“Kamu kenapa lagi, sih, Zai?”
Sudah lebih dari satu jam Kamila melihat Zaina mencoret-coret kertas gambar. Entah sudah berapa lembar yang dia remas dan buang ke lantai. Tidak ada satu pun lukisan yang berhasil dia kerjakan. Inspirasinya berhamburan keluar dari kepala dan menghilang dibalik awan yang cerah siang itu.
Ini tidak seperti biasa. Menggambar selalu bisa membuat pikiran Zaina kembali tenang. Karena itu, dia memiliki banyak koleksi pewarna dan buku gambar. Dia bahkan memiliki kanvas dan peralatan melukis yang diberikan sebagai hadiah dari Barra. Lagi-lagi pria itu muncul dalam benaknya.
Kedua mata Zaina menyapu seisi kamar. Nyaris semua benda yang ada di sana adalah pemberian Barra. Dengan begitu banyak kenangan dari pria itu, bagaimana bisa dia mengendalikan diri. Mau membuang seluruh pemberian Barra? Mana mungkin. Kamarnya akan kosong kalau itu dia lakukan.
“Sebenarnya ada apa? Kamu tiba-tiba telepon aku dan bilang ada yang penting. Tapi, sejak tadi kamu cuma lempar kertas ke lantai. Kamu masih ingat kalau ada aku di sini, kan? Atau jangan-jangan kamu memang enggak sadar.”
“Sori, ya, Mil. Aku rasanya mau meledak sekarang.” Kamila menyipitkan mata.
“Ini soal Kak Barra?” tanya Kamila.
Sepertinya tebakan Kamila benar. Zaina menghela napas begitu mendengar nama Barra disebutkan. Memang benar. Dia sangat kesal pada pria itu sampai-sampai ingin meledakkan kamar ini, sehingga tidak ada kenangan tersisa dari Barra. Namun, mampukan dia untuk melakukan itu?
Jawabannya sudah jelas tidak bisa. Ini bukan pertama kali Zaina mengeluh tentang sikap Barra yang kelewatan. Kamila hafal betul. Hanya Barra yang bisa membuat Zaina bersikap aneh seperti sekarang. Terkadang, dia merasa kasihan pada sahabatnya karena menyukai pria dewasa.
Menurut Kamila, seorang mahasiswa seperti mereka seharusnya tidak terlibat cinta beda usia. Kesenjangan umur antara Zaina dan Barra terlalu jauh. Dua belas tahun. Seolah ingin lebih menyiksa Zaina. Barra bahkan ditakdirkan menjadi sahabat dekat sang kakak. Bukan main menyenangkan.
“Coba tebak apa yang dia bilang tadi?”
“Apa? Dia enggak mungkin bilang kalau dia suka kamu, kan?” Zaina memutar bola mata. Mana mungkin Barra mengatakan hal yang sangat dinantikannya itu.
“Kalau itu yang terjadi, aku bakal berpesta, bukannya malah kehabisan ide begini.”
“Sudah aku duga. Jadi, dia bilang apa?”
“Dia bilang kalau aku belum dewasa. Kesal banget aku.”
“Tapi, kamu memang belum dewasa, Zai. Kamu enggak sadar kalau kamu itu masih kekanak-kanakan? Kamu enggak lupa ingatan, kan?”
“Kamu mau cari gara-gara sama aku?”
Giliran Kamila yang memutar bola mata. Zaina selalu bisa membuat lawan bicaranya terdiam. Kamila tidak mengerti kenapa dia terus kalah saat berdebat dengan Zaina. Padahal nilai Zaina tidak ada separuh nilainya yang bagus. Dia juga memenangkan berbagai lomba debat di kampus. Kenapa dia kalah dari Zaina?
Mudah sekali. Kamila hanya mengalah. Dia tahu kalau dalam keadaan seperti ini, Zaina butuh teman untuk mencurahkan perasaan, bukan untuk berdebat. Meski baru mengenal Zaina kurang dari dua tahun, dia bisa melihat jelas kepribadian sahabatnya itu. Karena keahliannya ini, banyak yang menyarahkan Kamila mengambil jurusan psikologi.
Akan tetapi, Kamila tidak pernah tertarik pada ilmu psikologi. Sejak mengenal akuntansi, dia langsung jatuh hati. Jadi, dia memutuskan untuk mengambil jurusan itu saat kuliah. Bagi seseorang yang cerdas seperti dirinya, belajar deretan angka bukanlah hal sulit. Dia justru menikmatinya.
“Jadi, apa tepatnya yang dia katakan?”
“Kalau kamu tanya kayak begitu, aku enggak terlalu ingat. Tapi, kata-kata dia hari ini sedikit berbeda. Aku ... Aku bahkan pengin melempar bola ke kepalanya.”
“Oke. Coba kamu ingat lagi. Gimana kalimat yang dia pakai?”
Zaina mengetukkan telunjuk di dagu sambil mendongakkan kepala. Dia mengerjakan mata beberapa kali, lalu mengerutkan kening. Kelakuannya itu membuat Kamila menepuk kening. Harusnya Kamila bisa mengingat kalau Zaina cukup sulit mengingat sesuatu yang didengarnya.
“Dia bilang 'Kalau kamu memang sudah dewasa, kamu akan tahu apa alasanku melarangmu untuk pacaran'. Begitu kalimatnya.”
Mulut Kamila terbuka lebar saat mendengar kalimat itu keluar dari mulut Zaina. Bukan masalah arti yang tersirat dalam kalimatnya. Melainkan karena terlalu syok. Dia memandangi Zaina yang kini tersenyum lebar padanya. Bagaimana mungkin Zaina bisa mengingat kalimat sepanjang itu dengan jelas?
Kalau diingat lagi, Zaina memang selalu merekam semua perkataan Barra dengan sangat baik. Itu sebabnya dia akan lebih mudah menerima pelajaran yang diterangkan oleh Barra. Mengherankan, bukan? Bagaimana bisa Zaina begitu bergantung pada pria yang lebih tua dua belas tahun darinya?
Ada alasan mengapa Zaina lebih cepat memahami penjelasan Barra. Sejak kecil, hanya Barra yang telaten mengajarinya. Penangkapannya yang cukup lambat membuat beberapa guru angkat tangan. Namun, lain cerita kalau Barra yang menjelaskan. Zaina akan mengerti dengan mudah.
Seandainya Kamila tidak melihat langsung kenyataan itu, dia tidak akan percaya. Seolah Barra memang diciptakan untuk menutupi semua kekurangan Zaina. Barra remaja sangat menyukai Zaina kecil karena dia tidak memiliki saudara. Sebenarnya ada Dzaky, tetapi pemuda itu lebih suka bermain sendiri atau dengan temannya ketimbang menghabiskan waktu bersama Barra.
Kedekatan Zaina dan Barra tidak bisa dibilang main-main. Zaina terlanjur bergantung pada Barra yang terus membanjirinya dengan perhatian. Sementara Barra tidak bisa melepas Zaina dengan mudah karena merasa bertanggung jawab pada masa depan Barra. Begitulah hubungan mereka terjalin.
“Kamu lagi-lagi ingat apa yang dia katakan?”
“Kenapa kamu terkejut begitu? Biasanya juga begini, kan?”
“Iya, sih. Aku rasa kamu benar-benar bergantung pada Kak Barra.”
“Sttt.”
Mata Zaina melirik pintu kamarnya yang tertutup sambil meletakkan telunjuk di bibir. Dia menatap Kamila penuh perhitungan. Di bawah sedang ada Arisha dan Hilya, sang nenek. Dia tidak mau salah satu atau keduanya mendengar siapa yang menjadi bahan obrolan Zaina dan Kamila. Dia bisa berakhir menyedihkan.
“Bisa enggak jangan keras-keras waktu nyebut nama dia. Gimana kalau ada yang dengar pembicaraan kita? Kamu mau aku digantung sama Kak Khafi.”
“Kak Khafi, kan, enggak tinggal di sini.”
“Iya. Tapi ada Kak Arisha dan nenek. Gimana kalau mereka dengar?”
“Mungkin mereka bakal langsung nikahin kamu sama Kak Barra.”
Tawa meledak. Kamila yang menyadari itu langsung menutup mulut. Dia tidak bisa menahan diri lagi. Otaknya mulai membayangkan Zaina dan Barra yang berjalan bersama mengenakan baju pengantin. Semua itu terasa nyata sekaligus lucu bagi Kamila. Sulit sekali untuk tidak tertawa dalam kondisi begini.
Merasa kalau sang sahabat tidak akan segera diam, Zaina mengambil sepotong apel dan memasukkannya ke mulut Kamila. Diberi makanan seperti itu, membuat Kamila langsung berhenti tertawa dan mulai mengunyah apel. Walaupun begitu, wajahnya masih menyisakan jejak tawa yang membuat Zaina ingin menutup mulut Kamila dengan bantal atau selimut.
“Lebih baik kamu pakai toa, terus kasih pengumuman kalau aku suka sama dia. Gimana menurut kamu? Lebih mudah, kan?”
“Benar juga. Kenapa aku enggak kepikiran. Besok aku pinjam toa kakakku.”
“Kamila yang cantik,” panggil Zaina seraya tersenyum manis. “Kamu mau aku laporkan pada kakakmu kalau bulan kemarin kamu pergi sama anak BEM.” Kedua alisnya bergerak naik turun.
“Eh, kok, pakai acara ngancam, sih? Enggak adil.” Kamila tidak terima karena balik dikerjai oleh Zaina. Baru saja mau menang. Sudah mau kalah lagi.
“Soalnya kamu nyebelin lama-lama.”
“Iya, iya. Maaf. Aku salah. Jadi, sebenarnya kita mau bahas apa?”
“Aku juga enggak ngerti. Yang jelas, aku lagi sebal.” Zaina mencondongkan tubuhnya ke arah Zaina. “Kamu tahu enggak apa maksud ucapan Kak Barra?”
“Bukannya sudah jelas? Dia nganggap kamu belum dewasa. Intinya itu, kan?”
“Kamu enggak ngerasa ada yang aneh? Masa cuma aku yang mikir kalau kalimat dia itu kayak aneh gitu?” Zaina mengerucutkan bibir.
“Aku rasa enggak. Enggak ada yang aneh, Zai.”
“Jadi, maksud kamu, aku kesal tanpa alasan. Begitu?”
“Kayaknya memang gitu, sih.”
“Yang benar saja. Mana mungkin kayak gitu. Coba kamu pikirkan lagi. Nilai bahasa Indonesia kamu, kan, yang paling tinggi. Masa enggak tahu arti lain dari kalimat dia?”
“Justru karena aku pintar bahasa Indonesia, Zai. Enggak ada yang aneh sama kalimat itu. Kamu pasti kesal karena ada hal lain.”
Mana mungkin begitu? Zaina yakin sekali kalau ada makna tersembunyi dari kalimat yang Barra katakan. Usapan di pipi Zaina juga terasa berbeda. Barra seakan ingin menyampaikan sesuatu pada Zaina, tetapi ragu. Zaina bisa melihat ada arti lain dari senyuman Barra setelah mengatakan semua itu.
Perlukan Zaina menanyakan hal ini pada Barra agar dia tidak penasaran? Tidak akan aneh jika dia bertanya pada Barra, bukan? Bukan sekali ini saja dia mengajukan pertanyaan tidak masuk akal pada Barra. Barra sudah mengecapnya sebagai gadis yang tidak biasa. Jadi, untuk apa berpura-pura di depan Barra.
Apa hanya Zaina yang terus memikirkan kalimat itu? Apa Barra bahkan tidak peduli bagaimana reaksi Zaina setelah mendengar? Barra langsung pergi begitu menyelesaikan kalimatnya. Dia tidak menoleh lagi pada Zaina. Apa sebenarnya maksud Barra? Apa yang sebenarnya ingin Barra sampaikan padanya?
Selama dalam perjalanan pulang, Barra juga bersikap seperti biasa. Dia tidak tiba-tiba berubah menjadi pendiam atau perhatian yang berlebihan. Intinya, Barra tidak menjadi sosok lain setelah mengacaukan pikiran Zaina. Jadi, siapa sebenarnya yang salah dalam permasalahan ini? Barra yang asal bicara atau Zaina yang terlalu banyak berpikir? Entahlah.
“Enggak mungkin. Aku yakin kalau ada yang salah sama kalimat itu, Mil. Ayo, dong. Kamu harus bantu aku kali ini.”
“Kamu lupa kalau aku selalu bantu kamu?” Zaina meringis mendengar nada tidak terima dalam suara Kamila.
“Iya. Kamu selalu bantu aku. Makasih, ya, Sahabatku yang cantik.”
“Sama-sama. Aku senang kalau kamu juga senang.” Kamila merekam ulang kalimat yang dikatakan oleh Barra.
“Gimana? Kamu sudah tahu arti kalimatnya, kan?”
“Sori, Zai. Aku benar-benar enggak ngerasa kalau kalimat itu aneh. Itu cuma kalimat biasa yang enggak berarti apa-apa.”
Helaan napas lolos dari mulut Zaina. Dia memandangi wajah Kamila. Mencoba mencari tahu kalau ada garis gurauan, tetapi tidak. Kamila sangat serius dengan oa yang dia katakan. Lagi pula, Zaina tahu kalau Kamila selaku berkata jujur. Jadi, kenapa dia merasa gelisah sekali sekarang?
Meski pandai dalam pelajaran, Kamila tidak cukup beruntung dalam hal percintaan. Ada alasan khusus kenapa Kamila dijaga ketat oleh kakaknya dan dilarang berpacaran. Dia sudah sering sekali diperalat oleh pemuda yang mendekatinya. Entah karena kecerdasan, kecantikannya, atau kekayaannya.
Mirisnya, Kamila terus saja jatuh di lubang yang sama berulang kali. Padahal dia begitu cerdas. Meski begitu, sekarang dia sudah lebih berhati-hati. Dia tidak semudah dulu saat mengizinkan pemuda menjadi pacarnya. Begitulah yang terjadi pada anak BEM yang pergi dengannya bulan lalu.
Saat itu, Kamila hanya bosan dan kebetulan ada kenalannya yang juga adalah salah satu anggota BEM. Mereka pergi makan dan membaca di perpustakaan. Sekadar itu. Tidak lebih dan tidak kurang. Harusnya dia tidak takut kalau dilaporkan, tetapi entah mengapa dia malah merasa khawatir.
“Memangnya apa yang kamu pikirkan?”
“Aku juga enggak ngerti, Mil. Bodoh banget karena aku ngerasa dia lagi ngungkapin perasaan sukanya sama aku,” ujar Zaina setengah menerawang.