BAB 3

1957 Words
Di hari kedua, Pak Endang berangkat sangat pagi dan bergegas menuju Hotel, menemui Bu Maya sang manajer Hotel. Relasinya sebagai sesama manajer membuatnya tidak kesulitan untuk meminta bantuan dari Maya. Tepat saat itu Maya meminta Pak Endang untuk masuk ke dalam kantornya. “Silakan duduk Pak, pagi sekali anda datang.” “Saya tidak bisa tidur, ingin segera mengetahui rencana ini berhasil atau tidak.” “Tenang saja Pak, Jika ada uang semua akan selesai dan lancar.” Ujar Maya tersenyum. Pak Endang hanya tersenyum dan mengangguk. Tepat jam 8 pagi, Maya sang manajer hotel langsung mengambil telepon kantornya dan menelepon nomor milik Dini. “Aku akan menelepon wanita ini sekarang!, tunggu dan lihat Aku bekerja.” Ujar Maya sambil menekan tiap angka di telepon kantornya. Tidak lama berselang Dini menerima panggilan telepon itu. “Halo selamat pagi, bisa bicara dengan saudara Dini?” “Ia Saya sendiri.” Ujar Dini kebingungan dengan nomor tidak di kenal. “Perkenalkan Saya Maya manajer Hotel bintang lima di kota, apa benar sebelumnya Anda mengirim lamaran via email?” “Tidak Bu!, Saya lupa pernah mengirim lamaran via email ke Hotel Itu.” “Tapi data atas nama Dini dengan alamat jalan kenanga nomor 125 ada di data Kami.” “Nama dan alamatnya memang betul saya Bu, tapi jujur saya tidak pernah melamar ke Hotel. Saya bahkan belum tahu alur kerja dan pekerjaan yang ada di Hotel itu apa saja.” “Memang Alamat email Kami tidak mengatas namakan Hotel, agar menghindari penyalahgunaan oleh pihak ketiga dan penipuan.” Dini terdiam sejenak. “Lalu apa yang bisa saya bantu Bu?” “Jika berkenan, Anda Kami undang untuk wawancara pekerjaan.” “Memang posisi yang sedang di butuhkan saat ini apa Bu?” “Nanti Kami posisikan anda setelah di adakan wawancara pekerjaan. yang jelas Ibu Dini harus datang besok jam 8 pagi dan bertemu dengan Saya, Ibu Maya.” “Oh begitu ya Bu.” Jawab Dini dengan Polos dan tidak menyadari jika Itu adalah siasat jahat dari Pak Endang. “Baik, terima kasih atas waktunya, saya harap anda bisa datang sesuai jadwal dan jangan lupa berpakaian formal dan rapi.” “Terima kasih Bu.” Maya menutup teleponnya dan tersenyum kepada Pak Endang. “Sudah selesai, sekarang Kamu siapkan uangnya.” Ujar Maya tersenyum. “Nanti dulu, Kita lihat besok. Jika si Dini datang sesuai jadwal, baru uang akan Aku siapkan, jika gagal Kamu harus mencari cara untuk bisa mengundangnya kembali.” “Tenang saja, ini akan berhasil. Terdengar dari suaranya yang bahagia mendapat berita bohong ini.” Ujar Maya. “Bagus. Aku harap semua akan berjalan dengan baik.” Ujar Pak Endang. “Begitu cantik dan spesialkah wanita ini, hingga Kamu mau membayarku semahal itu?” Tanya Maya penasaran. “Buat bosku uang bukan masalah, yang penting kesenangan untuk Dia, lagi pula Aku tidak peduli dengan wanita itu. Yang Aku pedulikan adalah pekerjaanku.” Ujar Pak Endang. “Memang bos Kamu sekaya itu?” Tanya Maya. “Ya begitulah. Asalkan Dia senang, uang bukan apa – apa untuknya.” “Jika begitu kapan – kapan ajak Aku bertemu dengannya, Aku akan menggunakan pakaian terbaik.” Ujar Maya tersenyum. “Tapi maaf, sepertinya bosku tidak terlalu suka wanita berias tebal sepertimu, meskipun Kamu menggunakan pakaian setipis apa pun bosku tidak akan meliriknya. Satu pesanku, cari saja laki – laki baik, agar hidupmu jadi baik juga.” Ujar Pak Endang. “Jangan menceramahiku, hidupku sudah baik, yang Aku perlukan saat ini hanya uang dan uang.” Ujar Maya tersenyum. “Terserah apa katamu, jika memang kamu benar – benar ingin bertemu bosku, Aku akan mengaturnya. Tapi jangan sampai kamu mundur dan menyesal nantinya.” Ujar Pak Endang. “Demi uang, Aku akan tutup mata dan telinga.” Ujar Maya. “Ya sudah, Aku tunggu besok, semoga esok rencana kita berhasil, Aku sekarang pamit.” Ujar Pak Endang. “Ok, dan jangan lupa Siapkan bayaranku”. Ujar Maya berbisik. Pak Endang pergi meninggalkan ruangan Kantor itu. “Aku bingung dengan Dia, uang menjadikannya lupa akan segalanya.” Mengumpat sambil menutup pintu kantor itu. Di sisi lain Dini merasa senang akhirnya penantian yang cukup lama untuk mendapatkan pekerjaan bisa segera terwujud, dan ingin membagikan kabar bahagia itu dengan sang Ibu. Tepat saat itu Dini hanya sendirian di rumah, Bu Ida saat itu sedang berada di pasar dan sebentar lagi akan sampai di rumah. “Ibu harus tahu berita ini, nanti jika Aku sudah ada penghasilan tetap. Aku bisa membantu Ibu dan melarang Ibu untuk bekerja lagi.” Ujar Dini tersenyum. Terlihat dari kejauhan, perempuan dengan kerudung hitam turun dari kendaraan umum. Terlihat wajah letih dan lelah dari perempuan itu, beliau duduk di depan teras rumahnya sambil mengipasi mukanya dengan koran bekas yang ada di atas kursi. “Hari ini panas sekali, di tambah jualan hari ini tidak memuaskan , meskipun sedikit harus tetap di syukuri.” Menarik nafas panjang. Dini membawakan satu gelas air berisi teh hangat. “Bu sudah pulang?, ini minum dulu.” Ujar Dini memberikan secangkir teh hangat. “Anak cantik Ibu seperti bahagia hari ini, ada apa Nak?” Tersenyum. “Nanti saja Dini cerita, sekarang Ibu istirahat dulu. Dini juga di belakang sudah masak.” “Ia Sayang , terima kasih.” “Oh ia Bu, bagaimana jualan Ibu hari ini?” “Sekarang itu jaman susah Nak, orang – orang menjadi lebih irit dari biasanya. Jadi berimbas juga pada jualan Ibu hari ini, di tambah sekarang banyak pasar modern yang membuat pengunjung pasar terbagi jadi dua. Tapi kita harus tetap bersyukur karena masih ada yang beli meskipun tidak banyak.” Mendengar hal Itu Dini merasa iba dan tidak tega terhadap Ibunya yang sudah bertahun – tahun mencari nafkah sendirian untuk keluarganya, setelah di tinggalkan oleh Pak Nanang. Bu Ida lebih banyak menghabiskan waktu untuk berjualan sayuran segar di pasar, hasil dari sanalah merek bisa hidup dan membiayai sekolah Dini. Bu Ida sangat tangguh, demi sang buah hati Ia rela menahan lapar dan haus untuk mencari nafkah. Sesekali terdengar hujatan dari tetangga bahkan cerita buruk tentang mantan suaminya yang begitu nyaring di telinga mereka berdua, terutama kabar mengenai Pak Nanang yang kini tengah mendalami ilmu hitam demi mendapat kekayaan secara mudah. Namun semuanya bisa mereka lalui hingga saat ini. Dini terdiam sejenak, dan memegangi tangan Ibunya seraya meminta doa. “Sabar ya Bu, sebenarnya Dini bahagia karena ada satu hal!” “Apa itu Nak?” “Dini besok ada wawancara kerja Bu.” “Kamu yakin akan mencoba bekerja lagi, bukannya kemarin Kamu pulang marah – marah sambil menangis.” “Ini berbeda Bu. Yang menelepon ku tadi itu seorang perempuan, bahkan Dia seorang manajer di Hotel, sehingga lebih membuka mata Dini. Jika wanita bisa menjadi pemimpin dan tidak perlu seorang laki – laki.” “Kamu ini terus saja membenci laki – laki. Jaga perkataanmu, jangan sampai Kamu termakan kata – katamu sendiri.” “Dini yakin Bu, dan Dini sudah membulatkan tekad tidak akan menikah. Dan hanya ingin membahagiakan Ibu.” “Salah Kamu jika punya Prinsip seperti itu.” “Ia Bu, Dini sudah tahu. Tapi hidup Dini adalah pilihan, jadi tolong agar Ibu menghargai itu.” “Terserah Kamu saja Nak. Yang jelas satu pesan Ibu.” Ujar Bu Ida. “Apa itu Bu?” Tanya Dini. “Orang tua akan bahagia jika Anaknya bahagia, jadi jaga ucapanmu apalagi sampai sesumbar seperti itu.” Ujar Bu Ida. “Tapi Bu, sudah terlalu banyak bukti jika semua laki – laki pasti akan menyakiti perempuan. Ibu mau jika Dini nanti di sakiti laki – laki.” Ujar Dini. “Kamu hanya belum menemukan contoh yang baik saja, dan Ibu yakin di kemudian hari Kamu akan bertemu dengan sosok pria itu. Jadi jaga ucapanmu.” Ujar Bu Ida. “Tapi Bu!” Ujar Dini. Bu Ida memotong sanggahan Dini. “Kamu mau mendengar kebaikan Ayahmu?” Tanya Bu Ida tersenyum. Dini terdiam. “Dulu Kami pernah bekerja di satu tempat yang sama, perusahaan cukup besar dengan ribuan karyawan di dalamnya. Ayahmu dulu sangat bekerja dengan keras, Ia membiayai semua keluarganya di rumah termasuk menyekolahkan adik – adiknya. Pulang bekerja ia selalu mengambil pekerjaan lain untuk bekal tambahan. Hal itu pun terus ia lakukan hingga Kami menikah, Ibu sangat bahagia dan menyayangi Ayahmu sampai Kamu lahir pun Ayahmu tidak berubah.“ Ujar Bu Ida. Dini tetap terdiam dengan wajah yang kesal. “Hingga pada akhirnya Ibu tidak tahu apa yang membuatnya berubah dengan cepat. Kamu bisa menangkap hal baik dari Ayahmu?” Tanya Bu Ida. Dini menggelengkan kepalanya. “ Di mata Dini sudah tidak ada hal baik dari Ayah.” Ujar Dini kesal. “Hal baik dari Ayahmu adalah dia selalu bertanggung jawab, rela berkorban dan penyayang.” Ujar Bu Ida. “ Tapi tetap saja Ayah menyakiti Ibu, dan itu sudah menjadi contoh untuk Dini.” Ujar Dini kesal. “ Sulit memang berbicara dengan orang yang sudah keras hatinya, sekarang semua kembali lagi padamu Din, Ibu hanya tidak mau kamu menyesal di kemudian hari.” Ujar Bu Ida. “ Tenang saja Bu, Dini tahu apa yang Dini lakukan. Dan Dini berjanji akan membahagiakan Ibu.” Ujar Dini mencium tangan Ibunya. “ Ya sudah Ibu mau mandi dulu.” Ujar Bu Ida. Bu Ida masuk ke dalam Rumah sambil menggelengkan kepala, Dini kini sudah dewasa. Pilihan hidupnya sudah menjadi tanggung jawab dirinya sendiri. Begitu antusiasnya Dini tentang esok hari, menyiapkan pakaian dan berdandan sudah jadi hal wajib untuknya menghadapi hari esok, hingga terdengar suara ketukan pintu. “Permisi!” Sahut suara pria dari luar Rumah. “Siapa ya?” Tanya Dini heran. “Maaf Bu saya kurir, betul ini rumah Ibu Dini?” “Ia saya sendiri.” “Maaf Ibu bisa tanda tangan dulu di sini!” menyodorkan kertas resi kiriman paket. “Tapi saya tidak sedang belanja online atau apa pun.” Keheranan. “Saya hanya Kurir Bu, Saya mengantarkan paket sesuai dengan alamat tujuan dan memberikannya kepada orang yang bersangkutan.” “Tapi Pak, Saya benar – benar tidak memesan apa pun.” “Terima saja Bu, mungkin ini hadiah dari kekasih Ibu atau sanak saudara. Maaf Bu saya masih banyak paket yang harus di antar.” Ujar kurir dan pergi. Terlihat bungkusan besar, sudah berada di depan pintu. Kebingungan itulah yang Dini rasakan. Aneh, itulah yang terjadi saat itu. Perlahan Dini membuka paket itu. “Di sini gak ada nama pengirim lagi.” Ujar Dini. Ternyata dalam paket itu berisi rangkaian bunga cukup besar, terdapat uang 10 lembar pecahan seratus ribu, dan terdapat kertas bertuliskan, “Pakai uang itu untuk membeli baju atau membeli makanan enak untuk Kamu dan keluargamu. Dari Aku pengagum rahasiamu.” Semakin heran Dini ketika melihat tulisan itu, berat perasaan Dini untuk menerima buket bunga dan uang itu, namun ragu itu hilang ketika melihat kebutuhan Ibu dan dirinya semakin mendesak. Hingga akhirnya menerima dan memanfaatkan uang itu. “Aku sedang perlu uang ini, ya sudah aku terima saja. Lagi pula bukan Aku yang minta, meskipun entah dari mana dan entah siapa pengirimnya.” “Dari siapa ini Nak?, besar sekali bunganya.” “Gak tau Bu.” “Sepertinya anak Ibu sudah punya pacar!” “Yang benar saja Bu, Aku ini benci sama laki – laki!” “Ya sudah kenapa jadi marah.” “Dini tidak marah, hanya dini tidak suka Dini di tuduh punya pacar!” “Ibu hanya bercanda cantik. sudah jangan di bahas lagi. orang cantik kok marahnya jelek.” Buket bunga itu di simpan dengan rapi di depan Rumah, tulisan dan uang itu segera Dini simpan dan masuk ke dalam saku agar Ibunya tidak mengira yang bukan – bukan tentang asal - muasal paket itu. “Semoga besok akan menjadi hari yang bisa mengubah kehidupanku.” Ujar Dini penuh harap.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD