Bab 57: Rindu Berat

1789 Words

Zaina mengucap salam begitu melihat sang nenek yang sibuk di dapur. Dia menghabiskan Hilya, lalu memeluk wanita sepuh itu dari belakang. Sejenak, Hilya membelai rambut Zaina tanpa menoleh. Kemudian, dia melanjutkan kegiatannya menyusun ayam bumbu di piring. “Kenapa tiba-tiba manja begini?” “Mendadak kesepian saja,” ujar Zaina tanpa melepas pelukan. “Padahal baru sehari ditinggal Barra. Jangan memikirkan Barra terus. Lebih baik pergi berlibur atau persiapkan kuliah untuk semester selanjutnya.” Mendengar hal itu, Zaina menghela napas. Dia melepaskan tangan, lalu duduk di samping Hilya. Matanya menangkap sepiring donat. Dengan binar bahagia, dia mengambil piring dan mulai menyantap makanan kesukaannya tersebut. Tidak ada yang bisa mengalahkan hasil karya sang nenek. Melihat tingkah Zai

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD