Ajakan ke kafe
Kotak hitam dengan pita berwarna putih di atasnya terlihat sangat mewah dan elegan. Regina, pemilik kotak itu tak berhentinya tersenyum bahagia, sebab ia mendapatkan dari sang kekasih, hadiah anniversary yang pertama.
“Regina, lu udah satu tahun sama Angga? Kok gak kerasa sih? Perasaan baru kemarin ngejar-ngejar dia,” celetuk gadis yang sedang bercermin.
Regina tersenyum bahagia. Otaknya memutar kembali, saat-saat di mana ia mengejar cinta Angga si anak band yang jutek.
“Lu enak Gin, suka sama seseorang, eh di sukain balik,” celetuk Serena, si gadis tomboy yang biasa berpakaian seperti pria.
“Berjuang lah anjir, jangan liatin mulu dari jauh, percuma!” tutur Regina.
Regina sudah menjadi pakar curahan hati mereka bertiga. Di mana hanya dia yang berhasil dalam urusan berpacaran. Sementara ketiga sahabatnya masih di bawahnya.
Serena, memendam rasa pada pria yang sering ia temui di kafe, namun enggan untuk mendekati.
Isyana, terhalang Tuhan. Sebenarnya Isyana sudah menemukan seseorang yang bisa membuatnya nyaman, hanya saja mereka berbeda keyakinan.
Sementara Aruna, si gadis yang enggan untuk jatuh cinta. Ia hanya sibuk dengan dunia imajinasi yang di buat oleh dirinya sendiri dalam karakter cerita novel yang ia buat sendiri.
“Rena, malam ini ada acara di kafe, mau ikut? Pasti Tama ada di sana,” ajak Regina memastikan.
Terlihat Serena menimbang-nimbang ajakan Regina. Tapi, ia langsung mengangguk antusias, membayangkan akan bertemu pria yang sudah ia sukai beberapa bulan yang lalu.
Pria yang sering ia temui di kafe tempatnya ngongkrong.
“Ikut gak Lo berdua?” tanyanya pada Isyana yang masih bercermin, dan pada Aruna yang sibuk dengan buku bacaannya.
Aruna si kutu buku yang selalu menolak ajakan temannya untuk menongkrong.
“Gue mah ikut aja, lagian di rumah suntuk gue,” celetuk Isyana.
Ketiganya kini menatap Aruna yang malah tidak menghiraukan mereka. Tapi sadar akan tatapan sahabatnya, ia langsung menyimpan buku dan menaikkan kedua alisnya.
“Udah tahu jawaban gue, kan? Ya seperti biasa,” jawab Aruna.
“Ayo lah Run, sekali-kali, pliss... Temenin kita ya!” ajak Isyana.
Pasalnya, ia tidak ada teman jika bertiga. Regina pasti sibuk dengan Angga, Serena? Sudah pasti ia akan terus menerus memandang Tama.
“Gue liat sikon aja, lagian pulang ngampus gue harus ke butik Ayah, abis itu ke toko kuenya Mbak,” jelas Aruna.
“Gak ada tapi-tapian ya, Runa sayang, jam setengah 7 aku jemput ya, gak ada penolakan!” kekeh Serena yang langsung pergi tanpa permisi.
Di susul oleh Isyana dan Regina, meninggalkan Aruna yang menatap bengong ke arah sahabatnya yang sudah menghilang.
“Gila memang!” protes Aruna yang membereskan bukunya, lalu pergi meninggalkan kelas yang sudah sepi.
Baru saja ia menutup pintu dan ingin melangkahkan kakinya, tiba-tiba suara keras terdengar begitu jelas di telinga Aruna, sampai ia harus terduduk lemas di lantai, dengan tangan memegang telinga erat.
Sepertinya ada sebuah ledakan tak jauh dari sana. Untung saja itu tidak bertahan lama. Tapi, Aruna tidak bisa berdiri, kakinya begitu lemas. Aruna memiliki phobia akan suara keras atau suara ledakan.
“Gak papa?” tanya seorang pria mengulurkan tangannya untuk membantu Aruna.
Kepalanya ia dongakkan untuk melihat siapa pemilik suara bariton itu.
Mata Aruna terfokus pada wajah tampan si pria, hidung mancungnya menjadi daya tarik Aruna hingga sulit untuk melepaskan pandangannya.
Sedetik kemudian, Aruna sadar lalu menerima uluran tangan dari pria tadi. “Makasih,” ujar Aruna.
Pria itu tersenyum. “Tadi di lab kimia ada ledakan cukup besar, mungkin karena sedikit kesalahan,” jelas pria itu.
“Terus, yang ada di sana gimana?”
“Untungnya mereka pakai APD kok, jadi aman, walau ada mahasiswa yang terkejut,” jelasnya lagi.
“BTW, makasih udah bantu aku, aku takut sama suara ledakan kaya gitu, kalau gak ada kamu, mungkin aku gak tahu sampai kapan di sini,” curah Aruna.
“RUNAAAA!”
Teriakan itu berasal dari ujung lorong kelas, terlihat ketiga sahabatnya yang terengah karena mungkin saja berlari.
Mereka bertiga berlari dengan serempak, lalu mengecek keadaan Aruna dengan meneliti semua badan Aruna dari ujung kaki hingga ujung rambut, sampai Aruna pusing karena di putar-putar.
“STOPP! GUE PUSING!” titah Aruna.
“Lu gak papa? Pas denger ledakan, kita bertiga langsung nengok belakang dan di sana gak ada lo,” tegas Serena.
"Kenapa kalian lari-lari?" Regina malah balik nanya dengan wajah polos.
“Kita khawatir, bego!” kesal Isyana.
“Lah, Putu? Ngapain di sini?” tanya Regina begitu melihat pria di hadapan mereka.
Tentu saja, Regina mengetahui siapa pria ini. Karena, pria itu adalah teman Angga.
“Tadi gue mau ambil buku ke kelas, tapi liat temen Lo ketakutan, ya udah gue bantuin,” jawab pria itu yang bernama Putu.
Regina langsung menggenggam tangan Putu, dengan senyum manis. Begitulah Regina, walau sudah memiliki pacar. Karena ia tahu kalau Putu teman Angga.
“Makasih ya Tu udah nolongin dia,” ujar Regina.
Putu mengangguk, lalu melepaskan tangan Regina, kemudian pria itu permisi untuk pergi mengambil buku.
Sementara Aruna, mata gadis itu mengikuti perginya Putu, sampai tubuh Putu menghilang tidak terlihat.
Ketiga sahabatnya langsung tersenyum, dan serempak menggoda Aruna.
“CIEEE!!!”
Aruna terkekeh, lalu bertanya pada Regina, siapa pria dengan suara bass itu.
Mereka mengobrol sambil berjalan. Urutan selalu sama. Yaitu Aruna, Regina, Isyana, Serena. Si dua tiang berada di sisi, sementara dua kurcaci berada di tengah.
“Nama dia Satria Putu Wiwangga. Sering di panggil Putu. Dia anak kedokteran gigi, semester 6. Kenapa gue bisa tahu dia? Ya karena dia satu geng sama Angga. Dia termasuk Band the juga,” jelas Regina panjang lebar.
Tiba-tiba Aruna berjalan dahulu, lalu berdiri tepat di depan para sahabatnya, tentu saja aksi itu membuat para sahabatnya terkejut.
“Gue ikut kalian malam ini. Rena, lu jemput gue, lu harus minta izin ke Ayah, Buna sama Mbak Janeta ya!” titah Aruna semangat. “Gue duluan, mau ke butik takut di tungguin Ayah. Bye!” lanjut Aruna antusias.
Sahabatnya tertohok kaget dengan sifat Aruna yang langsung berubah drastis. Biasanya, gadis itu akan sangat syok, dan akan diam saja jika mendapat kejadian seperti tadi.
“Kayanya dia naksir Putu, deh,” celetuk Isyana.
“Gak papa, udah saatnya Aruna buka hati dan ngerasain gimana rasanya jatuh cinta,” kata Serena.
“Tapi, mending dia gak usah ngerasain namanya jatuh cinta deh, karena yang namanya jatuh gak ada yang enak. Lebih baik di cintai, dari pada mencintai,” curah Isyana.
Karena Isyana di apit oleh Serena dan Regina, jadilah kedua gadis itu mengapit Isyana dengan tangannya menandakan geli dengan ucapan yang melankolisnya Isyana.