Bab 28: Bintang

1786 Words
“Bintangnya banyak sekali malam ini,” ujar Barra sambil mengangkat tangannya. Dia menggerak-gerakkan tangan di udara, mencoba untuk meraih bintang di langit. Di samping Barra, Zaina memperhatikan. Gadis itu sudah memendam segala perasaan dan berusaha tidak ketahuan. Akan tetapi, Barra terus mengatakan sesuatu yang membuatnya semakin menggila. Seperti kejadian di kamar tadi. Dia sudah hampir mengaku kalau Hilya tidak datang tepat waktu. Kalau saja Hilya tidak muncul, entah apa yang akan Zaina katakan. Mendengar Barra mengajukan pertanyaan seperti membuat hatinya berdebar-debar. Barra benar-benar tidak bisa dimaafkan. Kalau tidak menyukai Zaina, harusnya jangan melontarkan kata-kata yang bisa mengakibatkan salah paham dan menimbulkan harapan. Tidak bisakah Barra memilih kalimat yang lebih baik? Mengapa dia terus menggoda pertahanan Zaina? Jika hal ini berlanjut, Zaina bisa terjatuh dalam harapan semu. Barra membuat gadis itu selalu melayang, lalu dengan mudah melemparkan harapan yang sudah dia susun rapi. Menjelang usia tiga puluh dua, wajah Barra masih terlihat bagus. Dia melakukan perawatan dengan sangat baik. Zaina tahu betul kalau pria itu tidak pernah ke salon untuk perawatan. Namun, dia berkonsultasi dengan dokter untuk menjaga penampilan tetap segar. Dan itulah yang Zaina saksikan sekarang. “Baru sadar kalau aku tampan?” tanya Barra tiba-tiba. Zaina tersentak, lalu mengalihkan perhatian dengan cepat. Bisa-bisanya dia ketahuan. Sementara Barra sudah menoleh pada Zaina sambil menahan tawa. Ada sesuatu yang menggelitik hatinya ketika tahu Zaina terus memperhatikan. Dia merasa sangat tersanjung dan mulai penasaran, sejak kapan Zaina diam-diam menatap dirinya seperti tadi. Dia pikir, hanya dia yang melakukan itu. Ternyata mendapat perhatian dari orang yang disukai itu begitu menyenangkan. Padahal hanya dilihat, tidak diberi apa-apa. Barra merasakannya. Dia memandangi wajah cantik Zaina yang merona di bawah sinar bulan. Mereka sedang menikmati malam di teras rumah, membiarkan Hilya merindukan sang suami di kamarnya. Puas melihat pujaan hati, Barra kembali beralih pada bintang-bintang yang berkelip di langit malam. Sudah hampir tengah malam, tetapi dia belum mengantuk sama sekali. Ditambah dengan kehadiran Zaina di sampingnya. Malam ini mungkin akan sangat panjang. Konyol sekali merasa senang hanya karena Zaina perhatikan. “Sudah memikirkan hadiah yang kamu mau?” tanya Barra tanpa menoleh. Zaina melirik dari sudut matanya, takut akan kepergok lagi. “Belum. Memangnya harus ada hadiah istimewa? Aku enggak mau ngerayain ulang tahun. Kakak tahu itu, kan?” Zaina bisa mendengar Barra yang menghela napas. “Benar-benar tidak mau merayakannya? Tahun ini akan sangat spesial buat kamu. Sudah seharusnya kamu merencanakan ulang tahun yang tak terlupakan.” “Enggak perlu. Aku enggak butuh perayaan.” Zaina mengerucutkan bibir. Dia hanya ingin menghabiskan hari ulang tahunnya bersama Barra, seperti biasa. “Baiklah. Terserah kamu. Aku harap kamu tidak akan menyesali keputusan ini.” “Kenapa aku ngerasa kalau Kakak bakal pergi?” Giliran Barra yang tersentak, tetapi cepat menguasai diri. Zaina terkadang memang memiliki sebuah firasat yang berhubungan dengan dirinya. Mungkin karena kedekatan mereka selama ini. Jadi, Zaina bisa merasakan jika Barra menyembunyikan sesuatu. Begitu juga sebaliknya. Yang mengherankan, Zaina dan Barra tidak bisa menebak perasaan mereka masing-masing. Kasih sayang di antara mereka selama ini adalah cinta kakak adik. Jadi, ketika statusnya berubah, mereka sulit untuk membedakan. Karena itulah mereka sama-sama bersembunyi, takut saling mengecewakan. Barra tidak tahu mengapa Zaina memutuskan untuk menyembunyikan rasa suka padanya. Dia sendiri memiliki banyak alasan kenapa tidak menyatakan cinta. Pertimbangan pria itu sangat mendetail. Sebagai pribadi yang sudah dewasa, dia tidak ingin bersikap sembrono dan menimbulkan masalah. Itulah yang Barra lakukan sekarang. Menurutnya, untuk sementara ini, lebih baik dia bersembunyi. Dia mengerti kalau dalam satu atau dua kesempatan akan tergoda menyatakan perasaan. Jadi, dia bertugas melawan keinginan tersebut. Tidak mudah tentunya, tetapi dia harus bertahan. Bagaimanapun, dia yang lebih dewasa. “Benarkah? Memang aku bisa pergi ke mana?” “Entahlah. Mungkin Kakak bosan karena harus jaga aku. Jadi, Kakak mau pergi.” “Kamu sepertinya memilih kata yang salah. Bosan? Itu kurang tepat untuk menggambarkan perasaanku padamu.” “Jadi, kata apa yang pas?” “Kamu sudah dewasa, aku rasa, sudah saatnya kamu mandiri. Kamu sudah tidak membutuhkan penjaga sepertiku. Itu yang benar.” Zaina menatap Barra dalam. Dia ingin sekali kembali ke kamar dan menangis kencang-kencang. Setelah menaburkan madu lewat ungkapan manis, bagaimana bisa Barra berkata begitu. Seakan mereka tidak bisa sedekat ini lagi. Memang apa salahnya kalau dia menjadi wanita dewasa? Tidak peduli apa pun yang terjadi, Zaina selalu membutuhkan Barra sebagai penjaga. Barra memberikan banyak kenangan yang pasti akan sulit untuk dilupakan. Mengapa Barra tidak memilih dirinya saja? Dengan begitu, mereka bisa terus bersama. Hanya saja dengan status yang berbeda. Apa tidak bisa? Perasaan menyesal perlahan memenuhi rongga d**a Barra. Dia tahu kalau seharusnya tidak berkata seperti itu pada Zaina. Akan tetapi, mereka memang perlu menjaga jarak untuk sementara. Zaina butuh waktu untuk merenungkan perasaan. Begitu juga dengan Barra. Dia butuh ruang agar hatinya bisa kembali stabil. “Kenapa wajahmu tegang begitu? Apa aku salah bicara?” “Kakak mau ninggalin aku, kan?” tanya Zaina. Jelas ada luka di kedua mata gadis itu. “Bukan meninggalkan, Zai. Aku hanya ingin memberikan sedikit kebebasan untukmu.” “Kebebasan? Kenapa? Bukannya karena bosan?” “Apa kamu pernah merasa bosan saat bersamaku?” “Mana mungkin. Aku malah senang karena Kakak mau nemanin aku.” Ada yang tidak beres. Benar saja. Barra sudah tertawa sekarang. Zaina yang sedikit terlambat menyadari, langsung menutup mulut. Dia sudah bertekad untuk tidak terjebak. Kenapa sepertinya dia mudah sekali dijebak? Barra sungguh menyebalkan. Kenapa dia suka sekali membuat Zaina malu begini. “Kakak ngerjain aku, ya? Awas saja!” Kedua tangan Zaina terulur, siap untuk memberikan serangan menggelitik Barra. Pria itu mendelik dan mencoba memperingatkan Zaina. Namun, sepertinya Zaina tidak peduli. Dia tetap melaksanakan rencananya. Hanya saja, Barra lebih sigap menangkap tangan si gadis sebelum sempat menyentuh dirinya. Jantung Zaina mendadak bekerja lebih cepat. Mata gadis cantik melebar begitu sadar kalau saat ini Barra menggenggam tangannya. Dia jadi kesulitan untuk menggerakkan tubuh sehingga tidak bisa bereaksi. Yang bisa dia lakukan hanya tetap berada di posisinya. Rasanya dia ingin memeluk Barra sekarang. Sama halnya dengan Barra. Dia tidak bermaksud untuk membuat suasana menjadi canggung dengan menggenggam tangan Zaina. Mau bagaimana lagi? Kalau dia tidak melakukan itu, Zaina pasti akan menggelitiknya tanpa ampun. Mana bisa dia membiarkannya terjadi? Dia perlu menyelamatkan diri dan ini yang terpikir olehnya. Belum lagi tenang karena sentuhan di tangan, Zaina tiba-tiba melepaskan genggaman. Bukan itu yang mengejutkan Barra, melainkan apa yang dilakukan Zaina setelahnya. Zaina menghambur ke pelukan Barra dan memeluknya dengan erat. Saat ini, kedua mata Barra sudah melebar. Ada perasaan bahagia saat Zaina memeluk seperti ini. Barra tidak tahu apa alasan Zaina, tetapi dia peduli. Menuruti naluri, Barra mengangkat tangan dan bermaksud untuk membalas pelukan. Sayang, sebelum dia melaksanakan niat itu, Zaina sudah melepaskan diri darinya. “Ternyata Kakak cukup bagus waktu dipeluk,” ujar Zaina tanpa beban. Barra mendelik. Bisa-bisanya Zaina berkata seperti itu. Dalam hati, Zaina senang sekali bisa membalas perlakuan Barra. Pria itu sering melontarkan kalimat yang membuatnya terkena serangan jantung. Tidak masalah kalau dia melakukan hal yang sama, bukan? Dia cukup puas melihat wajah Barra yang tampak syok dengan pelukannya. Salah siapa selalu menjebak? Meski begitu, jantung Zaina juga tidak bisa dikendalikan. Makanya dia cepat-cepat menjauh setelah memeluk Barra. Dia takut kalau Barra akan menyadari hal itu dan mulai mengolok dirinya. Baru saja menang melawan, dia tidak mau kembali kalah hanya karena terlalu gugup. Pelukan itu benar-benar memengaruhi Barra dan Zaina. Keduanya hanyut dalam pikiran masing-masing. Kini, hanya ada kesunyian di antara mereka. Suasana malam yang sudah semakin larut dan menimbulkan rasa dingin bahkan tidak mereka pedulikan. Mereka diam untuk waktu yang cukup lama. “Kamu pasti berpikir kalau aku sudah kalah, kan?” Barra kembali bersuara. Dia menoleh pada Zaina yang tanpa disangka juga tengah menatapnya. “Memangnya enggak? Aku bisa dengar suara jantung Kakak, lho.” “Itu pasti suara jantungmu sendiri.” “Enggak mau ngaku juga?” desak Zaina. Barra berdeham untuk menutupi rasa gugup. “Bukannya kita sering berpelukan seperti itu? Kenapa sekarang jadi masalah?” Apa yang dikatakan oleh Barra ada benarnya. Dia dan Zaina memang berpelukan beberapa kali. Namun, tidak ada kecanggungan seperti saat ini. Dulu, mereka melakukannya hanya untuk menyalurkan semangat. Lain dengan sekarang. Mereka memeluk untuk memberikan kasih sayang kepada lawan jenis. Meski Barra tidak yakin apa alasan sebenarnya Ziana memberi sebuah pelukan. Dia cukup percaya diri untuk mengatakan kalau Zaina benar-benar menikmati pelukan mereka. Jujur saja, kejadian itu hanya sekejap. Sang pria bahkan belum sempat merasakan nyamannya berada dalam dekapan Zaina. Zaina melepas pelukan terlalu cepat. Gadis itu begitu penuh kehangatan. Dia memeluk dengan segenap hati, seakan takut kalau Barra akan meninggalkannya. Semua ucapan Barra terdengar aneh di telinganya. Dua merasa jika Barra sedang merencanakan sesuatu dan itu tidak akan berakhir seperti bayangannya. “Oh, ya? Benar juga kata Kakak. Bagaimana kalau kita ngelakuin yang lebih jauh dari itu? Melihat wajah syok Barra, Zaina mulai menyesali ucapannya. Sebagai gadis baik, bagaimana bisa dia mengatakan hal seperti itu? Lidah sang pria tampan mendadak kelu. Dia bisa merasakan kalau wajahnya memanas. Pikirannya sudah menjelajah ke segala penjuru begitu mendengar kalimat Zaina. Apa gadis itu tidak memikirkan dampak yang bisa ditimbulkan dari ucapannya? Untung saja dia memahami kebiasaan Zaina yang terkadang nyeleneh. Lihatlah wajah Zaina sekarang. Dia jelas sangat menyesali dengan apa yang dikatakan, tetapi terlalu malu untuk meminta maaf. Barra memutar otak demi bisa mencari cara menghentikan kegilaan malam ini. Mereka sudah bercanda terlalu jauh. Dia mulai takut kalau akan melakukan kesalahan. Hanya saja, melihat ekspresi Zaina yang menggemaskan itu sangat menyenangkan. Jadi, Barra memutuskan untuk memperhatikan Zaina sebentar lagi. Setelah malam ini, akan sulit sekali memiliki kesempatan emas begini. Kebersamaan dengan Zaina begitu berharga bagi Barra. Dia jadi meragukan keputusannya untuk pergi. Zaina merapatkan sweater hitam yang dikenakan, lalu menggosokkan kedua tangan sambil meniupnya sesekali. Kedua kaki gadis itu bergerak-gerak tak beraturan di bawah sana. Dia lantas memandangi langit malam yang masih memperlihatkan taburan bintang. Matanya tidak berkedip sama sekali. Tingkah Zaina membuat Barra tersenyum. Dia mengikuti langkah sang gadis, menggosokkan kedua tangan, lalu meniupnya. Malam sudah semakin larut, tetapi dia belum berniat beranjak dari tempat. Memandangi pujaan hati lebih menggembirakan dibandingkan tidur di kamar yang nyaman. “Jadi, kamu mau melakukan sesuatu yang lebih dari pelukan?” tanya Barra menggoda. Zaina menghela napas. “Aku enggak serius. Cuma bercanda. Kakak enggak usah masukin dalam hati.” “Bercanda?” Barra tersenyum sekilas. “Ada beberapa hal yang tidak bisa dibuat bahan candaan, Zai. Termasuk kalimat yang kamu ucapkan tadi. Jadi ....” Tanpa ragu, Barra mendekatkan wajahnya pada Zaina. Gadis itu, yang meskipun tidak menduga, sudah tidak bisa melarikan diri. Kedua kakinya serasa lumpuh ketika melihat Barra yang semakin dekat. Dia bertanya-tanya, apa sebaiknya memejamkan mata sekarang atau tetap memperhatikan gerakan Barra yang membuat berdebar. Hal ini sungguh di luar kemampuannya. Apa yang sebaiknya harus dia lakukan?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD