“Tentu saja kakak yang aku sukai.”
Andai saja kalimat itu bisa Zaina ucapkan dengan lantang, entah apa yang akan terjadi. Bisa jadi Barra marah dan menganggap dirinya aneh. Pria dewasa seperti Barra tentu menginginkan pendamping yang dewasa juga. Setidaknya wanita itu harus anggun, bukan kekanakan.
Tidak juga. Mungkin saja Barra menyukai gadis kekanakan seperti Zaina. Selama ini, Barra selalu memandang wanita di sekitarnya sebagai adik. Mungkin yang dia butuhkan sebagai pendamping adalah sosok seperti itu. Untuk melengkapi sikap suka mengatur Barra, tentu dia membutuhkan pasangan yang penurut. Benar, bukan?
Kemungkinan itu membuat Zaina tertawa dalam itu. Semua adalah keinginan Zaina. Maunya, Barra balik suka pada dia. Maunya, Barra tidak pernah bertemu gadis lain selain dia. Maunya, Barra hanya menjaga dia seumur hidup. Maunya, Barra akan jatuh cinta pada dia suatu hari nanti. Maunya ....
“Zaina!”
Panggilan yang cukup keras itu berhasil membuat jantung Zaina nyaris melompat keluar. Dia mendelik pada Barra yang malah melotot padanya. Untung saja mereka berdiri cukup jauh dari semua orang, jadi tidak ada yang menyadari teriakan Barra. Zaina mengembuskan napas dan menantang mata Barra.
Yang seharusnya marah itu Zaina. Dia sedang mengkhayalkan hal indah dan Barra selalu mengganggu. Kalau Barra tidak bisa memberikan kesempatan padanya untuk dicintai di dunia nyata, setidaknya biarkan dia sedikit berharap dalam mimpi. Apa Barra juga harus merusak kesenangannya di alam sini?
Entah apa tepatnya yang membuat wajah Barra mengeras seperti itu. Zaina bahkan bisa melihat kedua tangan Barra yang mengepal erat. Dari jarak sedekat ini, Zaina bisa melihat kalau pelipis Barra juga berdenyut-denyut. Ada apa ini? Kenapa Zaina merasa ada yang tidak beres dengan sikap Barra, tetapi apa?
“Bisa, kan, enggak usah teriak begitu. Kalau ada yang dengar, bisa-bisa mereka pikir aku buat salah dan lagi dimarahi sama Kakak.”
“Dan kamu merasa tidak melakukan kesalahan?”
“Memang apa yang sudah aku lakukan? Aku cuma berkhayal soal ....”
“Kamu bilang kalau kamu sudah punya bayangan soal pria yang akan menikah denganmu dan aku yakin seratus persen kalau aku tidak salah dengar.”
“Oh, soal itu ....”
Zaina menggigit bibir bawah. Dia tidak mungkin ketahuan, bukan? Kalau Barra sampai tahu siapa yang dia bayangkan, bisa malu. Belum lagi nanti dia harus menghadapi kenyataan dengan penolakan Barra. Khafi juga pasti akan mengadakan sidang sehari semalam padanya. Ditambah dengan ejekan yang kemungkinan besar akan dilontarkan oleh kakak keduanya, Dzaky.
Tidak berhenti di situ. Hilya juga tentu tidak mau ketinggalan kesempatan untuk memberikan ceramah panjang kali lebar pada Zaina. Katakanlah Zaina bisa mengatasi semua tanggapan dari anggota keluarganya. Bagaimana dia akan menghadapi Barra setelah perasaannya terungkap?
Kehilangan perhatian dari Barra adalah hal yang paling tidak ingin Zaina hadapi. Dia sudah lama diberi perhatian oleh pria itu dan belum siap kehilangan. Jadi, sebaiknya sekarang dia memutar otak untuk mencari alasan agar Barra bisa mengalihkan perhatian. Malam ini bisa sangat panjang kala sampai pembicaraan ini dilanjutkan.
“Apa yang kalian lakukan di sini?”
Kehadiran Khafi benar-benar membawa angin segar pada Zaina. Dia belum pernah merasa segembira ini saat melihat kakaknya muncul dengan wajah sedatar tembok. Mengabaikan ekspresi Khafi, Zaina mencoba memberikan senyuman yang lebar. Dia berjalan mendekati Khafi dan langsung meraih lengan sang kakak.
“Happy birthday, ya, Kak Khafi. Wish you all the best,” ucap Zaina ceria. “Zaina harap, Kakak bisa bertambah sukses.”
“Amin. Terima kasih untuk doanya.” Khafi beralih pada Barra. “Kalian sedang apa?”
“Bukan apa-apa. Kami hanya sedang mendiskusikan masalah belajar Zaina.” Zaina mencibir mendengar penjelasan Barra. Apa masuk akal kalau mereka membicarakan hal itu di saat seperti ini?
“Di malam ulang tahunku? Di sini? Kamu yakin?”
“Kebetulan saja Zaina ada di sini dan aku melihatnya. Jadi, sekalian saja aku mengatakan tentang jadwal belajarnya.”
“Bagus.” Khafi kembali beralih pada Zaina. “Dengarkan Barra. Sepertinya hanya dia yang rela mengorbankan segala hal untuk kamu.”
Ucapan Khafi yang terkesan penuh makna itu membuat Zaina tertegun. Dia bahkan tidak sadar ketika Khafi melepaskan tangan dan meninggalkannya dengan Barra. Takut-takut, dia melirik Barra yang kini menyilangkan tangan di d**a. Kenapa juga dia terlalu berharap pada kebaikan hati Khafi.
Ternyata malam ini tidak akan berlalu semudah perkiraan Zaina. Dia melihat Barra yang mengangkat dagu sambil memandanginya dari atas ke bawah. Mengapa dia merasa seolah ada hujan salju di sekelilingnya? Hawa dingin itu membuatnya merinding. Tanpa sadar, dia memeluk tubuhnya sendiri.
“Kamu kedinginan?” tanya Barra dengan tatapan mengintimidasi. “Di cuaca seperti ini?” Dia masih belum mau menyerah.
“Sebaiknya kita kembali ke tempat pesta. Kita sudah terlalu lama di sini.”
“Tidak masalah. Lagi pula, Khafi juga sudah tahu kalau kita di sini, bukan?”
“Tetap saja, aku mau ... Kak Arisha!” seru Zaina begitu melihat sang kakak ipar melintas di depannya. Tanpa melanjutkan kalimatnya, dia berlari dan langsung mengikuti langkah Arisha yang menjauh dari Barra.
Hampir saja. Barra hanya butuh waktu sebentar untuk mengetahui yang sebenarnya. Zaina benar-benar pintar melarikan diri. Barra tidak bisa membiarkan masalah ini berlarut-larut. Dia harus mencari tahu mengenai pria yang kemungkinan sedang disukai oleh Zaina, tidak bisa ditunda lagi.
Kalau Barra sampai terlambat, Zaina mungkin akan menikah sungguhan dengan pria itu. Dia tidak bisa membiarkan Zaina memikirkan hal tidak penting dan mengabaikan pelajaran. Sebentar lagi Zaina ujian dan dia tidak ingin gadis itu sampai gagal. Zaina harus ditindak tegas agar tidak main-main.
“Itu hanya alasan, bukan? Kamu tidak bisa membiarkan dia bersama dengan pria lain. Itu yang membuatmu sangat marah. Benar, bukan? Kamu hanya sedang menyangkal perasaanmu. Padahal jelas-jelas kamu sangat menyukainya.”
Ada satu sisi di hati Barra yang mengejek. Apa yang dikatakan memang benar. Dia hanya mencari alasan untuk menutupi debar jantungnya yang masih belum normal. Jatuh cinta pada orang yang tidak tepat memang sangat sulit. Barra harus bisa mengendalikan diri dan perasaan agar tidak bertindak salah.
Gadis belia seperti Zaina tentu menginginkan hal indah dalam kehidupannya. Di umurnya yang bahkan belum genap dua puluh tahun, dia pasti membayangkan bisa mengalami cinta yang manis. Masa-masa kuliah tentu akan menjadi saat yang paling sempurna untuk menemukan tambatan hati.
Tidak bisa. Zaina tidak boleh jatuh cinta dulu. Setidaknya sampai Barra merasa siap untuk melepaskan gadis itu. Yang jadi masalah, Barra tidak tahu kapan dia akan siap melakukannya. Terutama setelah tahu Zaina sudah memiliki orang yang disukai. Hasrat untuk lebih dekat dengan Zaina semakin meningkat. Ini buruk sekali.
Sudah begitu lama Barra berhasil menahan diri. Kenapa hanya dalam waktu satu malam Zaina berhasil merobohkan pertahanannya. Dia tidak boleh kalah dengan kenyataan mengerikan itu. Untuk memperbaiki kesalahan, dia harus menambah kekuatan hatinya. Agar dia tidak terlalu terluka saat nantinya menyerah.
***
“Kamu sedang apa bersama Kak Barra tadi?” tanya Arisha setelah duduk di teras dengan Zaina.
Melihat gelagat aneh yang ditunjukkan oleh Zaina, Arisha yakin kalau ada sesuatu. Kalau boleh menebak, sepertinya Barra tengah menginterogasi Zaina dan itu membuat Zaina tidak nyaman. Makanya, ketika melihat Arisha, Zaina langsung berlari dan memintanya segera menjauh dari Barra.
Arisha sendiri tidak yakin apa yang kali ini membuat Barra kesal pada Zaina. Adik iparnya itu sering sekali membuat Barra naik darah dengan berbagi tingkah konyol. Zaina memang belum cukup dewasa untuk ukuran seorang mahasiswi. Padahal saat seumur Zaina, Arisha merasa sudah bisa mandiri.
Mungkin karena Arisha merupakan anak tunggal. Jadi, dia terbiasa melakukan semua hal sendiri. Berbeda dengan Zaina yang selalu dikelilingi oleh Barra. Segala sesuatu yang menyangkut Zaina, pasti Barra yang mengurus. Pada awalnya, Arisha sempat heran. Lalu, setelah mengetahui alasan di baliknya, dia merasa kasihan. Baik pada Zaina maupun Barra. Keduanya patut untuk memperoleh simpati.
Mungkin karena sudah terbiasa mengatur, Barra jadi mendominasi kehidupan Zaina. Di sisi lain, Zaina juga tampaknya enggan berada jauh dari Barra. Begitulah yang Arisha tangkap setelah mengamati Zaina dan Barra beberapa bulan terakhir. Tentu saja dia melakukannya diam-diam.
“Bukan apa-apa. Kenapa malah ngajak aku ke sini? Pestanya belum selesai, kan?” Zaina memandang langit yang malam ini bertabur bintang. Seharusnya dia membuat pesta di taman, pasti akan lebih berkesan.
“Kamu tidak mau mengatakan sesuatu?” tanya Arisha sambil memandangi Zaina.
“Mau bilang apa? Aku lagi enggak pengin curhat.”
“Benarkah? Tapi Kakak lihat kamu sedang gelisah,” ujar Arisha. Zaina menoleh sambil tersenyum. Batinnya berperang di dalam sana.
“Aku cuma lagi mikirin sesuatu. Tapi, Kakak tenang saja, aku enggak apa-apa, kok.”
“Kamu yakin?” Zaina mengangguk. “Kamu tahu kalau Kakak selalu mendengar apa pun yang kamu ceritakan. Jadi ....”
“Aku ngerti, Kakakku yang cantik. Kakak enggak perlu khawatir.”
Menceritakan tentang perasaannya bukan tindakan tepat. Zaina belum siap berbagi kisah ini dengan Arisha. Dia tidak khawatir kalau Arisha akan membongkarnya pada Khafi. Arisha bukan orang yang suka mengumbar cerita orang lain. Wanita itu adalah salah satu sosok yang paling Zaina percaya.
Hanya saja, Zaina belum ingin mengatakan mengenai perasaannya pada Barra. Mungkin nanti. Saat dia sudah merasa lebih siap. Meski berhijab, Arisha adalah orang yang sangat terbuka. Tentu saja pada batas-batas tertentu. Itu sebabnya Zaina sangat suka bercerita pada Arisha saat merasa terbebani oleh apa pun.
Selain itu, Zaina akan merasa lebih baik setelah bercerita pada Arisha. Dia tidak mungkin menceritakan hal-hal tidak berguna pada keluarga atau Barra, bukan? Oke. Barra memang pilihan satu-satunya sebelum Arisha datang. Namun, setelah ada Arisha, dia sadar kalau ada banyak hal yang tidak ingin dia bagi dengan Barra secara langsung. Contohnya seperti rasa suka pada Barra.
“Apa ada masalah dengan belajarmu?” Arisha mengalihkan pembicaraan. Dia tidak mau memaksa Zaina membuka kisahnya jika gadis itu tidak bersedia.
Rasa penasaran memang sempat membayangi Arisha. Tidak biasanya Zaina mengulur waktu untuk bercerita. Akan tetapi, dia berusaha berpikir positif. Mungkin masalah Zaina kali ini berbeda atau sedikit berat, jadi Zaina merasa kesulitan untuk menceritakan. Dia akan menunggu lebih lama.
Tebakan Arisha, tidak lebih dari seminggu atau paling lambat sebulan, Zaina akan menceritakan hal ini padanya. Zaina bukan tipe orang yang bisa menyimpan rahasia seorang diri. Dia terkadang khawatir. Dengan sikap seperti itu, Zaina mungkin saja berada dalam masalah besar.
Zaina perlu belajar mengontrol diri agar tidak membocorkan semua rahasia yang dimiliki. Kalau dia mengatakannya pada orang yang tepat, tidak akan masalah. Bagaimana kalau ada orang yang memanfaat hal ini. Arisha sudah berulang kali memperingatkan Zaina mengenai kekhawatirannya.
Yang membuat Arisha lega adalah Zaina punya beberapa pengawas yang menjaganya. Jadi, pergaulan Zaina bisa lebih terpantau. Bagi orang sejenis Zaina, pengawasan seperti itu memang sangat membantu. Kalau ada yang terasa janggal, semua anggota keluarga bisa waspada.
“Memangnya sejak kapan belajarku lancar?” Zaina menghela napas. Arisha tertawa kecil mendengar pertanyaan bernada menyerah itu.
“Apa karena kamu kabur waktu belajar tempo hari, jadi Kak Barra menegur?”
“Dia agak berlebihan, kan? Padahal aku juga enggak pintar-pintar amat. Kenapa dia harus berusaha sekeras itu? Hasilnya juga bakal sama saja.”
“Karena dia peduli sama kamu, Zai.”
Kalau saja Arisha tahu perasaan Zaina pada Barra, dia mungkin tidak akan pernah berkata seperti itu. Sekarang, Zaina mulai berharap pada perasaan Barra. Kalau Barra memang peduli, bukankah masih ada kesempatan bagi dirinya? Bolehkah dia sedikit berharap pada kemungkinan kecil ini?