“Kakak ngomong sesuatu sama Zaina?” “Ngomong apa? Memangnya apa yang mau diomongin?” “Enggak usah pura-pura. Awas saja kalau ngomong aneh-aneh sama Zaina.” “Ya, elah. Mau ngomong apa coba? Kita, kan, memang enggak pacaran.” Kamila menghela napas. Dia memperhatikan wajah Dzaky yang ditekuk. Mereka memang cukup dekat setelah intensitas pertemuan keduanya meningkat. Terutama setelah Zaina masuk kuliah. Dzaky jadi lebih sering muncul. Godaan-godaan yang terus dilontarkan pria itu mulai menggelitik hati Kamila. Meski tidak berstatus pacaran, Dzaky dan Kamila saling mendukung dalam berbagai hal. Kamila menyemangati Dzaky dengan bisnisnya yang baru seumur jagung. Dzaky memberikan perhatian lebih pada pelajaran Kamila. Meski tidak mengerti apa-apa tentang materi di jurusan gadis itu, Dzaky te

