“Sampai kapan kamu bakal ngelihatin kotak itu?”
Pipi Zaina menggembung saat mendengar pertanyaan dari Kamila. Sudah cukup lama dia mempertimbangkan, tetapi tetap tidak memiliki keberanian untuk membukanya. Pikiran gadis itu masih terus mempertimbangkan berbagai hal. Kotak itu membuatnya gelisah, takut, dan bahagia dalam waktu bersamaan.
Berbagai bayangan terus beterbangan di kepala Zaina. Kalau mau jujur, dia sudah menebak isi kotak itu. Benda sekecil itu palingan hanya bisa menyimpan aksesori mungil atau perhiasan. Sayang sekali tidak ada label yang tertera di kotak tersebut. Mungkin Barra sengaja menyiapkannya secara khusus agar dia tidak bisa menebak.
Ini hadiah paling misterius yang Barra berikan. Biasanya pria itu langsung memampang hadiah secara terang-terangan. Seakan dia ingin semua orang melihat apa yang bisa diberikan pada Zaina. Mengapa ada keistimewaan dalam kado kali ini? Apa karena dia akan pergi?
Tidak menemukan jawaban atas kegundahannya, Zaina berjalan menuju jendela. Dia memandangi taman yang sedang dirapikan oleh tukang kebun. Sang nenek ada di dekat salah satunya pekerja, menunjuk ke sana sini. Ada Arisha yang menemani di samping wanita sepuh itu.
Sudah hampir jam sembilan pagi. Langit mulai diterangi mentari. Di sekitar tempat tinggal Zaina tidak begitu ramai. Jarak antar rumah yang lumayan jauh menjadi salah satu sebabnya. Belum lagi kesibukan semua orang. Zaina bahkan tidak mengenal siapa saja tetangganya.
Mungkin hanya satu dua yang mengikuti arisan kompleks. Zaina terkadang menemani sang nenek. Meski tidak sering, dia sesekali mengobrol dengan para ibu. Akhir-akhir ini, dia nyaris tidak pernah melakukan hal itu. Dia mulai jengah mendengar para ibu yang suka bergosip tentang berbagai topik.
Sebenarnya bukan itu alasan yang paling mendasar. Sebagai gadis yang jarang keluar dan berkumpul dengan teman-temannya, Zaina jadi sedikit aneh saat mendengar banyak topik yang dibicarakan sekaligus dalam satu pertemuan. Karena itu, dia meminta Hilya untuk berhenti mengajaknya.
“Kamu sudah siapin hadiah buat Kak Barra?”
“Kenapa aku harus ngasih dia hadiah?” tanya Zaina tanpa mengalihkan pandangan dari sang nenek yang terus menunjuk-nunjuk. Dia menghela napas.
“Dia, kan, bakal pergi besok. Lagian, aku tahu kalau kamu beli banyak barang buat dia. Kamu enggak bakal ngasih itu semua ke dia?”
“Enggak tahu. Apa aku kasih semua saja?” Zaina kembali menghela napas.
“Please, deh, Zai. Aku sudah mengorbankan waktu buat ke sini pagi-pagi. Tapi, kamu malah nyuekin aku. Kalau kamu enggak mau cerita, aku pergi saja.”
“Bukan gitu, Mil,” ujar Zaina lirih. Dia menoleh pada Kamila yang hendak melangkah keluar kamar. Senang rasanya memiliki sahabat yang masih menginginkan kita padahal sudah banyak kesalahan yang kita lakukan.
“Terus? Gimana? Dari tadi kamu cuma ngomong ini itu. Tapi enggak mau cerita,” kata Kamila dengan wajah ditekuk. Dia berdiri sambil menatap lurus Zaina.
Untuk menenangkan hati sang sahabat, Zaina menghampiri dan menggandeng lengan Kamila. Dengan senyuman lebar, dia menarik Kamila, lalu mendudukkan di tepi tempat tidur. Dia masih bisa melihat mulut Kamila yang mengerucut meski sudah dibawa kembali masuk ke ruangan itu.
Kedatangan Kamila pagi ini memang sedikit mengejutkan. Setelah pesta semalam, Zaina dan Kamila belum sempat mengobrol lagi. Sejujurnya sejak Kamila memasuki kamar, Zaina sudah gatal ingin bercerita mengenai kejadian tadi malam. Jadi, dia bisa merasa tenang dan tidak gelisah lagi.
Sampai pagi ini, Zaina masih memikirkan Barra. Dia penasaran sekali dengan apa yang dibicarakannya dengan Khafi. Sang Kakak bahkan sampai harus menginap di rumah Hilya. Begitu juga dengan Barra. Kedua pria itu berada di ruang belajar entah sampai pukul berapa. Zaina menunggu hingga hampir pukul tiga, tetapi mereka belum keluar juga. Karena lelah, dia akhirnya ketiduran.
Tidak sampai di situ. Begitu membuka mata, Zaina mencoba mencari keberadaan Khafi dan Barra. Namun, dia hanya bisa melihat sang kakak ipar dan Nenek. Dia tidak berani bertanya mengenai Barra karena kedua wanita itu sudah memojokkannya semalam. Bagaimana kalau dia disidang lagi?
Jadi, Zaina terpaksa diam dan memendam semua sendiri. Begitu melihat sosok Kamila, dia sudah gatal untuk mengeluarkan semua beban di d**a. Hanya saja, dia tidak tahu bagaimana cara mengatakan. Bagaimana kalau Kamila menyalahkannya? Sejak tahu rencana lamaran Barra, Kamila menyarankan untuk melupakan pria itu.
Mana bisa semudah itu. Memangnya menghapus nama seseorang di hari bisa sesuka hati? Apakah Zaina sungguh tidak berhak untuk tetap mempertahankan kasih? Dia tahu akan bertambah sakit jika masih menyimpan rasa pada Barra. Dia bertekad untuk melupakan Barra, tetapi tidak semudah membalikkan telapak tangan.
“Sebenarnya aku lagi bingung, Mil. Aku pengin nyariin Kak Barra buat ngejelasin perasaanku. Tapi, setiap dekat, aku jadi takut. Apa lagi Kak Barra sudah punya calon istri. Apa enggak malah nenggelamin diri?”
“Oke. Kamu sudah cerita masalah ini berulang kali. Apa kamu enggak punya cerita lain? Lagian, aku sudah bilang kamu harus bisa ngontrol hati atau kamu bakal terus ngerasa sakit tiap ingat lamaran itu.”
“Aku tahu, Mil. Tapi enggak semudah itu.”
“Karena kenyataannya kamu justru makin mikirin dia. Iya, kan?”
“Itu ....” Zaina menundukkan kepala saat hendak mengeluarkan air mata. Dadanya sesak luar biasa membayangkan nasib cinta bersama Barra.
“Percaya, deh, Zai. Bakal ada cowok lain yang lebih baik dari dia.”
“Aku enggak butuh cowok lain. Aku ....”
“Kamu cuma mau Kak Barra? Sadarlah, Zai. Apa kamu masih enggak tahu keadaannya?” Zaina melirik tajam mendengar kata-kata Kamila yang cukup tegas.
Tanpa diberi tahu, Zaina mengerti kalau seharusnya dia tidak perlu sampai sesakit ini. Akan tetapi, cinta yang sudah terlanjur bersemi, bagaimana bisa dihilangkan dalam hitungan hari. Tentu butuh waktu agar bisa merelakan. Itulah yang dibutuhkan Zaina. Waktu. Dia akan melupakan Barra pelan-pelan.
“Jadi, apa cerita terbarunya?” Kamila mencoba mengalihkan perhatian Zaina.
“Cerita terbarunya semalam aku sama Kak Barra hampir ciuman.”
“Apa?!” Mata Kamila melebar. Sementara Zaina terkikik. Sadar kalau sudah dipermainkan, Kamila berdeham. “Enggak asyik banget,” ujarnya.
“Maaf,” gumam Zaina sambil tersenyum. “Tapi, itu memang benar.”
Sekarang, Kamila melipat kedua kaki di atas tempat tidur sambil menatap Zaina meminta penjelasan. “Lagi?”
“Itu ... terjadi gitu saja. Tahu-tahu Kak Barra sudah dekat banget dan aku ....”
“Ya, ampun, Zai. Kenapa kamu masih saja masuk dalam perangkapnya dia? Lagian, ya. Kak Barra juga keterlaluan. Kenapa dia suka banget goda kamu padahal sudah punya calon istri. Jangan-jangan ....”
“Jangan-jangan apa?” Zaina terus mendesak.
“Jangan-jangan dia tahu kalau kamu suka sama dia. Jadi, dia manfaatin kamu.”
“Kamu pikir Kak Barra orang yang kayak gitu?”
“Kok, jadi kamu yang nyolot? Serius, deh, Zai. Aku enggak ngerti jalan pikiran Kak Barra. Awalnya aku pikir dia cukup bisa dipercaya, tapi ....”
“Tapi dia malah godain aku terus?”
“Dan kamu selalu tergoda. Kamu benar-benar hebat.” Kamila mengacungkan ibu jari.
“Enggak usah nyindir. Tadi malam Kak Barra sama Kak Khafi ngobrol lama banget.”
“Memang biasanya mereka ngobrol, kan?”
“Itu ...” Zaina meringis. “Kak Khafi lihat waktu kami hampir ciuman.”
“Dia yang bikin kamu sadar?” tanya Kamila. Mulai mengerti keadaan. Zaina mengangguk. “Wah! Mereka mungkin saja bertengkar hebat.”
“Kamu pikir mereka itu anak-anak.” Zaina menghela napas. “Kamu pikir, apa yang mereka bicara sampai selama itu? Sampai pagi, lho.”
“Kalau penasaran banget, tanya saja sama mereka.”
Zaina mengerutkan bibir. Kalau bisa melakukan itu, apa dia masih gelisah begini? Dia berani mengutarakan apa pun, tetapi tidak dengan perasaan. Setiap berhadapan dengan Barra, pikirannya langsung kacau dan tidak bisa memikirkan apa-apa.
Hampir tidak mungkin Zaina mengetahui semua masalah ini melalui Barra. Dia juga hanya mencari mati kalau bertanya pada Khafi. Apa sebaiknya dia memanfaatkan kakak iparnya? Dia menggeleng keras. Arisha mungkin malah tidak tahu apa-apa. Lagi pula, dia tidak ingin membuat Arisha berada dalam masalah.
Permasalahan ini harus dipikirkan baik-baik agar bisa diselesaikan. Hanya saja, Zaina tidak bisa melihat jalan keluar di sekitarnya. Mungkin yang dia butuhkan memang sekadar waktu. Dengan berlalunya hari, semua keresahan ini tentu akan menemukan titik terang. Dia cukup bersabar.
“Oke. Lupakan soal itu. Sekarang, coba katakan. Hadiah apa yang paling cocok aku kasih buat kenang-kenangan?”
“Harusnya benda yang bakal sering dia pakai.”
“Dia biasa pakai semua barang yang aku beli. Baju, dasi, sepatu, jam, ikat pinggang. Semua dia pakai hampir setiap hari.”
“Jadi? Kamu mau kasih semua itu?” tanya Kamila sebal.
“Enggak juga. Dia pasti sudah beres-beres. Kalau aku kasih semua barang itu, pasti enggak bakal dibawa. Bukannya malah sia-sia?”
“Akhirnya kamu sadar,” gumam Kamila sambil mengangkat kedua tangan seperti sedang berdoa. Zaina mendengkus.
“Aku tahu,” ujar Zaina. Kali ini, senyumannya sangat lebar.
***
“Kakak benaran bakal pergi sekarang?” tanya Zaina sambil menunduk. Barra menghela napas. Seharusnya dia tidak membiarkan gadis itu ikut ke bandara. Sekarang dia malah goyah saat melihatnya bersedih.
“Aku hanya pergi sebentar,” ujar Barra, mencoba menenangkan Zaina.
“Aku tahu.” Zaina mengeluarkan sebuah kotak dari dalam tas, lalu mendongak pada Barra yang tengah menatapnya. “Buat Kakak.”
“Aku tidak menyangka akan menerima hadiah perpisahan dari kamu.”
“Jangan sampai hilang atau rusak,” kata Zaina mengingatkan.
“Baiklah. Aku akan menjaganya sepenuh hati.”
Barra menatap Zaina yang kembali menunduk. Dia berharap gadis itu tidak akan menangis. Bisa kacau kalau dia melihat Zaina meneteskan air mata. Semua orang bahkan memberikan kesempatan pada Barra agar bisa berduaan dengan Zaina sebelum pergi. Dia tidak bisa membiarkan Zaina sedih begini.
Dengan hati-hati, Barra menyentuh dagu Zaina. Mereka berpandangan untuk beberapa saat. Kedua mata Zaina sudah berkaca-kaca. Hal itu membuat Barra menariknya ke dalam pelukan. Sungguh. Dia juga merasa berat meninggalkan Zaina di sini. Bukan hanya Zaina yang ingin terus bersama. Dia juga.
“Aku akan sering berkunjung. Jadi, jangan terlalu bersedih,” ujar Barra. Zaina ingin sekali membalas pelukan Barra, tetapi tangannya terlalu lemas.
Sementara Barra sudah tidak bisa mengendalikan diri. Dia tidak peduli apakah Khafi dan yang lain melihat hal ini. Lagi pula, dia hanya memeluk Zaina. Bahkan keramaian di sekitar mereka tidak dia pedulikan. Kenapa dia harus memikirkan orang lain saat hatinya sangat gelisah begini.
“Kamu belum membuka kado dariku?” tanya Barra setelah melepas pelukan.
“Kenapa Kakak bisa tahu?”
“Aku sudah bilang kalau aku tahu segalanya tentang kamu.” Zaina menggembungkan pipi. Dia menatap Barra sinis.
“Kak Barra cuma sok tahu saja. Padahal enggak tahu apa-apa.”
“Kamu meragukanku?” Barra mencolek hidung Zaina dengan telunjuk. “Buka kadonya begitu kamu pulang ke rumah nanti.”
“Kenapa?”
“Karena itu adalah benda yang sangat penting dan aku mempercayakannya padamu.”
Zaina melihat keseriusan di mata Barra. Sepenting apa benda itu? Lalu, kenapa memberikannya pada Zaina? Kalau memang penting, seharusnya Barra menyimpannya sendiri. Bagaimana kalau Zaina menghilangkannya?
“Jaga benda itu dan tunggu aku kembali mengambilnya dua tahun lagi. Aku pergi.”