Sudah hampir satu jam Zaina menyumpahi Barra. Dia memandangi foto Barra yang tersenyum lebar. Foto yang selalu dia sembunyikan di dalam dompet miliknya. Mengeluarkan amarah hanya dengan menggunakan selembar kertas bergambar Barra tidak membuatnya lega sedikit pun.
Tidak peduli sudah berapa lama Zaina melampiaskan kemarahan. Tetap saja ini tidak akan cukup. Seharusnya dia langsung mengeluarkan semua kekesalan begitu tahu Barra kembali menggodanya. Bisa-bisanya dia masuk jebakan lagi. Ini sangat memalukan. Kenapa juga dia memulai hal gila dengan Barra.
Semestinya Zaina tahu bagaimana ego Barra. Pria itu tidak mengenal kekalahan. Dia memiliki banyak cara untuk membuat lawannya menyerah tanpa perlawanan berarti. Seperti yang terjadi dengan dirinya saat ini. Barra sudah berhasil membuat Zaina kehilangan muka. Zaina tidak mengerti mengapa mulutnya bisa selancang itu.
“Dengan perbuatan seperti itu, harusnya kamu dapat predikat sebagai penggoda terbaik. Aku heran kenapa banyak cewek yang suka sama kamu.” Zaina lantas cemberut. “Bukannya aku juga suka sama dia?” gumamnya.
Adakah yang bisa menjemput Zaina untuk berjalan-jalan? Dia mulai sesak di rumah sebesar ini. Rasa sesak karena mengikuti keinginan Barra sudah sangat terlambat. Dia hanya bisa menunggu sebentar lagi. Mungkin Barra akan melupakan apa yang sudah terjadi di taman belakang rumah tadi.
Mengapa Zaina tidak tidur lebih awal? Atau dia juga bisa menemani sang nenek yang tengah meratapi? Mungkin semua tidak terjadi andai saja dan dia bisa menahan dirinya. Untuk apa dia menghampiri Barra yang memperhatikan langit malam? Mengapa dia malah duduk lama di tempat itu?
Mengetahui Barra sedang sendiri, menarik perhatian Zaina. Jadi, tanpa pikir panjang dia langsung menghampiri pria itu di teras. Awalnya dia hanya bercanda untuk menutupi kegugupan. Siapa sangka kalau dia justru menimbulkan permasalahan untuk dirinya sendiri. Menyebalkan sekali.
“Gimana ini? Apa yang bakal dia lakukan kalau kami ketemu?”
Gadis berparas ayu belum siap untuk pertemuan selanjutnya dengan Barra. Kalau bisa dia ingin menghindari pria itu. Apa dia meminta seseorang untuk menjemput, tetapi siapa? Selama ini, orang yang paling dia andalkan adalah Barra. Kalau situasinya begini, mana bisa dia mengatakan keinginan pada Barra.
“Dasar pria tua menyebalkan.” Zaina masih belum puas mengeluarkan semua kekesalan. Dia mengepalkan kedua tangan sambil memperhatikan foto. “Lihat saja. Aku enggak bakal kalah sama dia.”
Ketika sedang tenggelam dalam pikiran, Zaina mendengar suara ketukan pintu. Dia melirik jam dinding yang ada di kamar. Sudah hampir pukul dua pagi. Satu-satunya orang yang bisa melakukan hal ini hanya Barra. Dia menghela napas. Mengapa Barra masih belum melepaskan dirinya? Apa belum cukup mempermalukan gadis belia itu.
Ketukan pintu kembali terdengar. Zaina benar tidak berniat untuk membukakan pintu untuk Barra. Pikirannya sedang kacau balau. Kalau dia nekat menerima kehadiran pria itu, mungkin akan lebih menakutkan. Jadi, dia naik ke tempat tidur, lalu menyelimuti seluruh tubuhnya dengan selimut.
Siapa peduli kalau Barra menunggu di luar sana. Pria itu sudah melakukan banyak kekacauan bagi Zaina. Setidaknya Barra harus dihukum karena sudah membuat Zaina meragukan dirinya sendiri. Bagaimana bisa Barra menggoda dengan cara seperti itu? Zaina sungguh tidak bisa mempercayainya.
Begitu Barra semakin mendekatkan wajah, pikiran Zaina dipenuhi dengan berbagai pertanyaan. Meski begitu, dia tetap mengikuti kata hati untuk memejamkan mata. Apa yang dia harapkan tidak pernah terjadi. Ketika sudah beberapa saat matanya terpejam, dia mendengar suara tawa Barra. Lagi-lagi, Barra hanya menggoda.
Tanpa berpikir panjang, Zaina membuka mata, lalu berlari secepat yang dia bisa. Dia terlalu malu untuk membicarakan hal itu dengan Barra. Lebih baik dia melarikan diri dan bersembunyi. Atau Barra bisa tahu mengenai perasaannya. Akan tetapi, apa Barra memang tidak mengetahu kalau dia menyukainya?
Pria secerdas Barra tentu tahu bagaimana mengontrol diri. Mungkin dia hanya tidak ingin membuat Zaina lebih malu. Jadi, dia memutuskan untuk diam. Kemungkinan kalau Barra tahu perasaannya justru membuat gadis itu bertambah gelisah. Benarkah Barra tidak suka pada dia? Itu sebabnya dia tidak juga mengungkapkan cinta.
Sepertinya Zaina terlalu banyak berharap. Belakangan ini, Barra menggodanya karena bosan. Mungkin Barra hanya memanfaatkan dirinya untuk melampiaskan kekesalan. Entah apa yang membuat pria itu kesal. Apa mungkin wanita yang disukai Barra akhirnya pergi.
“Aku tahu kalau kamu belum tidur. Buka pintunya,” ujar Barra. Dia kembali mengetuk pintu. Zaina mendengkus. “Masih belum mau membukakan pintu? Apa aku perlu membukanya sendiri?”
Bibir Zaina mengerucut. Dia menarik selimut merapat ke tubuh, lalu memejamkan mata kuat-kuat. Di saat seperti ini, dia hanya bisa berdoa agar Barra tidak menemukan kunci cadangan kamar dan kembali mengganggunya. Namun, harapan itu sirna ketika dia mendengar bunyi kunci pintu.
Zaina tidak berani membuka mata saat mendengar suara langkah kaki yang memasuki kamar. Sekarang, apa yang harus dia lakukan? Untuk apa Barra mengikutinya sampai kamar? Apa dia belum cukup mengganggu Zaina tadi. Padahal Zaina sudah kehabisan akal untuk menolak kehadiran Barra.
“Jangan pura-pura tidur. Aku tahu kalau kamu biasa tidur dengan lampu yang dimatikan,” ujar Barra setengah mengejek.
Gadis di tempat tidur mendengkus tanpa suara. Kenapa dia bisa melupakan mengenai lampu. Dengan ruangan seterang ini, siapa pun tidak mungkin bisa terlelap. Kenapa Zaina bisa begitu bodoh. Dia terlalu menganggap remeh Barra. Entah apa yang kini direncanakan oleh pria itu.
Setelah menggoda Zaina habis-habisan di taman, sekarang Barra malah mendatangi kamarnya. Sudah lama sekali sejak terakhir kali Barra mengunjungi kamar gadis itu. Sekarang, dalam keadaan seperti ini, bisa-bisanya Barra muncul. Suasana bisa semakin kacau kalau Barra mengatakan omong kosong lagi.
Berusaha tidak memedulikan kehadiran Barra, Zaina diam saja. Kalau dia bangun dan melihat Barra ada di hadapannya, mungkin dia bisa kembali kehilangan kendali. Bagaimana kalau dia mulai mempraktikkan semua hal yang ada di kepalanya? Dia sungguh memiliki setumpuk rencana gila.
“Zaina,” panggil Barra. Zaina bisa mendengar kalau suara itu sangat dekat banyak. “Kalau kamu tidak mau bangun, aku yang akan menarik selimut itu.”
“Wah, enggak nyangka kalau tuan Barra bisa semanis ini?” Zaina akhirnya mengalah. Dia membuka selimut dan menyingkirkan benda itu.
“Kamu tidak akan menjelaskan kenapa tiba-tiba lari.”
“Kakak yang tampan, ini sudah jam berapa. Bisakah kita bicarakan ini setelah matahari terbit. Masih terlalu dini membicarakan kejadian tadi. Lagi pula, aku juga ingin menyelesaikan mimpiku."
“Jangan mengatakan hal tidak masuk akal seperti itu.”
“Aku serius, Kak. Aku enggak mau ngomong sama Kakak sekarang. Aku benaran ngantuk dan mau tidur. Tolong, jangan ganggu aku.”
“Kamu merasa aku mengganggu kamu? Bukannya kamu masih memikirkan kejadian di taman tadi?” pancing Barra. Zaina mendelik.
“Stop. Enggak usah mulai. Aku enggak mau dengar apa pun.”
“Benarkah? Kalau kamu sebegitu kecewanya, bagaimana kalau kita lanjutkan?”
“Lanjutkan apanya?” tanya Zaina sambil mengerutkan kening.
“Bukankah tadi kita hampir berciuman?”
Kedua bola mata Zaina nyaris meninggalkan rongga. Bagaimana bisa Barra mengatakan hal itu dengan enteng? Apa dia pikir kejadian memalukan itu hanya perbuatan sepele? Tidak bisakah Barra berpura-pura hilang ingatan? Mengapa malah membuat Zaina bertambah malu?
Ini sudah menjelang pagi dan Barra masih belum membiarkan Zaina istirahat dengan damai. Tanpa kemunculan pria itu, dia sudah merasa gelisah dan kesulitan tidur. Sekarang, setelah Barra berada di ruangan yang sama dengannya, dia jadi merasa sulit bernapas juga. Kenapa Barra begitu gigih menggodanya?
Mata Zaina melirik pintu kamar yang terbuka. Dia berharap akan ada orang yang melintas dan menyadari keberadaan Barra di sana. Di mana etika yang selalu digemborkan oleh Barra. Bukankah berada di kamar seorang gadis di jam seperti ini akan menimbulkan kecurigaan dari pihak lain?
Akan lebih baik jika orang yang datang adalah Hilya. Nenek tidak mungkin membiarkan Barra ada di ruangan yang sama dengan sang cucu di malam selarut ini, bukan? Sesayang apa pun Hilya pada Barra, dia tentu lebih menyayangi cucu kandungnya sendiri. Benar, bukan?
Kenapa rasanya kalimat itu sedikit tidak benar. Hilya selalu berada di pihak Barra apa pun yang terjadi pada ketiga cucunya. Sebelum mendengar sesuatu dari para cucunya, dia akan terlebih dulu meminta Barra menjelaskan. Hilya memang menyayangi Barra melebihi Zaina dan kedua kakaknya.
Hanya saja, keadaan sekarang ini berbeda. Barra jelas berada di tempat yang salah. Pada jam begini, seharusnya dia sudah tidur di kamarnya. Bukan malah mengatakan hal-hal sensitif pada Zaina dan membuat gadis itu kehabisan kata-kata. Apa tepatnya yang melandasi Barra melakukan semua itu?
Kepala si gadis berambut pendek berputar-putar. Dia mulai memikirkan berbagai kemungkinan, lalu sebuah pemikiran menyentaknya. Bukankah Barra bilang kalau dia sudah mengetahui siapa pria yang disukai olehnya? Benarkah dia sudah ketahuan oleh Barra? Tiba-tiba dia merasa takut.
Kalau Barra memang sudah mengetahui kenyataannya, kenapa tidak langsung memberikan tanggapan? Kenapa malah terus menggoda Zaina? Kenapa membuat Zaina berada di situasi sulit? Kenapa Barra melakukan ini padanya? Apa dia hanya ingin bermain-main dengan Zaina?
Tidak mungkin. Barra bukan orang yang seperti itu. Meski suka menggoda para wanita dengan gombalan tidak berguna, dia tidak akan mempermainkan perasaan seseorang. Dia adalah pria paling penyayang yang Zaina kenal. Apa lagi terhadap gadis itu. Dia sangat menjaga Zaina.
“Jangan bercanda!” kata Zaina, sengaja sedikit meninggikan suara. Barra tersenyum.
“Mau memberi tahu semua orang kalau aku ada di sini?”
“Kak Barra yang baik hati, apa sebenarnya tujuan Kakak melakukan semua ini? Kenapa akhir-akhir ini Kakak goda aku terus?”
Barra pura-pura berpikir. Membuat Zaina semakin tidak sabar. Dia tidak tahu kenapa Barra bisa berubah menjadi pria menyebalkan. Kalau sebelumnya dia mengetahui Barra akan menganiaya selama di rumah Hilya, dia pasti menolak ajakan pria itu. Situasi ini terlalu menakutkan baginya.
Bahkan Zaina tidak berani bertanya apa Barra benar-benar tahu kalau dia menyukai pria itu? Pertanyaan yang terlalu sensitif tersebut bisa menimbulkan efek samping berbahaya. Dia takut kalau apa yang diharapkannya tidak sesuai dengan kenyataan. Bagaimana kalau Barra memang hanya ingin mengganggunya?
“Ini sudah malam banget. Bisa enggak Kakak pergi? Aku ngantuk dan mau tidur.”
“Wajahmu tidak menunjukkan gejala mau tidur,” ujar Barra berkeras.
“Sebenarnya apa mau Kakak? Kakak butuh bantuan?”
“Nah, otakmu cukup baik. Aku memang butuh bantuan.”
“Dari orang kayak aku? Serius?” Zaina mencibir.
“Aku butuh saran. Ada sebuah pekerjaan dan aku harus pergi cukup lama. Aku benar-benar ingin pergi karena sebuah alasan. Tapi, aku masih ragu. Bisakah kamu meyakinkan aku supaya pergi tanpa keraguan?”
“Kakak mau pergi? Berapa lama?” Zaina bisa merasakan kalau kedua matanya terasa panas. Apa dia akan menangis sekarang?
“Aku belum tahu. Mungkin satu atau dua tahun atau ... lebih lama lagi.”
Bagaimana bisa Barra mengatakan hal itu dengan sangat mudah? Apa dia benar-benar tidak mengetahui keinginan Zaina sekarang? Kenapa Barra justru pergi di saat seperti ini? Zaina sudah mulai berharap dan Barra malah mau meninggalkannya? Tidak masuk akal sama sekali.
Jadi, semua kejailan Barra belakangan ini hanya untuk mengucapkan selamat tinggal? Tega sekali dia melakukan itu pada Zaina. Mengapa mendadak mau pergi lama? Apa karena sudah tidak mau menjaganya? Atau karena sudah menemukan tambatan hati yang membuatnya jatuh cinta?
“Kakak benaran mau pergi?” tanya Zaina dengan suara bergetar. Barra menghela napas. Sang pria tahu kalau ini akan terjadi. “Kalau begitu, pergi saja. Toh, aku enggak bisa cegah Kakak pergi, kan?” Zaina kembali menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya. Dia tidak mau bicara lagi dengan Barra.