia adalah bagian dari dirimu yang tidak bisa kamu terima.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD