Rasanya Zaina ingin menghilang dari tempat itu. Dia tahu kalau Hilya hanya asal bicara, tetapi melihat reaksi Barra, dia merasa sesak. Ketika Barra terlihat tidak menyetujui ucapan Hilya, dia ingin meledak saat itu juga. Namun, dia tidak mungkin melakukannya. Sebagai ganti, dia memberikan tatapan penuh peringatan.
Apa Barra perlu merusak malam ini? Dia sudah berusaha mengubah penampilannya agar terlihat dewasa. Ingin sekali dia melayangkan piring yang ada di atas meja ketika, lagi-lagi, Barra menyebutnya kekanakan. Tidak bisakah Barra menutup mulut, melihat bagaimana usahanya tampil menarik?
Masih dengan mulut mengerucut, Zaina setengah membanting tubuhnya duduk di dekat Hilya. Dia menegak habis segelas sirop rasa stroberi di meja untuk memadamkan kepulan api yang membakar hatinya. Belum merasa cukup, dia kembali memberikan tatapan tajam pada pria yang kini juga menatapnya.
“Apa Kakak enggak bisa sehari saja berdamai denganku?” tanya Zaina tanpa ekspresi.
“Kamu tidak sadar kalau aku yang paling baik padamu di sini?”
Terkena senjatanya sendiri. Zaina tentu yang paling tahu mengenai kenyataan itu. Barra memang orang yang paling baik untuknya. Sekaligus paling berbahaya. Dia paham betul kalau Barra sudah mengorbankan banyak hal untuk membuatnya bahagia sejak dia masih kecil dulu.
Dibandingkan dengan Hilya dan kedua kakaknya, Zaina lebih sering menghabiskan waktu dengan Barra. Ketika dia merasa kesepian atau sedih, Barra yang selalu ada untuk menghibur. Barra menyelesaikan semua masalah yang dia timbulkan. Barra juga yang membanjirinya dengan berbagai hadiah yang dia inginkan.
Intinya Barra memang orang yang paling baik pada Zaina. Itu sudah tidak terbantahkan lagi. Zaina yakin kalau semua orang juga setuju dengan pendapat tersebut. Jadi, kenapa Zaina justru mengajukan pertanyaan yang bisa mengubur dirinya sendiri? Dia pasti tidak berpikir dulu tadi.
“Oke, oke. Aku selalu kalah kalau berdebat dengan Kakak. Kak Barra menang. Puas?”
“Tentu saja. Jangan lupa memberikan hadiah padaku karena sudah menang.”
“Hadiah? Aku cuma beli buat Kak Khafi. Kenapa juga aku harus beli hadiah buat Kakak? Memangnya Kakak juga ulang tahun hari ini?”
“Lihatlah sikapnya itu, Nek. Mana mungkin dia bisa menikah dalam waktu dekat. Setidaknya harus menunggu sepuluh tahun lagi. Mungkin dia akan menjadi wanita dewasa seperti harapannya.”
“Nenek bilang sesuatu pada Kak Barra?” selidik Zaina. Sang nenek meringis saat ketahuan telah membocorkan rahasia kecilnya.
“Nenek hanya mengatakan apa adanya,” ucap Hilya, mencoba menghindar.
“Kenapa melimpahkan kesalahan pada Nenek?”
Mendapat perlawanan dari Barra membuat Zaina memutar bola mata. Dia tidak habis pikir, sebenarnya apa kedudukan Barra dalam keluarganya? Hilya lebih memilih mempercayakan apa pun pada Barra ketimbang cucu-cucunya. Karena itu, Barra sangat dekat dengan Hilya.
Semua orang akan berpikir kalau Barra adalah cucu kandung Hilya. Mengingat bagaimana Hilya sangat menyayangi Barra. Juga bagaimana cara Barra memperlakukan sang nenek. Sikap baik Barra sulit sekali dibandingkan dengan Khafi, Dzaky, maupun Zaina. Ketulusan terlihat dari kedua mata Barra setiap kali dia melakukan sesuatu untuk keluarga Hilya.
Terlepas dari utang budi yang selalu dibicarakan oleh Barra, pria itu sangat baik. Zaina merasa kalau alasan Barra melakukan semua kebaikan bukan sekadar membalas jasa keluarga Hilya. Lebih dari itu, Barra benar-benar menyayangi Hilya dan cucu-cucunya dan dia tidak pernah mengharap apa pun.
“Baiklah. Zaina salah. Maaf, Nenek. Zaina seharusnya tidak menuduh Nenek berbuat buruk. Zaina benar-benar minta maaf.”
“Kenapa kamu sangat penurut pada Barra?”
“Siapa lagi yang harus Zaina turuti selain Kak Barra?”
Ucapan Zaina mau tidak mau menimbulkan getaran aneh di hati Barra. Padahal gadis itu hanya mengatakan yang sebenarnya. Zaina memang sangat patuh pada Barra. Barra sendiri sangat menyadari. Jujur saja, dia tidak pernah mengira kalau Zaina akan semenurut itu pada dirinya.
Mungkin karena sejak kecil Barra yang terus memperhatikan Zaina. Terlepas dari permintaan Khafi agar dia menjaga sang adik, dia memang senang menjadi orang terdekat Zaina. Pribadi Zaina yang ceria dan polos menjadi obat terbaik untuk hati Barra yang kala itu bersedih dengan kepergian orang tuanya.
Kebersamaan Zaina dan Barra seperti simbiosis mutualisme. Mereka saling memberikan manfaat. Meski Barra yang terlihat lebih banyak memberi. Sebenarnya tidak begitu pada kenyataan. Zaina memberikan perasaan lain yang membuat Barra tenang dan nyaman. Yang lambat laun membuat Barra sangat ketakutan.
“Wah! Aku merasa tersanjung.” Zaina mencibir mendengar ucapan Barra.
“Siapa cewek cantik ini?”
Tiba-tiba Arisha muncul dan langsung memeluk Zaina. Zaina melonjak girang dalam pelukan kakak iparnya itu. Memiliki Arisha adalah berkah terbesar di hidup Zaina. Jika Barra membuat Zaina merasa terlindungi. Arisha membuatnya bisa mengerti perasaan sebagai gadis belia.
“Kenapa aku tidak mendengar Kakak datang. Tahu-tahu sudah di sini saja.”
“Sepertinya semua orang sedang membicarakan hal yang seru, sampai tidak mendengar kedatangan kami,” ujar Arisha sambil tersenyum.
“Kami sedang menunggu Kakak dan Kak Khafi. Tapi, malah tidak tahu saat kalian masuk. Ini gara-gara Kak Barra.”
“Kenapa jadi aku yang disalahkan?”
Barra menoleh pada Khafi yang tampil rapi seperti biasa. Dia tersenyum mengejek saat menyadari kalau Khafi memilih warna biru muda. Lalu, pandangannya beralih pada Arisha yang mengenakan dress senada. Sudah bisa dipastikan kalau Arisha yang menentukan penampilan mereka malam ini.
Puas memberi penilaian pada Arisha dan Khafi, Barra kembali memperhatikan pakaian Zaina. Malam ini, Zaina tampak sedikit berbeda. Paduan yang dipilih oleh sang nenek membuat Zaina lebih menyenangkan untuk dilihat. Terutama karena semua yang terpasang di tubuhnya adalah pemberian Barra.
Sepasang flat shoes pastel menjadi pelengkap yang menyempurnakan kesan manis. Zaina memang lebih suka memakai flat shoes, sneakers, converse, atau sandal jepit. Dia tidak suka sandal atau sepatu berhak. Menurutnya, itu membuat dia terlihat tua atau formal. Sesuatu yang tidak pernah dia sukai.
“Dzaky di mana?” tanya Barra.
Baru saja ditanyakan, sosok pria setinggi seratus tujuh puluhan muncul. Dia mengenakan kemeja hitam dengan inner kaos putih. Dipadukan bersama jeans dan sneakers hitam. Rambutnya yang sudah lumayan panjang diikat menjadi satu. Tanpa mengatakan apa pun, dia berjalan ke arah semua orang.
“Aku tidak terlambat, kan, Nek?”
“Nenek pikir kamu ketiduran di kamar. Penampilanmu cukup rapi malam ini,” puji Hilya sambil tersenyum lebar. Dzaky menyeringai.
“Omong-omong, kamu mau pergi ke mana, Zai? Tumben sekali rapi begitu,” sindir Dzaky sambil mencibir ketika melihat penampilan Zaina.
“Tidak usah cari masalah. Bukankah aku semakin mirip dengan Kak Arisha?” Zaina menggandeng lengan Arisha sambil meletakkan kepalanya sekaligus. Ketiga pria di ruangan itu mendengkus bersamaan.
“Tentu saja. Kamu semakin cantik malam ini,” ujar Arisha memberi dukungan pada sang adik ipar.
“Baiklah. Karena semua orang sudah berada di sini, kita mulai saja pestanya, “ kata Hilya, memotong perdebatan yang mungkin akan terjadi.
***
“Potongan pertama untuk istriku tercinta,” ucap Khafi. Dia mengulurkan sepotong kue pada Arisha sambil tersenyum lebar. Zaina menerimanya seraya membalas senyum sang suami. Mereka berpandangan untuk waktu yang cukup lama.
“Senangnya mendapat potongan kue pertama,” gumam Zaina, tetapi masih terdengar oleh Barra yang berdiri di sampingnya.
“Bukankah aku juga selalu memberikan potongan kue pertamaku untukmu?” tanya Barra merasa tersinggung dengan ucapan Zaina.
Zaina menoleh, lalu menyipitkan mata. Dia memperhatikan Barra yang mengenakan kemeja biru tua yang dilipat sampai siku. Pria itu selalu tampan dalam pandangannya. Meski begitu, Zaina tidak akan mengakuinya di depan Barra. Harga dirinya mau diletakkan di mana kalau sampai mengatakan hal sebenarnya.
Dengan penampilan yang menggoda itu, Zaina ingin sekali bersandar pada Barra. Dia cukup sering melakukannya. Namun, berdekatan dengan Barra pada saat-saat tertentu bisa menyebabkan jantungnya bermasalah. Dan sekarang adalah salah satu dari waktu yang harus dia hindari.
Mengapa juga Zaina tadi harus membahas mengenai potongan pertama kue ulang tahun. Dia memang selalu mendapatkannya dari Barra setiap tahun. Hanya saja, menyadari jika suatu hari Barra akan memberikan posisi itu pada wanita lain membuatnya takut. Dia tidak bisa membayangkan dunia tanpa Barra.
Ketika Barra sudah menemukan tambatan hati, bukankah wajar jika dia melepaskan tanggung jawab menjaga Zaina. Mengingat umur Barra yang sudah tidak muda lagi, kemungkinan momen itu akan datang sebentar lagi. Zaina jadi penasaran, seperti apa sosok istri Barra di masa depan.
Bukannya menemukan sosok lain, Zaina malah melihat dirinya yang berjalan bersama dengan Barra. Mereka mengenakan baju pengantin yang sangat indah dan tersenyum penuh kebahagiaan. Betapa menyenangkan pemandangan itu dan Zaina tidak ingin menghapusnya dari kepala.
“Kenapa malah melamun?” Zaina sedikit merinding saat merasakan tangan Barra yang mencengangkan lembut lengannya. Dia mendongak pada pria itu.
“Kakak menghancurkan khayalan indahku.”
“Kamu berkhayal di saat seperti ini? Wow! Kenapa aku tidak terkejut dengan kenyataan itu. Katakan, apa khayalan indahmu itu?”
“Hanya momen di mana aku dan orang yang aku sukai berjalan bersama dengan baju pengantin. Bukankah itu adalah khayalan yang indah?”
Untuk sesaat, Barra tertegun. Dia menelan ludah, lalu mengamati wajah Zaina yang dihiasi senyum manis. Tangannya ingin sekali membelai pipi Zaina yang chubby seperti biasa, tetapi seolah ada yang menghentikan. Dia tahu kalau mulai sekarang dia harus membatasi diri dari Zaina. Apa dia bisa?
Sejak awal, Barra sudah terbiasa dengan kehadiran Zaina. Akan terasa aneh jika tiba-tiba Zaina sibuk dengan kekasihnya. Mampukan dia mengendalikan diri dan tetap tenang di hadapan Zaina? Bisakah dia tetap tersenyum melihat Zaina bahagia bersama dengan pria lain? Sanggupkah dia?
Keramaian suasana pesta yang hanya dihadiri oleh keluarga itu mendadak hilang. Barra tidak bisa lagi mendengar alunan musik yang tadi diputar untuk memeriahkan acara. Dia juga tidak bisa menangkap suara orang-orang yang mengobrol. Semua seperti menghilang dan hanya ada Zaina di hadapannya.
Gadis berambut sebahu itu tersenyum sangat manis pada Barra. Dia bahkan memainkan mata untuk menggoda Barra. Mata Barra tidak berkedip sama sekali. Takut jika dia bergerak, sosok Zaina akan menghilang. Sebenarnya ada apa dengan dia? Mengapa dia begitu sulit mengendalikan diri sekarang?
“Mengapa kamu membayangkan hal yang tidak-tidak?” tanya Barra. Dia mengepalkan kedua tangan di sisi kanan kiri tubuhnya.
“Memangnya enggak boleh? Apa aku juga enggak boleh membayangkan hal menyenangkan seperti itu?”
“Memang kamu sudah punya bayangan mengenai pria yang akan menikah denganmu?” Tanpa bisa ditahan, Barra mengajukan pertanyaan itu.
“Sudah,” jawab Zaina cepat. Kedua mata Barra membola. Dia mendelik pada Zaina yang langsung menutup mulut dengan tangan.
“Kamu menyukai seseorang?” tanya Barra tanpa berpikir panjang.
“Kenapa Kakak bertanya begitu?” Zaina mundur dua langkah. Dia menunduk dan menatap flat shoes yang dikenakannya. Ini tidak akan berakhir dengan mudah.
“Siapa pria itu, Zai? Siapa yang kamu sukai?”
“Tentu saja kakak yang aku sukai,” teriak Zaina. Dia menatap tajam Barra yang memandang penuh selidik. Bagaimana dia harus mengakhiri malam ini tanpa perlu membuat kekacauan? Sepertinya tidak bisa. Apa lagi saat melihat Barra mendekat padanya.