Bab 54: Cincin Lamaran

1792 Words
“Barra sepertinya tidak bisa mengerti bahasa manusia,” ujar Khafi saat melihat Barra memeluk Zaina. Dia hampir menghampiri mereka jika Arisha tidak menahan. “Mas mau buat keributan? Sudahlah, sebaiknya kita pulang.” “Kenapa kamu jadi aneh? Biasanya kamu tidak suka melihat hal seperti itu.” “Mas mau berdebat di sini?” tanya Arisha sambil melirik Hilya. Sang nenek yang mengerti, segera maju untuk bertindak. “Sudahlah, Khafi. Kita pulang saja.” Mendapatkan lirikan dari sang istri, Khafi memilih untuk mengalah. Bagaimana pun, dia sudah merestui Barra. Hanya saja, dia tidak menyangka kalau sahabatnya itu bisa jatuh hati pada Zaina. Dengan segudang kekurangan dalam diri Zaina, seharusnya Barra memilih gadis lain. Kenapa harus Zaina? Cinta memang sulit untuk dipahami. Khafi mengerti jika Barra sangat menyayangi Zaina sejak dulu. Yang tidak dia mengerti, bagaimana bisa pria dewasa yang nyaris memiliki segalanya seperti Barra menyerahkan cinta pada gadis belia. Bukan Barra yang dia ragukan, melainkan Zaina. Dengan sikap kekanakannya, Zaina pasti akan menimbulkan banyak masalah untuk Barra. Khafi sudah melihat tingkah Zaina selama dua puluh tahun ini. Barra juga pasti sangat memahami karena sebagian kesalahan Zaina dibereskan olehnya. Lalu, kenapa Barra bersedia melanjutkan kerepotan itu? Menjadi satu-satunya gadis di antara tiga pria membuat Zaina manja. Dia tidak bisa mengurus pekerjaan rumah. Bahkan hal kecil seperti menyapu atau mencuci piring. Kalau dia melakukannya, pasti ada saja yang tidak beres. Entah siapa yang pantas disalahkan dalam perkara ini. Semua orang merasa kalau Zaina perlu dijaga dengan ketat. Mengingat dulu dia yang paling terpukul dengan kepergian kedua orang tuanya. Dia sempat mengalami mimpi buruk selama bertahun-tahun. Kalau bukan karena ketelatenan Barra, Zaina tidak akan tumbuh sebaik sekarang. “Baiklah. Kita pulang,” ujar Khafi mengalah. Dia menoleh pada Dzaky. “Antar Kamila pulang dengan selamat. Jangan berpikir untuk melakukan hal aneh padanya.” “Baik, Kak.” Setelah berpamitan dengan para tetua, Dzaky dan Kamila berlalu. Sudah ada sopir yang akan menunggu Zaina pulang. Jadi, mereka tidak akan mengganggu waktu Zaina dan Barra. “Kenapa Kak Barra selalu bersikap seenaknya,” celetuk Kamila. Dzaky melirik gadis itu, lalu menghela napas. “Kamu nyalahin Kak Barra?” tanya Dzaky. Dia menghentikan langkah. Kamila mengerjap. Gadis itu ikut berhenti di samping Dzaky. “Ya, iyalah. Kenapa dia ngasih harapan sama Zaina kalau ....” Kamila menutup mulut begitu menyadari kalau dia akan membuka rahasia terbesar seorang Zaina. Dzaky menyilangkan tangan di d**a. Dia menatap lurus Kamila yang sibuk merapikan rambut panjangnya yang sama sekali tidak berantakan. Dalam hati, dia tertawa. Sangat sulit membantu Barra menyembunyikan kenyataan. Mulutnya sudah gatal ingin mengatakan kepada Kamila mengenai perasaan Barra. Sejak dulu, Dzaky paling sulit mengendalikan diri. Namun, dia juga bukan orang yang akan membocorkan rahasia seperti ini. Karena itu, dia berusaha bersikap santai meski Kamila hampir mengatakan kalau sang adik menyukai Barra. Untung saja, Kamila berhenti tepat waktu. Jadi, dia tidak perlu memikirkan cara untuk tetap bersembunyi. “Sudahlah. Zaina memang kekanakan. Kak Barra, kan, cuma pergi sebentar. Lagian, dia itu harus terbiasa mandiri. Dia sudah dua puluh tahun, tapi masih ngerengek sama Kak Barra. Kayak anak kecil saja.” “Apa Kakak benaran kakak kandung Zaina?” “Kenapa? Memang kata-kataku salah?” Dzaky mencondongkan tubuh. “Kamu juga harus belajar jadi lebih dewasa. Coba pahami novel-novel yang kamu baca. Jangan asal baca. Kamu lebih parah dari pada Zaina.” “Maksud Kakak apa, ya? Kok, kata-katanya enggak enak banget didengar. Aku parah dalam hal apa? Kakak bahkan enggak kenal aku.” “Enggak perlu waktu lama buat tahu gimana kepribadian kamu. Sekilas lihat juga bisa dibaca. Aku kasih tahu, ya. Instingku ini sangat tajam,” kata Dzaky. Dia menunjuk kepalanya sendiri dengan telunjuk. Membuat Kamila mencibir. “Apa keluarga kalian memang punya tingkat kepercayaan diri yang tinggi?” “Bagus, kan? Kami terlahir dengan sangat percaya diri.” Kalimat yang diucapkan oleh Dzaky membuat Kamila berdecap. Dia tidak bisa menilai Dzaky orang yang seperti apa. Yang dia tahu, pria itu suka sekali mencari masalah. Tidak heran kalau dulu dia pernah berdebat dengan sang kakak. Tampaknya, Dzaky memang keras kepala. Dia tidak mau menuruti perkataan orang lain. Jelas sekali kalau Dzaky juga sangat percaya pada kemampuan dirinya. Dari yang Kamila dengar, pria itu sangat diandalkan. Bukan hanya seputar jurusannya, bahkan juga seantero kampus. Setiap ada acara yang membutuhkan goresan tangannya, dia akan selalu didatangi untuk dimintai pertolongan. Setidaknya Dzaky memiliki sisi baik dalam hidupnya. Kamila menggeleng berkali-kali. Akhir-akhir ini, dia selalu mengaitkan apa pun dengan sosok Dzaky. Semua karena kemunculan pria itu di hampir setiap kesempatan. Jadi, dia tidak bisa menyingkirkan makhluk jail yang suka mengganggunya. “Jangan tiba-tiba enggak jelas gitu, ya,” ucap Dzaky melihat tingkah aneh Kamila. “Aku mau nyingkirin setan yang terus ada di sekelilingku,” balas Kamila ketus. “Eh, maksud kamu apa, ya? Kamu anggap aku setan?” “Aku enggak bilang gitu. Tapi, kalau Kakak ngerasa, wajar, sih.” “Kok, omongan kamu makin enggak enak didengar?” Ekspresi Dzaky justru membuat Kamila terkikik. Merasa ditertawakan, Dzaky maju satu langkah. Kamila yang tidak menyangka pergerakan itu, mundur. Dia tidak bisa melihat jika ada beberapa orang yang melintas. Seseorang menyenggol dan membuatnya oleng. Nyaris saja tubuhnya menyentuh lantai andai Dzaky tidak bergerak lebih cepat menahan. Baik Dzaky maupun Kamila tidak bergerak untuk beberapa saat. Mereka hanya saling pandang. Tidak ada yang peduli kalau ada banyak orang yang tengah memperhatikan. Begitu sadar, Dzaky melepaskan Kamila begitu saja. Untung saja Kamila cukup cepat mengendalikan diri, jadi tidak sampai terjatuh. Mata Kamila menatap tajam Dzaky yang meringis sambil menggaruk tengkuk. Kemudian, dia terpaku saat pria itu meminta maaf pada orang-orang yang ada di sekitar mereka. Ternyata mereka membuat sedikit hambatan untuk orang yang melintas. Mendadak wajah Kamila memanas. Dia juga ikut membungkukkan badan. “Kenapa kamu ceroboh banget? Harusnya aku biarkan saja kamu jatuh.” “Iya. Harusnya gitu. Kenapa juga Kakak nolong aku? Aku, kan, jadi ngerasa utang budi sama Kakak,” kata Kamila dengan wajah ditekuk. “Aku bakal minta balasan yang setimpal.” Dzaky menaik-turunkan alis. “Enggak perasaan banget, sih. Padahal ini salah Kakak.” “Kenapa jadi aku yang salah? Yang jatuh itu kamu. Jangan cari kambing hitam, ya.” “Aku jatuh gara-gara Kakak,” ujar Kamila tidak ingin mengalah. Dzaky mendelik. “Oke, oke. Terserah kamu. Aku capek ngomong sama kamu. Ayo, pulang. Atau kamu mau aku tinggal saja di sini?” “Memang Kakak berani?” tanya Kamila sambil menyilangkan tangan. “Ribet amat, sih. Cepat jalan.” Dzaky berjalan sambil mengacak-acak rambut. Di belakangnya, Kamila tersenyum penuh kemenangan. *** “Makan dulu, Zai. Kakakmu sudah nyiapin semur ayam kesukaan kamu, lho,” kata Hilya saat melihat Zaina melintas. Zaina hanya memajukan bibir sambil menggeleng lemas. Dia berjalan ke meja, menuang air, lalu meminumnya sampai habis. Begitu saja. Gadis itu kembali melangkah meninggalkan dapur. Saat ini, dia tidak merasa lapar ataupun bersemangat. Pikirannya belum bisa beralih dari Barra. “Enggak makan dulu, Zai?” Kali ini, Arisha yang bertanya. “Nanti saja, Kak. Aku ngantuk banget. Mau tidur dulu sebentar.” Hilya dan Arisha saling tatap. Sejak kembali dari bandara, Zaina hanya menghabiskan waktu di kamar. Tidak ada yang berani mengganggu. Hilya juga menyuruh semua orang agar tidak menanyai Zaina mengenai apa pun. Tanpa diberi tahu, dia mengerti kalau Zaina sangat sedih dengan kepergian Barra. Keputusan Barra untuk pergi awalnya juga mengganggu Hilya. Apa lagi setelah mendengar pengakuan pria itu. Dia sungguh tidak akan menyangka kalau akan mendapatkan berita yang sangat bagus. Dibalik perhatian Barra, ternyata ada sebuah rasa yang juga ikut tumbuh. Bukankah ini adalah sebuah anugerah yang indah? Memiliki seseorang seperti Barra dalam hidup merupakan berkah bagi keluarga Hilya. Dia berharap semoga pria itu bisa lebih kuat menghadapi sikap kekanakan Zaina yang tak kunjung hilang. Melihat Zaina yang lesu, Hilya menghela napas panjang. Dia paham sekali bagaimana perasaan sang cucu sekarang. “Biarkan saja, Nek. Dia pasti masih sedih karena kepergian Barra,” ujar Arisha menghibur. Dia menggenggam tangan Hilya. “Kadang Nenek masih tidak mengerti, kenapa Zaina belum juga dewasa hingga saat ini.” Hilya menoleh pada Arisha, lalu tersenyum. “Kami yang sudah terlalu memanjakannya. Terutama Barra. Kamu lihat, kan? Dia sangat kehilangan Barra.” “Wajar, kan, Nek? Mereka sangat dekat dari dulu. Nenek tenang saja. Zaina pasti bisa bersikap lebih dewasa suatu hari nanti.” “Nenek harap begitu,” gumam Hilya. Dia kembali memperhatikan Zaina yang mulai menaiki tangga. Sementara Zaina berulang kali mengembuskan napas. Dia masih sangat kesal karena tidak diizinkan untuk ikut ke tempat Barra. Padahal dia masih libur. Apa salahnya melihat tempat itu. Toh, dia tidak akan menyusahkan Barra. Apa ada alasan khusus mengenai hal ini. Dia sungguh ingin menghancurkan sesuatu. Setiap kata yang diucapkan Barra terngiang di benak Zaina. Masih tetap sama. Dia selalu mengingat apa yang dikatakan oleh pria itu. Demikian juga dengan obrolan mereka sesaat sebelum Barra terbang. Sepertinya ada yang ganjal dari kalimat Barra, tetapi dia tidak tahu bagian mana. “Kenapa aku enggak boleh ngantar ke tempat Kakak?” “Karena itu akan merepotkan kita sendiri,” jawab Barra tegas. Dia sampai mengangkat telunjuk agar Zaina tidak memprotes ucapannya. “Sudahlah, Zai. Aku benar-benar harus pergi sekarang. Jangan lupa dengan pesanku tadi.” “Pesan Kakak kebanyakan. Aku enggak bisa ngingat semua itu.” “Benarkah? Bukankah otak kecilmu itu selalu mengingat perkataanku?” Barra menyentil kening Zaina sambil tertawa pelan. Zaina mengaduh, lalu mengelus keningnya yang terasa sedikit sakit. “Kapan Kakak bakal berhenti ngelakuin ini ke aku?” “Melakukan apa?” Barra sengaja mencondongkan tubuhnya. Zaina menjauh. “Nyentil keningku. Ini sakit banget tahu?” protes Zaina, masih mengelus keningnya sambil mengerucutkan bibir. Barra kembali tertawa. “Entahlah. Itu terlalu menyenangkan.” Jawaban Barra membuat Zaina mendelik. Ketika Zaina hendak protes lagi, pria itu memasang wajah serius. “Jangan lupa untuk membuka kadoku. Jaga isinya sampai aku datang dua tahun lagi.” “Kayak Kakak enggak bakal pulang selama dua tahun nanti.” Barra hanya tersenyum menanggapi ucapan Zaina yang menusuk. Sekarang, Zaina sudah berada di kamar. Dia menghela napas, lalu mengambil kado dari Barra dengan sangan berhati-hati dari dalam laci. Tangannya menimang-nimang benda kecil itu. Ketika dia mengocok kotaknya, tidak ada suara yang ditimbulkan. Sepertinya hadiah itu melekat di kotak, jadi tidak bisa digerakkan. Setelah berhasil mengumpulkan seluruh keberanian. Dia membuka kado yang sangat misterius itu. Saat tutupnya mulai terbuka dia memejamkan mata. Ternyata dia masih belum cukup berani. Lalu, dia menguatkan diri kembali. Perlahan-lahan, dia melihat apa yang sebenarnya diberikan oleh Barra. Sebuah cincin? Apa ini? Zaina mengambil benda mungil itu. Dia tidak mengerti mengenai perhiasan. Yang dia tahu, cincinnya sangat bagus. Senyumnya mengembang begitu mengetahui isi kotak yang dicemaskannya beberapa hari ini. Saat itulah matanya menangkap sebuah kertas. Ada sebaris pesan yang tertulis, tetapi dia tidak tahu maksudnya. Jaga cincin ini untuk masa depan kita.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD