Empat bulan kemudian “Eh, sudah merencanakan skripsi?” “Ya, ampun, Niel. Ini masih semester lima, lho. Jangan ngomongin skripsi dulu. Lihat angka-angka ini saja buat aku pusing setengah mati.” Daniel tertawa melihat tingkah Zaina yang menurutnya sedikit berlebihan. Semakin dekat dengan gadis itu, dia semakin tahu kalau mengeluh adalah hal yang paling disukai. Dia cukup senang karena bisa membantu Zaina dalam belajar. Kepergian Barra benar-benar membuka jalan baginya. Kalau saja Barra ada, Daniel tidak mungkin memiliki kesempatan ini. Dia harus berterima kasih pada pria itu. Walaupun hati Zaina masih terus memikirkan Barra, tetapi dialah yang mendampingi sang gadis dalam beberapa bulan belakang. Cukup untuk membuatnya merasa bahagia. Hari ini, Zaina terlihat semakin cantik. Perpaduan

