Rasa bahagia mulai terpancar di mata Dini, semua terlihat baik – baik saja. Dan berjalan begitu baik.
Tepat saat itu hari senin, tepat di mana Dini untuk pertama kalinya keluar rumah setelah kejadian itu.
Senang bercampur gugup, terpancar dari mata Dini.
“ Apa Aku bisa menjalani pekerjaan seperti ini?” Tanya Dini kepada dirinya sendiri.
Dini terus menunggu hingga akhirnya , mobil berwarna merah datang dan berhenti tepat di rumah Dini.
“ Din Ayo berangkat.” Sahut Yuni dari dalam mobil.
“ Itu seperti suara Yuni.” Ujar Dini yang masih di dalam kamar.
Dini pun bergegas, dengan riasan sederhana namun tetap anggun. Dini pun mulai mengunci pintu dan terdiam sejenak, sembari menarik nafas dalam.
“ Semoga hari ini menjadi awal perubahan bagiku.” Ujar Dini melangkah dan melambaikan tangan kepada Yuni.
“ Sebentar Yun.” Ujar Dini sambil melambaikan tangan.
Yuni pun kagum dengan perubahan fisik sahabatnya, pujian dan rasa bangga terpancar dari wajah Yuni.
“ Cantik juga temanku yang satu ini.” Ujar Yuni menggelengkan kepala sembari tersenyum.
Dini tersenyum. Dan membuka pintu mobil dan duduk.
“ Kamu sudah siap?, nanti Kita akan bertemu dengan banyak orang jadi siapkan dirimu, dan ingat jangan mempelihatkan kekuranganmu. Kamu paham kan dengan maksudku?.” Ujar Yuni tersenyum.
“ Ia Yun. Aku akan mencobanya.” Ujar Dini.
“ Ayo kita berangkat.” Ujar Yuni.
Dini terdiam, dan hanya membalas dengan senyuman. perjalanan mereka pun di mulai.
“ Kamu sudah sarapan Din?” Tanya Yuni.
Dini mengangguk.
“ Kenapa Din, Kamu sakit.?” Tanya Yuni.
“ engga... Aku hanya...” Ujar Dini gugup.
“ kenapa?” Tanya Yuni.
“ entahlah... Aku juga bingung dengan perasaan yang saat ini ku alami.” Ujar Dini.
“ Tenang saja, Kamu memang tidak berubah sedari dulu. Hanya tambah cantik. Tapi tetap lebih cantik Aku yah.” Ujar Yuni tersenyum.
Dini hanya membalas candaan yuni dengan senyum kecil, terlihat wajahnya yang masih tegang dan tidak bisa ia sembunyikan.
Hingga akhirnya mereka pun sampai, gedung 2 lantai dengan ornamen yang cukup unik, terlihat begitu banyak orang – orang yang sedang berkumpul di halaman, mereka menggunakan pakaian rapi dengan warna senada hitam dan putih.
“ Ada apa ini Yun?” Tanya Dini kebingungan.
“ Ini semua yang melamar, Aku sudah menjadwalkan wawancara hari ini, dan nanti ada kemungkinan semakin siang, akan semakin ramai.” Ujar Yuni.
Dini kembali terdiam dan teringat masa kelamnya saat mencoba melamar pekerjaan.
“ Din Ayo turun.” Ujar Yuni.
“ Ia ...” Ujar Dini gugup.
Yuni hanya tersenyum, mereka pun masuk ke dalam kantor sambil sesekali melemparkan senyuman kepada semua orang yang telah lama menunggu.
Yuni menunjukan satu persatu ruangan. Dini begitu antusias dan terlihat takjub dengan ruangan yang ada di dalam gedung itu,namun baru mereka berdua yang ada di dalam kantor itu, sedangkan Yogi masih dalam perjalanan.
“ Nah, Din. Ini ruangan Kamu.” Tunjuk Yuni.
“ Aku punya ruangan sendiri?” Tanya Dini.
“ Ia, Biar Kamu bisa fokus pada pekerjaan Kamu.” Ujar Yuni.
“ Tapi nanti Kamu ajari Aku ya “ Ujar Dini.
“ Tentu, Ya sudah kamu bereskan ruangan ini. Buat ruangan ini nyaman untukmu. Aku akan wawancara dulu calon staff.” Ujar Yuni.
Di saat bersamaan pula, Yogi datang dengan tergesa – gesa.
“ maaf di jalan tadi banyak hambatan.” Ujar Yogi.
“ Aku kira bukan di jalannya. Mungkin di kamarmu yang begitu nyaman. Jadi kamu pun semakin lengket dengan tempat tidur.” Ujar Yuni.
Yogi tersenyum.
“ Ayo cepat, Kita harus segera mulai wawancara.” Ujar Yuni.
“ Ia, Ia... Dini sudah datang?” tanya Yogi.
“ Sudah.” Ujar Yuni.
Yogi membuka pintu, dan memberikan salam kepada Dini.
“ Apa kabar Din.” Ujar Yogi.
“ Baik.” Jawab Dini tanpa melihat Yogi.
Yogi pun hanya terdiam dan menutup kembali pintu.
“ Bodoh Kamu Gi. Udah tahu dia itu ketus, jutek. Masih juga di tanya.” Ujar Yogi meninggalkan Ruangan Dini dan bergegas menyusul Yuni.
Waktu terus berjalan, satu persatu tugas yang sudah di rancang dan di susun bejalan dengan baik, hingga akhirnya tepat tengah hari waktu untuk beristirahat dan makan siang.
“ Gi, Ayo kita liat Dini. Sekalian kita makan siang.” Ujar Yuni
“ Ayo.” Ujar Yogi.
Dan betapa terkejutnya Yuni dan Yogi meliahat Dini.
“ Din. Kamu sedang apa?” Tanya Yuni.
“ Membereskan ruangan.” Ujar Dini.
“ Ia cukup ruangan Kamu saja Din, jangan sama ruangan Aku dan Yogi juga.” Ujar Yuni.
“ gak papa. Aku sudah biasa “ Ujar Dini.
“ lain kali jangan. Besok juga sudah ada OB. Kamu fokus saja sama pekerjaan Kamu.” Ujar Yuni tersenyum.
Yogi pun berusaha untuk dekat dengan Dini. Gugup dan canggung Yogi rasakan, tapi Yogi tetap berusaha.
“ Din. Ayo kita makan Siang.” Ajak Yogi.
Dini tidak merespon, seakan tidak ada yang megajaknya bicara. Dini pun keluar dari ruangan itu dan menghampiri Yuni.
“ Yun. Aku lapar, Kita cari jajanan.” Ujar Dini.
“ Ayo. Aku juga sama.” Ujar Yuni tersenyum.
Yogi terdiam.
“ Aku merasa konyol. Seakan akan Aku tidak ada di depannya.” Ujar Yogi tersenyum.
Yogi perlahan mulai tahu dan ingat tentang cerita Yuni yang membahas tentang Dini dengan segala perilaku dan kejadian buruk yang dia alami.
“ Jadi benar apa yang di katakan Yuni. Sayang wanita secantik Dia. Harus mengalami masa – masa sulit.” Ujar Yogi.
Yogi duduk beristirahat.
“ Aku gak bisa membayangkan, kalau Aku jadi suami Dia. Memang Aku akan puas dengan istri yang cantik. Tapi jika sikapnya seperti itu akan butuh banyak usaha untuk membuatnya tenang.” Ujar Yogi mengkhayal.
“ kenapa pikiranku bisa sampai ke sana, Bahaya ini.” Ujar Yogi.
Di sisi lain, Diki kini dalam bahaya, anacaman Bowo semakin nyata dan membuat diki sedikit tetekan dengan keadaan kala itu.dan begitu juga Bu Suci yang semakin keras melarang Diki untuk kembali.
“ Dik. Kamu betul akan kembali dan menemui Bosmu itu?” tanya Bu Suci cemas.
“ bersembunyi di sini pun bukan sebuah pilihan Bu. Ibu jangan khawatir Diki akan baik – baik saja.” Ujar Diki dengan wajah tertekan.
“ Jika kamu akan baik – baik saja. Untuk apa kamu pulang dengan badan penuh lebam. Coba pikir dengan kepala jernih.” Ujar Bu Suci.
“ Lalu Diki harus bagaimana Bu?” Tanya Diki.
“ Coba telepon lagi Bosmu. Bilang jika ingin bicara ajak di rumah ini.” Ujar Bu Suci.
Diki hanya terdiam mendengarkan saran dari Bu Suci, posisi sulit membuatnya harus tepat dalam menentukan pilihan, agar Diki tidak salah dalam mengambil keputusan. Perlahan Diki mulai mengikuti nasihat Bu Suci.
Diki pun bergegas mengambil telepon genggamnya dan mencoba menghubungi Bowo.
“Halo Bos.” Ujar Diki.
“ punya keberanian juga Kamu untuk menelepon.” Ujar Bowo.
“ Bos, Kita bicara di rumahku saja.” Ujar Diki.
“ Berani juga Kamu memerintahku untuk datang ke rumahmu, emmangnya kamu ini siapa?.” Ujar Bowo.
“ Ini pun permintaan Ibu saya.” Ujar Diki.
“ Memangnya Aku ini apa?, lancang Kamu menyuruh saya seperti itu.” Ujar Bowo.
“ Memangnya Bos mau apa lagi dari saya. Saya sudah di pecat. Badan saya juga sudah penuh dengan pukulan. Bos masih belum puas membuat saya terluka.” Ujar Diki.
“ Aku bukan ingin memukulimu lagi.” Ujar Bowo.
“ Lalu apa Bos.” Tanya Diki gugup.
“ Aku akan melepaskan Kamu, tapi ada satu syarat.” Ujar Bowo.
“ Syarat apa lagi Bos, saya sudah tidak menjadi anak buahmu lagi. Jadi tolong jangan libatkan saya.” Ujar Diki.
“ Baik, jika kamu tidak mau. Kamu tahu risiko berurusan denganKu?” tanya Bowo.
Diki terdiam.
“ Jawab, mau atau tidak?” Tanya Bowo.
“ Tapi saya juga ada permintaan pada Bos?” Ujar Diki.
“ Tidak ada waktu untuk berdebat dan negosiasi, pilihanmu hanya Dua. Mau atau tidak?” Tanya Bowo.
“ Baik Saya mau, tapi untuk kali ini apa yang Bos inginkan?” Tanya Diki.
“ Aku hanya ingin Kau mengaku, apa benar Kau adalah mata – mata istriku?” Tanya Bowo tegas.
“ Saya masih tidak paham Bos, Bos kan sudah tahu saya sejak lama.” Ujar Diki.
“ Justru Kau orang lama, Jadi kau bisa menjadi mata – mata istriku.” Ujar Bowo.
“ Saya tidak akan mengakui apa yang tidak saya perbuat, saya pun bukan orang gila.” Ujar Diki.
“ Baik, Buktikan jika Kamu bukan mata – mata istriku.” Ujar Bowo.
“ Bagaimana caranya?” Tanya Diki.
“ Caranya gampang, sekarang Kamu datang ke sini, Aku ankan mempertemukan Kamu dengan istriku. Jika perilakumu dan istriku berubah, berarti benar kalian memiliki peran dalam memata – mataiku.” Ujar Bowo.
Diki terdiam, panggilan telepon pun terputus. Diki merasa dirinya di jebak. Buah simalakama menjadi hal yang Diki rasakan saat itu. Berurusan dengan orang seperti Bowo membuat Diki tertekan , namun Diki penasaran dengan orang yang telah memfitnahnya, dan memutuskan untuk mengikuti keinginan Bowo.