Bab 6: Calon Menantu

1735 Words
“Cepat, Zaina! Yang ulang tahun itu kakakmu. Kenapa kamu yang dandannya lama sekali,” ujar Hilya sambil berdiri di depan pintu kamar Zaina. Di dalam, Zaina masih memilih baju yang cocok dipakainya. Dia mematut diri di depan cermin. Mengganti satu persatu baju yang sudah diserak di atas tempat tidur. Gaun kuning berlengan pendek selutut terlihat cukup bagus, tetapi dia menggelengkan kepala saat ingat acaranya hanya berlangsung di rumah dan dihadiri oleh anggota keluarga saja. Pilihan kedua jatuh pada overal selutut dan kemeja merah muda. Dia menghela napas, lalu meletakkan kembali baju itu. Selanjutnya dia mengambil kemeja kotak-kotak hitam dan merah, dipadu dengan celana jeans panjang. Kepalanya kembali menolak paduan pakaian itu. Suara sang nenek di luar sana semakin membuat Zaina kehilangan konsentrasi untuk memilih baju. Dia tidak mengerti kenapa mesti terlihat cantik malam ini. Toh, ini hanya pesta ulang tahun biasa, tidak ada tamu undangan. Membayangkan bertemu dengan Barra setelah kejadian tadi membuatnya mendengkus. Menurut gadis itu, dia harus menunjukkan kepada Barra kalau dia bukan lagi anak kecil. Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah dengan mengubah penampilan. Masalahnya, dia bahkan tidak tahu bagaimana cara berpakaian yang membuat terlihat sudah menjadi wanita dewasa. Tidak mungkin Zaina memakai gaun yang berlebihan, bukan? Atau haruskah dia mengenakan jilbab seperti Arisha? Barra selalu mengagumi sosok Arisha di berbagai kesempatan. Pria itu mengatakan ini itu mengenai betapa anggunnya sosok pendamping Khafi. Pujian-pujian yang dilontarkan Barra bukan karena menyukai Arisha sebagai seorang wanita. Dia sudah menganggap Arisha adik sendiri. Itu sebabnya dia sangat menghargai kakak ipar Zaina. Sejujurnya, Zaina tidak tahu berapa banyak wanita yang dianggap adik oleh Barra. Mengapa dia menganggap semua wanita yang berada di sekitarnya sebagai adik? Apa dia begitu kekurangan adik? “Zaina, apa perlu Nenek membelikan gaun baru buat kamu?” Hilya kembali bersuara. Mendengar itu, Zaina langsung membuka pintu. Dia mempersilakan Hilya masuk tanpa memedulikan pemandangan di hadapannya. Lalu, dia menoleh tidak percaya pada Zaina. Untuk apa cucunya itu mengeluarkan semua isi lemari hanya untuk pesta ulang tahun yang dirayakan di rumah? “Apa ini, Zaina? Kamu sedang bongkar lemari atau bagaimana?” “Zaina rasa tidak ada baju yang cocok. Sepertinya Nenek benar, Zaina butuh baju baru,” ujar Zaina. Dia sama sekali tidak menyadari mata Hilya yang melebar. “Apa kamu menyukai seseorang?” Pertanyaan Hilya sontak membuat Zaina mematung. Kenapa neneknya bisa begitu terbuka membahas mengenai hal ini. Zaina berharap kalau Hilya tidak menyadari siapa orang yang dia sukai. Kalau sampai Hilya tahu, habislah dia. Dia akan malu di hadapan semua orang. Itu tidak baik, bukan? Jadi, untuk menyembunyikan kenyataan yang memalukan itu, Zaina berdeham, lalu menoleh sambil tersenyum. Pada saat seperti ini, dia harus mengeluarkan kemampuan berakting. Jangan sampai Hilya tahu mengenai perasaan terpendamnya pada Barra bertahun-tahun. “Kenapa Nenek bertanya seperti itu? Memangnya di wajah Zaina tertulis kalau Zaina lagi suka sama seseorang?” “Lalu, kenapa kamu tiba-tiba mau mengubah penampilan? Kamu biasa pakai baju seperti ini.” Hilya menunjuk tumpukan baju di tempat tidur. “Kamu menyukai gaya begini. Kenapa mau berubah kalau alasannya bukan karena kamu suka sama seseorang? Hayo, kamu suka sama siapa?” “Nenek, bukannya tadi Nenek yang menebak begitu? Memang Zaina bilang kalau Zaina lagi suka sama cowok? Zaina cuma pengin tampil cantik di acara ulang tahun Kak Khafi. Sudah berapa lama sejak kita merayakan acara seperti ini bersama?” “Alasan yang masuk akal. Jadi, kamu mau tampil seperti apa?” “Zaina mau terlihat dewasa. Mana baju yang harus Zaina pakai?” “Kenapa kamu mau terlihat dewasa?” “Mau menunjukkan pada Kak Khafi kalau Zaina sudah dewasa, jadi dia tidak perlu mengkhawatirkan Zaina lagi.” Tangan tua Hilya membolak-balik pakaian yang ada. Dia mengerutkan kening beberapa kali menyadari bagaimana model baju-baju milik Zaina. Seperti dugaannya, tidak ada baju dengan kriteria yang disebutkan oleh sang cucu. Lagi pula, kalau memang ingin tampil dewasa, harusnya Zaina menyiapkan pakaian jauh hari. Meski begitu, ada sepasang pakaian yang dianggap cukup pantas untuk Zaina. Dia mengambil midi skirt berwarna pastel, lalu menyerahkan pada Zaina. Sang cucu memandangi rok itu sambil mengerucutkan bibir. Sekadar informasi, rok itu dibelikan oleh Barra beberapa waktu lalu. Dia belum pernah memakai karena menganggapnya terlalu biasa. Hilya tahu apa yang ada di pikiran Zaina. Dia tersenyum melihat bagaimana Zaina memperhatikan rok yang ada di tangannya. Berusaha menahan tawa, dia mengambil sebuah belt pita yang juga berwarna pastel dan kemeja putih polos, lalu kembali mengulurkannya pada Zaina. Masih dengan wajah datar, Zaina menerima baju, rok dan belt pilihan Hilya. Harusnya Zaina tidak menanyakan mengenai tata cara berpakaian pada Hilya. Lihatlah apa yang dia lakukan pada Zaina? Kalau dia menolak dan memilih baju lain, sang nenek akan tersinggung. Jadi, demi baktinya kepada orang tua, dia akan mempercayai Hilya saat ini. “Kamu bisa menambah aksesori kalung yang itu,” kata Hilya menunjuk sebuah kalung yang tidak mencolok. Bandul kalung berbentuk hati itu sesuai dengan belt yang dipilih Hilya tadi. “Nenek yakin Zaina akan terlihat dewasa dengan penampilan seperti ini?” “Percaya sama Nenek. Kamu akan sangat cantik dengan semua pilihan Nenek ini. Urai saja rambutmu itu. Sebaiknya jangan gunakan aksesori di kepala.” Zaina menghela napas mendengar pendapat Hilya. “Baiklah. Zaina percaya sepenuhnya pada Nenek.” “Bagus. Bersiaplah dan segera turun. Khafi dan Arisha akan segera datang.” “Zaina mengerti, Nenek. Zaina akan siap sebentar lagi.” “Kamu tidak perlu mengubah penampilan agar terlihat dewasa, Zaina. Kalau tidak mau kakakmu khawatir, belajarlah dengan baik.” “Iya, Nenek. Zaina sedang berusaha belajar sebaik mungkin.” Apa yang dikatakan Zaina memang benar. Meski tidak sepenuhnya benar. Dia memang sedang berusaha untuk belajar, bukan? Barra yang mengajarnya. Senyum gadis itu mengembang ketika Hilya membelai kepalanya. Dia senang saat diperlakukan penuh kasih seperti ini. Seakan semua orang menyayanginya. Ditinggal orang tua tanpa pernah mengingat sosok mereka adalah penderitaan terbesar dalam hidup Zaina. Dia hanya mendapat kasih sayang dari sang nenek. Ditambah dengan perhatian tulus dari Barra. Kedua kakaknya lebih sering berdebat dan melupakan keberadaannya. Jadi, dia tidak bisa benar-benar merasakan kehadiran mereka di sampingnya. *** “Zaina belum siap, Nek?” tanya Barra sambil mencomot sepotong black forest yang ada di piring di dekatnya. “Dia masih berganti baju. Sebentar lagi akan turun.” “Apa dia mengeluarkan semua isi lemarinya untuk memilih baju?” Pertanyaan Barra membuat Hilya memperhatikan pria itu. Dia menyipitkan mata. Merasa tidak mendapatkan jawaban, Barra mengangkat kepala. Begitu melihat tatapan Hilya, dia mengerutkan kening. Apa dia mengatakan sesuatu yang salah? Memangnya apa yang sudah dia katakan? “Bagaimana kamu tahu kalau Zaina mengeluarkan semua isi lemarinya?” “Bukannya dia selalu begitu? Sibuk sendiri kalau ada acara. Padahal dia hanya perlu berpenampilan seperti biasa. Memangnya dia mau berubah seperti apa?” “Kamu juga merasa aneh?” Hilya mendekat pada Barra. “Nenek merasa ada yang aneh dengan Zaina. Apa kamu melihat ada cowok yang akhir-akhir ini dekat dengan dia? Nenek rasa dia menyukai seseorang.” “Kenapa Nenek berpikir begitu? Hanya karena dia mengeluarkan isi lemari? Kalau iya, Nenek mungkin terlalu banyak berpikir. Ini bukan pertama kalinya dia melakukan.” Meski berkata begitu, jantung Barra berdebar sangat kencang. Tanpa bisa ditahan, dia mengepalkan kedua tangan. Memikirkan Zaina memiliki orang yang disukai membuat Barra kembali mendidih. Dia sudah cukup frustrasi karena mengamuk di kantor tadi. Dia tidak akan bertindak berlebihan di rumah Hilya. Belakangan ini, Barra memang sangat sibuk di kantor. Dia hanya sesekali mengawasi Zaina di luar rumah. Selain menjadi guru les, dia sudah jarang mengantar jemput Zaina ke kampus. Mungkinkah Zaina menyukai salah satu temannya? Siapa? Mata-matanya tidak melaporkan ada yang janggal dengan pergaulan Zaina. Mata-mata? Benar. Barra memang memiliki beberapa orang yang ditugaskan untuk mengawasi Zaina. Sebenarnya bukan hanya Zaina, mereka juga mengawasi Dzaky. Awalnya, ini adalah ide Khafi. Dia ingin adik-adiknya merasa aman. Jika ada yang menjaga, Khafi akan merasa lebih tenang. Sekarang, Barra yang sangat terbantu dengan adanya para penjaga itu. Dengan keberadaan mereka, dia akan tahu semua aktivitas Zaina selama berada di luar rumah. Dia bisa tahu apa dan bagaimana Zaina menghabiskan waktunya bersama orang lain. Lalu, apa Barra kali ini kecolongan? Satu-satunya orang yang terlihat selalu berada di sekitar Zaina adalah Kamila, ditambah dengan kakaknya yang mengawasi. Akan tetapi, dia berani jamin kalau Zaina tidak menyukai kakak Kamila itu. Perkataan itu jelas dia dengar langsung dari mulut Zaina. Berulang kali, dia bilang kalau dia tidak suka padanya. “Tapi, kali ini berbeda, Bar. Kamu tahu apa yang dia katakan saat memilih baju-baju itu?” Barra mencoba menerka kalimat yang biasa Zaina ucapkan. “Apa dia berkata kalau tidak ada satu pun baju yang membuatnya terlihat cantik?” tebak Barra. Hilya menggeleng kepala. “Lalu, dia bilang apa? Bukankah dia biasanya selalu ingin terlihat cantik?” “Bukan. Dia ingin terlihat dewasa.” “Apa? Zaina benar-benar berkata seperti itu?” Barra tertawa mendengar kata baru yang dihubungkan dengan Zaina itu. “Nah. Kamu juga merasa aneh, bukan? Apa menurutmu dia jatuh cinta pada orang yang dewasa?” Barra tertegun mendengar pertanyaan itu. “Apa mungkin dia jatuh cinta pada salah satu dosennya?” Kemungkinan itu tidak pernah terpikirkan oleh Zaina. Kalau dugaan Hilya benar, maka wajar jika Barra tidak mendapatkan laporan dari para pengawas. Mereka tidak akan menyadari kalau Zaina memperhatikan seorang dosen. Para pengawas itu pasti berpikir kalau Zaina hanya sedang mengikuti perkuliahan seperti biasa. Untuk berjaga-jaga, Barra akan menanyakan hal ini pada para pengawas Zaina. Dia tidak mau kalau Zaina terperangkap dalam cinta semu. Saat baru saja akan mengatakan rencana pada Hilya, dia menangkap sosok Zaina yang berjalan ke arah mereka. Senyum yang menghiasi bibir Zaina membuatnya membatu. “Wah! Coba lihat siapa ini? Apa kamu benar-benar Zaina cucuku?” “Apa penampilan Zaina terlihat bagus?” Zaina berputar-putar di hadapan Hilya. Entah sadar atau tidak kalau ada Barra yang ikut memperhatikan. Di tempatnya duduk, mulut Barra terbuka lebar. Hanya beberapa detik. Karena begitu sadar, dia langsung memalingkan wajahnya yang terasa panas. Dia ingat sekali kalau baju dan rok itu adalah pemberiannya. Pun dengan kalung dan belt yang dikenakan oleh Zaina. Semua itu dia pilih sendiri, jadi dia bisa mengingatnya dengan jelas. “Kakak sudah sampai?” tanya Zaina pada Barra. Pria itu berdeham, lalu menoleh pada gadis yang terlihat berbeda malam ini. “Nenek yang menyarankan aku buat pakai semua ini. Gimana? Apa ini cocok buat aku?” “Ya ... lumayan. Baju itu cukup cocok denganmu.” “Sudah cocok buat dibawa ke penghulu, ya, Bar?” Hilya tiba-tiba mengajukan pertanyaan yang tabu. Baik Zaina maupun Barra terdiam. “Memangnya siapa yang mau menikahi gadis kekanakan seperti Zaina?” Barra mencoba membuat suasana mencair dan berhasil. Hilya tertawa mendengar hal itu. “Kalau tidak ada yang mau menikahinya. Bukankah ada kamu, Bar? Kamu juga calon menantu potensial, lho.” Dan kalimat itu benar-benar bagaikan bom yang meledakkan tempat Barra duduk. Dia menoleh pada Zaina yang memberinya tatapan tajam. Kenapa dia merasa sakit hati?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD