Pagi pun menjelang. Dini sangat bersemangat untuk mengawali harinya, terutama hari itu dirinya akan melakukan wawancara kerja untuk yang ke sekian kalinya.
“Baju rapi, Dandanan natural, alat tulis siap. Mudah – mudahan hari ini adalah hari keberuntunganku.” Ujar Dini di depan kaca.
Terdengar ketukan pintu ke kamar Dini.
“Ia Bu?”
“Boleh Ibu masuk?”
“Boleh Bu, Pintunya tidak di kunci.”
Bu Ida masuk ke dalam kamar. “Kamu sudah siap Nak?”
“Doakan Dini ya Bu, Semoga Dini bisa mendapatkan pekerjaan Ini.”
“Pastinya. tanpa di minta Pun Ibu akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu.”
“Ya Sudah. Dini berangkat dulu ya Bu.”
“Tunggu, Ibu lupa. Semalam ada lagi yang mengirim paket.”
“Paket lagi?” heran.
“Ia Din, Ibu simpan di bawah meja ruang tamu.”
“Ya Sudah . nanti saja Dini Buka.”
“Nanti Kabari Ibu ya hasilnya, jangan bersedih jika gagal. Jangan jemawa ketika berhasil ya.”
Dini mengangguk dan tersenyum manis, Doa dari sang Ibu mengikuti setiap langkah Dini.
“Ini Rumah Wanita incaran Si Bos.” Ujar Diki dari kejauhan.
Dini keluar Rumah.
“Siapa Itu?, Cantik nya parah. Pantas si tua Itu ingin memilikinya.”
Diki tidak hentinya mengagumi, dan terus melakukan pengintaian hingga ke hotel.
“Bagus, semua berjalan sesuai rencana.” Ujar pak Endang tersenyum.
Di sisi lain Dini begitu takjub dengan bangunan hotel itu. “Menjadi suatu kebanggaan jika bisa bekerja di sini.”
Keanehan mulai Dini rasakan ketika di arahkan menuju suatu ruangan berupa kamat oleh karyawan hotel.
“Mba maaf, saya ingin bertemu dengan Bu Maya. Tapi kenapa malah di suruh masuk ke kamar hotel?”
“Nanti Bu Maya masuk ke kamar Ini Kak. Beliau tidak mau mengobrol di luar, takut terganggu.”
“Kenapa gak di Kantornya atau di ruangan lain. Saya merasa risi jika harus menunggu di sini.”
“Kebetulan ruangan kantor Bu Maya sedang di pakai rapat direksi, Beliau meminta saya untuk mengantar Kakak ke kamar ini.”
Dini melihat sekitar. “Lalu mana karyawan lain yang mau melamar?”
“Di sini melakukan wawancara secara terpisah Kak, saya juga Dulu seperti ini saat sesi wawancara.” Ujar salah satu karyawan berbohong.
Dengan mudah Dini percaya, Setelah karyawan Itu meninggalkannya sendiri. Dini mencoba berpikir positif dan menarik Kursi untuk duduk dan menenangkan diri.
“ Aku merasa gugup!” Menarik nafas panjang.
15 menit berlalu.
“Dengan saudara Dini?” Tanya Maya berjabat tangan.
Dini kagum melihat penampilan Maya, Baju rapi dengan blazer ,celana hitam senada dengan dasi yang di gunakan, di tambah sepatu high hils dengan warna gelap, menambah kesan wanita tangguh di mata Dini.
“Perkenalkan Saya Maya, saya manajer operasional di hotel ini.” Ujar Maya mempersilahkan Dini untuk kembali duduk.
“Dini.” Tersenyum.
Perbincangan mereka pun di mulai, Maya melakukan tugasnya secara baik. Pengalamannya mewawancarai karyawan baru membuat Dini tidak curiga sedikit pun dengan Siasat yang di siapkan oleh Maya dan Pak Endang.
“Jika Kamu bersedia bekerja di sini, Kamu akan mendapat fasilitas mencoba kamar ini semalam.”
“Saya bersedia Bu, hanya saja saya tidak perlu mencoba kamar Ini. Saya ada orang tua di rumah.”
“Ini wajib, jadi nanti Kamu bisa mengutarakan kesan - Kesan Kamu saat menginap di ruangan Ini kepada para tamu yang datang.”
Dini terdiam dan mengangguk bersedia mengikuti permintaan Maya.
“Baik kalau begitu, Untuk posisi yang akan Kamu isi nanti saya akan jelaskan lagi. Ini pengalaman bagus untuk Kamu bisa mencoba menginap di hotel ini. Sebagai karyawan kami selalu memberikan yang terbaik untuk seluruh staff di hotel ini.” Ujar Maya.
“Apa boleh saya pulang dan mengambil beberapa potong pakaian?”
“Tidak usah, nanti Kamu ganti baju seragam saja.” Maya tersenyum.
Dini pun semringah bahagia.
Perlahan pintu di Kunci dan Maya mengabari Pak Endang jika semuanya telah selesai sesuai yang di minta. “Segera siapkan uang yang Aku minta, semua tugasku sudah selesai.” Ujar Maya di dalam sambungan telepon.
“Sabar, Aku kabari dulu si Bos!..”
“Ingat jangan main – main denganku, apalagi masalah Uang!”.
“Kamu ini seperti bukan teman lama saja.”
“Bisnis adalah bisnis, kawan hanya kawan tidak berarti apa -apa!..”
“Ok. Nanti Aku kabari.” Ujar Pak Endang menutup telepon.
Saat itu juga Pak Endang meminta Bowo bosnya untuk bertemu di hotel itu. “Bos, semuanya sudah beres, Wanita incaran Bos Sudah ada di hotel dan menunggu Bos datang.” Tulis Pak Endang dalam sebuah pesan.
Mendengar kabar Itu Bowo tanpa berpikir panjang langsung menemui Pak Endang, dengan jarak yang cukup dekat antara rumah dan hotel itu, membuat Bowo begitu mudah sampai di hotel Itu.
Bowo terkejut melihat Sosok Diki, yang seperti tengah mengamati.
Dengan nada sinis, Bowo menyapa Diki. “Kamu di sini Juga Dik?”
“Ia Bos, Saya mengikuti wanita itu sampai Ke sini.”
Bowo melihat Diki dengan pandangan tajam.
“Kamu kenapa tidak di resto?”
“Kan Ini perintah Bos!”
“Ini memang perintah, Tapi Kewajiban Utama Kamu ya tetap resto.”
“Jangan Buat saya Bingung Bos.”
“Sudah Cepat kembali ke resto!...” membentak.
Diki berdiri dari duduknya dan pamit.
“Oh Ia Dik satu lagi. Ada salam dari istri saya.” Ujar Bowo ketus.
“Maksudnya Bos?, saya semakin tidak paham.” mengerutkan dahi.
“Sudah pulang sana ke resto!”
Penasaran dan kebingungan itulah Yang Diki rasakan melihat Bosnya yang bersikap aneh kepada dirinya, langkahnya pun terus melaju hingga ke luar hotel.
“Kenapa Bos tumben sekali bersikap seperti itu?, Biasanya Bos sangat menyukai Si Diki dan selalu memujinya?”
“Sudah lah itu tidak penting bagimu, lagi pula Panjang ceritanya. Ayo antar Aku ke kamar wanita Itu!”
“ Ok Bos, Ayo saya antar.”
Bowo begitu terlihat tidak sabar, terlihat dari gerak langkah Kaki nya yang cukup cepat di usianya yang sudah Tua.
“Ini Bos.” Tunjuk Pak Endang tertulis nomor 230.
“Ok tinggalkan Aku.”
“Tapi Bos, Ada yang harus saya bicarakan dulu.”
“Nanti saja.” Bowo membuka pintu.
Terlihat Dini yang tertidur kelelahan, wajah cantiknya bercampur dengan riasan sederhana membuat Bowo semakin b*******h.
“Belum pernah Aku melihat wanita seperti ini.”
Tangan keriput Bowo , mulai mengelus perlahan pipi Merah Dini, berlanjut menuju rambut hitam lurus yang di ikat.
“Siapa Kamu?” Dini terbangun dan langsung berdiri dari duduknya.
“Kamu lupa?”
“Laki – laki hidung belang, mau apa Kamu di sini?”
“Aku yang memintamu untuk di kamar ini.”
“Maksudmu, Aku di jebak?”
Bowo mengangguk sambil tersenyum
Seketika Dini berlari ke arah pintu.
“Sudah!... Aku tidak meminta banyak dari mu, hanya cukup Kamu mau menjadi istri simpanan Ku saja.”
“Aku tidak sudi!...”
“Jangan terlalu keras pada dirimu, Kamu sudah menerima Paket – paket yang Aku berikan?”
“Ternyata itu dari Pria Tua sepertimu.”
Dini Melemparkan Uang yang ada di dalam paket itu.
“Itu milikmu ambil kembali.”
“Jika Kau perlu ambilah, Jika Kau mau menjadi simpanan Ku, jangankan Uang segitu, satu koperpun aku berikan setiap bulannya.”
Dini menangis.
“Menangis lah, tidak akan ada orang yang mendengarmu.”
Bowo perlahan mendekati Dini yang sudah tersudut di belakang pintu.
“Layanan Kamar!....” Sahut Pria dari luar kamar.
“Saya tidak pesan.” Jawab Bowo.
“Tadi ada laporan jika Kamar ini ACnya rusak.”
“Betulkan lain kali saja.”
“Tidak Pak, Demi kenyamanan Bapak, dan sudah jadi kewajiban dari pihak hotel untuk memberikan fasilitas yang baik.”
“Kurang ajar. Mengganggu saja acaraku.”
Bowo membuka Pintu.
Seketika Bowo di dorong sampai tersungkur, Diki yang berpura – pura menjadi staf hotel itu langsung meminta Dini untuk ikut dengannya.
“Jangan sentuh!” Dini menangis.
“Ayo ikut, kita pulang.”
“Jangan sentuh!”.
“Ok. Aku tidak akan menyentuhmu. Tapi Ayo cepat!”.
Bowo dengan tulang – tulang yang sudah tua berusaha bangun dari jatuhnya. “Si Diki memang benar – benar anak tidak tahu di untung.”
Dini dan Diki pun berlari keluar dari hotel , Dini yang masih menangis terus berlari sesekali Diki mencoba memegang tangan Dini, namun semakin sering Diki mencoba semakin sering pula Dini menghindar.