Kejenuhan mulai di rasakan Dini, namun rasa takut dan trauma berlebih terutama kepada seorang Pria, membuat Dini enggan untuk bersosialisasi.
Jam 8 pagi, seperti hari – hari sebelumnya, Dini telah mempersiapkan segala sesuatu untuk keperluan Bu Ida, namun tidak seperti biasanya Bu Ida belum keluar dari kamarnya.
“ Ke mana Ibu, biasanya Ibu Sudah siap.” Ujar Dini.
Dini mengetuk pintu kamar Bu Ida.
“ Bu, Ayo kita sarapan.” Ujar Dini.
“ Nanti, Kepala Ibu pusing.” Ujar Bu Ida lemas.
Mendengar hal Itu Dini langsung masuk ke kamar dan melihat kondisi Bu Ida.
“ Ya ampun badan Ibu panas sekali.” Ujar Dini.
Dan saat itu juga telepon Bu Ida berbunyi.
“ Bu Asih?,” Tanya Dini.
“ Itu dari majikan Ibu.” Ujar Bu Ida.
Dini menerima telepon itu.
“ Kamu ini di mana , kebiasaan selalu datang siang. Cepat datang ke sini jika tidak mau ku pecat.” Ujar Bowo.
“ Ibu saya sedang sakit pak.” Ujar Dini.
“ Tunggu, Suara ini sepertinya Aku kenal.” Ujar Bowo.
“ Maksud Bapak?” Tanya Dini.
“ Sudahlah, itu tidak penting. Tapi mendengar dari suaramu sepertinya Kamu wanita yang cantik, Aku penasaran.” Ujar Bowo.
Dini menutup panggilan suara itu.
“ Kenapa suaranya laki – laki Bu?” Tanya Dini.
“ Mungkin suaminya Bu Asih.” Ujar Bu Ida.
“ Namanya siapa Bu?” Tanya Dini.
“ Ibu tidak tahu, Dia jarang ada di rumah. Sekalinya ada di rumah Ibu sering jadi bahan omelan.” Ujar Bu Ida.
“ Ya sudah, Ibu istirahat saja ya.” Ujar Dini.
Bu Ida mengangguk dan menarik selimut lebih tinggi hingga menutupi wajahnya.
“ Sepertinya Aku kenal suara Pria tadi, Suara berat dan khas orang tua.” Ujar Dini.
“ Apa mungkin Ibu bekerja di rumah Bowo?” tanya Dini penasaran.
“ Ah sudah lah.. Sebaiknya Aku merawat ibu dulu. Dan mulai berfikir bagaimana caranya mendapatkan pemasukan tambahan. Kasihan Ibu.” Ujar Dini.
Hingga akhirnya Dini memutuskan untuk meminta bantuan teman sekolahnya dulu, yang bernama Yuni.
“ Bagaimana kabar Yuni sekarang Ya?” tanya Dini dalam hati.
Sahabatnya yang sudah sangat lama sekali tidak bertemu, terutama sejak Yuni pindah sekolah dan tinggal jauh dari rumah Dini.
Sejak kecil Yuni selalu menjadikan Dini sebagai saudara, Dini yang sedari kecil selalu menjadi olok – olok teman sebayanya, selalu di bela dan di jaga oleh Yuni, sebagai sahabat sekaligus orang yang selalu paham dan mengerti tentang kemauan Dini dan begitu sebaliknya.
Namun Yuni harus berpisah dengan Dini pada saat Mereka lulus Sma, mungkin sekitar setengah tahun mereka tidak bersua, bahkan bertegur sapa lewat telepon pun menjadi hal yang sangat mahal untuk Dini.
“ Apa Aku coba lagi, untuk menghubungi Yuni.” Tanya Dini kepada dirinya.
Dini mencari kontak Yuni, hatinya ragu. Namun rindu akan sahabat kecil, membuatnya berani mencoba menghubungi Yuni.
“ Yun, Ayo angkat. Aku perlu teman untuk bercerita.” Ujar Dini sambil menghubungi Yuni Via telepon.
“ Halo. Ini siapa?” Tanya Yuni.
“ Yuni...” Ujar Dini bahagia.
Setelah sekian lama Dini mencoba untuk menghubungi Yuni, namun hasilnya selalu nihil, namun kali ini berbeda dan membaut Dini sangat bahagia.
“ halo ?, Ini siapa?” Tanya Yuni.
“ ini Aku Yun. Dini.” Ujar Dini.
“ Dini?” Tanya Yuni.
“ Ia Yun, ini Aku.” Ujar Dini menangis rindu.
“ Dini, Maafkan Aku. Aku tidak menyimpan nomor ini. Apa kabar Kamu Din?” Tanya Yuni.
“ Aku sedang tidak baik sekarang, Aku butuh teman untuk berbagi pikiran dengan ku.” Ujar Dini.
“ Kamu kenapa lagi Din?” Tanya Yuni.
Dini menceritakan dengan rinci setiap kejadian yang kemarin sempat ia alami, dan hal itu membuat Yuni merasa Prihatin terhadap Dini.
“ Sabar Din. Kamu harus kuat. Jangan biarkan dendam menghantuimu terus seperti ini. Buka hatimu.” Ujar Yuni.
“ Aku tidak dendam. Aku hanya marah. Untuk saat ini belum ada yang mampu mengetuk pintu hatiku, dan di mataku semua laki – laki masih tetap sama dan hanya ingin mengambil keuntungan dari ku.” Ujar Dini.
“ Kamu memang belum berubah, sulit sekali untuk memberi masukan terhadapmu. Mungkin hanya Aku saja yang kuat dan bisa bersahabat dengan dirimu.” Ujar Yuni.
“ Kenapa Kamu bilang seperti itu?” Tanya Dini.
“ Itu Fakta Din, Kamu juga harus berubah. Oh ia nanti hari minggu aku akan mampir bersama seseorang, Kamu ada di rumah Kan?” Tanya Yuni.
“ Siapa?, memangnya Kamu sudah ada di Indonesia lagi?” Tanya Dini.
“ mungkin lusa Aku sudah sampai, dan Aku juga akan menetap lagi di sana.” Ujar Yuni.
“ Kalau begitu bagus.” Ujar Dini bahagia.
“ ia Din, Aku juga senang bisa balik lagi ke sana.” Ujar Yuni.
“ Memangnya Kamu sudah selesai sekolah di sana?” Tanya Dini.
Yuni terdiam.
“ Yun?, Kamu masih di sanakan?” Tanya Dini.
“ ia Din, Aku masih di sini. Aku pun sebenarnya sedang tidak baik – baik saja di sini.” Ujar Yuni.
“ ada apa Yun, Sudah lama kita tidak seperti ini.” Ujar Dini.
“ Panjang ceritanya Din. Nanti Aku akan menceritakan semuanya ketika di rumahmu.” Ujar Yuni.
“ Ya Sudah, Tapi Aku penasaran . Kamu datang dengan siapa?, Apa pacarmu?” tanya Dini.
“ bukan, Dia orang baik. Dan mungkin Kamu juga mengenalnya.” Ujar Yuni.
“ Laki – laki?” Tanya Dini.
“ Pokoknya nanti Kamu akan terkejut.” Ujar Yuni.
Tiba – tiba obrolan mereka terputus, biaya yang mahal , cukup menguras dompet untuk sambungan ke luar negeri.
“ Yuni, Aku masih kangen. Aku tunggu 3 hari kedepan.” Ujar Dini tersenyum.
Wajah Dini kembali semringah, hal itu pun di tunjukan di depan Ibunya.
“ Sudah lama sekali Ibu tidak melihat senyumanmu, semenjak kejadian itu.” Ujar Bu Ida tersenyum.
Dini duduk dan memberikan teh manis hangat untuk Bu Ida.
“ Dini sedang senang Bu, Ibu masih ingat Yuni?, sahabat Dini dari SD, hingga SMA.” Ujar Dini.
“ Tentu Ibu ingat, di mana Dia sekarang?” Tanya Bu Ida.
Dini menceritakan rasa bahagianya itu kepada Bu Ida, Bu Ida pun begitu senang melihat anaknya sedikit ceria dan mulai melupakan kejadian kelam yang hampir membuat Dini hancur secara fisik dan psikis.
Hari demi hari berlalu. Tepat jam 10 pagi di hari minggu, terdengar suara ketukan pintu tanda orang ingin bertamu.
“ Siapa?” Tanya Dini.
Bu Ida yang telah sembuh dan kini sudah kembali beraktifitas dan bekerja di rumah Bowo, membuat Dini hanya tinggal sendirian di rumah.
Ketukan pintu semakin intens, Dini pun bergegas membuka, dan begitu bahagianya Dini melihat Yuni yang kini sangat jauh berbeda.
“ ini Yuni?” Tanya Dini.
Yuni mengangguk.
“ Kamu kini lebih cantik.” Ujar Dini tersenyum.
Yuni yang datang dengan seorang laki – laki membuat Dini seketika berubah sikap dengan pandangan dingin kepada Pria itu.
“ Oh Ia Din, Kamu pasti ingat dengan Yogi.” Ujar Yuni.
“ Yogi mana?” tanya Dini.
“ Masa kamu lupa, Teman kita saat SMA dulu.” Ujar Yuni.
“ Entah, Aku lupa. Bahkan aku tidak tahu ada temanku yang namanya Yogi.” Ujar Dini.
“ Sudah jangan seperti itu. Dari dulu kamu memang tidak atau belum berubah.” Ujar Yuni.
“ Kenapa kita jadi ngobrol di depan pintu. Ayo kita masuk.” Ujar Dini.
Obrolan Yuni dan Dini begitu seru, hingga mereka lupa di samping mereka ada Yogi.
Namun Yogi tahu jika wanita sudah mengobrol, mereka akan lupa dan menjadi punya dunia sendiri, Yogi pun berkeliling Rumah Dini yang cukup luas, sambil melihat – lihat foto yang di pajang di dinding ketika Dini masih anak ingusan.
“ Ini siapa?, Ini adik Kamu Din?” Tanya Yogi.
Seketika Yuni dan Dini berhenti mengobrol dan menatap ke arah Yogi.
“ Itu Dini.” Ujar Yuni.
Yogi hanya tersenyum.
“ Aku mau melihat – lihat dulu keluar. Kalian lanjutkan saja bincang – bincangnya.” Ujar Yogi keluar dan duduk di pelataran rumah Dini.
Yuni pun mengangguk.
Pembicaraan mereka berdua pun menjadi serius.
“ oh Ia Yun, Kamu kemarin mau bicara tentang apa?” Tanya Dini.
Yuni seketika menundukkan wajahnya.
“ Keluargaku Din. Ibu ternyata telah menikah dengan pria lain. Dan meninggalkan Ayah.” Ujar Yuni.
“ Kapan kejadian itu?” Tanya Dini.
“ Sekitar 6 bulan yang lalu. Entah apa yang saat itu ibuku cari. Padahal Ayah sedang dalam puncak karier. Semua barang atau apa pun yang Ibuku inginkan pasti mampu Ayah kasih. Tapi Aku tidak habis pikir dengan Sikap ibuku.” Ujar Yuni.
Dini terdiam dan hanya mendengarkan.
“ Aku dan Ayah memutuskan kembali ke sini, Ayah sangat marah saat itu. Terlihat dari matanya yang merah dengan tangan terus mengepal. Namun ketika melihat ku Ayah seketika langsung luluh.” Ujar Yuni.
“ Ayahku bisa menjadi contoh untukmu. Bahwa semua laki – laki di dunia ini tidak semua sejahat yang Kamu bayangkan.” Ujar Yuni.
“ Jangan bawa – bawa prinsipku Yun. Ayahmu seperti itu berarti Kamu orang yang sangat beruntung.” Ujar Dini.
“ aku juga mengajak Yogi ke sini, untuk membuat Kamu terbiasa dengannya.” Ujar Yuni.
“ Maksudmu?” Tanya Dini.
“ Aku ingin Kamu tidak seperti ini, Aku tahu apa yang Kamu rasakan. Di tambah kejadian yang kemarin kamu ceritakan.” Ujar Yuni.
“ Aku tahu, mungkin Aku salah. Tapi tolong jangan rusak Prinsipku.” Ujar Dini.
“ itu kembali lagi padamu. Aku juga datang ke sini ingin mengajakmu untuk bekerja sama. Antara aku, Kamu dan juga Yogi.” Ujar Yuni.
“ Kerja sama Apa?” Tanya Dini.
“ Kamu ini cantik, anggun. Ya meskipun keras kepala.” Ujar Yuni.
“ maksudmu gimana, langsung pada intinya saja.” Ujar Dini.
“ Aku memiliki sedikit modal, Aku berencana membuat sebuah brand pakaian, Yogi sebagai orang yang merancang pakaian dan Kamu sebagai model sekaligus marketing. Bagaimana?” Tanya Yuni.
“ Tapi Aku belum pengalaman.” Ujar Dini.
“ Kita ini bukan perusahaan besar, Kita ini sedang merintis. Jadi kita harus sama – sama belajar. Dan kamu harus membiasakan Diri menjadi pusat perhatian dan juga membiasakan diri berkomunikasi dengan Yogi dan Pria yang lainnya.” Ujar Yuni.
Dini terdiam sejenak.
“ Akan Aku coba.” Ujar Dini.
Perbincangan dan setiap canda tawa , mengenang masa kecil. Membuat setiap inci masalah yang sedang mereka alami perlahan terhapuskan dan kini mulai merangkai jalan baru untuk mereka lalui bersama sebagai seorang sahabat.