BAB 4

1570 Words
Semakin rumit keadaan ketika Bowo ikut turun sendiri berusaha menculik Dini, Rasa tidak percaya terhadap Diki dan Endang membuat Bowo melupakan perjanjiannya dengan mereka berdua. “Halo Pak Kurir, Bagaimana kiriman Paket saya sudah di antar?” “Sudah Bos, lancar terkendali. Tapi hanya sekedar mengingatkan, Bos belum memberi saya Bonus yang di janjikan!” “Tenang. Itu masalah kecil, Aku ada satu barang lagi yang harus Kau kirimkan!” “Apa Bos, Bukan barang terlarang Kan?” “Bukan lah, Aku ini Pria baik – baik.” ”Dimana ada pria baik-baik mengincar daun muda?” ujar kurir itu dalam hati. “Lalu apa Bos?” “Coba Kamu beli coklat ukuran besar di supermarket, beri Dia tulisan Puisi cinta. Lalu Kau kirim kembali ke rumah perempuan Itu.” Kurir itu tersenyum, ”Memangnya masih jaman, merayu pakai puisi?, terserahlah yang penting uang terus lancar.” Ujar kurir itu dalam hati. “Duitnya Bos?” “Sekarang Aku transfer!” ”Siap bos.” Ujar kurir itu tersenyum. Senyum semringah sang Kurir mendengar ada sejumlah Uang yang akan di transfer, percakapan mereka pun di sudahi. “Bisa Aku catut lagi ini duit!, lumayan!...” Kurir langsung bergegas menuruti permintaan Bowo, sebongkah coklat besar pun sudah di bungkus dengan ornamen cantik dengan secarik kertas bertuliskan puisi, kurir itu menulis puisi yang di dapatnya dari jejaring sosial. ” Sudah selesai , tinggal kirim!” Ujar kurir tersenyum. Tepat jam 4 sore, suara sahut sang kurir, memecah keheningan di kediaman Dini. “Permisi!...” Sahut kurir. “Monggo sebentar!..” Sahut suara perempuan yang berbeda, sambil membuka pintu. “Ada Apa Mas?” “Saya mau antar paket untuk Bu Dini.” “Dini pesan apa?” Kurir menjelaskan Jika paket itu hanya harus di terima oleh Dini. “Ya Sudah titip saja ke Ibu.” “Jangan Bu!” “Aneh Kamu Mas. Dini anakku itu lagi gak di rumah.” “Memangnya ke mana Bu?” “Bukan urusanmu, Kurir kok banyak tanya.” Kesal. “Tapi ini amanat Bu.” “Ya Sudah tunggu saja sampai Dini pulang.” Hendak menutup pintu. Sang kurir menahan agar pintu tidak tertutup. “ Tunggu Bu!, ya Sudah saya titip Ke Ibu saja, Hanya saja ini amanat, jangan di buka sampai Dini membukanya sendiri.” “Lihat nanti saja.” Menutup pintu. Kurir terdiam “Ya Sudah, Yang penting paketnya sudah sampai. Bodo amat di buka sama siapa Juga.” Pergi meninggalkan rumah Dini. “Aku penasaran siapa pengirim paket- paket ini. Tidak mungkin Anakku punya pacar.” Ujar keheranan. “Aku buka saja, Takutnya ini benda berbahaya. Apalagi semenjak anakku mengalami hal buruk kemarin.” Ujar Bu Ida membuka perlahan bungkusan berwarna merah jambu itu. Perlahan satu persatu bungkusan penutup paket itu di buka. Terlihat secarik kertas berwarna merah muda dengan bentuk hati. “ Apa ini?” Tanya Bu Ida. Bu Ida membuka dan membaca isi kertas itu. “Terlalu mudah rasanya untuk jatuh hati, ketika pandangan mata tertuju pada satu pandangan. Tidak ada pembeda dengan yang lain. Hanya satu yang membuat Aku yakin. KAMU.” isi dari puisi itu. Bu Ida tersenyum “Aku jadi penasaran dengan orang yang menyukai anakku.” “Romantis juga ternyata, Tapi apa mungkin anak muda zaman sekarang masih musim surat menyurat sebagai ungkapan cinta. Seperti zaman ku dulu saja.” Ujar Bu Ida menggelengkan kepalanya. Bu Ida kembali merapikan paket itu, dan menyimpannya di atas meja dengan hati – hati. Tidak lama berselang, Hp Dini berdering. “Anak itu pasti lupa membawa Hpnya.” Bu Ida menggelengkan kepala. Tertulis nomor tidak di kenal. “Halo”. Jawab Bu Ida. “Jangan tanyakan Aku siapa, Aku hanya sebatas pria yang mengagumimu, nanti jika waktunya sudah tepat Kamu pasti Akan mengenaliku.” Menutup telepon. Tanpa dapat membalas kata , Bu Ida terdiam sambil mengerutkan dahi. “ Aneh, anak – anak jaman sekarang. Beraninya hanya di belakang.” Ujar Bu Ida menggelengkan kepalanya dan menganggap jika itu masih dalam batas wajar. Di sisi lain Bowo seperti terlahir kembali, wajahnya sumringah , jiwa mudanya kembali bergejolak, dan membuat dirinya sangat bahagia. “Aku seperti kembali muda 20 tahun.” Ujar Bowo tersenyum. Bowo berjalan menuju area balkon rumahnya, rona wajah bahagia pun terlihat, dan hal itu membuat istri tua Bowo yang sejak tadi memperhatikan gerak – geriknya semakin curiga. “Indahnya kembali muda.” Ujar Bowo sambil memandang langit malam. Istri tua Bowo pun mendekat tanpa sepengetahuan Bowo. “Apanya yang kembali Pah?” Tanya ketus Bu Siti yang merupakan istri Tua Bowo. Bowo terkejut bukan main, hingga membuat lututnya bergetar dan gugup. “Ini Mah...” Ujar Bowo Gugup. “ Ini Apa?” Tanya Bu Siti. “Engga mah, Papah seperti kembali muda setelah potong rambut.” Ujar Bowo sedikit tersenyum. Bu Siti mendekat dan melihat wajah Bowo. “Pah. Kamu gak akan bisa bohong, Aku sudah bertahan lama dengan Mu, Aku sudah tahu kelakuan burukmu selama ini.” Ujar Bu Siti kesal. “Kamu ini kenapa?, Mamah ini senangnya buat Papah marah aja.” Ujar Bowo mengalihkan pembicaraan. “Marah?, jika memang tidak ada apa – apa , kenapa Kamu harus marah?” Tanya Bu Siti. “ Memang tidak ada apa – apa. Sudah Aku cape.” Ujar Bowo kesal. “Ya Sudah. Tapi kita lihat ke depan. Jika Aku mengendus aroma – aroma perselingkuhan lagi, Aku akan tarik semua harta dan fasilitas yang Aku berikan.” Ujar Bu Siti mengancam. Mendengar hal itu Bowo pun terkejut dan ketakutan Jika semua harta yang di berikan sang istri tua akan di ambil dan membuatnya itdak memiliki apa – apa. “Jangan lah Mah, Aku tidak bohong. Kalau mamah tidak percaya tanya saja sama Anak - anak resto!” Ujar Bowo merayu. “Apa hubungannya dengan anak resto, Kau saja jarang ada di sana.” Ujar Bu Siti. “Sudah – sudah aku tidak ada waktu untuk berdebat, jika mamah tidak percaya ya sudah.” Ujar Bowo ketus. “kita lihat saja nanti. Aku bisa lihat semua baik dari cctv, mutasi rekening, bahkan Aku juga punya mata – mata di resto.” Ujar Bu Siti. “Siapa Mah?” Tanya Bowo ketakutan. Bu Siti pergi meninggalkan Bowo. Wajah kesal jelas tergambar dari raut wajah Bowo. “Dasar wanita tua, merusak kesenangan ku saja.” Ujar Bowo. Bowo duduk dan mengambil nafas panjang. “Jika bukan karena harta, Aku juga tidak akan bertahan dengan wanita tua itu. Sudah tua, bawel, pencemburu pula. Pantas saja banayk lelaki yang tidak tahan dengannya.” Ujar Bowo. Namun Bowo teringat , dan ingin mencari tahu siapa orang yang menjadi mata – mata istrinya di resto. Bowo beranjak dari kursinya dan memutuskan untuk kembali ke area resto. Di perjalanan tidak hentinya Ia mengumpat, hingga sesampainya di resto, Bowo semakin meluapkan Amarahnya. “Kumpul kalian semua, ada hal penting yang ingin Aku sampaikan.” Keadaan resto yang sepi pengunjung membuat Bowo mempunyai alibi untuk mencari tahu mata – mata dari istri tuanya. “ Kenapa resto hari ke hari semakin sepi?” tanya Bowo dengan nada tinggi. “Ini tanggal tua Bos, biasanya orang – orang sedang irit – iritnya.” Jawab salah satu karyawan menyangkal. “Tidak masuk di akal. Kalian ini pintar sekali mencari alasan. Kalian harusnya Malu dan introspeksi diri.” Ujar Bowo. “Tapi memang itu keadaan saat ini Bos!” jawab salah satu karyawan sambil menundukan kepalanya. “Menurut data yang saya terima, banyak sekali komplain yang masuk. Baik dari pelayanan maupun dari menu makanan yang tidak standar.” Ujar Bowo. Semua karyawan terdiam. “Apa kalian sudah bosan kerja?” Tanya Bowo dengan nada lantang. “Tidak Bos!” Jawab semua karyawan serentak. “Lalu kenapa hal ini bisa terjadi?” Berteriak. “Maaf Bos.” Ujar salah satu karyawan. “Kalian ingin Aku maafkan?, ada dua syaratnya!”. Ujar Bowo. Semua karyawan terdiam. “Syarat pertama, Saya ingin semua karyawan fokus pada standar operasional yang sudah saya buat dan kejadian ini jangan sampai terulang kembali.” Ujar Bowo. “Yang ke dua, saya minta kejujuran dari kalian!...” Ujar Bowo sambil memandang seluruh karyawan. “Jujur Apa Bos?” tanya salah satu karyawan. “Siapa di sini yang menjadi mata – mata dari istri saya?” tanya Bowo dengan lantang. Semua karyawan terdiam, dan hal itu membuat Bowo marah dengan wajah yang memerah. “Baik. Jika tidak ada yang berani Jujur, Mulai dari detik ini kalian Saya pecat!...” Semua karyawan saling melihat satu sama lain, dengan wajah cemas akan kehilangan mata pencarian. “ Diki Bos!..” Ujar salah satu karyawan. “Tahu dari mana Kamu?” tanya Bowo dengan tatapan tajam. “Ya Bos bisa cek saja, Jika Ibu datang ke sini pasti orang yang pertama dia cari ya Diki.” Ujar salah satu karyawan menunduk. “Kamu yakin?, Tapi Diki itu memang manajer di sini. Jadi wajar Jika Istri saya mencarinya duluan.” Ujar Bowo. “Itu terserah Bos, mau percaya atau tidak. Hanya itu yang saya tahu. Jika Bos mau memecat semua karyawan, tinggal pecat saja Bos!” Ujar salah satu karyawan. Bowo terdiam. “Baik. Aku akan beri kalian satu kesempatan, dan Aku akan menyelidiki Tentang kebenaran dari pernyataanmu itu.” Ujar Bowo. Mendengar hal itu Bowo seketika langsung panik, rasa takut akan akal bulusnya terendus oleh sang istri tua. “Apa benar Anak Itu?, Jika Benar urusan akan semakin panjang, aku harus segera membuat perhitungan dengannya, sebelum semuanya terlambat.” Ujar Bowo kesal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD