Barra mengalihkan perhatian dengan memainkan telepon seluler. Mulutnya sudah sangat sulit dikontrol. Begitu juga dengan hati dan pikiran. Dia sudah tidak mampu memendam semua perasaan pada Zaina. Meski begitu, dia tidak akan menyerah dan mengacaukan perjuangannya selama ini.
Beruntung ada Hilya yang menyelamatkan Barra. Kalau tidak, pria itu pasti sudah mengatakan hal lain yang mungkin akan dia sesali saat sadar nanti. Dia mulai berpikir tentang perlunya menjauh dari Zaina untuk sementara. Akan tetapi, dia akan pergi sebentar lagi. Dia ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama pujaan hati. Mungkin kebersamaan mereka kali ini bisa menjadi kenangan indah untuk Zaina.
Mengenai hadiah ulang tahun Zaina tahun ini, Barra benar-benar memikirkannya. Dia bersungguh-sungguh dengan keinginan melamar Zaina. Kalau gadisnya ingin menikah satu atau dua tahun lagi, bukankah itu lebih baik? Tidak perlu menunggu lama untuk mengikat Zaina dalam hubungan yang suci.
Mendengar perkataan Hilya tadi, Barra merasa kalau sang nenek belum merestui keinginan Zaina menikah muda. Akan tetapi, lain cerita kalau Hilya tahu Barra adalah calon yang diinginkan oleh Zaina. Bukannya terlalu percaya diri. Hilya memang sangat menyukai Barra. Wanita sepuh itu tidak akan keberatan kalau Barra menikahi Zaina.
Masalahnya, Barra masih belum menemukan cara untuk mengatakan semua itu pada Hilya. Belum lagi dia juga harus menghadapi Khafi. Entah bagaimana reaksi mereka saat mendengar kenyataan itu. Kalau mau jujur, dia lebih mengkhawatirkan Khafi. Sahabatnya tersebut sangat kaku dan sulit dibujuk.
Khafi sangat menyayangi kedua adiknya, terutama Zaina. Pasti akan sangat sulit melepas Zaina untuk menikah. Apa lagi, ternyata Barralah yang menjadi adik iparnya. Barra tidak bisa membayangkan akan seperti apa wajah Khafi begitu tahu perasaan yang dia sembunyikan bertahun-tahun ini.
“Eh, Nenek lupa kalau harus pergi. Kamu masih mau di sini, Bar?” Barra mendongak, lalu menatap Hilya dan Zaina bergantian.
“Tidak juga, Nek. Sudah hampir jam sembilan malam. Ke mana Nenek akan pergi?”
“Kamu tidak ingat ini tanggal berapa?”
Mata Barra langsung menoleh lagi ke layar telepon genggam miliknya. Dia menghela napas saat melihat tanggal yang tertera di sana. Pikirannya sudah penuh dengan Zaina sehingga dia lupa hari. Padahal dia selalu mengingatkan Hilya mengenai ini. Bagaimana bisa dia melupakan hal sepenting ini?
Dengan sedikit menyesal, Barra menatap Hilya. Dia berusaha tersenyum untuk menunjukkan rasa bersalah. Setiap tahun di tanggal dan jam ini, Hilya selalu pergi ke rumah lamanya. Dia akan menginap satu atau dua malam di sana. Rutinitas itu dia lakukan untuk mengenang kepergian sang suami.
Jika terlalu sibuk, biasanya Barra memberikan instruksi pada sopir untuk mengantar. Bisa-bisanya tahun ini dia melupakan tugas penting seperti itu? Sungguh, Zaina telah memengaruhi semua kebiasaannya. Terutama beberapa hari belakangan. Dia semakin sulit mengontrol diri.
“Maaf, Nek. Aku benar-benar ....”
“Tidak masalah, Bar. Sebenarnya Nenek juga sedikit khawatir karena kamu melupakan hari ini.” Hilya tersenyum. “Nenek khawatir kalau kamu terlalu sibuk,” lanjutnya dengan suara yang menenangkan. Barra jadi lega.
“Akhir-akhir ini aku memang sedikit kacau. Aku antar Nenek, ya.”
“Tidak usah. Nenek sudah meminta sopir mengantar.”
“Nenek marah karena aku melupakan hari ini?”
“Mana mungkin. Kamu sudah berbuat banyak untuk Nenek, juga untuk keluarga ini. Percayalah, Bar. Kamu yang paling bisa Nenek andalkan.”
“Lalu, kenapa Nenek tidak mengizinkan aku mengantar Nenek? Aku tidak sedang lembur atau sibuk dengan hal lain.” Barra melirik Zaina sebentar. “Aku antar Nenek, ya. Kali ini, aku temani nenek menginap semalam di sana. Bagaimana, Zai?”
“Apanya yang bagaimana?” tanya Zaina bingung.
“Menemani Nenek di rumah lamanya semalam? Kamu mau, kan?”
“Tidak perlu, Bar. Nenek tahu kalau kamu terlalu sibuk belakangan ini. Jangan memaksakan diri. Nenek tidak marah. Kamu fokus saja pada dirimu sendiri."
“Justru karena aku terlalu sibuk, Nek. Aku mau menghibur diri di tempat Nenek. Bagaimana? Apa Nenek terganggu dengan kehadiran kami?”
“Tentu saja tidak. Kalau kalian memang mau ikut, baiklah. Kita akan pergi bertiga.”
“Bagus sekali. Sekali-kali bolos kerja tidak masalah. Lagi pula, Khafi mulai santai karena terus mengandalkanku. Aku harus membelinya sedikit pelajaran.”
Hilya tertawa mendengar perkataan Barra. Dia tahu kalau cucu pertamanya sangat menginginkan kesempurnaan. Orang yang paling menderita adalah Barra. Karena Barra yang paling dekat dengan Khafi dan selalu menuruti keinginan sang sahabat. Jadi, Khafi sudah terbiasa mengandalkan Barra dalam hal apa pun.
Sementara Zaina memandang Barra yang seenaknya memutuskan. Kalau mau menemani Hilya, kenapa harus melibatkan dia? Zaina tidak menyukai rumah lama Hilya. Rumah itu membuat gadis itu merindukan kedua orang tuanya. Setiap menginjakkan kaki di sana, dia akan sangat sedih.
Sedari kecil tidak mengenal kedua orang tua sangat memengaruhi Zaina. Meski begitu, dia selalu merasakan ikatan kuat saat melihat foto keduanya. Terutama foto tua yang ada di kamar mereka di rumah lama Hilya. Biasanya, dia akan menangis diam-diam atau meminta Barra menunggu di pintu kamar yang tertutup.
***
Bangunan itu tidak pernah berubah. Terakhir kali Zaina ke sini adalah dua tahun lalu saat dia selesai mengikuti acara perpisahan sekolah menengah atas. Dia menangis cukup lama di kamar orang tuanya, merindukan mereka. Di saat-saat tertentu, dia merasa lebih membutuhkan mereka. Seperti pada hari itu.
Melihat semua temannya yang didampingi kedua orang tua membuat Zaina iri. Sementara dia hanya ditemani oleh Barra, seperti biasa. Hanya Barra yang punya cukup banyak waktu untuk menemani. Hilya dan Khafi memilih sibuk dengan pekerjaan mereka, tidak menghadiri acara tersebut.
Zaina tidak marah pada Hilya atau Khafi. Dia paham betul kenapa mereka bisa sesibuk itu. Kalau ada waktu, mereka pasti akan datang dan memberikan selamat padanya. Jadi, dia tidak pernah menyalahkan mereka. Lagi pula, ada Barra yang selalu menemani dirinya di saat-saat penting begini.
Walaupun tidak ditinggali lagi, rumah itu masih sangat rapi dan bersih. Hilya khusus memperkerjakan beberapa orang untuk merawatnya. Jadi, ketika ingin berkunjung, dia tidak perlu khawatir harus memerintahkan seseorang untuk berkemas dan membuang-buang waktu dengan percuma.
“Kalian sungguh akan menginap?” tanya Hilya memastikan.
“Iya, Nek. Zaina besok tidak ada kuliah dan aku akan membolos. Bagaimana?”
“Sesekali, Khafi memang perlu disadarkan. Selama ini kamu sudah terlalu baik padanya. Biarkan dia menyadari sepenting apa kehadiranmu.” Barra tertawa. Hilya menoleh pada Zaina yang sudah melangkah ke sebuah ruangan. “Kamu akan tidur di sana lagi?”
“Nenek tahu jawabannya,” kata Zaina tanpa menoleh.
“Pergilah, Bar. Hanya kamu yang bisa menenangkan Zaina kalau dia meraung-raung di kamar orang tuanya.”
“Tapi dia sudah dewasa sekarang. Apa dia tetap akan menangis histeris?”
“Melihat situasi ini, sepertinya dia malah akan banyak menangis.”
Barra juga merasakan hal yang sama. Jadi, dia mengikuti langkah Zaina yang sedikit lambat. Dia tidak bermaksud untuk mengingatkan Zaina pada hal-hal sedih di sini. Zaina tidak hanya menangis saat menatap foto lawas kedua orang tuanya. Dia juga bisa menceritakan apa pun tanpa berpikir panjang. Seakan ayah ibunya memang menemani di kamar itu.
“Aku lihat Zaina dulu, ya, Nek.”
Hilya mengangguk sambil tersenyum. Dia memperhatikan Barra yang berjalan cepat ke arah Zaina. Dalam hati, dia selalu berharap keduanya bisa berhubungan lebih dekat. Saat mendengar kalau Zaina sudah menyukai seseorang, dia sedikit kecewa. Dia pikir, Zaina menyukai Barra, orang yang selama ini mendampinginya.
Dunia percintaan memang tidak Hilya pahami. Dia sudah berulang kali bertanya pada Barra mengenai rencana pernikahan, tetapi pria itu terus menghindar. Bukannya tidak tahu kalau Barra sibuk mendukung Khafi dan menjaga Zaina. Barra bahkan juga membantu Dzaky memilih jurusan yang disukai dengan membujuk Khafi.
Banyak hal yang Barra lakukan untuk membuat keharmonisan di keluarga Hilya. Hilya sadar betul akan itu. Meski dia memberikan apa pun, semua tidak akan cukup. Jasa Barra tidak tergantikan dengan segala jenis hadiah di dunia ini. Karenanya, Hilya hanya bisa mendoakan kebahagiaan Barra.
Mengharapkan Barra menyukai Zaina layaknya seorang wanita mungkin akan sedikit sulit. Hilya sudah bertahun-tahun menyaksikan kedekatan mereka, tetapi hanya sebatas adik kakak. Barra melakukan segala hal agar Zaina tidak merasa kesepian karena tidak pernah mengenal kedua orang tuanya.
Dalam keluarga, Zaina memang menjadi sosok yang paling ingin dilindungi oleh Hilya. Selain karena cucu perempuan satu-satunya, dia juga sempat sakit cukup lama setelah kematian ayah ibunya. Meski baru berusia dua tahun saat ditinggal pergi, Zaina sangat dekat dengan keduanya. Wajar jika ikatan batin mereka kuat.
Saat itu, Hanya Barra yang bisa menenangkan Zaina. Khafi masih merasa sedih karena kehilangan. Sementara Dzaky baru empat tahun. Hilya sendiri juga terlalu larut dalam kesedihan. Barra berusaha menghibur gadis mungil yang menangis setiap hari. Lalu, mereka selalu dekat sampai sekarang.
Melihat bagaimana Barra masih memanjakan Zaina, Hilya yakin kalau tidak akan pria lain sebaik pria itu. Barra sangat cocok untuk Zaina. Dia yang paling memahami cucunya. Meski begitu, akankah Barra bisa menerima Zaina sebagai seorang istri. Apa lagi jarak umur mereka sangat jauh.
***
“Halo, Pa, Ma. Zaina datang lagi,” sapa Zaina pada sebuah foto besar yang ada di salah satu dinding kamar. Dia tersenyum melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah kedua orang tuanya.
Di dekat pintu yang terbuka, Barra menyandarkan badan ke dinding sambil memperhatikan Zaina. Setiap melangkah ke kamar, Zaina selalu terlihat mendung. Terakhir, dia akan menangis. Kadang hanya terisak diam. Kadang juga sampai meraung-raung. Tergantung suasana hatinya.
Kali ini berbeda. Sudah hampir lima belas menit dan Zaina hanya memandangi foto besar itu sambil tersenyum. Dia tidak mengatakan apa pun lagi setelah menyapa kedua orang tuanya. Barra jadi curiga. Jangan-jangan Zaina mulai menyembunyikan diri setelah menyadari kalau dia sedang diawasi olehnya.
Ini juga terdengar aneh. Zaina tidak pernah menyembunyikan apa pun dari Barra, kecuali kenyataan kalau dia menyukai pria itu. Mungkinkah ada hal lain yang dia sembunyikan? Barra mulai bertanya-tanya. Dia berharap Zaina tidak diam-diam bersedih. Kebahagiaan Zaina adalah prioritasnya.
“Hari ini, aku enggak mau nangis. Sebentar lagi aku ulang tahun ke dua puluh. Masa mau jadi cewek cengeng terus,” ujar Zaina, masih dengan senyum di bibir.
“Sebenarnya aku pengin cerita banyak sama papa mama, tapi enggak tahu harus mulai dari mana. Hidup aku itu rumit banget.”
“Sebentar lagi aku bakal ujian, mama papa doain aku, ya. Tenang saja, aku punya guru yang hebat. Dia pasti bakal ngelakuin apa pun biar aku bisa lulus.” Zaina menoleh pada Barra yang melambai padanya.
“Mama papa kenal sama Kak Barra, kan? Kalian pasti lebih tahu gimana sikapnya yang tegas itu. Dia bahkan lebih mengerikan dibandingkan Kak Khafi.” Sekarang Zaina malah terkikik. Dia kembali mengalihkan perhatian pada Barra yang kini berjalan ke arahnya. Napasnya sedikit sesak saat pria itu ikut berdiri di depan foto.
“Aku sudah pernah bilang ke om dan tante kalau Zaina akan selalu berada di bawah pengawasanku. Tapi, belakangan ini, dia sedikit berubah. Dia jadi lebih sulit diatur.”
“Kakak lagi ngomongin soal aku?”
“Apa ucapanku tidak cukup jelas?”
“Jangan cari muka di depan orang tuaku. Mereka enggak bakal suka sama Kakak.”
“Kamu mungkin tidak tahu. Om sama Tante sangat menyayangi aku. Sama seperti Nenek. Dia paling sayang padaku.”
“Besar kepala!” cibir Zaina.
“Walaupun aku besar kepala, kamu tetap suka padaku, kan?”
Senyum Barra saat mengajukan pertanyaan itu membuat Zaina terpaku. Kalau boleh, dia ingin memperingatkan Barra untuk tidak terus mengatakan hal-hal seperti itu. Dia bisa meleleh. Sekarang jantungnya sudah tidak bisa dikendalikan. Dasar Barra!